Santri Mafia

Santri Mafia
kebencian Santi


__ADS_3

"makan malam, udah aku siapin" kata Rafendra tiba-tiba setelah membuka pintu sedikit dan memunculkan wajahnya di sana


"kamu bisa masak?" tanya Zoya heran


"setahun setelah kalian pergi, aku belajar masak karena nenek sakit-sakitan dan kakek sibuk mengurus nenek. kenapa? gak percaya?" kata Rafendra masuk


"setahun setelah aku di camp aku baru memahami ilmu bela diri dan baru mulai belajar tentang pistol" kata Zoya dengan ekspresi yang sulit di artikan


"jangan malu karena aku lebih jago masak, nanti aku ajarin supaya kamu bisa masakin suami kamu nanti" Zoya langsung menatap Rafendra setelah selesai bicara, Rafendra kaki karena sedikit keceplosan.


"aku juga bisa masak!" kesal Zoya keluar dari kamar


"huftt... untung dia gak nyadar.." kata Rafendra mengelus dada dan ikut keluar untuk berkumpul di ruang makan


dari tangga Zoya melihat sang kakek tengah duduk menunggu mereka berdua dengan wajah yang berseri, ini pertama kali mereka makan malam sejak pertemuan kembali beberapa bulan lalu di pesantren. Zoya menarik nafas dan mengangkat senyum selebarnya kemudian kembali turun dengan girang dan dengan wajah bahagia memeluk kakek dari belakang.


"malam kakek.. " sapa Zoya masih dengan memeluk erat sang kakek


"malam cucu cantiknya kakek.. ayo duduk" ajak kakek dengan tersenyum bahagia


Zoya segera duduk di samping sang kakek, sejak awal Rafendra sudah memperhatikan Zoya, dia hanya tersenyum kecil melihat tingkah Zoya yang cukup berbeda di matanya


'dia berpura-pura bersikap seperti gadis biasa yang bahagia, dia terlalu memaksa sikapnya.. tapi begini juga baik setidaknya kakek tidak sedih dengan perubahan sikap Syilvia yang begitu besar.. ' batin Rafendra sambil turun menghampiri mereka berdua


"malam" sapa Rafendra dengan tersenyum lebar


"khm... jadi? siapa yang masak?" tanya Zoya melihat kakek yang tersenyum kepada Rafendra

__ADS_1


"abangmu.. dia pintar masak, ayo coba dulu masakannya" kata kakek mengambilkan nasi dan lauk untuk Zoya


"kek aku bisa sendiri.. jadi sebelumnya saat kalian menjenguk ku di penjara, yang masak bukan Rafendra? atau yang masak kakek?" tanya Zoya mengambil alih piring di tangan kakek


"kan abangmu di pesantren,, gimana mau masakin kamu? kalau waktu itu yang masak memang kakek" jawab kakek


"kakek juga bisa masak??" kata Zoya kaget walaupun sebelumnya menebak dengan asal


"hahaha... kamu ini kenapa kaget? ayo makan dulu nanti keburu dingin makanannya" kata kakek sambil tertawa mengelus kepala Zoya


"kek, dia sudah terbiasa dengan hal yang berbau dingin" ledek Rafendra yang bermaksud ke sikap Zoya yang sebenarnya


"buayaku belum makan malam, Raf boleh aku minta sedikit daging mu untuk mereka? tidak banyak hanya daging kaki dan tangan mu sudah cukup" kata Zoya sambil tersenyum seperti hantu


"tubuh kakek lebih gemuk" jawab Rafendra menyuap makanannya secepat kilat. Kakek hanya tertawa melihat kedua cucunya itu, ada rasa rindu di dalam hati sangat kakek pada putri dan menantunya yang selalu berdebat tentang makanan ketika di meja makan, namun dia bersyukur setidaknya kedua cucunya kini berada di sisinya.


"jangan membantah!! kamu mulai durhaka setelah berteman dengan mereka Sania!!" bentak Santi. Sania hanya diam duduk di tempat tidurnya, malam ini Santi ingin membujuk Sania untuk berhenti mondok dan kembali menjadi seperti dulu tapi Sania menolaknya dan dengan keras ingin terus mondok.


