
Sungguh akan sangat memalukan bagi ku jika memang benar, ternyata aku menyukai kelainan seksual yang Edward derita."
Saat ini Clarissa mengatakan hal tersebut sambil terus menangis dirinya yang sedang tidak dapat mengendalikan tubuhnya sendiri terus merasa bersalah akan apa yang telah terjadi dirinya dengan Edward
"Seandainya waktu bisa terulang kembali, mungkin aku tidak akan bodoh."
Clarissa kembali mengatakan hal tersebut dengan menangis tanpa suara, sungguh saat ini dirinya betul - betul ingin mengulang waktu.
Tubuhnya yang seakan - akan sudah mencandu sesuatu hal yang salah membuat Clarissa mulai menepis semuanya.
"Aku akan melakukan segala cara agar aku bisa tidak memikirkan Edward Chandradinata."
Setelah mengatakan hal tersebut Clarissa berdiri dan menari dengan sepatu balet kesayangannya.
Dengan air mata yang terus mengalir Clarissa menari tanpa berhenti, di tengah - tengah kegundahan hatinya, Clarissa terus melakukan hal itu dan berharap rasa lelah mampu membuat dirinya sejenak tidak memikirkan Edward Chandradinata.
Sementara itu di kediaman keluarga Chandradinata.
"Ini tuan muda Adrian."
Satu pengawal memberikan foto - foto yang di masukan ke dalam satu amplop.
"Terima kasih."
__ADS_1
Dengan cepat tuan Adrian membuka berkas yang berisikan foto - foto tersebut.
"Bagaimana Adrian, apakah kecurigaan kita benar?"
Tuan Jaya yang sejak tadi duduk di samping tuang Adrian kembali menanyakan hal itu.
"Ini pa, apa yang kita curigai benar adanya."
Tuan Adrian memberikan foto - foto tersebut kepada tuan Jaya.
"Jadi ada hubungan spesial antara nona Clarissa dan juga Edward?"
"Besar kemungkinan seperti itu pa, dan Richard tidak mengetahui kebenaran ini."
"Ini masalah besar Adrian, jika sampai Richard mengetahui semuanya, kita tidak akan pernah mengetahui apa yang akan terjadi dengan mereka."
"Papa benar, namun yang lebih membuat ku curiga adalah ini."
Tuang Adrian mengatakan hal tersebut sambil menunjukkan tanda lahir hitam di tangan Clarissa yang terdapat di dalam foto.
"Apa istimewanya tanda lahir ini Adrian?"
"'Coba papa perhatikan lebih lagi, ini bukan tanda lahir asli, ini tanda lahir buatan."
__ADS_1
Deg
Dan seketika itu tuan Jaya memperbesar foto dengan alat canggih yang di miliki oleh keluarga Chandradinata.
"Kau benar, ini tanda lahir yang bisa di buat oleh manusia untuk menandai keluarganya."
"Dan sangat sedikit orang - orang yang menggunakan tanda lahir buatan seperti ini."
Tuan Adrian terdiam dan terus terdiam mendengarkan perkataan tuan Adrian putranya.
"Pengawal, kau selidiki latar belakang nona Clarissa."
"Baik tuan Jaya."
"Untuk apa papa kembali mencari tau masa lalu nona Clarissa? bukankah kita semua sudah mengetahui bahwa nona Clarissa adalah wanita yang sudah tidak memiliki keluarga satu pun lagi?"
Tuan Adrian kembali mengatakan hal tersebut karena heran ketika tuan Jaya memerintahkan para pengawal untuk menyelidiki tentang masa lalu Clarissa.
"Aku mengerti apa yang kau pikirkan Adrian, aku pun berharap semuanya akan tetap sama, tapi tidak ada salahnya bukan jika kita kembali mengulang penyelidikan yang sebelumnya?"
"Apakah itu tidak membuang waktu kita pa?"
Dengan cepet tuan Jaya langsung menggelengkan kepalanya..
__ADS_1
"Tidak ada yang dapat mengatakan hal ini akan membuang waktu, jika kita pada nantinya mendapatkan hasil yang lebih baik, Adrian terkadang kita harus mengulang beberapa kali untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal dari sebelumnya dan ini harus kita lakukan."