
"pa.. ntar sore aja ya kita baliknya.. kita masih mau di rumah.. masih kangen sama papa... " kata Sania yang bergelayutan manja memohon pada Abbas yang sedang menyeruput kopinya,
"Sania.. ? jangan gitu dong sayang.. nanti kalian di hukum sama ustadzah kalian gimana? udah yuk sarapan habis ini kalian papa langsung antar ke pondok" kata Abbas menolak
"pa.. katanya Sania pengen nikah gak mau sekolah lagi" kata Hani yang baru sampai di ruang makan
"hah?!!" tentu saja Abbas terkejut dengan perkataan Hani, Sania malah menatap tajam Hani yang sudah duduk di samping nek ijah.
"bohong pa! lagian Hani kamu mimpi apa sih semalem? kok tiba-tiba jadi fitnah gini" gerutu Sania kesal
"lagian kamu kayak gak betah aja mondok" kata Hani lagi
"aku betah! cuman kangen aja sama papa" kata Sania kembali memeluk lengan Abbas
"haihh.. sayang banget aku cuma punya nenek.. " Kata dengan nada sedihnya memeluk nenek ijah
"sayang? kamu kok gitu sih.. papa sayang sama kalian berdua!" kata Abbas yang merasa panik dengan ucapan Hani
"udah ah.. Hani bercanda.. ayo sarapan" ajak Hani sambil tersenyum walau sebenarnya hatinya sedikit sakit, bukan karena iri pada Sania hanya saja dia masih takut dengan papanya itu, takut jika dia masih tak peduli padanya hingga dia sendiri tak pernah berani manja pada Abbas walu dia sangat ingin.
Santi melirik Hani sedikit, kebenciannya kian bertambah saat Hani menggoda Sania. dia benar-benar ingin melenyapkan Hani, karena bahkan pagi ini Sania tida menyambutnya meski mereka bertatap muka. cemburu dengan keakraban mereka Santi melampiaskan kekesalannya pada Hani hingga sangat membencinya.
'oke! Boby tidak mau mebantuku kan? bawahannya yang lain masih mau mendengarkan ku! tunggu ada kesempatan aku ingin menculik dan nelenyapkannya!! bersama gadis sialan itu juga!' batin Santi yang tertuju pada Hani dan Zoya.
__ADS_1
'dari tatapan mama.. aku tau dia punya niat buruk! tapi aku yang sekarang berbeda, maaf ma.. aku gak akan biarin sesuatu pada terjadi sama Hani.' batin Sania yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Sania dari ekor matanya. Hani peka dengan ekspresi Santi tapi dia terlalu takut untuk mengangkat wajahnya pada Santi, jadi hanya menunduk dan mengalihkan rasa takutnya dengan sesekali menggoda Sania. nenek juga tau itu, terlihat dari punggung Hani yang sedikit gemetar, nenek sangat faham dengan ketakutan Hani hanya saja dia tidak ingin merusak pagi cerah ini sekarang jadi hanya diam dan seolah tak peduli.
skip sampai mobil. Sania membuka pintu depan, Hani berjalan dan melewatinya dia sudah pasrah dia bahkan tidak berharap untuk duduk di samping Abbas meski dia ingin. Hani merasa harus terbiasa dengan ini semua karena sejak dulu memang seperti inilah posisinya, ketika membuka pintu dan ingin masuk suara Sania menghentikan gerak Hani..
"udah capek capek di bukain pintu malah mau duduk di belakang! kamu gak hargain aku ya Han!! pokoknya kau marah ya.. aku ngambek sama kamu!! sini masuk! kamu duduk di depan!" kata Sania dengan nada memerintah nya
"hah?" Hani malah plongo dengan ucapan Sania
"ck! ayo sini!" Sania menarik tangan Hani dan dengan paksa memasukkan tubuh Hani dan duduk di kursi depan. Hani masih plongo dengan sikap Sania, Sania menutup pintu dan segera duduk di belakang. Abbas merasa senang melihat Sania dan Hani yang akur, tidak salah jika dia memasukkan Sania juga ke pesantren. dia benar-benar bersyukur jika Sania tidak lagi seperti dirinya yang dulu.
