
"paan sih, kamu tau aku hani dari dari mana? perasaan gak pernah ketemu" kata zoya
"tadi waktu di kantor liat kamu sama om abbas, makanya aku tau" jawab dimas
"oh.. "
"kok cuma oh doang si, gak ada respon lain apa" gerutu dimas
"hmm" zoya cuma ber dehem
"gak enak ya, ngomong sama patung" kata dimas sambil menyerut jus alpukat yang sudah di pesan zoya sebelumnya
"ehh... itu aku yang pesen, kalo Mau kamu pesen lah.. " kata zoya merebut just yang di tangan dimas
"ya elah... itu juga bekas bibir aku masih Mau diminum?" kata dimas lagi merebut jus yang sudah di tangan zoya
'haha. sebelumnya belum pernah ada yang berani merebut sesuatu dari tangan Ku, rasa nya tangan ku gatal, pistol Ku dimana ya.. ' batin zoya menahan kesal pada dimas
"ck, kamu yang bayar" kata zoya yang kemudian pergi
"lah kok pergi.. woii!!" teriak dimas
keluar dari restaurant itu, zoya malah bertemu dengan sania, yang menenteng banyak belanjaan di tangan kanan Kiri nya dengan dua teman nya yang lain
"eh... ada anak buangan, habis dari mana?" kata sania
zoya tak menggubris, dan pergi meninggalkan sania. tentu saja sania kesal, tapi dia tak ingin terlihat jahat di depan ke dua teman nya jadi dia hanya diam menahan kesal
"eh.. ya udah yuk masuk, aku yang traktir" kata sania mengajak ke dua teman nya
"eh, San.. tadi itu siapa? kok kayaknya kamu kenal" tanya sisil
__ADS_1
"mmm dia saudara aku, tapi dia gak pernah suka sama aku, karna papa abbas sayang nya itu lebih ke aku " cerita sania sambil jalan masuk ke restaurant
"oh.. masa iya sih, kamu kok bisa di sayang banget sama om abbas, kan kamu bukan anak kandungnya" kata lina lagi
"ya gitu deh, mungkin karna aku penurut dan lebih sopan, kalian tau gak Hani itu gak ada ahlaknya, mama aku masa dia kata in an***g, parah banget gak sih" cerita sania sambil memincingkan bibir nya
"hah? masa sih, kalo gitu sih.. aku juga gak bakalan suka sama dia, tapi masa sih dia segitunya" kata sisil yang kurang percaya
"aduh.. terserah deh kalo kalian gak percaya, aku sih udah jujur" sahut sania
"ah udah lah gak usah di bahas lagi, kalian Mau pesen apa?" lanjut sania lagi yang tidak Mau berlama lama menyebut nama Hani
"pa... " sapa zoya pada abbas yang baru keluar dari kantor nya,
"Hani, baru aja papa Mau nyariin kamu, ya udah yuk kita pergi sekarang" ajak abbas pada zoya
"mmm, si sania papa gak ikutin?" tanya zoya
"oh.. iya pa" zoya lalu masuk ke mobil
sampai di toko baju muslimah, zoya dan papa abbas langsung masuk, papa abbas memilih beberapa gamis, hijab pondok, bros, dan beberapa keperluan lain nya.
papa abbas juga membelikan hal yang sama untuk sania. zoya hanya diam tanpa berkomentar apa pun. meski beberapa baju gamis yang papa abbas belikan untuk nya agak tidak dia suka karna terlihat akan sangat gerah jika di pakai.
dua hari sebelum zoya masuk ke pesantren, zoya meminta izin untuk keluar rumah, untuk jalan-jalan alasannya, tapi yang sebenarnya adalah melancarkan sebuah rencana untuk gino dan juga untuk mengingat kan Hani untuk segera pulang ke Indonesia, karna mau bagaimana pun, gino pasti akan menyelidiki sampai ke titik dimana Hani telah menyelamat kan diri nya, akan sangat bahaya bagi Hani, dan nenek. tidak hanya mereka, bahkan papa abbas juga.
zoya sampai di sebuah gedung kosong yang jarang terpakai, meski begitu banyak bahan bekas yang tertinggal di sana, sebelum sampai di sana zoya menyiapkan beberapa barang yang di butuhkannya seperti HP, darah ayam, dan pakaian mini seperti yang sering dia gunakan sebelumnya.
zoya mengganti pakaian nya, rambutnya di kuncir kuda, zoya berpenampilan seperti sylvia zoya lagi, bukan seperti Hani.
zoya membuat luka palsu di leher, wajah, lengan dan bagian tubuh lain nya, kemudian zoya melamutinya dengan darah. meski gino tidak akan sepenuhnya percaya, setidaknya bisa mengulur waktu agar Hani bisa dia amankan sebelum sampai gino menangkapnya. zoya mengambil tali bekas yang tergeletak di sana, zoya melamutinya dengan darah, kemudian dengan hati-hati zoya menggantung diri nya, seolah-olah zoya sedang di siksa.
