
Untuk apa Edward datang kemari pa?"
Tuan Adrian kembali bertanya karena sejak pertengkaran semalam tuan Jaya mengeluarkan keputusan yang terkesan bagi keluarga ini.
"Mungkin ingin menemui kita Adrian, mari kita dengarkan saja apa yang akan Edward sampaikan, papa berharap bisa meninggalkan wanita itu."
"Karena meskipun wanita itu di samping Edward cucu ku, aku tidak akan pernah memaafkan diri ku sendiri."
Tuan Jaya mencoba untuk mengatakan hal itu.
Dan tepat di saat yang bersamaan pada akhirnya pintu ruangan tuan Adrian di buka.
"Pa, kek."
Dengan tenang Edward mengatakan hal tersebut kepada mereka.
"Duduklah Edward."
Dan kakek Jaya pun mempersilahkan Edward untuk duduk.
"Apa yang membuat mu kemari?"
Dengan tenang pula tuan Jaya mengatakan hal tersebut kepada Edward.
"Ini, aku akan mengembalikan ini."
__ADS_1
Edward mengatakan hal tersebut sambil menaruh satu berkas di meja.
"Apa ini Edward?"
Tuan Jaya mengatakan hal tersebut sambil mengambil berkas tersebut dari meja.
"Ini adalah semua kartu kredit milik ku, kunci mobil, aset dan semua barang berharga yang aku miliki dari keluarga Chandradinata.
Deg
Kini tuan Jaya dan tuan Adrian hanya bisa saling berpandangan.
"Kau serius Edward? apakah kau akan tetap menyerahkan ini?
"
"Ya pa aku serius, aku akan melakukan segala hal untuk bisa bersama dengan Clarissa."
Dan seketika itu juga semua orang yang berada di dalam ruangan kembali terdiam.
"Tak disangka ternyata kau rela mengorbankan Keluarga mu demi wanita itu Edward."
Tuan Jaya mengatakan hal tersebut sambil membuang berkas tersebut ke tempat sampah.
"Apa saja yang telah wanita itu berikan kepada mu? kenikmatan seperti apa yang membuat mu sampai meninggalkan Chandrawinata."
__ADS_1
Tuan Jaya kembali mengatakan hal tersebut dengan geram.
"Clarissa memberikan semua yang aku butuhkan kek, dengan tidak di terimanya dia menjadi anggota keluarga Chandradinata, berarti kalian tidak menerima ku juga."
"Dia mengikuti kegiatan seksual mu bukan, karena hal itu lah kau mau meninggalkan keluarga mu ini?"
Deg
Sungguh kali ini perkataan kakek Jaya membuat Edward tercekat.
"Kakek mengetahui semua hal yang saat ini terjadi dengan mu Edward, kakek dan papa mu menyarankan untuk mu berobat ke dokter, bukan malah melampiaskan hal tersebut kepada wanita yang tidak benar."
Kedua tangan Edward mengepal, dan ke dua matanya memerah ketika tuan Jaya mengatakan banyak perkataan sensitif kepada Edward.
"Kalian keterlaluan!"
Seketika itu juga Edward berdiri dan dengan berani menatap ke dua laki - laki paruh baya tersebut dengan mata Elangnya.
"Kalian mengetahui dan membiarkan semuanya terjadi, dan saat ini kalian langsung mengatakan hal ini kepada ku!"
"Maafkan kami Edward apa yang dikatakan oleh kakek benar, kau harus berobat bukan mencari pelampiasan dengan wanita lain, apa yang kau derita saat ini pasti terjadi karena salah satu pengalaman masa lalu, dan ini perlu dokter, ya tenaga profesional."
Tuan Adrian mengatakan hal tersebut dengan tenang berbeda dengan tuan Jaya yang sejak tadi masih berapi - api jika menghadapi Edward
"Yang perlu kalian tau, dasar aku ingin bersama dengan Clarissa bukan hanya karena kebutuhan seksual saja, tapi aku mencintai Clarissa, terlalu picik jika kalian menilai aku dengan cara yang seperti itu, aku tidak menyangka!"
__ADS_1