Sang Pelayan Tuan Muda Kejam

Sang Pelayan Tuan Muda Kejam
Bab 16


__ADS_3

Waktu seakan begitu lama bagi Asher, ini kali pertama nya ia di buat cemas dan takut akan kehilangan seseorang.


Rasa nya begitu menyiksa saat netra terus bergantian menatap pintu ruang operasi dan juga arloji yang ada di pergelangan tangan,


Asher terus merasa gelisah, apa kah Alesya akan selamat, itu lah pertanyaan yang ia ucap kan di dalam hatinya.


Dan operasi akhirnya selesai, namun Dokter tidak memberi tahu jika kondisi Alesya baik, Wanita nya kritis, hidup dan mati tergantung waktu yang akan membicarakan nya nanti.


Dengan perlahan langkah kaki itu terus mengayun dengan pasti menuju ranjang pasien, ia melihat Alesya dengan sebuah tabung oksigen dan serangkaian alat medis yang menempel.


Begitu tenang saat Wanita itu tertidur, dengan wajah pucat nya, Asher tersenyum getir, andai saja ia tak menyulut emosi atau memberikan Alesya senjata, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi.


Tapi ia tak menjamin di masa akan datang hal serupa tidak akan pernah terjadi lagi, mengingat benci nya Alesya padanya.


Asher menyentuh tangan mungil itu yang terasa dingin, berbanding dengan tangan lebar nya yang juga kekar, ia meletakkan nya ke pipi, lalu mencium tangan itu begitu lembut.


"Kenapa Kau sangat dingin Alesya.." Asher membawa selimut itu naik hingga ke leher, Pria itu kembali duduk, ia diam seraya menatap wajah cantik yang pucat itu.


"Aku yakin, Kau akan selamat Alesya dan Aku yang akan menyelamatkan mu, tanpa ijin ku, Aku tak akan membiarkan kamu pergi meninggalkan ku.!!." Dan semua itu di lihat oleh Antonio, dan di samping nya ada Tuan Danielle begitu juga Clara.


Semua orang pasti melihat Sang Pria sangat mencintai Wanita nya, Begitu juga Antonio, ia begitu yakin Seorang Asher Drake Kharkov, Hati nya sudah jatuh telak ke tangan Alesya.


"Sebenarnya apa yang terjadi Antonio, kenapa Alesya bisa terluka seperti itu.." Antonio melihat ke arah Tuan besar, ia pun tidak tahu sebenarnya apa yang memicu Alesya menembak dirinya sendiri.


Mungkinkah kenyataan jika Alesya bukan anak dari Clara, itulah yang dipikirkan Antonio. "Untuk urusan Pribadi Tuan Asher yang satu ini, Saya tidak tahu Tuan.." Hanya itu yang bisa ia jawab.


Jika kejujuran yang keluar dari mulut nya, mungkin Tuan besar Danielle akan murka pada Asher, atau ia akan terus menyalahkan diri sendiri, karna dirinya lah orang pertama yang telah menyala-kan Api.

__ADS_1


Dan mungkin ini juga kesalahan nya tak menyelidiki Alesya, wanita yang tidak ada hubungan-nya dengan kebencian sang Tuan, harus menanggung nya, bahkan Antonio tak membayangkan rasa benci Alesya terhadap Asher akan seperti apa, andai Wanita itu sudah sadar nanti.


...----------------...


"Tuan, Apa anda ingin beristirahat di atas sofa.." Seorang perawat bertanya dengan sopan, ia melihat kantung mata itu,menggantung dan menghitam.


Sudah 2 minggu Alesya di rawat, namun tak ada kemajuan, bahkan tangan nya tak bergerak sama sekali, hanya terlihat bernafas saja, itu pun dengan bantuan medis, bisa di bayangkan jika sebuah alat yang berada di atas hidung di lepas, maka sudah di pastikan, ???.


Nyawa Alesya akan melayang.


Suster itu terkadang merasa iri dengan Wanita cantik dengan wajah pucat itu, memiliki Pria yang setia menunggu akan sakitnya.