__ADS_1
zoya sudah menyiapkan kamera sebelumnya dan memotret diri, darah segar yang mengalir dari tubuh nya terlihat begitu nyata.
selesai memotret diri, zoya kemudian mengirim foto diri nya pada gino menggunakan hp yang sudah di siapkannya sebelum nya. zoya mengetik beberapa kata juga di sana
"bukan kah dia adik angkat tersayangmu? kau menangis untuk nya bukan? lihatlah dia sudah ku jadi kan mainan gantung, aku ingin lihat bagaimana kau akan membalas kan dendam untuk nya, adik mu ini cukup kuat, tapi sayang sekali dia hanya seorang wanita, dia bahkan tidak bisa melukai ku. coba kau lihat wajah nya dengan jelas, apa dia benar-benar adik mu atau bukan. kau tau? golongan darah nya adalah A- dan sudah ku ambil untuk di jadi kan donor darah untuk orang ku. darah nya begitu lezat"
begitu lah ulasan kata yang zoya kirim pada nomor gino, selesai dengan itu zoya kemudian membuang kartu yang di gunakan nya dan juga hp itu juga sudah zoya buang.
zoya mengganti pakaian nya lagi, tapi bau darah masih tercium sangat pekat di badannya.
'bau darah nya masih pekat, kalau keluar begini.. bisa bisa aku di kira vampire yang baru selesai makan darah' batin zoya sambil mengendus-endus tubuh nya
zoya keluar dari gedung itu, dan langsung menuju ke toilet umum, di sama zoya membersih kan diri nya
di belahan dunia lain, tepatnya di markas utama milik gino, di sana gino sedang memberikan perintah pada bawahan nya untuk menyiapkan perang dengan klan musuh, yang terus menyerang nya akhir-akhir ini.
"Axel kau pimpin untuk melakukan serangan langsung, diki bawa pasukan untuk menyerang markas mereka secara diam diam, mark kau bawa beberapa bawahan mu untuk mempertahan kan markas utama, lance kau dengan bawahan mu menyerang diam diam. dan aku ak.... " belum selesai gino memberi arahan, sebuah pesan masuk ke HP nya, awal nya gino tidak mau peduli tapi karna sampat melihat ke arah HP nya dan sekilas melihat pesan yang masuk dari nomor yang tidak di kenal, gino pada akhirnya teralihkan.
gino membuka pesan itu, terlihat beberapa foto zoya yang tergelantung dengan darah segar di sekujur badannya, gino merasa sangat marah, perasaan nya bercampur aduk, ada rasa senang karna zoya masih hidup dan tidak mati di sungai, ada rasa marah karna dia
mendapati satu lagi kabar kematian zoya, ada rasa geram karna dia yang belum sampat menyiksa zoya.
"Aarrggghhh.......... !!!!!!!" teriak gino yang membuat semua orang yang ada di sana sangat terkejut
"cari siapa yang mengirim ini pada ku, lacak keberadaannya!!" bentak gino pada lance
"baik tuan" ucap lance dengan segera
lance keluar ruangan itu kemudian masuk ke ruangan pribadi nya. di sana lance melihat pesan yang masuk ke hp gino, betapa terkejut nya lance, hati nya hancur dan marah. siapa yang berani membunuh zoya begitu kejam? lance tak mau percaya dan mengetes keaslian foto itu siapa tau itu adalah editan seseorang. tapi lance kembali di buat syok karna foto itu asli di tambah ulasan kata yang di pesan itu.
tidak mau berlama-lama lagi, lance melacak asal usul nomor itu, tapi sungguh sayang orang yang mengirim pesan itu tak meninggalkan jejaknya, sampai nomor nya pun tak bisa di lacak.
__ADS_1