
zoya beranjak dari duduknya dan mengambil air wudhu, seeett... tunggu.. niat wudhu kan zoya belum tau
zoya kembali dan meraih HP nya, zoya mencari lafaz niat wudhu, setelah menemukannya zoya langsung mulai mempelajari dan menghafalnya sebentar
tak membutuhkan waktu yang lama zoya langsung menghafalnya. zoya langsung menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. usai berwudu zoya kembali bingung bagai mana dia akan shalat sedang kan niat dan bacaannya saja zoya belum tau...?
zoya menghela nafasnya sambil mengerutuki dirinya yang selama ini sangat lalai, zoya kembali dengan HP nya dan mencari niat serta bacaan shalat di sana, dengan menarik nafas panjang zoya mulai menghafal bacaan-bacaan shalat.
satu jam kemudian zoya berhasil melafalakan sebagian bacaan shalat, zoya mengulangi mengambil air wudhu, dan mulai shalat.
selesai shalat zoya langsung menangis di atas sajadah nya, zoya merasa sangat nyaman dan juga merasa sangat bersalah lebih tepatnya merasa sangat berdosa karna selama ini selalu mengabaikan shalat. bukan mengabaikan tetapi memang tak pernah di ajarkan.
zoya meminta maaf pada Allah, dengan deraian air mata zoya dengan sungguh meminta maaf atas semua yang telah iya jalani sebelumnya, bukan hanya tak pernah shalat bahkan zoya juga sudah membunuh begitu banyak orang.
"ya Allah... apakah engkau akan mengampuni ku.. ? aku sudah membunuh begitu banyak hambamu.. aku juga tanpa rasa bersalah sering menghabisi hamba-hamab mu yang tak bersalah.. apa.. apa aku pantas untuk mendapatkan maaf mu ya Allah.. " lirih zoya di balik mukena nya
"hani... sayang.. ayo keluar kita makan siang di luar, sudah lama kamu gak pulang sekarang papa mau ajak kamu keliling kamu pasti kangen kan sama tempat tempat di sini.. " kata papa abbas dari luar pintu kamar zoya
zoya tertegun mendengar suara papa abbas.
'keluar.. ? ah.. aku sudah lama tidak pernah kembali.. rasanya sangat rindu dengan tanah kelahiranku ini' batin zoya
"iya pa.. hani siap-siap dulu" kata zoya dengan suara lembut.
'aku.. syilvia zoya, aku akan kembali ke jalan yang benar, tapi aku juga tidak akan meninggalkan prinsip ku, yang baik akan aku baik kan, dan yang jahat aku juga akan menjahatinya.. ' batin zoya.
zoya keluar, dengan penampilan barunya yang menggunakan hijab, zoya selama ini tak pernah membiarkan wajahnya tersentuh mike up, jadi dia berpenampilan seadanya. meski wajahnya tidak pernah dia poles juga tetap cantik.
skip sampai restoran yang di tuju, papa abbas langsung memesan makanan. di sana tidak hanya mereka berdua tentunya, santi dan sania juga ikut.
__ADS_1
papa abbas tak henti-hentinya mengajak zoya mengobrol. menanyakan apa makanan kesukaannya, apa minuman favorit dan apa hobinya.
satu persatu pertanyaan zoya jawab.
"nak, papa ingin tau makanan kesukaanmu apa, apa kamu masih suka dengan pasta keju? dulu kamu selalu ingin makan makanan itu tapi papa selalu melarangmu.. " ucap papa abbas merasa bersalah
"sekarang hani suka makan makanan apa aja, yang penting perut hani kenyang pa" kata zoya tanpa peduli dengan rasa bersalah papa abbas
"ah.. lalu kamu suka minum apa, papa pesan kan buat kamu" kata papa abbas dengan tersenyum
'aku suka bir, apa aku akan mengatakannya?' batin zoya berfikir.
'tidak, mana mungkin mengatakan jika aku suka minum bir, yang ada mereka akan merasa aneh nanti' batin zoya lagi
"aku.. alpukat, aku suka minum jus alpukat" ucap zoya sambil melihat ke arah papa abbas
papa abbas langsung memesan jus alpukat. zoya masih ragu, dulu memang dia suka jus alpukat buatan mamanya, sudah lama apa dia masih akan menyukai jus alpukat itu?
