
Ya papa tau Richard, namun di dalam kehidupan ada saatnya kita harus bisa menerima hal - hal yang tidak bisa kita terima, karena perjalanan hidup itu tidak ada yang sempurna."
"Semua orang yang ada di dekat kita pun berpotensi untuk menyakiti hati kita."
"Termasuk Keluarga sendiri, saat ini tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali belajar untuk menerima sulit memang karena ini adalah proses."
Richard langsung terdiam dengan semua hal yang telah di katakan oleh tuan Adrian.
"Richard akan mencoba untuk mencerna semua perkataan yang telah papa katakan hari ini, meskipun itu masih sangat sulit Richard terima, namun Richard akan mencobanya."
"Papa yakin kau pasti bisa nak, jadi apa saja yang akan kita urus hari ini?"
Tuan Adrian pun langsung mengatakan hal tersebut kepada Richard agar kembali ke pembicaraan pekerjaan.
Sementara itu di lain tempat.
"Lepaskan aku!"
Clarissa mengatakan hal tersebut karena pagi ini tiba - tiba saja Clarissa di bawa oleh beberapa laki - laki tak di kenal saat dia akan berbelanja di supermarket.
"Katakan saat ini aku dimana? dimana ponsel ku, dimana tas ku, cepat katakan!
"
__ADS_1
Clarissa mengatakan hal tersebut sambil berteriak histeris kepada salah satu orang yang saat ini sedang mengawasinya
"Selamat datang nona Clarissa."
Deg
Satu orang laki - laki paruh baya mengatakan hal tersebut dari arah tangga, Clarissa langsung memandang dengan tajam laki - laki paruh baya tersebut.
"Siapa anda, mengapa anda membawa ku dengan cara seperti ini, sadarkan anda jika ini bisa di sebut dengan penculikan? dan aku bisa melaporkan kepada pihak berwajib."
"Tenang lah cucuku."
Deg
Satu sebutan yang tak biasa Clarissa dengarkan.
"Pertama - tama maafkan mereka jika membawa mu dengan kasar, namun ini adalah satu - satunya cara agar aku bisa bertemu dengan mu, ayo kemarilah aku akan menceritakan semua rahasia besar yang seharusnya sudah waktunya kau tau."
"Siapa anda? aku tidak akan duduk bersebelahan dengan anda, jika anda tidak memberitahukan nama anda."
"Aku Lauren, kakek Lauren, ayo sekarang duduklah."
Tuan Lauren mengatakan hal tersebut kepada Clarissa.
__ADS_1
Clarissa yang masih sangat tegang kini hanya bisa menatap tajam ke arah tuan Lauren yang saat ini terasa begitu asing baginya.
"Duduklah, aku akan menceritakan tentang Keluarga mu, ya semua tentang Keluarga mu."
Deg
Untuk pertama kalinya Clarissa tersentak ketika dirinya mendengarkan kata Keluarga.
"Keluarga? aku punya keluarga?"
Clarissa mengatakan hal tersebut lalu dengan cepat berjalan duduk di samping tuan Lauren.
"Iya di masa lalu kau memiliki keluarga lengkap ayah dan juga ibu, ini foto mereka."
Tuan Lauren mengatakan hal tersebut sambil membuka satu kotak dan mengeluarkan satu foto kecil lalu menyerahkan kepada Clarissa.
"Ini adalah ayah mu, dan ini adalah ibu mu, kau adalah Clarissa Louis, dan aku adalah orang tua dari kedua orang tua mu, aku adalah kakek kandung mu sayang."
Air mata yang Clarissa tahan sejak tadi kini akhirnya jatuh juga.
"Ini ibuku? wajah ku sangat mirip dengannya."
Clarissa mengatakan hal tersebut sambil menunjuk ke foto yang telah diberikan oleh ruang Lauren.
__ADS_1
"Iya ibu mu, ibu kandung mu, dan memang kau sangat mirip sekali dengan ibu mu sayang."
Clarissa tak henti - hentinya memandang foto keluarga yang seumur hidup tidak pernah dia punya.