
"zho!! untung kamu udah bangun!! aku bawa kamu sembunyi!" kata Hani yang menghampiri zoya setelah berteriak di depan pintu
'sembunyi? dari siapa? dari malaikat maut?' tanya zoya dalam hati
"zho.. ! apa yang udah kamu lakuin lagi sih!! kamu gak capek apa berurusan sama orang jahat itu! sekarang liat.. kamu di kejer polisi Zoya! kita aja sampe harus nyembunyiin kamu di kamar mayat!!!" gereget Hani dengan kesal
'..... ternyata aku masih hidup? polisi??' batin Zoya bertanya pada dirinya sendiri
"air.. Han.. aku haus.. " gumam Zoya tapi beruntung Hani mendengarnya
"bentar lagi Zho.. kita kabur dari sini dulu" kata Hani mempercepat langkah kakinya
"air.. air.. " Zoya terus meminta air dan Hani tidak tega. Hani kemudian menyembunyikan Zoya di sebuah ruang pasien yang kosong, sebelum keluar Hani memastikan keadaan sekitar aman. Hani dengan cepat mencari air untuk Zoya, walau seluruh rumah sakit telah di kepung polisi tapi Hani tetap berusaha menyembunyikan Zoya. Hani tak tega melihat Zoya yang amat ini sangat lemah harus di bawa polisi karena insiden ledakan hari itu. sebelumnya Zoya Aman karena kondisinya yang masih tak pasti apakah akan hidup atau mati tapi dia hari yang lalu polisi mendapat kabar bahwa kondisi Zoya membaik meski belum sadarkan diri, dari hari itu juga polisi terus datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi Zoya.
Hani yang takut kehilangan Zoya, takut jika Zoya di penjara pun diam-diam menyembunyikan Zoya tanpa sepengetahuan siapapun, pagi ini polisi sudah sampai dan ingin melihat Zoya lagi tapi mereka tidak menemukan siapapun dan polisi mulai gundah karena mereka kira Zoya sudah sadar dan kabur dari rumah sakit.
Hani datang membawa sebotol air putih dan memberikannya pada Zoya. Zoya sedikit lega karena rasa hausnya kini terobati. Zoya juga sadar dengan tubuhnya yang kaku, meski berusaha untuk menggerakkan nya tetap saja tubuhnya terasa berat dan kaku
"apa aku lumpuh?" tanya Zoya to the point
"itu.. iya zho.. kamu lumpuh.. tapi itu sementara. kata dokter kamu akan sembuh dalam setahun.. " kata Hani dengan sedih bahkan mengalir kan air mata
"apa kamu juga lumpuh?" tanya Zoya melihat Hai yang sudah mulai sesenggukan, Hani menggelengkan kepalanya
"lalu? kenapa kamu nangis?" tanya Zoya heran
"kamu sebenernya manusia apa robot sih!! kamu tu lumpuh!! apa kamu gak ngerasa takut panik sakit atau apa gitu??" kesal Hani pada Zoya
"sakit? tubuhku matu rasa... bagaimana kau bisa disini? kamu budhe izin sama Ummi?" tanya Zoya mengalihkan topik
__ADS_1
"ck. aku kabur! hufftt.. yang penting sekarang kita kabur dari sini dulu nanti pikirin tentang hukuman Ummi" kata Hani yang akan membantu Zoya duduk di kursi roda, tapi zoya malah menolaknya
"antar aku ke mereka" kata Zoya yang membuat Hani hampir meledakkan kemarahan nya
"kamu gimana sih!! kamu lagi setengah mati dan kau mau di penjara??" tanya Hani menahan emosinya
"Hani... aku bukan orang jahat.. kamu sendiri kan yang bilang? terus kenapa kamu mau bawa aku kabur? kalo kayak gini mereka malahan akan buat kamu juga ikut di penjara.. kamu tenang aja.. gak ada yang akan terjadi sama aku kok.. sekarang bawa aku balik ke sana ya.. " bujuk Zoya dengan lembut, kali ini Zoya tidak ingin banyak berdebat karena tenaganya yang sangat kurang.
