Santri Mafia

Santri Mafia
kesialan Zoya


__ADS_3

empat hari berlalu sejak MOS...


Zoya tak punya kesempatan satu hari pun untuk keluar dari pondok. meski Zoya berusaha selalu ada yang menggagalkan nya, jika bukan Alya maka Sania, dan jika bukan mereka berdua maka kegiatan padat yang membuatnya tak punya sedikit kesempatan untuk mencari jalan kabur. Zoya merasa seakan kembali camp pelatihannya, tak ada kata istirahat dan tak ada kata lelah, jika lengah sedikit maka nyawa yang akan menjadi taruhannya. namun disini berbeda hanya saja Zoya merasa kembali kemasan kelam itu karena di tempat ini juga cukup ketat menurutnya. ahh.. jangan kan keluar, melirik gerbang perbatasan antara pondok putra dan putri pun sudah didenda, tidak mempertaruhkan nyawa, namun sama-sama menyesal kan baginya.


Zoya tidak tau harus melampiaskan kekesalannya pada siapa. benar-benar menjengkelkan baginya karena tidak bisa keluar dari tempat ini, seolah dirinya adalah seorang tahanan yang terkurung di balik sel.


namun bukanlah Zoya namanya jika menyerah begitu saja. karena ini adalah hari terakhir MOS, dan semua santri putri akan di gabung dengan santri putra di aula utama yang berada di pondok putra. mulai dari pukul lima sore hingga malam, Zoya ingin mengambil kesempatan ini untuk keluar dari pesantren.


semua santri wati berbaris dengan rapi untuk memasuki gerbang pembatas. Zoya memilih berada di tengah-tengah dan tentunya barisan paling kiri, karena sebelah kiri menuju jalan umum yang di lewati para siswa yang tidak mondok untuk sekolah di sana. Zoya tau itu juga karena mengorek informasi dari teman-teman nya yang santri luar. kali ini Alya terpisah dengan Zoya saat semua sedang berdesak-desakan, dan memang Zoya juga menghindarinya dengan terus berjalan ke depan meninggalkan Alya yang terjepit di sana.


satpam dan bahkan para santri wati senior yang di tugas kan untuk keamanan begitu ketat dalam mengawasi mereka, tapi Zoya tidak akan menghilangkan kesempatan emas ini. ketika semua sibuk berdesak kan untuk memasuki gerbang Zoya mengambil langkah kilat, dengan tenangnya Zoya berjalan perlahan ke samping. ketika tak seorangpun memperhatikan Zoya berjalan dengan cepat menelusuri jalan. sempat di sadari oleh beberapa santri yang tengah berdesak-desakan namun tak ada yang peduli, karena mereka begitu semangat untuk bisa menatap para arjuna tampan yang sedang menanti di sana.


berhasil keluar, Zoya kini berada di jalan besar yang sangat ramai. begitu banyak orang yang lalu lalang dengan kendaraan dan kaki. Zoya tidak tau harus pergi ke arah mana, karena dia lupa dari arah mana dia datang dengan abbas. Zoya teringat dengan rumah di belinya, Zoya mencari ojek dan menuju alamat rumahnya.


sial nya Zoya malam itu, motor yang di kendarai nya kehabisan minyak di tengah jalan. rasanya sangat ingin mengumpat kesal, tapi bahkan mengumpat pun tidak akan membuat motornya hidup kembali. jalan di mana mogoknya motor ojek begitu sepi, tak ada warung di sepanjang jalannya, entah ini sebuah kesialan atau memang azab baginya yang kabur dari pesantren.


'sial sial sial!!!!.. akkhh... rasanya sangat ingin memukul orang untuk melampiaskan kekesalan ku!!! ck akkhh... !!' batin Zoya sambil ikut mendorong motor.


setelah mendorong hampir setengah kilo, akhirnya mereka menemukan sebuah warung yang juga menjual minyak motor, Zoya begitu sangat bersyukur. rasanya seperti menemukan sebotol air di tengah padang pasir, jika saja Zoya bukan orang yang menjunjung tinggi harga diri nya mungkin dia sudah bersujud di tengah jalan itu. Zoya duduk mengistirahatkan kakinya yang sudah hampir patah mendorong motor begitu lama.


