Santri Mafia

Santri Mafia
pertarungan lagi


__ADS_3

dorr...


tiba-tiba suara tembakan terdengar dari luar. Zoya dan Alfaeza seketika merubah ekspresi mereka dan mulai waspada. terdengar suara pertarungan di luar, Zoya dan dua orang itu mulai menatap satu sama lain. dalam pikiran Zoya, mungkin Diky dan yang lainnya sudah datang dan mulai mengepung tempat ini, berbeda dengan Rafendra yang berfikir jika di luar mungkin sang kakek dengan para bawahan elit rahasianya yang datang setelah mendengar berita tentang penculikan nya. sedangkan Alfaeza merasa jika di luar adalah Ummi dengan santri senior beserta polisi sudah datang untuk menyelamatkan mereka.


tapi sayangnya, tak seorangpun dari yang mereka anggap yang berada di luar sana. Zoya, Alfaeza dan Rafendra menyelinap kembali masuk untuk mengeluarkan tiga orang yang di bawa masuk sebelumnya. tapi sialnya mereka malah bertemu orang-orang Gino yang akan keluar untuk memastikan apa yang terjadi di luar hingga membuat keributan yang begitu besar.


dorr.. dorr.. dorr..


tanpa aba-aba Zoya menembak mereka dengan brutal. karena suara tembakan dari Zoya yang di susul dengan suara tembakan dari Rafendra membuat suasana semakin pecah, semakin banyak yang keluar untuk menghadapi mereka. dengan tenaganya yang masih tidak stabil, Zoya beberapa kali hampir tertembak. entah siapa yang ikut membantu mereka bertiga, yang pasti saat ini Zoya Rafendra dan Alfaeza mendapat banyak kesempatan untuk menerobos masuk dan menyelamatkan tiga orang lainnya. awalnya Zoya ingin membantu Gus Ilham, api Alfaeza segera merebutnya. tanpa berkata apapun, Alfaeza langsung mengangkat tubuh Gus Ilham yang tergelatak di tanah itu. Zoya yang kesal hanya bisa diam karena ini bukan waktunya untuk beradu mulut. Rafendra sudah mengangkat tubuh Arya dan tinggal Dimas yang masih berbaring dengan wajah pucat nya itu.


'anggp saja aku membiarkan hutang ku pada Hani melalui mu, sedangkan untuk dua orang lainnya biarkan mereka berhutang padaku' batin Zoya mengangkat tubuh Dimas yang terkulai lemas itu. Alfaeza menatap tajam pada Zoya, Zoya yang tidak faham dengan arti tatapan Alfaeza hanya mendengus dan mengabaikannya.


sampai di luar, rupanya sudah ada polisi yang datang dan mengamankan peraturan. tunggu!! spertiny yang tersisa hanya para bawahan Gino, lalu kemana orang-orang yang membantu mereka sebelumnya? lenyap di telan bumi? bahkan jejak mereka pun tak terlihat sama sekali. Zoya cukup penasaran dengan merek semua, untuk apa mereka membantunya dan dengan cara sembunyi-sembunyi?.


kini mereka berada di dalam Ambulance. pikiran Zoya masih tertinggal di tempat sebelumnya, itu bukan markas Gino. Zoya tau seluk beluk tentang Gino, markas itu bukan miliknya, entah kapan Gino berada di Indonesia dan entah siapa yang memberitahukan keberadaan nya. dan lagi saat ini Gino masih di sana, sebelumnya Gino tidak keluar. Zoya tau Gino mengetahui tentang mereka yang kabur, tapi entah apa yang Gino rencanakan hingga dia tak mengejar dan menangkapnya kembali.


"ini belum selesai. mungkin kedepannya mereka masih akan datang dengan jumlah yang lebih banyak lagi" kata Zoya membuka keheningan dalam Ambulance itu. Gus Ilham, Arya dan Dimas berada di Ambulance lain.


"maksutnya?" tanya Rafendra mengangkat sebelah alisnya


"dia orangnya! dialah yang menjadi dalang dari kisah kelam tujuh tahun lalu" kata Zoya dengan menatap kearah langit-langit mobil


"maksudmu.. dia yang membunuh ayah dan ibu? dan dia juga yang menculik mu selama ini?!!" tanya Rafendra yang seketika terselimuti amarah dan dendam yang besar. Alfaeza yang mulai mencerna apa yang mereka bicarakan hanya diam tak ingin menyela.

__ADS_1


"ya! Gino Albert Alexanderr! yang juga pemilik Alexanderr Group! pernah dengar? Satu-satunya pengusaha besar yang memiliki bisnis terbanyak di usia muda dan Satu-satunya orang yang tidak tertarik dengan wanita. julukan ini cukup populer untuknya, seharusnya kamu pernah dengar kan?" kata Zoya dengan senyum penuh dendam.