"pa.. bunyiin musik dj! sebelum sampai pesantren Sania mau joget" kata Sania di belakang, Abbas menurut saja dan menyalakan musik sesuai dengan keinginan Sania
"pa... " Hani menghentikan ucapannya, dia tak lagi melanjutkan kalimat nya
"mm... maaf ya.. Hani masih takut sama papa, Hani masih menghindar dari papa.. Hani.. Hani cuma keinget masa lalu aja, jadi masih takut kalau didekat papa" kata Hani gugup sambil menunduk. Abbas merasa patah hati mendengar penuturan putrinya, bagaimana mungkin dia bisa di sebut seorang ayah dia bahkan membuat putrinya trauma dengan sikapnya di masa lalu
"maafin papa.. papa yang salah sering kasar sama kamu..papa juga gak pernah perhatian sama kamu.. tapi papa janji papa akan memperbaiki kesalahan papa, papa janji.. " kata Abbas menahan air matanya
"maaf ya Han.. aku bener-bener jahat sama kamu, ku emang gak tau diri.. gak tau di untung! aku selalu jahat dan sering usilin kamu waktu kecil.. gak salah kalau kamu mau benci sama aku.. aku pantes buat di benci bahkan setelah kamu datang kembali aku sempat nyakitin kamu di pesantren.. maaf ya Han.. " kat Sania yang sambil memeluk Hani dari belakang
"papa senang kalian bisa akur kayak gini.. papa memang bukan ayah baik buat kalian.. papa benar-benar menyesal.. " sambut papa juga
"aku udah maafin kalian, ku cuma sedikit trauma doang kok bukan benci sama kalian.. udah pa, kita jadi kan berangkatnya?" kata Hani mencairkan suasana.
__ADS_1
"musiknya kurang asik" Sania mengganti musiknya dan mulai berjoget rua di belakang bahkan sampai ikut bernyanyi, Abbas dan Hani menutup rapat kuping mereka suara fales Sania benar-benar memekakkan telinga mereka.
"apa kamu tidak senang melihat putrimu enjadi orang baik? kenapa kamu bahkan membenci Hani yang tak pernah sekalipun menyentuhmu!" kata nenek Ijah yang kini sedang duduk di sofa ruang tamu bersama dengan Santi
"heh.. jadi orang baik?? Sania ku tidak pantas berteman dengan kecoa seperti mereka!!" kata Santi dengan sombongnya
"sayangnya kamu yang tidak pantas menjadi ibu buat Sania!" kata nek ijah yang kemudian meninggalkan Santi di ruang keluarga
'sialan!!! semenjak dia kembali hari hari baikku jadi rusak!!! baiklah dia juga akan merasakan kekejamanku!!!' batin Santi meremas dress nya
'selama ini aku selalu diam dan tak pernah menegurnya, untuk melindungi Hani aku bahkan sengaja tinggal di tempat yang jauh tapi sekarang sudah cukup! jika terus di biarkan kejadian waktu itu bisa saja di ulangnya lagi. mulai sekarang akan ku tunjukan sikap asli ku, biarlah dia berfikir apa, aku akan melindungi Abbas dan Hani.. juga Sania yang mungkin saja dia nekat mencelakainya karena keegoisan nya' batin nek ijah yang sudah sampai di dapur membantu bikin lili.
***
"assekkk.. ayo goyang dumang biar hati senang pikiran pun tenang galau jadi minggaatt.. huhu... asseekkkk.. !!" teriak Sania sambil asik berjoget di belakang, Hani dan Abbas merasa tertekan oleh Sania, mereka hanya diam fokus dengan tekanan masing-masing
'astagfirullah.. baru tau ternyata Sania lebih serem kalau ngereog' batin Hani yang duduk dengan kaku
'haih... sejak kapan anak gadisku begini.. apa perlu memanggil ustadz?' batin Abbas juga
🌹🌹🌹🌹
Hai guys... 👋👋
__ADS_1
jangan lupa like dan komentar ya.. mau komen titik juga gak apa.. semoga kalian semua sukses ya.. SALAM HANGAT DARI AUTHOR ❤👋👋