Santri Mafia

Santri Mafia
di rumah sakit


__ADS_3

kini mereka berada di rumah sakit, Zoya menolak untuk dirawat dan lebih memilih untuk menunggu di luar ruangan yang lainnya. meski Ummi sangat menghawatirkan nya tapi juga tidak tau bagaimana harus membujuknya karena Zoya sangat keras kepala. Abah Yai juga ada di sana karena hawatir pada santri-santri yang terluka atas penyiksaan dan penculikan satu hari itu. kini Zoya juga sudah memakai pakaian lengkap dan bersih dari darah Rafendra yang sempat menempel padanya.


Dokter keluar dari ruangan tempat Rafendra di rawat, Abah Yai, Ummi dan Zoya segera menghampiri nya dan menghujani nya dengan pertanyaan


"bagaimana keadaan nya dokter?" tanya Abah Yai khawatir


"apa santri saya kehilangan banyak darah? apa golongan daranya? saya akan usahakan untuk mencarikan nya dok!" kata Ummi dengan wajah tak tenangnya


"apa saudara ku masih hidup dok?" tanya Zoya dengan wajah sedih dan mata yang penuh buliran air. Zoya tak kuasa menahan kesedihannya, sudah cukup dia kehilangan kedua orang tuanya jangan lagi Rafendra yang pergi. Zoya sangat takut jika dokter menyampaikan berita buruk, tapi juga sangat berharap jika mendapat kabar baik dari dokter.


"beruntung dia sampai tepat waktu, dia hanya kehilangan sedikit darah. mukanya tidak terlalu parah beruntung tidak sampai mengenai tulang" kata sangat dokter membuat perasaan semua orang lega kecuali Zoya yang tau jika saudara kembarnya itu tidak bisa terluka, jika terluka sedikit maka akan infeksi dan menjalar ke seluruh tubuhnya.


"dok.. periksa tubuhnya, dulu waktu kecil dia pernah terluka di bagian kakinya tapi lukanya infeksi dan menjalar ke seluruh tubuhnya hingga tubuhnya seperti terkena cacar.. khawatir nya, luka tembakan itu juga akan memakan tubuhnya" kata Zoya. tangannya tak berhenti bergetar, rasa takut akan kehilangan menghantuinya begitu hebat.


'ya Allah.. Jagan mengambilnya.. ku mohon.. cukup lama sendiri dalam kegelapan, jangan sampai kau mengambilnya lagi ya Allah.. aku mohon.. ' batin Zoya, matanya sudah banjir dengan air mata


"tenanglah nak.. dia baik-baik saja, sepertinya penyakitnya yang sebelumnya sudah tidak ada lagi. sudah kami periksa dan tidak ada yang aneh di tubuhnya, dia baik-baik saja. saya permisi dulu" kata sang dokter yang kemudian pergi dari sana


sedikit lega tapi masih tak tenang dengan keadaan Rafendra. Zoya bahkan tidak ingat jika dia tidak makan sejak kemarin sore, dan kini sudah sore lagi. tapi jangankan lapar Zoya bahkan tidak merasa lemah sekalipun dia bertarung beberapa kali sejak kemarin.


"Hani/Zoya..." panggil Hani, Alya dan Sania yang baru datang dengan beberapa santri wati lainnya, mereka mendapat izin untuk menjenguk Zoya, dan mereka datang untuk menyemangati dan menguatkan Zoya atas apa yang terjadi kemarin. mereka bertiga memeluk Zoya dengan terharu karena mereka juga syok dan takut jika Zoya tak kembali lagi.

__ADS_1


"kamu gak apa-apa kan? apa yang luka? kamu gak di siksa kan? kamu baik-baik aja kan zho?" tanya Hani sambil memeriksa seluruh tubuh Zoya dan menemukan bekas luka tembakan di lengan Zoya yang belum di balut, Hani juga menemukannya karena luka Zoya mengeluarkan sedikit darah. Zoya sudah terbiasa dengan luka seperti itu hingga membuatnya tak peduli sedikitpun meski darah masih mengalir sekalipun, sekeras itu Gino menempa nya hingga tak peduli pada lukanya sendiri.