"jadi selama ini.. dia orangnya!! luar biasa!!! bahkan dia punya reputasi yang sangat bagus!" kata Rafendra dengan suara yang menahan amarah


"boleh aku bertanya?" sela Alfaeza setelah lama terdiam, tak satupun jawaban keluar dari mulut mereka berdua, tapi Alfaeza menganggapnya sebagai jawaban iya.


"kalian ini kembarkan? tapi bukannya Hani punya papa dan mama?" tanya Alfaeza yang ingat dengan Abbas yang berkunjung untuknya sebelumnya.


"dia orang tua Hani" jawab Zoya yang membuat Alfaeza semakin puyeng


"bukannya kamu.. Hani?" tanya Alfaeza dengan suara pelannya


"namaku Syilvia Zoya, Hanifa hanya nama samaran ku saja" jawab Zoya jujur.


"Gino ya? aku ingat namanya!" kata Rafendra dengan menekankan setiap katanya


'kehilangan kedua orang tua karena pembunuhan, pantas saja mereka terlihat seperti penuh dendam dengan orang bernama Gino itu, dan apalagi salah satu dari mereka sampai di culik... tapi membalas dendam juga bukan hal yang baik, dan lebih buruk lagi jika aku menasihati mereka dalam keadaan seperti ini. mereka cukup ambisius di usia yang masih remaja ini' batin Alfaeza masih setia menatap ke arah lain.


tiba-tiba Ambulance yang mereka tumpangi berhenti mendadak membuat mereka merosot kedepan, Lagi-lagi Zoya dan Alfaeza hampir berpelukan beruntung tangan Rafendra menjadi penghalang mereka.


Dorr.. Dorr..


suara serangan peluru dari luar menghujani mereka. sudah di pastikan siapa pelakunya, benar saja tidak mungkin bagi mereka lolos begitu saja sedangkan Gino belum bertindak apapun. Zoya memeriksa senjata yang sebelumnya di curi dari peti mati, masih lengkap hanya saja peluru dari pistolnya tinggal satu. Zoya segera mengisinya kembali, karena dia juga membawa peluru cadangan. Alfaeza merogoh celananya, peluru dari pistolnya masih utuh.

__ADS_1


'maaf ya Allah.. jika sesuatu terjadi secara tidak terduga, maka izinkan hamba untuk menggunakannya' batin Alfaeza menatap lurus ke arah pistol di tangannya


usai menyiapkan senjata mereka, Zoya dan lainnya keluar dari Ambulance, ternyata di luar sudah ada pertarungan lagi antara para santri yang ikut dengan polisi sebelumnya dengan orang-orang Gino. Zoya menatap ke arah Gino yang sudah siap menyumbangkan pelurunya ke arahnya. dengan menodong kan pistolnya ke arah Zoya, Gino juga tersenyum marah karena Zoya yang berani kabur begitu saja. Zoya juga membalas todongan Gino, tatapan Zoya tak kalah tajam dari Gino.


Dorr..


reflek Rafendra melepaskan tembakannya ke arah Gino dan mengenai dadanya. darah mulai mengalir dengan deras dari dada Gino, karena marah Gino dengan brutal menembaki Rafendra


dorr.. dorr.. dorr..


beruntung Rafendra tertembak di bagian punggungnya ketika menghindari serangan peluru dari Gino. Rafendra terluka membuat Zoya salah fokus dan menghampiri Rafendra yang menahan lukanya untuk menghalangi darah yang mengalir


Gino bersiap menembaki Zoya tapi..


dorr..


satu tembakan lagi mengenai tangannya, itu dari Alfaeza yang reflek melepaskan tembakan ketika Gino mengarahkan pistolnya ke arah Zoya. Gino yang melihat darah keluar dari dada dan tangannya kembali ke mobilnya dan pergi dari tempat itu. bukan karena Gino menyerah tapi karena dia ingin menyusun rencana selanjutnya untuk mendapatkan Zoya kembali, dan tentunya dengan mangsa barunya Rafendra saudara kembar Zoya dan juga Alfaeza yang berani menghalanginya tadi. Gino pergi dengan wajah marah dan dendam yang bertambah untuk Zoya dan dua orang lainnya. melihat Gino yang pergi meninggalkan tempat, para bawahannya itu pun ikut mengundurkan diri meski pertarungan mereka belum selesai.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Hai guys..... ๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹


maaf ya karena telat update nya.. semoga suka dan SALAM HANGAT DARI AUTHOR ๐ŸŒนโค

__ADS_1


__ADS_2