Santri Mafia

Santri Mafia
perdebatan tiada henti Zoya dan Al


__ADS_3

"kapan aku pernah mengganggumu sampai kau begitu benci padaku!" kata Zoya kesal karena di dorong Alfaeza membuatnya harus merasa nyeri di pantatnya


"astagfirullah.. haram!!" bentak Alfaeza


"oh? lalu kau menarik tanganku secara sengaja hingga aku harus mendarat di atasmu itu bagaima?" kata Zoya kesal


"ck, itu tidak sengaja!" kesal balik Alfaeza


"tidak sengaja? kalau begitu minta maaf sekarang!" kata Zoya masih dengan kekesalannya


"kalian mau berdebat sampai kapan? kalian lupa denganku yang masih kospley jadi kelelawar ini?" sela Rafendra di tengah perdebatan Zoya dan Alfaeza. Zoya segera membantu melepaskan Rafendra dari ikatannya, Alfaeza menaruh kursi lain di bawah kaki Rafendra agar dia tidak terjatuh sepertinya dan Zoya.


"sekarang hadang pintu dengan peti mati di sana, jangan sampai mereka masuk di saat kita belum kabur jauh" kata zoya menunjuk peti mati yang berada di ruangan itu


"kenapa harus menghadang pintu? kenapa kita tidak kabur lewat pintu saja? kita juga tidak selemah itu" kata Alfaeza yang masih mengalihkan pandangannya dari Zoya


"kita tidak lemah tapi mereka tidak bisa di remehkan! terlebih saat ini kita kalah jumlah. meski kekuatanku masih jauh di atas mereka, tapi aku juga butuh tenaga lebih saat ini tenaga ku melemah, entah apa yang Gino berikan padaku! entah apa yang dia campur di peluru ini" kata Zoya sambil memegang lengannya yang penuh dengan darah mengering.


Alfaeza dan Rafendra baru sadar jika Zoya memang tertembak. spontan Rafendra memeriksa lengan Zoya yang terluka, memutar badan Zoya untuk melihat apakah ada luka lain lagi. Rafendra menemukan luka bekas pecutan di tubuh Zoya dan beberapa memar lainnya, entah memar dari luka saat Zoya bertarung atau luka dari siksaan Gino saat Zoya tak sadarkan diri.


"tidak apa! ini hanya luka kecil" kata zoya menghentikan Rafendra yang terus memeriksa tubuhnya


"luka kecil? hanya luka kecil? dengan luka sebanyak ini kamu bilang *hanya luka kecil*? apa kamu menganggap dirimu manusia besi!!" bentak Rafendra marah karena ucapan Zoya. ada rasa sedih dan terharu yang Zoya rasakan, ya.. ini kali pertama dia mendapat perlakuan seperti ini di khawatirkan sampai di marahi. tunggu! ini bukan waktunya untuk terharu!.


"kalian juga terluka! tapi ini bukan waktunya untuk khawatir!! kita harus keluar dari tempat ini sebelum ada yang sadar dengan kita yang bersama disini!" kata Zoya yang kemudian di setujui Alfaeza dan Rafendra.


"dorong peti mati itu" ajak Zoya.


"ada senjata di dalam peti ini" kata Rafendra membuka peti mati itu. tanpa berkata lagi, Zoya mengambil pisau terbang dan pisau lipat. selain itu Zoya juga mengambil satu pistol dengan beberapa peluru cadangan. Rafendra ikut mengambil dua pistol juga, sedangkan Alfaeza hanya diam melihat mereka yang sibuk memilih senjata itu.


"ada apa? ustadz Al tidak ikut menyimpan senjata?" tanya Rafendra dengan menaikkan sebelah alisnya


"tumben kamu memanggilku dengan sopan! itu bukan barang milik kita! kembalikan!!" kata Alfaeza dengan muka garangnya


"serius?? ini bukan waktunya untukmu mengajar!! kita sedang berada di situasi antara hidup dan mati!! kalau tidak ingin mengambil senjata juga tidak masalah. hanya saja jangan menyusahkan kami nanti!" sinis Zoya

__ADS_1


Alfaeza tidak lagi bicara dan hanya mengambil pistol yang terisi penuh, tanpa mengambil peluru cadangan. Zoya memutar bola matanya malas melihat sikap Alfaeza.


"ayo pergi sekarang" kata Zoya buru-buru


"lewat mana?" tanya Alfaeza menongak keatas, melihat ventilasi udara tempat Zoya melompat sebelumnya


"kenapa? tidak bisa memanjat? kita pakai lemari disana" tunjuk Zoya pada lemari di ujung ruangan


"ayo cepat!" kata Rafendra setuju. Alfaeza yang hanya pasrah dengan keputusan mereka hanya ikut seperti apa yang Zoya dan Rafendra lakukan


***


pranggg..


satu gelas pecah setelah membentur lantai begitu keras. Gino sibuk dengan anggur dan layar lebar yang sedang di lihatnya, dari wajah tersenyum Adelia hingga sedihnya semuanya terputar bergantian disana.