"baik.. tapi kamu janji ya kamu akan baik-baik aja.. " kata Hani yang menyerah
Zoya tersenyum sebagai jawaban untuk Hani, Hani kemudian membawa Zoya kembali pada polisi yang sedang mencari keberadaannya. disana ada kakek dan Rafendra juga yang sedang mencari keberadaan Zoya yang sudah hilang sejak subuh
Rafendra berlari dan menyambut Zoya, wajahnya yang panik sudah terukir sangat jelas. Hani merasa bersalah tapi tak seorang pun yang menyalahkannya meski mereka taun jika Hani berusaha menyembunyikan Zoya
"kau udah bangun? gimana keadaan kamu sekarang.. kamu baik-baik aja kan.. jangan bilang kamu juga gak bisa ngomong! kamu kenapa nekat banget sih!! kamu pikir karena kamu kuat kamu bisa lakuin semua hal sendirian gitu!!" bentak-bentak Rafendra marah sekaligus hawtir. Zoya hanya tersenyum menanggapi saudara nya itu, kakek hanya diam menahan air matanya melihat keadaan yang cucu yang terbaring tak bisa bergerak itu.
"apa anda sudah lebih baik?" tanya sorang inspektur yang sejak tadi berdiri tegap di samping kakek. zoya tersenyum dan mengangguk kan kepala, entah apa yang saat ini zoya pikirkan hingga begitu patuh tanpa menunjukkan gaya cool nya.
cukup terkejut dengan itu, tapi Rafendra setuju karena bagaimana pun zoya juga harus bertanggung jawab untuk kesalahan nya. meski Rafendra ingin menolak api dia juga bangga dengan saudarinya yang pantang takut untuk mengambil keputusan itu. kakek hanya bisa diam tanpa berkata-kata, dia hanya mengingat putrinya yang begitu mirip dengan cucunya itu. kerasa kepala tapi memiliki prinsip, sedikit menyunggingkan senyum karena kakek menemukan putrinya dalam diri cucunya.
Rafendra mengelus kepala Zoya dengan tangan gemetar, di balas dengan senyuman olh Zoya membuat Rafendra tak lagi tahan dan memeluk saudarinya itu
"meski aku marah tapi aku juga bangga.. ayah dan ibu juga akan bangga sama kamu.." bisik Rafendra dengan suara seraknya
"aku tau itu" jawab Zoya dengan tersenyum
'aku tidak keberan jika harus tidur di penjara atau bahkan lumou dalam waktu yang lama.. karena aku bangga sudah membunuh pria brengsek itu!! sekarang aku akan kembali lagi menjadi orang biasa tanpa pistol tanpa pisau dan tanpa dunia gelap! yang lalu biarlah berlalu dan yang terjadi biarlah terjadi.. kali ini aku tidak akan kembali lagi ke dunia gelap itu.. aku adalah orang biasa... ' batin Zoya
.
__ADS_1
.
.
Alfaeza yang sedang mengajar di kelas putri tak fokus karena pikirannya ada di rumah sakit, dia hawatir dengan keadaan Zoya dia juga hawatir dengan polisi yang tak pernah libur untuk memberiksa Zoya.
"ustadz... " panggil seorang santri wati membuyarkan lamunan Alfaeza
"ustadz sakit ya?" tanyanya lagi, Alfaeza menggeleng kan kepala dan tersenyum
"kalian hafalkan bab tiga, besok ustadz akan simak.. jika ada yang tidak lancar atau belum hafal, hafalannya ustadz tambah!" kata Alfaeza yang kemudian meninggalkan kelas
"ustadz kenapa sih.. sejak insiden waktu itu ustadz jadi banyak diem dan ngelamun.." bisik bisik seorang santri
"iya ya.. tapi gak heran juga sih.. sekarang temen kita juga kan ada di rumah sakit.. sejak insiden itu dia gak pernah balik lagi.. udah satu bulan lebih.. " sambut yang lainnya
"Al.. Zoya gimana keadaanya ya? papa sering kerumah sakit tapi dia gak pernah dapet kabar baik tentang Zoya.. " bisik Sania pada Alya di sampingnya
"iya.. Hani juga pagi ini gak keliatan.. apa Jangan-jangan dia kabur kerumah sakit ya?" tanya Alya juga
"baru nyadar juga Hani gak ada.. nanti sore kita izin yuk ke Ummi." ajak Sania yang di jawab anggukan oleh Alya
'kemarin waktu kunjungan mama marah banget sama aku gara-gara aku berubah.. tapi gak masalah. aku gak akan kembali jadi diriku yang dulu, udah cukup aku jadi orang tamak egois dan sombong, itu salah.. aku masih beruntung karena Hani mau maafin aku dan papa Abbas masih sayang sama aku, aku juga beruntung punya temen kayak mereka.. jangan sampai aku kehilangan mereka karena kesalahan yang aku buat sendiri.. ' batin Sania
"kamu kenapa diem?" tanya Alya melihat Sania yang melamun
"gak apa-apa.. aku cuma mikirin keadaan Zoya" bohong Sania
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Hai guys... 👋👋
jangan lupa like dan komentar ya.. semoga suka dan SALAM HANGAT DARI AUTHOR❤👋