Santri Mafia

Santri Mafia
hanya mimpi


__ADS_3

"apa kau pikir aku akan membiarkan kalian sebebas ini?" kata Gino yang datang dengan membawa pistol dan tubuh Rafendra yang berlumuran darah


"Rafendra!!" teriak Zoya terkejut melihat wajah pucat Rafendra


"dia sudah mati! sekarang giliran kalian!!"


dorr..


tepat mengenai kepala Ummi, bahkan percikan darah Ummi juga mengenai wajah Zoya. kemarahan Zoya sudah di ujung kepalanya, Zoya berdiri dan mulai menyerang Gino dengan brutal. pertarungan terjadi begitu sengit bahkan orang-orang di sekitar mereka pun berteriak dan mulai lari berhamburan karena sesekali Gino juga melepaskan pelurunya. Zoya juga masih se gesit dulu dan menghindari peluru, namun meski begitu Zoya juga sedikit kewalahan karena dirinya hanya bertarung dengan tangan kosong.


dugghh...


sebuah tinju mendarat di perut Zoya, Zoya terhempas ke lantai musholla. mata merahnya menatap tajam wajah Gino


dorr..


Zoya yang tak sempat mengelak pun mendapat kejutan peluru di dadanya. mukenah nya penuh dengan darahnya, Zoya melepas mukenah nya dan mengikat rambutnya yang berantakan, meski dadanya mengalirkan banyak darah, Zoya tidak peduli sedikitpun dan kembali menyerang Gino


pertarungan kembali terjadi. ketika dia hampir mendapat kesempatan untuk menyerang telak fokus Zoya terbuyar dengan kakek yang juga berlumuran darah dan kehilangan kedua tangannya.


dugghh.. dorr..


Zoya di tendang dan kembali tertembak di bagian kepalanya. Zoya terkapar dengan lumuran darah, wajahnya memucat namun kesadarannya masih stabil.


"sudah selesai! semua berakhir!! kau harus mati!!" kata Gino dengan dengan tatapan dinginnya


"berhenti!!" suara lantang itu menghentikan Gino yang akan menusuk Zoya dengan menggunakan pisau


mata Zoya berusaha menangkap siapa yang memiliki suara begitu lantang. Zoya sangat terkejut melihat seorang laki-laki duduk di atas kursi roda dengan di dorong oleh seorang perawat.


"kau!!" Gino juga cukup terkejut melihat wajah familiar itu.


"ayah... " gumam Zoya yang sudah mulai kehilangan sedikit kesadaran nya

__ADS_1


"kau masih hidup? jadi semua informasi yang aku terima adalah palsu? kau tidak mati!! bajingan!!!!" teriak Gino dengan marah


"tidak terima? inilah keajaiban! hari ini hidupmu yang akan berakhir!!" kata ayah sambil menodongkan pistol kearah Gino


dorr..


meski Gino terluka tapi juga membalas tembakan ayah Zoya tiga kali dengan brutal.


"a.. ayah... " Zoya yang melihat ayahnya berlumuran darah itu berusaha untuk bangkit


"jangan lagi ayah... jangan lagi meninggalkan Zoya.. jangan lagi.. Rafendra.. kakek.. ayah.. jangan biarkan Zoya sendiri di sini.. bawa aku.. ayah bawa aku bersama mu.. " Zoya mulai berdiri tapi Gino menusuknya dari belakang. Zoya kembali terjatuh dan hampir kehilangan kesadaran sepenuhnya. rasa nyeri di dada dan pinggang, panas menjalar di seluruh tubuh Zoya


"apa semua akan berakhir? apa aku akan mati di sini? ayah setidaknya kau menjemput ku jangan biarkan aku pergi sendirian.. aku ingin pelukanmu ayah.. aku ingin pelukan mu.. " Zoya menutup matanya yang sudah mulai pudar


"Zoya.. bangun nak.. ayo sarapan! panggil Rafendra juga ya.. !" teriak seorang wanita di luar kamar Zoya. Zoya mengerjapkan matanya dan mencoba menerka apa yang terjadi. Zoya segera bangun dari kasurnya dan berlari keluar, suara tawa di ruang makan menarik kaki Zoya untuk berlari kesana.


"ayah! ibu! Rafendra.. !!" kaget Zoya melihat tiga orang itu yang sedang bercanda di sana


"ngapain masih berdiri disana kayak huruf Alif! sini! layani aku tuan putriku.. " panggil Rafendra dengan senyum cerahnya. Zoya melangkah mendekati mereka, namun semakin Zoya mendekat seolah mereka semakin menjauh. Zoya mencoba berlari tapi juga masih tidak bisa menggapai mereka.