"A.. de.. lia... ahh.. sudah berapa lama kau meninggalkanku? kau tau? harusnya kau bangga dengan putri yang kau tinggalkan untukku! kini dia berada di posisi mu sebelumnya.. aku tau.. jangan berterimakasih untuk itu.. dia tidak akan kecewa dengan siksaan ku! justru dia akan sangat senang dan puas.. hahaha... ahahaha... " suara tawa Gino menggelegar di seluruh ruangan gelap itu.


"paman! apa boleh aku melihatnya? aku penasaran seperti apa wajah orang yang telah membunuh ibuku!!" ucap seseorang yang berdiri di ujung ruangan gelap itu. Genzo. dia adalah putra haram dari Gisyel dengan pria asing yang tak seorangpun yang tau siapa dia. keberadaan Genzo tak ada yang mengetahui nya, bahkan Zoya pun tidak tau tentang itu. karena Genzo sebelumnya tidak tinggal bersama ibunya, dia di sembunyikan dari dunia.


***


berhasil keluar. Zoya, Alfaeza dan Rafendra kini akan berurusan dengan lebih banyak lagi orang-orang Gino. lebih banyak dari orang yang berada di dalam sebelumnya. sebelum Zoya akan menyerang mereka satu persatu di balik kegelapan, matanya kembali melebar melihat tiga orang lagi di seret dalam keadaan babak belur oleh beberapa orang-orang Gino.


"Gus Ilham?" kata Alfaeza dengan terkejutnya


"Arya?" gumam Rafendra


"Dimas! dia juga disini? mereka datang untuk kita? apa mereka bodoh!!" umpat Zoya kesal


"berhenti berbicara kasar!! mereka juga berusaha untuk membantu kita!" tegur Alfaeza pada Zoya


"ck tetap saja mereka bodoh! apa mereka tidak bisa melihat orang yang mereka lawan seperti apa? rasanya aku ingin menggantung mereka di Aula utama!!" kesal Zoya


"preman" kata Alfaeza tanpa sadar, bukan niatnya mengatakan hal itu tapi bibirnya tanpa sadar meloloskan kata preman itu. Zoya menatap tajam pada Alfaeza yang balik menatapnya dengan wajah polos tanpa rasa bersalah itu

__ADS_1


"rasanya ingin mencongkel gigimu sekarang!!" kesal Zoya


"aku tidak berniat mengataimu, lidah ku kepeleset jadi tidak sengaja keluar kata preman itu" kata Alfaeza yang membuat Zoya semakin kesal padanya


"cukup! sekarang kita harus menyelamatkan mereka bertiga dulu!" sela Rafendra yang sudah muak dengan perdebatan dua orang itu


"menyusahkan!!" kata Zoya kesal


"mereka seperti itu juga karena kita! sadar diri!!" tegur Alfaeza lagi


Zoya mengendap ke balik tembok dan menculik dua orang bertubuh kekar yang tengah berjaga itu. membunuhnya dalam sekejap tanpa suara dan mengambil baju mereka. Alfaeza segera istighfar melihat kelakuan Zoya yang dengan entengnya mengibaskan pisaunya pada leher kedua orang itu hingga mereka tak lagi bernyawa. Zoya kembali dan memberikan dua pakaian itu pada Alfaeza dan Rafendra.


"pakai dulu. jangan sampai kalian masuk angin!" kata Zoya dengan enteng dan tanpa rasa bersalahnya setelah membunuh dua orang. Alfaeza cukup terkejut dengan aksi dan ekspresi Zoya yang berada di luar nalarnya.


"setelah ini ayo masuk dan bawa mereka bertiga keluar. jangan sampai mereka menjadi beban kita nanti!" kata Zoya kembali memperhatikan sekitar. tiba-tiba Alfaeza juga memakaikan nya baju yang dia ambil dari dua mayat korban Zoya sebelumnya.


"auratmu juga perlu di jaga! jangan sampai kamu menguras habis semua hafalanku!!" kata Alfaeza dengan wajah juteknya yang penuh rona merah


"kenapa? kau tertarik dengan tubuhku?" kata Zoya sedikit menggoda Alfaeza


"jangan pakai kata KAU lagi!!" kata Alfaeza mengalihkan topik


"oh? kau benar-benar tergoda?" goda Zoya lagi, Alfaeza mengalihkan pandangan nya


"Astaghfirullah.. astaghfirullah.. astaghfirullah.. ya Allah.. selamatkan aku dari godaan wanita preman ini.. jauhkan aku dari syaiton wanita ini Aamiinn.. " kata Alfaeza yang berhasil membuat Zoya kesal setengah mati padanya


doorr...


tiba-tiba..


🌹🌹🌹🌹


Hai guys... πŸ‘‹πŸ‘‹


jangan lupa like dan komen yaπŸ€—πŸ₯°

__ADS_1


love you allπŸ₯°πŸ’š


__ADS_2