
dua hari setelah kunjungan Ummi, Lance dan Diky yang kehilangan satu mata dan jari kelingkingnya Diam-diam datang mengunjunginya, tentu saja tanpa sepengetahuan polisi mereka masuk ke tempat Zoya secara diam-diam. bukan Lance dan Diky namanya jika mereka gagal menyelinap. Zoya sudah terbiasa dengan mereka yang datang secara diam-diam, karena setiap dua atau tiga kali seminggu mereka pasti datang dengan cengir kuda mereka.
meski Lance merasa Zoya semakin jauh darinya tapi hatinya tetap untuk Zoya. dan walaupun Lance tau Zoya tak akan pernah dia miliki dia tetap memendam cinta yang sudah lama dia simpan itu.
"bagaimana keadaan mu? ada kemajuan?" tanya Lance
"saat kalian pergi waktu itu, tangan ku mulai bereaksi dan sekarang mungkin sudah hampir pulih" jawab Zoya mengibas-ibas kan kedua tangannya
"wow... itu luar biasa!!" kata Diky menepuk tangan pelan
"bagaimana dengan mu?" tanya Zoya pada Diky
"ya.. kurang baik seperti biasanya, mataku tidak akan kembali begitupun dengan kelingking ku, tapi tidak masalah.. nyawaku masih aman hehe.. " jawab Diky dengan wajah cerianya
"sudah belasan kali CCTV di sini diperbaiki, apa kalian tidak kasian dengan mereka?" tanya Zoya dengan nada malasnya
"kasian? memangnya mereka kasian denganmu? mereka tau kau lumpuh tapi tetap saja mengurung mu disini dan lagi.. lihat kursi roda mu, bahkan hewan pun enggan duduk disana!" jawab Lance
"apa kau masih mau bertahan di tempat ini? kenapa kau tidak mau ikut kami saja!" bujuk Diky untuk ke sekian ribu kalinya
"tidak bosan bertanya hal yang tidak penting seperti itu? aku akan tetap disini sampai mereka menjemputku! ini juga bentuk maaf ku untuk ayah dan ibu.. karena aku yang sudah jauh dari didikan mereka" kata Zoya yang juga untuk ke sekian kalinya.
.
.
.
__ADS_1
"maksutmu?? tapi.. tapi apa kam.. err,, ustadz yakin?? Zoya masih di bawah umur.. dan juga belum tentu dia akan setuju.." terkejut Rafendra mendengar tujuan Alfaeza yang tiba-tiba masuk ke Gurfahnya dan mengundang nya untuk ke maajid kemudian mengajak nya untuk bicara secara pribadi. Rafendra tak habis fikir dengan keinginan Alfaeza yang membuatnya terkejut setengah mati
"aku tau ini akan sulit untuk dia setujui.. tapi bagaimanapun aku juga lelah dengan rasa bersalah dan berdosaku padanya.. sebelumnya aku sudah meminta izin Abah Yai untuk mengatakannya padamu dan sekeluarga.. aku juga tidak ingin kehilangan banyak hafalan ku. rasa bersalah ku karena beberapa kali tak sengaja menatap.. nya.. " Alfaeza menghentikan ucapan nya karena tidak ingin mengatakan hal yang menurutnya tidak sopan.
"aku faham.. aku juga sepertinya setuju.. walau Zoya mungkin akan menolak tapi juga akan aku bantu semampuku, aku tak ingin Zoya juga mendapat dosa jariah,, " sambut Rafendra yang tau dengan ke canggungan Alfaeza.
