
"lepaskan dia!" seseorang datang dari arah belakang Zoya yang masih memeluk jasat Putri.
"tidak boleh ada yang menyakitinya! bawa dia dan jangan ada yang berani menyakitinya!" kata sesorang yang tidak sempat Zoya lihat wajahnya. Zoya kemudian diseret untuk mengikuti mereka masuk kedalam mobil meninggalkan tubuh Putri yang tergeletak tak bernyawa dengan darah yang sudah mengalir menutupi jalan.
"lepas!! kalian mau bawa aku kemana!! Putri masih disana.. bawa Putri juga.. !" teriak Zoya meronta ingin keluar dari mobil hitam itu
"diam!! kalau tidak mau mati maka diamlah!" bentak seseorang yang sedang mengikat tangannya
"aku gak takut mati!! lepasin aku sekarang!!" bentak balik Zoya dengan lantang. tapi tak ada yang mendengarnya hingga mobil hitam itu melaju meninggalkan putri dengan genangan darahnya.
sampai di sebuah ruangan yang begitu gelap, Zoya di lempar dengan kasar hingga terjatuh tak berdaya. air mata Zoya tak pernah berhenti semenjak kematian Putri. Zoya begitu marah dan dendam tapi apa yang bisa di lakukan anak kecil yang baru berusia 9 tahun seperti dirinya?
"aku sudah bilang untuk tidak menyakitinya. apa kalian masih mendengarkan ku!" ucap seseorang yang duduk di sebuah kursi hitam membelakangi Zoya yanng kini duduk terindikasi menahan rasa pedih di hatinya
"maaf tuan! dia tak berhenti melawan" jawab seseorang yang mendorong Zoya dengan kasar sebelumnya
"gadis kecil, apa kau punya permintaan?" tanya nya dengan suara dinginnya
"kembalikan nyawa ayahku! kembalikan ibuku!! kembalikan nyawa Putri dan semua orang kamu bunuh di rumah ku!!" kata Zoya dengan lantang membuat para bawahan Gino terkejut. begitupun dengan Gino yang saat ini sudah membalikkan badannya menatap Zoya yang dengan kondisi malangnya
"heh! kau begitu mirip dengan ibumu. baiklah! akan ku kembalikan mereka, tapi sepertinya kau terluka. makanlah obat ini kau akan merasa baik setelah meminumnya" kata Gino dengan melemparkan sebuah pil obat kearah Zoya. Zoya hanya diam menatap pil obat yang bergelinding didepannya
__ADS_1
"ada apa? kau tidak ingin meminumnya?" tanya Gino yang masih dengan sikap dinginnya
"apa aku harus mematok nya seperti ayam! tangan ku di ikat!!" bentak Zoya dengan sangat kesal
Gino tersenyum miring menanggapi kekesalan Zoya. Gino begitu tertarik dengan sikap Zoya yang keras tak merasa takut sedikitpun dan juga dengan kepintarannya. Zoya memakan pil itu setelah tangan nya di buka
"meski aku anak kecil, tapi aku juga tidak akan menyerah! aku akan membuat mu menyesal karena membunuh ayahku!!aku akan.. akhh.. !!"
brukk..
Zoya pingsan setelah melontarkan kemarahannya pada Gino. Gino tersenyum senang melihat Zoya yang terkapar pingsan di tanah.
"mulai sekarang kau akan melupakan ayah dan ibumu. kau akan melupakan segalanya kau hanya akan mengingat ku sebagai tuan! selamat datang.. boneka kecilku.. hahaha.... ahahaha.. " tawa Gino menggelegar memenuhi ruangan gelap itu. dan inilah awal mula Zoya menjadi boneka pembunuh bagi Gino dan juga sebagai tangan kanannya.
Zoya selesai dengan makanannya, Zoya membayar dan akan pergi meninggalkan warung makan itu. namun sebelum Zoya akan pergi, wanita paruh baya itu kembali berkata
"akhir-kahir banyak datang untuk menanyakan kejadian tujuh tahun lalu.. entah apakah itu hal buruk yang akan terjadi lagi atau memang ada yang mengungkit karena ada yang ingin balas dendam." katanya sambil masukkan uang yang di berikan Zoya padanya
Zoya sempat menghentikan langkah kakinya, tapi tidak berbalik dan kemudian bertanya
"apa yang menanyakan hal itu seorang lelaki atau perempuan?" tanya Zoya yang sudah hampir sampai pintu
__ADS_1
"laki-laki neng.. udah ada tiga pemuda yang menanyakan hal yang sama akhir-kahir ini.. ah.. semoga saja tidak ada lagi korban jiwa.. " jawabnya sambil menghela nafas kasar.
"lain kali jika ada yang bertanya tentang hal itu lagi, jangan beritaukan apapun!" kata Zoya dengan penuh penekanan yang kemudian pergi meninggalkan warung itu kemudian menuju rumah terbengkalai nya
"ya ampun.. kenapa si eneng sikapnya begitu ya.. haih.. tapi benar juga, seharusnya aku tidak memberi informasi apapun pada pemuda-pemuda sebelumnya.." gumamnya yang kemudian membereskan meja tempat Zoya makan sebelumnya.