"pokoknya mama bilang berhenti ya berhenti!! kamu jangan membantah!!" bentak Santi lagi


"aku masih mau mondok! kalau mama mau aku berhenti mondok mama harus berubah! mama juga harus pakai hijab dan sholat! kalau mama gak mau jangan harap aku mau berhenti mondok!" tegas Sania tapi tidak membentak karena dia tau harus menghormati mamanya. Sania keluar meninggalkan Santi yang penuh emosi di kamarnya, Sania pergi kekamar Hani yang saat ini sedang duduk selesai sholat isya'


"set**!!!! aakkhh... !! aku ingin membunuh mereka semua yang membuat Sania berubah! terutama bocah sialan itu! sejak dia datang dia membuat Sania berubah seketika!!" kata Santi marah marah, yang di maksutnya adalah Hani karena semenjak Hani kembali memang Sania berubah saat itu, tapi Sania berubah juga bukan karena Hani. Sania takut kehilangan perhatian dan kasih sayang Abbas yang juga di dorong oleh nasihat nasihat Dari Guru yang juga pelajaran pelajaran Agama yang membuatnya benar-benar mendapatkan jati dirinya yang sekarang.


"Han, aku nginep di sini ya pliss" kata Sania sambil bergelayutan pada lengan Hani


"kamar kamu kenapa? jadi sarang tikus? tumben banget pengen nginep" tanya Hani heran sambil menjauhkan lengannya dari Sania

__ADS_1


"di kamar ada mama" jawab Sania bete


"hah? terus? kan mama Santi kangen sama kamu.. durhaka kamu sama mama Santi" kata Hani lagi


"ck, udah ah aku mau tidur! mending debat sama Alya daripada sama kamu!" gerutu Sania sambil mengambil posisi tidur mengabaikan Hani yang menarik kaki nya dan menyuruhnya untuk keluar


"ishh.. lesbi emang!!" kata Hani kesal karena Sania yang sudah rapi di posisinya


"tidur mbak besok balpon! aku tidur duluan.. mau mimpiin Dimas" kata Sania sambil tersenyum mengejek


Hani hanya diam mendengar nama Dimas, dia yang selama ini tak pernah sekalipun ingat tentang Dimas tiba-tiba terbayang wajah Dimas yang kadang tersenyum ketika sesekali saling berpapasan. Hani jadi kepikiran bagaimana dengan perasaan Dimas padanya? kalau sampai Dimas memiliki rasa maka dia akan terlihat jahat karena selama ini bahkan tidak ingat dengan Dimas sama sekali.


"tidur neng.. kang Dimas nya lagi do'a minta kamu sama Allah, jadi tolong kerjasamanya dan tidur ya.. biar kang Dimas nya bisa masuk ke mimpi terus ngajak kawin hahaha... " lagi lagi Sania menggoda Hani yang masih diam mematung. kesal dengan ejekan Sania Hani mengambil bantal dan memukul Sania, Sania membalas nya an jadilah mereka perang bantal. kini kamar Hani terlihat seperti hutan belantara saking berantakan nya, mereka malah tertawa melihat kamar yang sudah seperti rumah jin itu lelah dengan perangnya mereka merapikan kembali kamar dan tidur meski masih saling meledek tapi mereka tidak lagi perang bantal.


Santi yang mengintip di pintu semakin membenci kedekatan mereka, meski ada rasa senang melihat Sania tertawa ruang tidak seperti dulu tapi juga Santi tak Terima jika Hani yang menjadi teman untuk Sania, entah apa yang membuat Santi begitu sangat membenci Hani sampai setengah mati yang jelas dia bahkan sekarang sedikit membenci Sania yang begitu akrab dengan Hani apa lagi dengan Zoya yang membuatnya kehilangan kesempatan untuk mengambil semua kekayaan milik Hani dan bahkan juga sekarang kehilangan Sania yang dulu.


"jika saja Boby tidak kendalikan orang lain, aku sudah membuat mereka semua lenyap!! tapi Boby bahkan tidak mau mendengarkan ku sekarang! dia bahkan berhenti menjual anak anak kecil lagi. entah apa yang membuatnya berhenti!! mungkin aku harus membujuknya lagi, aku ingin Hani dan Zoya mati. aku ingin mereka lenyap!!!" gumam Santi penuh dendam.


"Ma.. ngapain sih di sana?" tanya Abbas yang tiba-tiba muncul di belakang Santi


"pa.. " kaget Santi, entah sejak kapan Abbas disana. Santi sangat hawatir bagaimana jika Abbas mendengar semua yang di katakan nya tadi?


🌹🌹🌹🌹


jangan lupa like dan komentar ya guysπŸ‘‹πŸ‘‹ mimin butuh banget support dari kalian😊 semoga kalian sehat semua ya guys..πŸ˜ŠπŸ€—


SALAM HANGAT DARI AUTHOR πŸ’™πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2