
pernah kelaparan di hutan selama lima hari, pernah di buru srigala liar, pernah bertahan hidup di sarang beruang dan bahkan pernah menjadi objek perburuan manusia saat di latih oleh Gino. ketika melakukan satu kesalahan hukuman Zoya adalah terkurung di hutan kecil bersama serigala liar dan beruang tapi tak pernah merasa ingin lenyap dari dunia ini. kali ini sungguh sangat berbeda, hukuman yang di terimanya bukan lah hanya hukuman fisik di jemur di tengah lapangan tapi juga di permalukan karena dirinya berdiri menghadap depan asrama putra di lapangan depan gerbang pembatas asrama putra dan putri lalu juga di kalungi kotak bertuliskan "SAYA SANTRI BANDEL. SAYA KABUR KEMARIN MALAM. DAN SAYA SENANG MENERIMA HUKUMAN NYA SELAMA TIGA JAM, SUMBANGKAN SENYUM MANIS KALIAN PADA SAYA". oh astaga.. ini benar-benar membuat Zoya malu setengah mati, ah.. tangan nya begitu gatal ingin meledak kan tempat ini! dimana BOM yang di racik nya dulu, Zoya sedikit menyesal karena tidak membawa barang-barang berharganya kabur.
'dimana aku? siapa aku? akhhh!!! kapan semua ini berakhir! rasanya ingin mencuri Bom nuklir dan meledak kan tempat ini!!' batin Zoya memejamkan mata karena tak kuasa menahan malu melihat para santri putra menatapnya sambil cengir kuda yang membuat Zoya sangat ingin mencongkel gigi mereka dan menjadikannya kalung hias.
"bagaimana? seru?" tanya Alfaeza yang datang menghampiri Zoya. Zoya membuka matanya melihat orang yang membuatnya berada di posisi itu
"kurang. harusnya ada pistol! rasanya aku ingin membuatmu menjadi sarapan bagi buayaku" kata Zoya dengan kesal
"bicara mu seperti preman. ada kunjungan orang tua untukmu, tapi bukan berarti kamu lepas dari hukuman! waktumu 1 jam setelah itu kembali ke tempat ini, telat satu menit maka hukuman di tambah setengah jam lagi!" kata Alfaeza tegas membuat Zoya begitu kesal. sebenarnya tidak ada tambahan hukuman meski terlambat satu menit tapi itu bentuk balas dendam Alfaeza pada Zoya yang ceplas-ceplos semalam.
'astagfirullah.. ya Allah ampuni hamba karena telah telah jail pada santri wati itu, tapi ya Allah.. kenapa kau tumbuhkan rasa senang ini ketika melihatnya.. ?' batin Alfaeza sambil sedikit menyunggingkan senyumnya
'nyenyenye.. selain Hani dan Alya, ternyata ada yang lebih menyebalkan lagi!! jika ada kesempatan aku ingin menggigit barang hidungnya yang sok galak itu!!' batin Zoya kesal meninggalkan lapangan dan menuju ruang kunjungan. sebelumnya, pagi tadi sebelum dia mendapat hukuman dia sudah memberitahukan Hani untuk datang ke ruang kunjungan saat Abbas dan Santi datang nanti. Zoya dan Hani bertemu di depan pintu ruang kunjungan, mereka saling menatap kesal, Zoya kesal karena dirinya mendapat hukuman dan tak tau harus melampiaskannya pada siapa, sedangkan Hani kesal karena Zoya tidak tidak pernah mau menyadari kesalahannya. mereka masuk bersamaan, disana sudah ada Sania yang bergelayutan manja pada Abbas. rasanya hati Hani seolah tertusuk begitu dalam melihat Abbas yang di peluk manja Sania.
"sudah selesai? manja sekali ya, sampai lupa anak sendiri" kata Zoya begitu kesal melihat Sania, sebenarnya Zoya tidak terlalu kesal hanya saja kesalnya pada Alfaeza belum kelar dan tidak tau harus melampiaskannya pada siapa.
"Han...i.. kamu.. " Abbas merasa bingung. elihat Zoya dan Hani, tiba-tiba Abbas merasa jika Zoya bukanlah Hani melihat wajah Hani yang sangat mirip dengan ibunya. Zoya menarik tangan hanni untuk mendekat pada Abbas dan duduk di sampingnya
"ya.dia memang Hani, paman tidak perlu bingung lagi" kata Zoya to the point
"apa! apa maksut mu Hani.. papa tidak faham dengan ucapanmu" kata Abbas terkejut dan bingung dengan kata-kata Zoya
"Zoya! bukan Hani!. dia Hani putrimu, nama ku Zoya" kata Zoya dengan wajah datarnya
__ADS_1
".... "
Abbas tidak lagi mengatakan apapun, melihat wajah Hani Abbas merasa memang benar Zoya bukanlah putri nya. Abbas bingung mengekspresikan nya seperti apa. Hani juga hanya diam tak melakukan apa-apa, dia merasa takut karena Abbas mungkin akan marah dan menyalahkannya.
"maksut kamu apa! kamu bukan Hani!??? lalu dia yang Hani begitu? jadi selama ini kalian membohongi kami! dasar anak kurang ajar!!!" bentak Santi mengangkat tangan pada Zoya
jrebb...
Zoya menangkap tangan Santi yang hampir mendarat di pipinya
"sudah lupa aku yang begitu kasar? aku benci bentak!" kata Zoya menggenggam tangan Santi semakin kuat, Santi meringis kesakitan tapi Abbas juga tidak menggubris dia hanya sedikit kecewa karena Hani dan Zoya membohonginya.
"Zho udah!" kata Hani menahan tangan Zoya. Zoya menepis kasar tangan Santi yang membuat Santi kembali meringis kesakitan
"kamu tidak perlu tau kenapa dan apa alasan kami melakukan ini, yang jelas sekarang karena kamu sudah tau seharusnya kamu meminta maaf padanya atas kesalahan mu di masa lalu" kata Zoya dingin
"tidak perlu Zho.. lagi pula mau meminta maaf ataupun tidak, aku juga belum tentu bisa memaafkan mereka. meski itu hanya masa lalu tapi telah menjadi bayangan buruk bagiku setiap hari. aku kembali dengan tegas kali ini. aku datang untuk memenuhi wasiat mama. mengambil dan mengelola apa yang seharusnya menjadi hak ku" kata Hani dengan wajah datar dan tegas seperti yang di ajarkan Zoya padanya
"wasiat? maksut kamu, kamu mau mengambil semua properti itu? Hani kamu sadar gak sih! selama ini papa yang mengurus semuanya dan kamu mau nelantarin papa??!" kata Sania ngegas karena cemas tidak bisa berfoya-foya lagi dengan kekayaan Hani
"aku gak bilang mau nelantarin papa. aku cuma bilang mau mengambil semua yang menjadi hak ku.. termasuk papa!" kata Hani tegas. Sania mengerti maksut Hani, dia begitu hawatir kehilangan kasih sayang Abbas yang sebelumnya dia hanya minat pada harta mereka, tapi Sania sudah begitu nyaman dengan kasih sayang Abbas
"kamu ingin menelantarkan kami?" tanya Sania kesal pada Hani
__ADS_1
"ma.. aku tetep sayang mama sama Sania kok. ya walaupun kalian mungkin membenci ku setengah mati.. tenang aja aku gak akan nelantarin kalian, aku cuma mau mengalihkan semua hal yang atas nama ku pada ku." kata Hani dengan nada lembutnya
Abbas tanpa aba-aba memeluk Hani begitu erat, rindunya pada sangat putri dia tumpahkan saat itu juga. pikir Abbas pantas saja Zoya saat pertama bertemu dengan nya tidak menerima pelukannya, rupanya memang karena Zoya bukan putrinya.
"pa.. jangan cengeng" bisik Hani dalam pelukannya. beberapa saat kemudian Abbas melepaskan pelukannya
"ya sudah jika tidak ingin cerita kenapa kalian bertukar identitas.. tapi papa masih berharap kamu mau menceritakannya pada papa.. Zoya.. lalu apa keluarga mu tau nak.. " tanya Abbas mengalihkan pandangan pada Zoya
"mungkin. mereka sudah tiada, mereka bisa melihat apa yang ku lakukan dari atas sana" jawab Zoya dingin. Abbas terkejut mendengarnya
"kamu yatim piatu?" tanya Abbas dengan suara agak tinggi
"begitulah. sekarang aku harus kembali, ada tugas penting harus ku lakukan.. ah.. sampai lupa, semua uang yang kau kirim sebelumnya sudah ku kembalikan pada Hani.. aku harus pergi. Assalamu'alaikum.. pa.. om" kata Zoya yang kemudian melangkah ingin keluar dari ruangan
"tunggu!! kamu pikir bisa pergi begitu saja? kalian akan mengerti bagai mana bersikap pada orang tua! aku akan menghukum kalian!!" kata Santi dengan suara pantang pada Zoya
"menghukum? kau pantas?"
Zoya meninggalkan ruangan dan kembali ke lapangan dengan posisi sama mengalungi kardus jahanam itu lagi.
🌹🌹🌹🌹
Hai guys.... 👋👋
__ADS_1
semoga suka ya sama ceritanya, semoga menghibur kalian.. jangan lupa like dan komentar nya juga ya.. mimin jadi semangat kalau kalian sudi meninggalkan jejak kalian disini.. 😊😊
SALAM HANGAT DARI AUTHOR 🔥🥰