Apa lagi, di hadapan nya ini adalah Asher Drake Kharkov, semua orang tahu reputasinya nya, pemilik beberapa perusahaan besar atas nama nya. Namun sisi gelap Pria ini Dia tak tahu, hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya.


Asher hanya melihat sekilas tak berkeinginan untuk menjawab nya. Tak penting. Anestesi nya tertuju kembali ke arah Alesya, wanita ini tak kunjung sadar.."Apa Kau tidak akan bangun.?!.". Asher kembali bersuara saat perawat sudah selesai mengecek kondisi Alesya, tak ada berubahan, tangan nya masih terasa dingin, saat tangan kekar itu menggenggam nya dengan erat.


"Antonio ini sudah dua minggu Jika Alesya ku tak kunjung sadar, Aku ingin membawanya ke Korea Selatan..???". Menurut reset skor Indeks di korea Selatan mencapai 78.72 poin menjadi negara dengan kualitas perawatan kesehatan nomor satu di dunia. Itulah alasan pertama nya, memilih negara gingseng untuk menyelamatkan nyawa Alesya.


"Baik Tuan, Saya akan mempersiap kan semuanya nya..".Antonio paham.Segala kegundahan yang di rasakan Tuan nya ini. Nyawa Alesya sudah berada di ujung kematian.


Padahal selama ini Tuan nya itu tak peduli terhadap Alesya, Padahal biar kan saja Alesya mati, toh memang itu keinginan nya, dan Tuan nya sendiri yang mendorong nya.


Seperti yang di ingin kan oleh Asher, Antonio menyiap-kan segalanya, bahkan ada dokter dan perawat yang akan ikut untuk perjalanan nya menuju Korea.


Asher melihat tampilan dirinya di dalam cermin, ia bahkan membiarkan jenggot tipis tumbuh di dagu nya, karna Alesya!! ia sampai tak memperhatikan dirinya, Pria itu mengganti pakaian nya di kamar mandi, untuk hari ini Asher melewat kan mandinya.


Sementara Alesya tengah di persiapkan untuk terbang ada perawat dan dokter yang mengurusnya.

__ADS_1


Langkah kaki Asher telah menginjak puncak anak tangga, yang akan membawa nya ke rooftop, sebuah helikopter telah menunggunya.


Pria dengan tatapan datar dengan rambut yang terus terombang-ambing, mengenakan setelan jas mahal dan juga sebuah mantel yang menggantung di bahu terus melangkah mendekati pesawat dimana Alesya di bawa masuk dengan pelan ke dalam burung besi itu.


Meskipun dengan wajah tanpa ekspresi dan terlihat kelelahan, sedikit pun tak mengurangi kharisma seorang Asher. Pria itu masih terlihat sangat tampan.


Pesawat mengudara, Asher memilih duduk di belakang bersama Alesya begitu pula perawat dan dokter yang selalu siap siaga menjaga Alesya.


Selama perjalanan pun, ia sebisa mungkin memfokuskan dirinya untuk bekerja, selama dua minggu banyak pekerjaan yang terbengkalai, pertemuan di undur, bahkan ia tak pernah menghitung berapa banyak kerugian dana meterial karna masalah ini.


Setiap ia ingin mempusat kan fokus nya saat di kantor, Wajah pucat Alesya seakan menari-nari di kepala, membayangkan jika Wanita itu akan pergi meninggalkan dirinya.


"Kau harus selamat Alesya, Harus...!!.". Dokter dan perawat itu saling melirik, mereka tahu bagaimana kondisi pasien di depan nya kemungkin kecil untuk bisa selamat, tidak banyak orang yang hidup dalam kondisi kritis seperti ini.


Namun mulut tidak mengatakan itu, mereka masih sayang nyawa, beberapa minggu mengenal sosok keturunan Kharkov ini membuat mereka sadar, jangan membuat kesalahan di depan Pria ini, karna kesalahan sedikit saja, sebuah senjata api sudah menodong di dekat kepala.


Pria yang tengah jatuh cinta memang menyeram kan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


To be Contiuned.


__ADS_2