"kamu ini robot ya! masa luka sendiri gak di obatin! kamu gak ngerasa sakit atau gimana sih!!" bentak Hani yang membuat Ummi dan Abah Yai menghampiri mereka


"kamu terluka?" tanya Abah Yai panik. sebelumnya karena tak ingin di rawat Zoya berbohong jika dia tidak terluka sama sekali hanya ada sedikit lecet di sebagian tubuhnya dan tidak butuh perawatan dokter. kali ini dia tak bisa mengelak karena Hani adalah satu-satunya orang yang tak mau mendengarkannya, karena Hani akan lebih keras kepala jika Zoya terluka atau membahayakan dirinya.


"hanya sedikit lecet" kata Zoya tak ingin menunjukkan lukanya


"Hanya? itu kamu bilang hanya? Zoya kamu manusia atau hantu sih! kamu gak ngerasa perih ya!! coba liat darah kamu gak mau berhenti ngalir!" bentak Alya dengan panik


"suster.. suster.. !!" teriak Ummi memanggil seseorang untuk merawat luka Zoya


"ini hanya lecet! ini gak sakit! aku ingin menemui Rafendra" kata Zoya ingin masuk keruangan tempat Rafendra saat ini berbaring tak sadarkan diri. Hani menarik lengan Zoya dengan keras


"kamu gak apa-apa kan?" tanya Sania pelan. cukup berbeda dengan dirinya yang sebelumnya. kali ini Sania menunjukkan sisi lain dari dirinya, yang tak pernah dia tunjuk kan pada siapapun.


Zoya hanya menjawab dengan gelengan kepala saja, Sania faham jika saat ini Zoya sedang bersedih dan tidak memiliki tenaga untuk mengobrol. Sania mengelus lembut pundak Zoya untuk menenangkan nya, walau Alya masih tak menyukai Sania tapi dia bisa melihat ketulusan di mata Sania. Sania memang sudah berubah walau tidak sepenuhnya tapi dia benar-benar sudah menganggap Zoya dan yang lainnya sebagai teman.


dokter datang dengan dua suster lainnya. dokter langsung merawat luka Zoya yang sudah lama dan hampir infeksi itu.


"Zoya!!" sang kakek tiba-tiba datang dan memeluk Zoya yang baru selesai di obati. dengan menagis sang kakek melimpahkan kekhawatiran nya pada pundak Zoya

__ADS_1


"kek.. Rafendra baik-baik saja, dia hanya kehilangan sedikit darahnya saja" kata Zoya dengan suara pelan yang di paksakan


"kakek tau.. tapi kamu juga tidak apa-apa kan?" tanya kakek sambil menangis masih memeluk Zoya.


"aku baik-baik saja kek.. jangan hawatir.. aku tidak akan mati sebelum membunuhnya kek" bisik Zoya dengan tekad nya yang bulat


kakek mengelus kepala Zoya lembut, kakek merasa sakit melihat kedua cucunya yang hampir di renggut oleh Gino.


'sudah cukup!! dia sudah merenggut anak-anak ku, sekarang dia berani menculik cucu-cucu ku lagi! sudah cukup aku diam.. mulai sekarang aku yang akan bertindak!!" batin kakek penuh dendam mengingat Gino yang begitu lancang menyentuh kedua cucunya.


"kakek ingin melihat Rafendra" kata kakek pada Zoya


"dokter belum mengizinkannya.. " kata Ummi yang menyahuti omongan kakek


"Maya... haih.. baiklah.. aku akan menunggunya" kata kakek menghela nafasnya


'Maya? siapa yang kakek sebut Maya? apa Ummi?' batin Zoya terkejut menatap kearah Ummi dan memperhatikan wajah Ummi dengan intens.. tunggu!! dia adalah..


🌹🌹🌹🌹


Hai guys... πŸ‘‹πŸ‘‹

__ADS_1


maaf ya lama up nya.. mimin akan berusaha untuk tetap up walau sedikit lama, jangan lupa like ya.. mimin butuh support dari kalianπŸ€—


SALAM HANGAT DARI AUTHOR πŸ‘‹πŸ€—πŸ€—πŸ™


__ADS_2