SANG PENARI TUAN MUDA ( I LOVE MY CEO 3)

SANG PENARI TUAN MUDA ( I LOVE MY CEO 3)
KESEMPATAN


__ADS_3

Clarissa mengatakan hal tersebut sambil menunjuk ke foto yang telah diberikan oleh ruang Lauren.


"Iya ibu mu, ibu kandung mu, dan memang kau sangat mirip sekali dengan ibu mu sayang."


Clarissa tak henti - hentinya memandang foto keluarga yang seumur hidup tidak pernah dia punya.


"Katakan kepada ku bagaimana mereka meninggal?"


Clarissa kini mengatakan hal tersebut dengan memandang tajam ke arah tuan Lauren.


"keluarga mu di bunuh olah Keluarga Chandrawinata, ya Adrian Chandradinata lah yang melakukan semua hal ini, yang anaknya menjadi kekasih mu."


Deg


Hancur sudah hati Clarissa mengetahui bahwa pelaku semuanya ini adalah calon mertuanya sendiri.


"Apakah ada hal yang bisa membuat aku percaya akan hal ini? apakah ada bukti bahwa tuan Adrian adalah pelakunya?"


"Tentu saja ada, lihat lah tulisan yang di ukir di dengan tetesan darah kedua orang tua mu."

__ADS_1


Clarissa langsung mencari apa yang dimaksudkan oleh tuan Lauren dan di saat itulah Clarissa menemukan sebuah amplop tua di dalam kotak tersebut.


"Buka saja amplop tersebut, kau akan menemukan siapa pembunuh sebenarnya."


Clarissa hanya bisa menganggukkan kepalanya lalu membuka amplop rusak tersebut dan ke dua mata Clarissa langsung terbelalak melihat satu benda yang dia temukan di dalam sana.


"Sapu tangan bekas darah?"


Dan tuan Lauren pun langsung menganggukkan kepalanya.


"Ya sarung tangan dengan tulisan pembunuh Chandrawinata!"


Dan apa yang telah di katakan oleh tuan Lauren kini terbukti.


"Ini tidak mungkin, ini tidak mungkin


"


Clarissa mengatakan hal tersebut sambil menggelengkan kepalanya

__ADS_1


"Tidak ada yang tidak mungkin Clarissa semuanya bisa menjadi mungkin di dalam dunia ini, termasuk mama dan papa mu yang telah di bunuh oleh satu pengusaha terkenal di negara W."


Dengan lantang tuan Lauren mengatakan hal tersebut kepada Clarissa yang sampai saat ini masih belum percaya dengan semua hal yang sudah terjadi.


"Bawa saja kantong yang ada di dalam kotak tersebut, dan bacalah, itu adalah isi surat - surat mendiang ibu mu."


Tuan Lauren mengatakan hal tersebut sambil menunjukkan satu kantong kecil berwarna merah.


"Lalu setelah kau yakin aku harap kau memikirkan kembali untuk bersama dengan Edward Chandradinata, asal kau tau ibu mu begitu sayang dan sangat melindungi mu di kala itu."


"Dia kehilangan nyawa agar kau bisa tetap hidup, satu - satunya hal yang harus kau lakukan adalah meninggalkan Edward Chandradinata dan kembali kepada keluarga kandung mu yang masih tersisa, selama ini aku sengaja menaruh mu di panti asuhan di Cambodia untuk menghilangkan jejak mu dengan keluarga Chandradinata, namun tak di sangka kau malah berhasil membuat dua laki - laki penting di dalam keluarga Chandradinata saling berselisih paham karena cinta yang sama dengan mu."


"Rissa, hanya kau yang menjadi harapan satu - satunya untuk keluarga Louis, dan hal itulah yang harus kau lakukan untuk membalas semua pengorbanan ibu dan ayah mu yang tetap membuat mu hidup sampai hari ini."


Tidak ada yang Clarissa katakan kecuali air mata yang kini mengalir dengan sangat deras.


"Aku, aku tidak bisa memutuskan hari ini, akun."


"Ssst sayang kakek sangat mengerti bahwa apa yang akan kau putuskan itu sangat berat, untuk itulah kakek berikan kesempatan mu untuk berpikir."

__ADS_1


"


__ADS_2