ya. Alfaeza ingin melamar Zoya, dia hanya ingin melamarnya dahulu dan menunggunya hingga usai sekolah dia akan meminang Zoya. bukan karena tanpa sebab, Alfaeza memang setiap saat selalu merasakan bersalah pada Zoya yang tak sengaja dia lihat auratnya, tidak hanya ketika di hari di mana mereka di kurung Gino, bahkan saat musibah ledakan itu, Alfaeza juga yang menemukan Zoya dalam keadaan tak sadarkan diri dengan setengah tubuhnya tertimbun reruntuhan. Alfaeza berteriak memanggil tim penyelamat untuk membantunya mengeluarkan tubuh Zoya tapi para tim penyelamat sibuk menyelamatkan yang lain, dia berusaha sendiri mengeluarkan Zoya, saat dalam usahanya, tak sengaja hijab yang masih menempel di kepala Zoya terlepas. tak ada waktu untuk memakaikan kembali hijab itu, arema nyawa Zoya benar-benar terancam saat ini, jadinya bahkan berdetak sangat lambat. Alfaeza terus berusaha mengeluarkan Zoya hingga saat hampir berhasil celana yang Zoya pakai sobek dan mengekspos dengan sempurna kaki jenjang Zoya yang penuh luka dan darah hingga sampai ke atas lututnya. meski berusaha mengalihkan pandangan tapi bahkan Alfaeza semakin sulit mengeluarkan Zoya dari sana. Alfaeza kembali berteriak meminta tolong hingga Rafendra dan dia orang tim penyelamat datang membantunya.
meski terbilang itu hanya hal biasa, beda lagi dengan Alfaeza yang tak pernah berhenti merasa bersalah pada Zoya. baginya ini adalah penghinaan bagi seorang perempuan yang tak sengaja dia lihat auratnya. kali ini dia ingin menghentikan bayangan dosanya dengan melamar Zoya dan akan menikahinya. sebenarnya keinginan itu juga di dorong oleh sebuah rasa yang tumbuh di hatinya, entah sejak kapan tapi Alfaeza sadar jika rasa itu adalah Cinta. hatinya selalu bergetar ketika melihat Zoya, dia juga merasakan senang dengan melihat Zoya walau sekilas.
meski dia tau Zoya memiliki sifat yang keras kepala tapi dia tetap akan bertekad untuk melamar Zoya, setuju atau tidaknya Zoya adalah urusan belakangan itulah nasihat Abah Yai untuknya.
*
*
*
"inget ya.. kita harus berangkat bareng!! aku udah kangen banget sama Zoya.. kita udah lama gak ketemu dia.. !" kata Alya yang sedang melihat baju untuk di masukkan ke ransel nya.
"nanti kita telfon. tapi kamu jangan lama ya siap-siapnya.. kalu nggak kita tinggalin kamu!" sambut Hani
"gimana kalau kita jemput Alya aja.. sambilan juga kita ajak papa biar dia yang nyetir.. " usul Sania
"boleh tuh! hati kalian jemput aku ya.. " antusias Alya
"apasihh.. keputusan akhir tuh di tangan aku! lagian juga aku gak bilang iya.. " kata Hani beelagak sombong memancing emosi Alya
__ADS_1
"issh!! Hani bikin bete deh!" kesalahan Alya
Sania malah tertawa melihat Alya yang sebelumnya tersenyum seketika manyun di buat Hani.
Rafendra juga memiliki niat yang sama dengan tiga orang sebelumnya, dia juga ingin menjenguk saudari kembarnya itu. tapi dia tidak ingin mengajak siapapun karena dia ingin menghabiskan waktu bersama sangat adik. dia juga berniat ingin membujuk Zoya untuk setidaknya tidak marah atau mengamuk ketika Alfaeza mengutarakan niatnya nanti.
Dimas menghampiri Rafendra yang diam duduk di depan lemarinya, santri lain sibuk beekemas sedangkan dia hanya bengong seperti orang kerasukan.
"kamu kenapa Raf?" tanya Dimaa membuyarkan lamunannya
"gak apa-apa.. aku cuma kangen Zoya" jawab Rafendra masih dengan posisi duduk nya.
"nanti kalau kamu jenguk dia.. aku ikut boleh gak?" tanya Dimas lagi
"hm. Boleh, tapi jangan besok, nanti di hari Kamis aja" kata Rafendra yang di jawab anggukan oleh Dimas.
Ummi yang saat i ini sedang duduk sambil membaca buku tiba-tiba teringat dengan izin Alfaeza beberpa malam yang lalu.
"sebenernya pengen jodohin kamu sama Ilham, tapi sepertinya ada yang lebih baik buat kamu nak.." gumam Ummi menutup bukunya.
🌹🌹🌹🌹
Hai guys.. 👋👋
apa kabar kalian? sehat? alhamdulillah ya...
jangan lupa like dan komentar ya,, SALAM HANGAT DARI AUTHOR... 😘👋
__ADS_1