SANG PENARI TUAN MUDA ( I LOVE MY CEO 3)

SANG PENARI TUAN MUDA ( I LOVE MY CEO 3)
TAK BERPALING


__ADS_3

Ya, tanpa terkecuali, terkadang aku berpikir kenapa Rena seperti itu terhadap ku, tapi seiring berjalannya waktu, aku tidak akan membuat diri ku pusing hanya karena hal - hal kecil seperti ini saja."


Clarissa terdiam dengan semua penjelasan Edward, terbersit beberapa perkataan yang ingin dia katakan, namun semua hal tersebut harus di simpan rapat - rapat oleh Clarissa..


"Sudah sampai, ayo kita turun."


Edward mengatakan hal tersebut sambil mematikan mesin mobilnya.


Clarissa mengandeng lengan Edward untuk memasuki satu castil tua.


"Edward kau yakin dokter Rena tinggal di tempat seperti ini?"


Clarissa mengatakan hal tersebut sambil mencengkram lengan Edward dengan kuat.


"Kenapa kau heran karena tempat ini menyeramkan bukan?"


Dengan cepat Clarissa menganggukkan kepalanya."


"Iya Edward tempat ini sungguh sangat menyeramkan."


Clarissa mengatakan hal tersebut sambil bergidik.


"Ya bagi kita tempat seperti ini memang tidak layak untuk di tempati, tapi tidak dengan Rena, dia sangat sayang terhadap tempat ini, sebagai sahabat nya aku hanya berusaha menerima keanehan demi keanehan yang dia miliki, ayo ke lantai dua."

__ADS_1


Edward mengajak Clarissa menaiki tangga tua untuk menuju ke lantai dua, dan begitu sampai Clarissa bisa melihat perbedaan yang sangat mencolok di lantai dua.


"Luar biasa, ruangan ini cantik sekali."


Clarissa mengatakan hal tersebut sambil melepaskan genggamannya terhadap Edward.


"Dokter Rena seorang balerina?"


Clarissa mengatakan hal tersebut sambil bergumam, dengan teliti Clarissa melihat foto demi foto dokter Rene kecil yang menari angsa putih di satu pagelaran tari.


"Dulunya aku memang seorang balerina nona Clarissa."


Deg


Clarissa langsung membalikan tubuhnya ketika melihat dokter Rena sudah berada di belakangnya.


Clarissa menunjukkan satu foto dokter Rena di masa kecil.


"Ya usiaku saat itu adalah delapan tahun, dan saat itu aku sangat senang menari."


Dokter Rena mengatakan hal tersebut sambil tersenyum.


"Lalu apa yang menyebabkan dokter Rena beralih profesi? ah maafkan aku jika lancang."

__ADS_1


"Semua ada ceritanya nona Clarissa, dan bisa satu malam penuh jika aku menceritakan kepada mu sekarang, lagi pula kalian datang bukan aku undang untuk mendengarkan cerita ku bukan?"


"Ya kau benar Rena, ayo aku sudah lapar."


Edward yang sejak tadi berada di belakang dokter Rena, langsung mengucapkan hal tersebut.


"Kau benar Edward, ayo aku sudah masak banyak makanan untuk mu dan nona Clarissa."


Clarissa dan Edward pada akhirnya menuju ke meja makan, dan mereka makan dengan sangat lahap.


"Bagaimana rasanya nona Clarissa, kau adalah satu baru ku untuk menikmati makanan ini."


"Anda sungguh sangat berbakat memasak , jika ada waktu aku ingin belajar memasak dengan mu dokter Rena."


"Ah dengan senang hati nona Clarissa, merupakan satu kebanggaan bisa mengajari satu orang wanita yang sedang di perebutkan lebih dari satu pria."


Edward yang sejak tadi sedang berkonsentrasi dengan makanan, tiba - tiba saja meletakkan garpu dan juga sendok yang masih berada di dalam genggamannya.


"Apa yang kau maksudkan dokter Rena?"


Clarissa yang masih kurang mengerti kembali menanyakan hal tersebut kepada dokter Rena.


"Ah aku hanya bercanda, mana mungkin cinta mu bisa berpaling, betul kan nona Clarissa?"

__ADS_1


Dengan cepat Clarissa langsung menganggukkan kepalanya.


"Ya, sampai kapanpun hati ku ini adalah milik Richard dokter."


__ADS_2