
"assalamu'alaikum.. " kata zoya setelah sampai di rumah papa abbas
"wa'alaikumussalam ni, kamu habis dari mana nak? kok baju kamu berantakan gitu?" tanya papa abbas
"ohh itu pa... habis jalan-jalan" kata zoya sambil senyum
"hah.. kamu gak puas jalan-jalan kemarin? kenapa gak bilang papa, kan papa bisa nemenin kamu" kata papa abbas
"mm.. hani lagi pengen sendiri pa, soalnya udah lama Hani gak jalan-jalan sendiri" kata zoya mencari alasan
"ya sudah, sana kamu istirahat kamu pasti capek kan? ntar malem papa ada hal yang mau papa omongin sama kamu" kata papa abbas yang sambil mengusap kaca matanya
"ya pa, Hani mandi dulu" sahut zoya yang kemudian naik kekamarnya
tak di sangka, saat zoya akan masuk kekamarnya tiba-tiba sania menarik kuat tangan kirinya
"enak ya kamu, bisa keluar jalan-jalan sendiri, mana gak ngajak aku lagi, kamu gak takut aku bilangin papa?" kata sania nyolot
"papa? maaf anda siapa ya? papa saya cuma punya satu anak dan itu hanya saya, mohon orang luar yang tidak ada hubungan untuk tidak mengacau" kata zoya sambil masuk kekamarnya
'mau ngadu? aku udah izin kalii' batin zoya
sania menahan pintu yang hampir di tutup oleh zoya
"kamu bilang apa? maaf sampah yang sudah di buang tidak berhak untuk sombong" sahut sania tajam
__ADS_1
"sampah? yang sudah di buang? sampah yang sudah di buang tidak akan di angkat lagi kecuali jika sampah yang kamu maksut itu cukup berarti dan masih di sayang. dan lagi siapa yang kamu sebut sampah? coba liat dirimu, bukannya kamu sebuah sampah menjijikkan yang hanya tau menempel pada orang?" balas zoya
"zoya!! aku beneran kasih tau papa ya kalo kamu gak ikutin aku keluar, dan lagi aku bakalan kasih tau papa kalo kamu hina aku!" kata sania yang melotot karna Marah
"apaan sih, kok ngegas gak di ajak keluar.... Iri..? bilang bawahan.. !" kata zoya yang langsung menutup pintu kamarnya
sania tidak terima dengan perlakuan zoya, sania turun dan mengadu pada papa abbas yang masih duduk di sofa ruang keluarga
selesai isya' zoya, papa abbas, santi dan sania berkumpul di ruang keluarga.
"hani.. sania kalian sudah akan masuk ke pesantren, kalian jangan terus bertengkar lagi, papa sudah mengatur keperluan kalian, di asrama nanti kalian akan satu kamar jadi.. papa harap kalian bisa akur, ingat kalian ini saudara jadi harus saling berbagi" kata papa abbas
"mmm... pa.. hani gak mau satu kamar sama dia, begini.. akur juga butuh proses gak mungkin langsung akur, takutnya nanti kita berantem lagi disana jadi.. lebih baik pisah kamar papa gak keberatan kan pa?" kata zoya sambil memijat lengan papa abbas
"ya.. kamu benar juga, ya sudahlah papa mau tunggu sampai kalian bisa kaur aja baru kalian bisa satu kamar, papa harap sesama saudara kalian tidak lupa untuk saling berbagi" ucap papa abbas
"pa.. sania di jatahin nya selama satu bulan itu lima juta ya, gak boleh kurang!" kata santi masuk ke sela-sela pembicaraan abbas dengan Hani
"ma, kamu ini gimana sih, sania itu mau mondok, bukan mau shopping! lima ratus ribu per bulan saja sudah lebih dari cukup, sania dan hani papa mondok kan agar mereka bisa mandiri, bukan untuk di manjakan!" kata papa abbas tegas
"papa kok tumben nolak kemauan mama, jangan-jangan karna hani ya?! papa udah di cuci otaknya sama hani kan!?" kata santi dengan suara yang meninggi
"ma, papa gak mau sania jadi manja, di pondok juga di larang bawa uang terlalu banyak, selain itu di sana sania dan hani juga akan sibuk dengan belajar dan ngaji nya, mana ada waktu buat mikirin banyak uang!" ucap papa abbas juga dengan suara yang sedikit tinggi
"ahh,, papa emang udah di cuci otak sama hani, papa emang udah gak sayang lagi sama sania" santi masih dengan nada tinggi nya
__ADS_1
"ma stop!! hani gak pernah nyuci otak papa, ini sudah papa yang tentukan" kata papa abbas yang tidak sabar karna santi
"ck, semenjak hani pulang papa jadi gak sayang lagi sama sania, ya kan?" kata santi masih keras
brakk...
zoya menggebrak meja dengan keras karna merasa berisik dengan pertikaian dua orang itu
"pa, papa gak perlu marah lagi dan kamu tante, stop ngeyel dan nyalahin aku, yang maksa aku pulang sampai jemput aku ke singapur itu kamu dan sania! papa berubah saat aku pulang itu bukan kesalahan papa ataupun aku, itu kesalahan mu, jadi berhenti menggonggong disini, karna ini rumah rumah manusia, bukan kandang tempat beradu gonggongan, paham!!!" kata zoya dengan mata tajam kearah santi
santi begitu sangat marah dengan ucapan zoya, santi sangat geram dan ingin memukul zoya tapi abbas dengan segera menarik tangannya
"sudah cukup!! kalian selalu saja bertengkar! santi ini sudah keputusan ku, mereka masing-masing akan dapat jatah lima ratus ribu perbulan! dan kamu hani! papa gak mau lagi denger kamu ngomong kasar lagi, kamu itu perempuam kamu gak boleh ngomong kasar, kamu minta maaf sama mama kamu, kamu juga santi minta maaf sama hani!!" bentak papa abbas pada mereka
'omg.. papa kalo marah serem juga' batin sania yang terkejut karna suara abbas
"maaf? dalam kamusku tidak pernah ada kata maaf untuk seorang yang memalukan sepertinya" kata zoya yang berlalu pergi kekamarnya meninggalkan mereka.
"coba papa liat! itu anak yang papa sayang, di manjain sampai gak tau sopan santun, bilang aku anjing yang menggonggong, papa liat sendiri dia bukan anak yang baik!!" teriak santi yang sangat marah
"iya pa, tadi aja sania juga di bilang sampah menjijikkan, papa Hani gak pernah suka sama aku dan mama, hani selalu maki mama dan aku, papa gak mungkin diem aja kan... hiks.. hiks" kata sania yang pura-pura menangis sedih
"sudah sudah... papa akan ngomong sama hani, kalian masuk dulu kekamar, istirahat jangan mikirin soal tadi lagi" kata papa abbas menyuruh mereka kembali kekamar
papa abbas masih sangat syok dan terkejut karna kata-kata zoya, pertama memanggil santi dengan sebutan tante, memanggil santi dengan kata kamu, dan masih mengatakan santi menggonggong seperti mengatakan santi adalah seekor anjing, sebenarnya abbas binggung dan marah dari mana putrinya "hani" belajar kata-kata yang begitu kasar? apa sewaktu di singapur.. ? mungkin saja, putrinya itu sudah berubah sangat banyak dari saat masih umur sembilan tahun lalu.
__ADS_1
di kamarnya, zoya sedang video call dengan hani, menceritakan kejadian malam itu. hani merasa hawatir dengan keadaan papanya, tapi dia hanya bisa diam di belahan dunia lain.