"wah neng... beruntung banget! selain kita nemu warung alamat yanng mbak tuju juga tinggal beberapa langkah di depan" kata tukang ojek yang sedang mengisi minyak sambil tersenyum lebar

__ADS_1


"hah! tinggal beberapa langkah?? kenapa gak bilang dari tadi! saya jalan aja.. tau gitu tadi saya gak usah nungguin bapak!!" gerutu Zoya sambil memberikan uang pada tukang ojek itu


"istirahat dulu neng.. nanti kakinya bisa bengkak lho.. " kata tukang ojek menghentikan langkah Zoya


"rumah saya di depan!" kata Zoya melanjutkan jalannya dengan langkah yang sedikit pincang.


Zoya sampai di rumahnya tapi gerbang sudah terkunci. Zoya berteriak beberapa kali tapi tak ada yang mendengarnya, Zoya merasa sangat kesal sekarang. berteriak sampai tenggorokannya kering tapi bahkan nyamuk pun tak ada yang menyahutinya.


"ck.. siall!! HANIFA MIFTAHUL JANNAH.. !!!!" teriak Zoya untuk yang kesekian kalinya. Zoya menatap tembok yang begitu tinggi, jika dia memanjat sekarang kakinya benar-benar akan patah. Zoya menelusuri tembok panjang itu hingga sampai di belakang pekarangan rumahnya, di sana juga ada gerbang kecil.


"aakhh.. !!! sial banget sih! sekarang harus lewat mana.. !" gerutu Zoya lagi melihat gerbang itu juga terkunci dengan rapat


"ya Allah.. kirimkan malaikat mu untuk membantuku.." do'a Zoya sambil memijat kedua kakinya


mata Zoya tertuju pada sebuah tangga kayu yang terselip di balik pohon didekatnya. Zoya seketika menyunggingkan senyum lebarnya sambil menaik turunkan alisnya menatap tangga kayu itu.


"sedikit lagi! kaki ayolah!! aku butuh kerjasama mu.. " kata Zoya sambil menyeret tangga kayu itu dengan kaki yang di paksa nya untuk berjalan.


setelah berusaha dengan susah payah memanjat menggunakan tangga kayu, Zoya akhirnya bisa masuk kerumahnya meski roknya robek saat dia melompat terjun ketika hampir jatuh dari tangga.


Zoya kini akan masuk tapi pintu juga terkunci. ahh.. sial! apa Hani begitu takut kemalingan hingga dia bahkan tak menyisakan satu pintu yang terbuka untuknya? Zoya hampir mati karena kesal, tapi juga tidak tau harus melampiaskan kekesalannya itu pada siapa. Zoya mengetuk-ngetuk kepalanya di tembok berharap malaikat menjemput nyawanya sekarang juga.

__ADS_1


Zoya melihat jendela di samping pintu. Zoya tak ingin menyerah begitu saja, jadi dia mencari kayu dan berusaha membuka jendela. beruntung Zoya bisa membukanya. hati dan jiwanya begitu lega saat mendengar suara jendela yang berhasil di bukanya. dengan semangat Zoya langsung masuk tanpa menunggu lama lagi. tapi malangnya....


bukk bukk bukk....


"mati kamu maling!! mati kamu.. !! maling laknat! dasar gak punya etika!! mati kamu!!!" kata Hani dengan memukul Zoya secara brutal dan membabi buta.


"Hani!! ini aku! Hani... !!!" teriak Zoya yang sudah hampir mati di buatnya. Hani segera menghentikan aksinya mendengar suara Zoya yang seolah sudah sekarat di buatnya


"Zo.. Zoya.. Zoya ini kamu!! Zoya kok kamu di sini?!" tanya Hani sambil memapah Zoya berdiri


"Hani.. aku sangat ingin melenyapkan mu!" kata Zoya di tengah-tengah sekaratnya karena ulah Hani


"ma.. maaf Zo.. aku kira kamu maling sumpahh!!"


🌹🌹🌹🌹


Hai guys... 👋👋


jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya.. supaya author rajin nulis dan rajin juga up-nya~


semoga suka dan SALAM HANGAT DARI AUTHOR 🌹🌹😊😊

__ADS_1


__ADS_2