SANG PENARI TUAN MUDA ( I LOVE MY CEO 3)

SANG PENARI TUAN MUDA ( I LOVE MY CEO 3)
TANGISNYA


__ADS_3

Apakah itu tidak membuang waktu kita pa?"


Dengan cepet tuan Jaya langsung menggelengkan kepalanya..


"Tidak ada yang dapat mengatakan hal ini akan membuang waktu, jika kita pada nantinya mendapatkan hasil yang lebih baik, Adrian terkadang kita harus mengulang beberapa kali untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal dari sebelumnya dan ini harus kita lakukan."


Tuan Jaya mengatakan hal tersebut dengan penuh keyakinan.


"Baiklah pa, aku berharap juga seperti itu, karena jika tidak, kita akan melihat Edward dengan kemarahannya."


"Ya kau benar Adrian, untuk itulah kita akan bertindak dengan penuh hati - hati."


Dan setelah mengatakan hal tersebut tuan Jaya dan tuan Adrian bangkit dari tempat duduknya masing - masing untuk menjalankan aktivitasnya kembali.


Hari ini semua sibuk dengan aktivitas yang dilakukan masing - masing, dengan setiap hal yang menjadi beban bagi setiap orang.


Sementara itu malam ini Clarissa yang sudah berada di dalam apartemen sangat gelisah.


"Ada apa dengan ku? aku seperti menginginkan hal itu kembali."


Clarissa mengatakan hal tersebut sambil mencoba memeluk dirinya sendiri dan mencoba untuk tetap bersikap tenang.


"Tidak mungkin, tidak mungkin."


Clarissa mengatakan hal tersebut kepada dirinya sendiri, saat ini sepertinya betul - betul sedang mencandu sesuatu.


Dan di saat yang bersamaan terdengar ketukan pintu apartemennya.

__ADS_1


"Edward!"


Clarissa mengatakan hal tersebut sambil membuka pintu.


"Pergi kau Edward!"


Clarissa kembali mengatakan hal tersebut sambil mencoba untuk menutup pintu apartemennya kembali, namun tenaga Edward yang jauh lebih besar berhasil menghalangi apa yang akan dilakukan oleh Clarissa.


"Lepaskan aku Edward, lepaskan aku!"


Clarissa mengatakan hal tersebut sambil meronta - ronta karena kini Edward mencengkram lengannya dengan sangat kuat.


"Lepaskan!"


Dan setelah mengatakan hal tersebut dengan berteriak Edward pun melepaskan cengkeramannya.


Clarissa mengatakan hal tersebut dengan menangis dan menundukkan kepalanya.


"Sekarang tatap ke dua mata ku dan katakan hal itu, kau harus berani menatap ke dua mataku, dan mengatakan hal tersebut di hadapan ku!"


Edward dengan berani mengatakan hal tersebut kepada Clarissa..


"Ayo Clarissa!"


Clarissa yang kini semakin menangis sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya.


"Kenapa kau tidak mau mengaku kepada diri mu sendiri bahwa kau menikmati semuanya?"

__ADS_1


"Kau munafik Clarissa!"


Dengan tegas Edward mengatakan hal tersebut.


"Kenapa kau tidak mau mengakui jika perasaan mu dengan Richard saat ini sudah memulai memudar? kau sedang membohongi diri mu sendiri dan sampai kapan kau seperti ini?"


Clarissa yang mendengarkan perkataan Edward tidak bisa mengatakan apapun lagi kecuali hanya terus menangis dan menangis.


"Edward, apakah kau pernah mencoba untuk mengerti posisi ku?"


Di dalam keheningan Clarissa pada akhirnya berbicara dengan sangat pelan.


"Apa yang aku aku mengerti dari posisi mu Rissa?"


"Posisi ketika aku berusaha untuk menolak, posisi ketika aku mencoba untuk tidak memikirkan, namun yang aku dapatkan malah sebaliknya."


Dan setelah mengatakan semua hal tersebut Clarissa kini berani mengangkat wajahnya.


"Aku, aku seperti bukan menjadi diriku sendiri, kau tau bagaimana rasanya menjadi aku?x


"


"Kau tau rasanya ketika aku harus memerangi batin ku sendiri?


Clarissa mengatakan semua itu dengan berteriak histeris.


"Kau tau gejolak yang aku rasakan saat aku harus melanggar sumpah yang aku ucapkan sendiri?"

__ADS_1


__ADS_2