"hani.. dulu bukannya kamu alergi sama alpukat? kenapa sekarang.... "
"apa urusan nya dengan mu?" potong zoya saat mama santi berbicara
"hani kok kamu gitu sih sama mama, dia mama kita lho... pa, coba deh liat.. hani gak sopan sama mama" adu sania pada papa abbas
"hani sayang.. kamu gak boleh gitu sama mama kamu, dia juga mama kamu, dia juga dulu sering ngurusin kamu sebelum kamu pergi ke luar negeri, sayang papa tau, kamu belum bisa nerima mama kamu tapi kamu jangan gak sopan gitu dong.. " ucap papa abbas berusaha dengan lembut menasehati zoya
zoya hanya diam, dia tidak menggubris perkataan papa abbas. zoya hanya berpikir mungkin kedepannya santi dan sania akan berbuat tak segan padanya karna merasa selalu di bela dan di nomor satukan oleh papa abbas
'siapa juga yang pernah di rawat? aku bukan hani, dan lagi.. apa benar di rawat.. ??' batin zoya dengan kesal
"hah... sudah lah.. jangan bahas yang tidak-tidak, oh ya,... ni kamu punya hobby apa nak, papa selama ini gak pernah jenguk kamu, dan jarang nanyain kabar kamu jadi papa gak tau kehidupan pribadi kamu" kata papa abbas mengubah topik pembicaraan agar keadaan tidak menjadi hening dan canggung
__ADS_1
"aku hobby mukul orang, papa mau tau berapa orang yang pernah hani pukul.. ?" kata zoya dengan menyeringai sambil melirik ke arah santi dan sania
'sialan liat apa anak ini.. ' batin sania yang merasa tidak nyaman dan tidak Terima dilirik sinis oleh zoya
"kamu... hahaha... hani kok kamu malah bercanda sih nak, papa beneran nanya sama kamu.. ya sudahlah.. habis makan papa bawa kamu belanja" kata papa abbas
sebenarnya abbas sangat terkejut mendengar zoya yang mengatakan hobby nya adalah memukul orang, abbas tak berani mempercayainya tapi bagaiman jika itu benar, abbas hanya merasa hawatir bagaiman jika putrinya itu memiliki banyak musuh di luar.
"hani.. kamu kok jadi berandal sih malah hobby mukulin orang, kan itu gak baik, gimana kalok suatu hari kamu di incar orang, kan bahaya" kata sania dengan sok hawatir
zoya hanya diam tak menggubris, zoya baru kali ini merasakan bagaimana menjengkelkan nya permasalahan dalam keluarga, saudara tiri yang munafik, ibu tiri yang yang menyebalkan dan papa yang hanya diam melihat perselisihan antar istri dan anak.
'rasanya manjadi pembunuh lebih mudah dan menyenangkan, tidak perlu berpura-pura dan basa basi, jika marah bunuh saja, sekarang harus menahan rasa kesal demi kesan yang baik. huft.... ini lebih melelahkan dari pelatihan keras selama tiga tahun' batin zoya
'sialan! ni anak malah diem doang lagi, gak liat aku perhatian sama dia apa, gak bisa aku harus ambil simpati dari papa' batin sania yang kesal
"ni.. aku tau kok kamu benci sama aku, tapi jangan abai in aku gini dong, aku hawatir sama kamu... " kata sania dengan suara yang di buat sesedih mungkin
"hani.. sania juga kan saudara kamu, dia hawatir sama kamu, jangan gak peduli sama dia ya nak kalian kan saudara" kata papa abbas dengan lembut
"oh.. " kata zoya yang hanya ber oh ria.
'ck, awas aja kamu gak bakalan aku biarin damai hidup disini' batin sania yang sangat kesal
"ayo, kita pergi membeli beberapa baju buat hani, sania juga" ucap papa abbas mengajak mereka pergi
skip sampai di mall, papa abbas langsung menyuruh zoya memilih beberapa baju syar'i yang di butuhkan nya
zoya belum pernah memakai baju yang begitu tertutup, tapi yasudah lah, zoya juga sudah berniat untuk menjadi lebih baik jadi harus memulainya dari pakaian dulu.
zoya memilih beberapa gamis yang tidak terlalu mewah di lihat, dengan warna yang elegan, dan juga membeli beberapa baju tonik untuk di pakai kedepannya. papa abbas memilihkan hijab pasmina dan beberapa hijab syar'i yang biasa di pakai di pesantren.
__ADS_1
meski papa abbas dulu tidak pernah memperhatikan hani, tapi sekarang dia merasa bersalah dan ingin memperbaiki semuanya, papa abbas juga sebenar nya sangat menyayangi hani putrinya.