Santri Mafia

Santri Mafia
sebuah kebenaran lainnya yang terungkap


__ADS_3

hari ini adalah hari yang cerah bagi Zoya , karena hari ini adalah hari di mana dia keluar dari penjara. awalnya Zoya ingin langsung ke rumah pribadinya tapi niatnya terhalang karena matanya tak sengaja menangkap dia wajah yang sangat di kenalinya dan belum menjenguknya, siapa lagi kalau bukan Lance dan Diky. mereka bahkan menyumbangkan senyum mekar menyapanya, bukannya terkejut Zoya malah ingin menampar mereka tapi belum sempat Zoya mengeluarkan kekesalannya mereka malah mengucap salam yang membuat Zoya mau tak mau begitu terkejut mendengarnya


"coba ulang.. sekali lagi?" kata Zoya berharap telinganya salah mendengarnya


"assalamu'alaikum adik Zoya.. " serempak mereka lagi, kali ini Zoya menganga, bukan apa tapi dia terkejut karena dia orang di depannya ini mengucapkan salam?


"berhenti mangapnya, nanti kemasukan lalat napi lagi hahah" kata Diky yang juga di sambut suara tawa dari Lance


"kalian tobat?" tanya Zoya mengubah ekspresi nya


"ya.. kami mengikuti mu untuk berubah.. yah.. setidaknya kita tau sholat saja hehe" kata Lance dengan cengengesan yang baru kali ini Zoya dan Diky melihatnya


"bahkan kamu juga tertawa? itu tidak buruk.. tapi kenapa kalian di sini? sebelumnya masih bersembunyi" ucap Zoya yang kembali ke kebingungan nya di awal


"menyerahkan diri" jawab Diky sambil senyum pepsodent


"what??! kalian serius?" tanya Zoya tak percaya


"ya.. itu juga karena kami berjanji dengan seseorang. sebelum kami masuk kesini kami belajar tobat darinya yang membantu kami kabur sebelum bertemu polisi hari itu" cerita Lance


'oh. pantas saja mereka berkeliaran dengan bebas meski aku sendiri sudah di penjara ini' batin Zoya yang terjawab sudah rasa penasaran nya yang sudah lama dia pendam.


"jadi? berapa lama kalian di sini" tanya Zoya lagi


"mm.. tiga tahun.. " jawab Lance menggaruk tengkuk kepalanya yang tak gatal sambil mengalihkan pandangannya


"kalau begitu sampai jumpa tiga tahun kedepan" kata Zoya yang kemudian meninggalkan mereka berdua disana. Lance dan Diky hanya melongo melihat kepergian Zoya bukan karena ucapan terakhir Zoya tapi karena mereka baru sadar jika sejak awal Zoya berjalan kaki bukan dengan duduk di kursi rodanya. lalu kapan Zoya sembuh? bukankah kelumpuhan nya didiagnosis akan sembuh setelah satu tahun? kalau kenapa sekarang Zoya berjalan kaki? bukankah baru tiga bulan sejak dia keluar dari rumah sakit dan tinggal di tempat ini? mereka hanya memandang satu sama lain tanpa pembicaraan pun.


'akupuntur?' batin mereka bersamaan

__ADS_1


ketika Zoya keluar dari gerbang, sebuah mobil hitam yang familiar mendekatinya. awalnya dia akan menggunakan taksi tapi tak di sangka ternyata kakek menjemputnya, yang tak di duga Zoya adalah Abbas yang menyetir dan kakek duduk di sebelahnya dengan tersenyum mengembang menyambut Zoya yang berdiri terusan memperhatikan mereka berdua


'sejak kapan mereka bertemu? seingat ku mereka belum bertemu sebelum ini lalu kenapa sekarang begitu akrab?' batin Zoya yang masih berdiri diam tampa ekspresi sedikitpun


"mau masuk lagi? kenapa masih berdiri di sana?" tanya kakek pada Zoya yang membuat sadar dari lamunannya dan masuk ke mobil tanpa bicara pun


"memang.. sangat mirip dengan ayahnya" kata Abbas yang membuat Zoya mengernyitkan dahi


apa maksutnya? apa mereka dulu saling mengenal? kalau begitu kenapa Zoya tidak tau? kenapa dia tidak ingat dengan Abbas? semua pertanyaan itu sangat memusingkan kepala Zoya


"benar.. memang sikapnya sangat mirip ayahnya sedangkan Rafendra mirip dengan ibunya, ceria dan penyayang tapi emosian" kata Kakek menyambut ucapan Abbas


"kalian saling kenal?" tanya Zoya yang sudah tak tahan dengan rasa penasaran nya


"kami sahabat karib sejak SMA, tapi ayahmu lebih dulu menikah dengan ibumu dan aku belajar di luar negeri.. sejak saat itu kami jarang berkomunikasi lagi, tapi ketika aku menikah dia datang dengan ibumu yang sedang mengandung" jawab Abbas dengan semangat


melihat wajah Zoya yang kebingungan sangat kakek faham dan menghela nafasnya, awalnya hal ini tidak pernah dia ungkit karena menjadi trauma tersendiri dari Ibu dan ayah Zoya tapi kedua cucunya berhak tau tentang hal ini.


