
Alesya menghela nafas nya, ia begitu gelisah hanya untuk memutuskan apa yang di tawarkan oleh Vivian.
"Waktu mu tidak banyak, Apa keputusan mu.!?.". Vivian sudah sangat tidak sabar hanya melihat Alesya terus saja diam, tinggal berkata 'iya' atau 'tidak' kenapa susah sekali.
"Kenapa Kau menjadi baik begini.." Vivian yang mendengarkan itu, langsung memutar mata nya jengah.
"Dengar Kau idiot, berapa kali Aku bertanya padamu, Kau ingin keluar atau tidak dari tempat ini..". Kesabarannya yang setipis tisu itu, langsung mengeluarkan suara yang tinggi.
"Ok. Aku setuju.." Putus nya. Alesya setuju saja, toh memang iya ingin pergi dari temapat ini. "Tapi Kau bisa jamin Asher tak akan lagi mencari ku.."
Vivian tersenyum miring. "Tak akan ku biarkan Dia menemukan mu..!!".
"Kak hentikan Aku mohon.." Martha mengiba pada Kakak nya, jangan sampai Alesya pergi dari tempat ini, dengan bantuan Kakak nya, meskipun ia berharap demikian jika Wanita malang ini bisa bebas dari cengkraman Tuan muda yang kembali kejam lagi.
Padahal beberapa waktu lalu sikap Tuan nya begitu lembut dan penuh perhatian, meskipun hanya pada satu orang, tapi setelah ke datangan Kakak nya, Tuan nya kembali ke sifat nya yang dulu.
"Diam kamu..!, jangan ikut campur, lihat saja dan tutup mulut mu itu rapat-rapat.." Ucapan nya dengan tegas, kenapa adik nya ini tak bisa di ajak kerja sama.
Vivian pun menjelaskan apa rencananya untuk membebaskan Alesya dari cengkraman Tuan nya, tentu rencana ini sudah ia rencanakan jauh-jauh hari, padahal bisa saja Dirinya membunuh Alesya seperti biasanya.
Namun kali ini ia akan berbaik hati, Vivian selalu merasa jika Tuan nya hanya meluapkan kekesalan pada Wanita yang telah merusak kebahagiaan Ibundanya melalui anaknya.
Ya meskipun ia sudah tahu jika Alesya bukan anak kandung Clara, apa lagi dengan pergi nya Wanita ini, ia bisa leluasa mendapatkan hati Tuan nya.
"Sejauh ini Kau paham.." Kata Vivian dan Alesya mengangguk mengerti.
"Ingat tanggal 22, dan itu tepat 7 hari dari sekarang, dan kejadiannya itu akan berlaku sekitar pukul 1 dini hari.." Vivian kembali menjelaskan.
...----------------...
Saat di kamar Alesya begitu gelisah, ia mondar mandir tidak jelas waktu nya hanya 7 hari dari sekarang meskipun berjarak 1 minggu, ia masih was-was takut rencana itu tidak akan berhasil.
Pintu di ketuk dan itu suara Martha, pelayan itu datang dengan membawa sebuah kotak berukuran besar, Alesya penasaran apa isi dari kotak tersebut.
"Nona, Tuan meminta Saya untuk Anda mengenakan ini nanti malam.." Kotak besar itu, Martha letakan di atas kasur.
__ADS_1
"Kau membawakan Aku sebuah gaun, dan Pria itu menyuruh ku mengenakan ini.." Alesya berdecih, saat melihat apa isi kotak tersebut, Pria itu memang seenaknya nya.
"Katakan pada nya Aku tidak mau.." Tolaknya kemudian
"Maaf Nona, Saya tidak bisa mengatakan itu pada Tuan.." Berada di posisi Martha adalah hal yang paling sulit untuk di kerjakan, apa lagi perangai Tuan muda nya sangat menyeramkan.
Namus siapa sangka Alesya membawa gunting dari dalam laci nakas, dengan menghancurkan pakaian indah itu dengan gunting yang ia pegang.
"Bawa keluar, dan katakaan Aku tak ingin pergi.." Alesya mendorong tubuh Martha keluar dari kamar, dan langsung menguci pintu.
Tak berapa lama, pintu di gedor paksa dan menggelegar suara Asher, namun Alesya tidak peduli, ia acuh dan tak membiarkan nya, Dak tak pernah Wanita itu duga Asher menembak pintu itu hingga rusak.
...Brak...
Pintu di tendang cukup kuat, sumpah demi apapun Alesya terkejut bukan main, ia duduk di tepian ranjang dengan tubuh gemetar.