"jangan terus berlari.. aku masih disini" kata Rafendra yang tiba-tiba memeluknya sambil tersenyum


Zoya terbangun dari tidurnya, Ummi yang melihatnya membuka mata langsung memeluk Zoya. tunggu! jadi tadi hanyalah mimpi? apa yang terjadi? kenapa harus memimpikan Ayah masih hidup? dan kenapa harus memimpikan Ayah di bunuh untuk ke dua kalinya oleh Gino? dan ibu... Rafendra... ,Zoya meneteskan air matanya sangat kecewa, ternyata semua itu hanya mimpi.. setidaknya Zoya bisa melihat keluarganya tersenyum cerah walau sesaat dalam mimpinya.


"mi... ayah masih hidup kan?" tanya Zoya dengan berbisik sambil terisak menangis meski tau jawabannya pertanyaan itu tetap keluar dari mulut Zoya


Ummi melepaskan pelukannya dari Zoya, mengelus wajah yang begitu anggun itu. dengan tersenyum Ummi menggelengkan kepalanya pelan.


"siapa yang akan hidup ketika semua organ terpisah dan hanya tersisa kepala yang utuh.. kamu mimpi nak? kamu pingsan setelah sholat magrib tadi.. besok Ummi bawa kamu kemakam ayahmu, sekarang bangun sholat isya' dulu setelah itu kamu istirahat.. " kata Ummi dengan lembut


darah dalam tubuh Zoya seakan beregemuruh. dia tau ayahnya di mutulasi, tapi tetap saja dia merasa sakit jika mendengarnya kembali. kali ini Zoya benar-benar tidak akan membiarkan Gino bernafas dengan tenang sedikitpun, tapi sebelum itu dia akan sholat dulu. nanti dia akan pikirkan bagaimana kabur dari pengawasan Ummi.


Zoya mengangguk dan tersenyum mengusap air matanya. sebelum pergi untuk mengambil wudhu, Zoya sempat menatap lekat wajah teduh Ummi.

__ADS_1


"tidak menyangka.. Ummi begitu banyak berubah setelah lama tidak bertemu.. ibu maya.. panggilan itu dulu sering aku ucapkan, tapi sekarang berubah.. Ummi.. " kata Zoya memeluk Ummi dengan hangat


"sudahlah.. Ummi merasa tidak ada yang berbeda sedikitpun.. hanya kamu terlalu lama berada di tempat jauh. sekarang sholat lah, Ummi akan ambilkan bubur setelah itu kamu makan dan istirahat ya.. " kata Ummi lembut. Zoya hanya membalas dengan senyuman dan pergi keluar dan meninggalkan Ummi disana.


usai sholat isya'. Zoya kembali ke tempat di mana kakek dan Rafendra di rawat, Rafendra sudah di pindahkan ke ruang rawat biasa jadi Zoya dengan leluasa keluar masuk ruangan untuk menemui Rafendra


"bagaimana keadaan mu" tanya Zoya pelan


"lumayan.. hampir menyusuli ayah dan ibu tadi" kata Rafendra bercanda


"mau ku kabulkan?" tanya Zoya lagi dengan kesal


"hehe.. Jangan marah.. aku cuma bercanda, bagaimana denganmu apa kau baik-baik saja?" tanya Rafendra balik melihat Zoya yang sedikit pucat


"menurutmu? huufft.. setidaknya lebih baik dari kakek" jawab Zoya dengan sedih


"kakek? ada apa dengan kakek?" tanya Rafendra sangat khawatir. zoya menceritakan semua yang terjadi setelah dia di bawa kerumah sakit


"aku ingin membunuhnya!" kata Rafendra marah


"kalau begitu sembuhkan dulu dirimu, jangan sampai kamu bertindak di saat kamu masih seperti ini, takutnya kamu akan menyusahkan ku!!" kata Zoya tajam membuat Rafendra nyengir kuda meski kesal


"sudah cukup! sekarang makanlah sedikit dan minum obat, jika masih berbaring seperti ini bagaimana kamu akan membantuku untuk balas dendam!" kata Zoya menyuapi Rafendra bubur yang sebelumnya Ummi berikan untuk dirinya


"meski aku lemah dan baru sadar, tapi aku juga tidak buta. kamu juga belum makan kan? bahkan wajahmu menceritakan nya dengan jujur" kata Rafendra menghentikan tangan Zoya.


hap!


Zoya membelokkan arah sendok dan mendaratkannya ke mulutnya sendiri. Zoya menyuapi bubur itu hingga tiga sendok ke mulutnya sendiri.


"tidak mau makan juga tidak apa. aku juga lapar" kata Zoya yang kembali memakan bubur itu sendiri. Rafendra sedikit tertawa karena kelakuan adik kembarnya itu.


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Hai guys.. 👋👋


jangan lupa like dan komentar ya.. semoga suka dan SALAM HANGAT DARI AUTHOR 👋👋💜


__ADS_2