"sebelumnya ibumu pernah mengandung sebelum kalian, saat itu ibumu baru mengandung tiga bulan.. di saat itu om Abbas baru menikah" kakek menghentikan ceritanya untuk mengambil nafas yang dalam dan kembali menceritakan cerita yang begitu panjang


flashback on


Adel yang menunggu suaminya membeli mangga muda begitu senang dan bersenandung riang di dalam mobil sambil merapikan hijab nya. tubuhnya sangat lelah karena pesta Abbas yang begitu meriah hingga dia mau tidak mau ikut bergabung dan membantu Abbas menemani tamu undangan yang begitu banyak meski dia sedang hamil muda.


ketika sedang asik memperbaiki hijab nya tiba-tiba seseorang yang tengah berlumuran darah dari kepala hingga dada dan lengannya menghampiri mobilnya, Adel sontak sangat terkejut melihat kedatang tamu yang tak di undang itu berusaha membuka pintu mobilnya, Adel yang terkejut pun berteriak meminta tolong awalnya tapi melihat ke adaan orang itu membuat Adel merasa kasihan dan membiarkannya memasuki mobilnya, dengan tubuh gemetar Adel menutup mulutnya melihat darah yang begitu banyak dari orang itu. hanya menoleh sebentar dan kemudian orang itu melakukan mobilnya tanpa seizin dirinya, namun Zoya tak mampu lagi berteriak ataupun memarahi orang di sampingnya itu karena saat ini Adel merasa ketakutan hanya melihat darah dan sorot mata orang di samping nya itu


"maaf.. aku hanya butuh mobil mu sebentar" ucap orang di sampingnya itu dengan suara beratnya


sampai di sebuah jalan sepi dengan pepohonan yang rindang di sepanjang jalannya, orang itu menghentikan mobil. meski saat itu keadaannya malam hari tapi tempat itu cukup terang hanya dengan cahaya lampu dari mobil Adelia. sebelum turun orang itu sempat mendekatkan wajah nya pada Adel sudah ketakutan setengah mati,

__ADS_1


"siapa namamu" tanya nya dengan nafas yang tersengal


"A.. Ad.. Adel.. Adelia Cassandra" gugup Adel berusaha menjawab meski tubuhnya sudah bergetar hebat


orang itu kemudian pergi tanpa sepatah katapun lagi. Adelia yang melihat punggung orang itu pergi meninggalkannya, segera memutar balik mobilnya meski tangannya bergetar dia berusaha untuk kabur meninggalkan tempat dan orang itu dari sana. orang itu membalikkan sedikit badannya melihat mobil yang pergi menjauh meninggalkannya hanya tersenyum dan kemudian kembali berbalik dan pergi


"sayang!! kamu kemana?! aku khawatir banget sama kamu.. kenapa pergi gak bilang-bilang sih!!" kata Hasan yang begitu khawatir dengan istrinya karena ketika kembali dia mendapati mobil dan istrinya tidak di tempat dia sampai langsung dan bahkan menanyakannya kesemua orang yang lewat di sana namun hasilnya nihil hingga saat akan menelfon polisi untuk meminta bantuan tiba-tiba mobilnya datang dengan Adelia yang menyetir dan wajahnya yang terlihat ketakutan


"aku gak apa-apa.. tadi.. tadi ada orang yang masuk mobil tiba-tiba" kata Adelia yang kemudian menceritakan kejadian tadi. Hasan yang terkejut langsung saja memeluk istrinya itu.


sejak saat itu, Adelia yang perutnya semakin membesar selalu merasa di ikuti atau di perhatikan oleh orang. meski dia menganggapnya sebagai ilusi Adelia tetap saja tidak tenang. hingga saat usia kandungannya baru tujuh bulan orang yang penuh dengan darah masuk secara tiba-tiba ke mobilnya malam itu menampakkan diri. Adelia sangat terkejut karena orang itu datang dengan bunga dan bahkan sebuah cincin berlian ingin melamarnya. Adel menolaknya dan bahkan ia menunjukkan cincin pernikahan dan perutnya yang buncit pada orang itu yang tak lain adalah Gino.


beberapa kali Gino datang dengan karangan bunga yang berbeda-beda bahkan meski di hadapan Hasan sekalipun dia tetap memberikan Adelia bunga dan bahkan perhiasan berlian, tetap saja Adel menolaknya dan menganggapnya sebagai pria gila.


ketika bayi dalam kandungan Adel sudah keluar, Gino datang lagi dengan niat sama melamar Adel. karena risih dengan Gino, Adel kemudian memanggilnya polisi dan mengusirnya. Gini tidak menyerah dia bahkan menculik bayi Adelia yang baru berusia satu bulan dan mengancamnya untuk menikah dengan nya, Adel dan Hasan memanggil polisi untuk membantunya tapi sayang ketika mereka menemukan bayinya, mereka di kejutkan dengan keadaan sangat bayi yang sudah tak bernyawa dan penuh luka tusukan berlumuran darah. rasa takut, sedih dan trauma menjadi satu mereka berdua rasakan. saat itu Gino juga meninggalkan sebuah pesan


"aku benci penolakan! suatu hari aku akan datang lagi dan merebutmu!!"


begitu lah isi pesan yang membuat Adelia semakin trauma dan marah. dua tahun berlalu Gino tak lagi muncul, saat itu Adel dan Hasan perlahan sembuh dari trauma mereka dan Adel juga mengandung dia bayi dalam perutnya. dalam masa mengandungnya Adel berusaha melupakan tragedi kelam yang menimpanya sebelumnya.


Flashback off.


Zoya yang mendengar cerita sangat kakek begitu marah tapi kemarahannya tak terlampiaskan karena saat Gino sudah tiada, dan bahkan keluarganya tak tersisa. Zoya meremas baju yang di gunakannya menahan semua amarah mengetahui sebelumnya Gino juga pernah membunuh seorang kakaknya yang baru berusia satu bulan


🌹🌹🌹🌹


Hai guys... 👋👋


jangan lupa like dan komentar ya☺☺☺❤

__ADS_1


__ADS_2