"Cepat bersiap dan Aku tunggu 1 jam dari sekarang..". Asher datang dengan tenang, seraya melemparkan sebuah gaun pada Alesya.
"Sudah ku bilang Aku tidak mau.." Tolak nya dengan keras.
"Kau mengancam ku.." Tak ada takut-takut Wanita itu pada Asher, padahal Pria tirani itu tengah memegang senjata api.
"Itu bukan ancaman, 1 jam berikut nya Kau akan tahu.." Pria itu berbalik dengan wajah datar, entah kenapa ia kembali bersikap seperti itu.
Dan pada akhir nya Alesya mengikuti kemauan Asher yang maha penguasa, Gaun mewah yang melekat begitu pas di tubuh nya, menjadi kan ia pusat perhatian. Bahkan sebelum meninggalkan Mansion ia mendapat delikan tajam dari arah Vivian.
Dan saat ini Alesya tengah mengikuti pesta kalangan atas yang sangat tidak cocok untuk nya. Dirinya mana pernah bisa datang ke tempat seperti ini kalau bukan karna Asher.
Padahal Wanita yang di gadang-gadang begitu dekat dengan Pria ini sudah kembali, bukan nya mengajak Vivian malah dirinya yang di bawa.
Mengesal kan.
Begitu cantik saat Alesya berdiri di samping Asher, sungguh pasangan yang begitu serasi dan membuat orang lain merasakan iri.
Terutama untuk para Wanita kalangan atas, yang mengicar seorang pengusaha kaya raya, dari keluarga Kharkov yang sangat terkenal di kota mereka.
__ADS_1
Sedari tadi Alesya mencoba menikmati pesta, meskipun yang sangat ia nikmati hanya hidangan nya saja, sekumpulan para penguasa ini memanfaatkan acara untuk mencari investor atau keutungan lain nya, atau juga merencanakan kejahatan, seperti yang di bahas Pria tirani ini.
Dari tempat duduk nya, Alesya, mendengarkan apa yang di bincangkan Asher dan kenalannya yang ia tidak tahu siapa, namun ia merasa ada yang memperhatikan, tak jauh dari sana Pria tampan dan memiliki kulit putih sejak tadi terus mengumbar senyum ke arah nya, namun Alesya tak menanggapi, takut Asher akan murka padanya.
Bahkan apa yang di obrolkan dengan teman Asher pun, ia sejak tadi menelan ludah, Pria ini benar-benar tak takut apapun, sementara dirinya yang tak terlibat dengan pembicaraan tak sengaja mendengar nya.
Tak takut kah jika Dirinya melapor ke polisi.
Apa Kau tak tahu juga Alesya ini adalah anak seorang jendral, yah namun jangan lupakan Asher adalah mahluk yang selalu lepas dari hkum dengan kekuatan yang ia miliki.
"Seperti nya Arthur menyukai Wanita yang Kau bawa, apa Kau tidak ingin menyapa nya..!?.." Yang berbicara adalah Traver, teman dan rekan bisnis Asher, meskipun diri nya pun sedikit melirik, Siapa yang tidak terpikat dengan kecantikan semacan Dewi ini.
Asher melirik ke arah Arthur, Dia adalah keturunan dari bangsawan Belanda, Atau masih berkerabat dengan keluarga kerajaan.
Memang benar, Pria itu terus melihat ke arah Alesya nya. "Apa yang Kau lihat, jangan bilang Kau tertarik padanya.." Asher memergoki jika Alesya pun melirik ke arah Arthur, dan ia sangat tidak suka.
"Menurut mu apa yang Ku lihat, kalau bukan sekumpulan Wanita yang sibuk bertebar pesona..". Pernyataan itu, ia tunjuk pada Belly dance yang di sajikan oleh Tuan rumah yang memiliki acara.
Mereka terus meleng gok, menggoyang kan pinggul dengan pakaian yang sangat terbuka, dan banyak pasang mata yang melihat mereka. gila saja jika ia menjawab yang dilihat adalah Pria tampan itu.
"Sebaiknya jaga tingkah lakumu jangan membuat ku malu..". Setelah mendengar kan itu Alesya menunduk, lebih baik menuruti kemauan Pria itu, Dia hanya ingin cepat pergi dari sini.
Dan siapa sangka Pria itu mendatangi nya saat ia tengah sendiri, Entah kemana pergi nya Asher, ia pun tidak peduli.
"Boleh Aku bergabung.." Pria itu tersenyum menebar kan pesona nya.
"Ku artikan diam mu, berarti iya.."
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued.