Santri Mafia

Santri Mafia
ketakutannya Sania


__ADS_3

"sudah tiga jam. harusnya kamu dihukum lebih lama" kata Alfaeza datang


"sudah tiga jam? rasanya baru dua menit" kata Zoya segera melepaskan kotak yang menggantung di lehernya


"sombong. nih, jangan GR!" kata Alfaeza menyodorkan air mineral pada nya


"hah!!? Gr? kamu sehat?" tanya Zoya yang tak habis fikir karena Alfaeza yang begitu narsis nya


Alfaeza hanya menahan senyum mendengar tanggapan Zoya. ekspresi kesal di wajah Zoya begitu lucu di matanya. sesaat kemudian Alfaeza sadar dengan ke usilan nya dan membuatnya tiba-tiba istighfar.


"apa? kenapa istighfar?? oh.. baru ingat kalau kamu sedang sakit ya" tanya Zoya setelah meneguk habis air mineral yang di berikan Alfaeza padanya


"astagfirullah.. memang sakit kalau ngomong sama demit kayak kamu. sudah sana ke ruangannya ummi! hukuman kamu bukan cuma ini!" kata Alfaeza meninggalkan Zoya.


"ya Allah.. hamba kebablasan malah ngajakin yang bukan mahrom hamba ngobrol.. astagfirullah.. " gumam Alfaeza pelan mengelus dada


"hah? belum selesai? apa belum puas membuatku kekeringan disini! ahhk.. sial!! aku ingin meledak kan mereka semua!" kesal Zoya sambil melempar kasar kalung kotak di tangannya.


"Zoya" kaki Zoya berhenti ketika mendengar namanya di panggil, Zoya berbalik dan melihat Rafendra mendekatinya


"apa" tanya Zoya saat Rafendra sudah didepannya


"kemana kamu semalam? kenapa kamu kabur.. ada masalah apa? kenapa gak bilang sama aku atau kakek! kita bisa bantuin kamu.. kamu gak percaya sama kami?" to the point Rafendra dengan nada kesalnya


"aku cuma nyelesaiin tugas.. maksudku.. sedikit balas budi ku.. bukan tidak percaya, hanya saja tidak ingin melibatkan kalian kedalam masalah. sudahlah! jangan kesal padaku! aku juga tidak tau harus melampisakan kekesalan ku pada siapa!!" kata Zoya tak kalah kesalnya

__ADS_1


"aku kesal karena kamu ceroboh!! aku juga kesal karena kamu bodoh! bukannya kamu bilang kamu hebat? hilang sebentar aja udah ketauan!" kata Rafendra mendoel kening Zoya


"entahlah! semenjak aku merubah diri seolah keahlian ku banyak yang menurun" kata Zoya


"lain kali ajak aku juga kalau ada apa-apa" kata Rafendra dengan sedikit tersenyum nakal


"gak! cukup aku yang bandel, kamu gak boleh!" ketua Zoya meninggalkan Rafendra


"dulu kamu yang jadi anak baik dan aku yang nakal.. sekarang berbalik.. aku harap kamu berubah dan lupain kelakuan burukmu" gumam Rafendra menatap punggung Zoya yang sudah jauh masuk ke asramanya


"tunggu!! tadi kan tujuan awal aku kesini mau nanyain soal siapa yang jenguk Zoya tadi?.. ahh malah lupa!" gumam kesal Rafendra sambil menepuk jidatnya


Zoya berjalan melewati semua temannya yang sedang berjalan menuju kantin karena ini jam istirahat. Zoya jadi Alfa karena hukuman itu, tapi justru Zoya merasa lebih baik di hukum dari pada belajar pagi, karena Zoya cukup pusing dengan pelajaran yang membuat otaknya seakan membeku.


"bagus juga, sekarang ada pelajaran nahwu. pelajaran n yang paling aku benci! entah siapa itu zaid, selalu muncul di setiap bab dan membuatku pusing!!" gumam Zoya yang terus berjalan tanpa peduli dengan tatapan teman-teman nya. Sania tiba-tiba menghampiri Zoya dan menarik tangannya menuju perpustakaan, Zoya tak melawan ataupun menolak dia terlalu malas untuk mengeluarkan energinya lagi.


"aku ngaku salah! oke!! aku juga akan berhenti bully atau jahatin Hani! tapi pliase.. aku udah sayang sama papa Abbas! aku tau selama ini aku udah banyak dosa sama Hani.. tapi aku gak mau papa Abbas sampe lupain aku!! aku kurang kasih sayang dari papa ku dulu dan selalu berusaha buat rebut kasih sayang papa Abbas.. Zoya.. itu kan nama kamu.. aku mohon.. aku akan minta maaf sama Hani tapi tolong jangan jauhin papa Abbas dari aku.. aku mohon.. " kata Sania memohon dengan wajah tulusnya. oh.. sebuah kejutan untuk nya, setidaknya hal itu bisa mengurangi kekesalan nya atas hukumannya dari pagi


"oh? masih belum puas dengan kebaikan Abbas hingga kamu tidak ingin melepaskannya? apa kamu pikir Hani juga tidak butuh kasih sayang papanya?" kata Zoya dengan wajah datarnya


"aku gak akan larang papa buat sayang sama Hani.. iya.. mungkin aku sering ngancem atau jahat sama Hani, dan mungkin iya aku awalnya ngincer harta mereka yang berlimpah.. tapi... aku sadar, papa Abbas lebih berharga kasih sayang nya lebih berharga.. aku siap kok kalo Hani mau marah sama aku.. tapi aku harap Hani mau nerima aku sebagai saudara tirinya.. aku sadar.. sejak masuk tempat ini aku belajar banyak hal.. dan aku akan berubah.. aku minta maaf.. " kata Sania lagi yang kali ini meneteskan air matanya


"pura-pura?" tanya Zoya yang melihat Sania benar-benar menangis di depannya


"Zoya.... aku bakal buktiin gimana pun caranya!" tegas Sania masih dengan suara seraknya

__ADS_1


'setidaknya dia menyadari kesalahannya dengan cepat, sedangkan aku.. aku bahkan masih membunuh orang semalam meski kemarin aku berjanji tidak akan melakukannya.. rasanya sedikit iri dengan hati Sania yang cepat lunak' batin Zoya terdiam melihat kejujuran di mata Sania


"kalau begitu, minta maaf pada Hani di depan semua orang dan akui semua kesalahan yang pernah kamu perbuat padanya" putus Zoya setelah memikirkan hukuman apa yang harus Sania terima. kali ini Zoya menguji Sania jika Sania berani mengakui kesalahan nya pada Hani maka Zoya tidak akan melanjutkan pembalasan dendam Hani padanya dan juga itu sebagai hukuman untuk Sania juga, karena setelah mengakui kesalahannya mungkin tidak banyak yang akan mau berteman atau mendekatinya.


"akan aku lakukan.. " kata Sania mantap yang kemudian mengusap air matanya


"tapi aku Harap.. kamu bisa bujuk Hani untuk berbagi papa Abbas" Sania kemudian pergi meninggalkan Zoya


"keputusannya ada pada Hani" kata terakhir Zoya setelah Sania pergi tapi Sania mendengarnya dan melanjutkan langkahnya meninggalkan Zoya


"bagus juga dia sadar dengan kesalahan nya! kalau dia tidak mengatakan nya hari ini mungkin besok dia akan kehilangan segalanya.. termasuk ibunya!" kata Zoya bergumam sendiri menatap Sania yang sudah sangat jauh


srekk.. srek..


Zoya mendengar suara sampah yang sedang di tumpahkan. apa sebelumnya disini juga ada orang? jadi dia diam dan mendengarkan mereka bicara? Zoya merasa penasaran dan menengok siapa di sana. Zoya terkejut karena ternyata ada santri putra, bukan! mungkin dia adalah seorang ustadz karena dari wajahnya terlihat dia lebih dewasa dari Alfaeza.


"kamu dengar semua pembicaraan kami?!" tanya Zoya dengan wajah kesalnya


"astagfirullah.. !! balik badan dan tunduk kan kepala!!" bentuknya pada Zoya, awalnya Zoya malas mendengarkan tapi mengingat dirinya yang baru selesai di hukum jadi dia membalik kan badan tanpa menundukkan kepalanya


"lain kali kalau ada santriwan jangan mengajaknya bicara atau menatapnya! paham!!"


selesai membenntak zoya, dia langsung pergi tanpa berkata-kata lagi. Zoya merasa aneh dengan sikap orang itu, dia takut ketahuan atau ilfil? rasanya Zoya sungguh kesal mendapat bentakan tak terduga dari orang tadi


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Hai guys.. πŸ‘‹πŸ‘‹


jangan lupa like dan komentar ya.. mimin tunggu komentar kalian.. SALAM HANGAT DARI AUTHORπŸ€—πŸ‘‹πŸ‘‹


__ADS_2