Zoya sampai di depan gerbangnya yang sudah berkarat penuh tanaman merambat itu. Zoya hampir meneteskan air matanya melihat bangunan bersejarah didepannya itu. Zoya mencoba masuk kedalam, namun gerbangnya begitu sulit di buka, bukan karena terkunci tapi karena karatan nya yang membuatnya sangat sulit untuk di geser. hampir setengah jam berlalu barulah Zoya bisa menggeser sedikit gerbang itu dan masuk kedalam.
semua kenangan kembali berputar di benaknya, Zoya melihat kenangan itu seolah nyata di depannya, senyum manis sangat ibu, tawa keras ayahnya dan wajahnya semua keluarga besarnya ketika berkumpul disana. tak terasa buliran air lolos begitu saja di sudut mata Zoya. Zoya masuk lebih dalam, pintu rumahnya juga tidak terkunci Zoya masuk kedalamnya. sedikit gelap karena tak ada lampu hanya penerangan dari cahaya mentari yang masuk melalui jendela namun sudah membuat rumah itu sedikit terang. beberapa hal masih tersusun rapi disana dan beberapa hal juga terlihat sangat berantakan. Zoya menelusuri ruang tamu tempat di mana semuanya terjadi malam itu. barang-barang yang sebelumnya untuk ulang tahunnya ada yang masih tersisa di sana meski kehilangan warna aslinya dan begitu berantakan. Zoya melihat meja tempat dimana kuenya di pajang sangat ayah masih di posisi yang sama. lukisan keluarga kecilnya di dinding dengan gambar yang sudah sedikit usang karena kacanya sudah pecah dan terlihat ada sedikit lumut disana. Zoya teringat, lumut itu adalah bekas bercak darah ayahnya yang dia lihat saat itu sudah tertancap pisau di lehernya. tangis Zoya pecah mengingat kejadian itu.
"ayah.. ibu.. Zoya kembali! Syilvia kembali ayah! syisilmu kembali ibu.. apa kalian mendengarku? ayah.. ibu.. aku tau kalian mendengarku.. aku tidak akan membunuh orang lagi bu.. aku janji aya.. aku akan menjadi anak yang baik.. aku akan berusaha menjadi seperti yang kalian harapkan.. lihat.. lihat Syilvia bu.. Syilvia sekarang sekolah di pesantren yah.. Syilvia juga kemarin ketemu sama Rafen.. Ayah sama Ibu ninggalin Rafen buat jagain Syilvia kan?.. tenang aja.. Syilvia gak akan buat Rafen dalam bahaya.. jadi.. Syilvia akan berusaha buat melindungi Rafen sama kakek apapun yang terjadi! bahkan jika Syilvia harus menjadi anak yang buruk Syilvia akan menanggung demi melindungi mereka.. Syilvia janji akan memperbaiki diri.. tapi sebelum itu jika Syilvia membuat kesalahan lagi.. atau mencelakai orang lagi.. Syilvia minta maaf.. karena kebiasaan buruk Syilvia sangat sulit Syilvia perbaiki dengan sekejap.. aku sayang kalian ayah ibu.. aku sayang kalian.. " gumam Zoya dalam isak tangisnya sambil memeluk lukisan usang itu.
Zoya mengembalikan lukisan itu di tempatnya dan kemudian kembali menelusuri seisi rumahnya. Zoya sampai di kamarnya, disana masih sama seperti 7 tahun yang lalu, Zoya melihat meja belajarnya Zoya membuka lacinya dan menemukan album foto kecilnya. Zoya membuka lembar demi lembar, foto keluarga kecilnya yang sedang berlibur di pantai, fotonya dengan putri dan Rafendra, dan masih banyak lagi foto kenangan nya tersimpan dengan aman disana. hanya saja begitu banyak debu dan jaringan Laba-laba melingkar di buku album nya. Zoya tersenyum pahit mengingat semuanya.
Zoya juga membuka lemari bajunya, disana ada sebuah kado yang belum di buka namun bingkai kadonya sudah berlubang-lubang di makan rayap, warnanya sudah usang banyak jaringan Laba-laba. Zoya mengambilnya dan duduk kasur nya yang penuh dengan debu. Zoya membuka kadonya. betapa terkejutnya Zoya melihat isinya. sebuah Al-Qur'an dan mukenah berwarna pink. ada kertas juga di atasnya, Zoya mengambil kertas itu dan membukanya.
... untuk putri ayah tercinta.. harapan ayah adalah ingin melihat putri ayah menjadi sukses dan bisa membagikan keluarga, menjadi anak yang sholehah,,, menjadi kebanggan keluarga dan menjadi berguna bagi sesama. pesan ayah untuk Syilvia.. jangan lupa sholat dan ngaji ya.. belajarlah menjadi anak yang rajin dan penyabar.. jangan selalu nakal dan usil pada kakakmu.. ayah ingin suatu hari Syilvia jadi seorang penghafal Qur'an bersama dengan Rafendra... satu lagi.. ini rahasia di antara kita ya.. sebenarnya ayah lebih sayang Syilvia dari Rafendra.. tapi ayah juga sangat menyayangi Rafendra.. jadi jangan menajdi anak nakal ya.. ayah sayang Syilvia.. selamat ulang tahun untuk putri Ayah... ...
buliran air kembali lolos dari sudut matanya. Zoya begitu terharu melihat surat yang ayah tinggalkan untuknya. Zoya menatap Al-Qur'an dan mukena yang masih dalam kotak kado, Zoya mengambilnya dan berjanji akan menjadi anak sholehah dan pengahafal Qur'an demi ayahnya. Zoya memeluk kado itu dengan meluap kan segala kerinduannya pada sanga ayah.
๐น๐น๐น๐น
__ADS_1
Hai guys.... ๐๐
semoga suka dan SALAM HANGAT DARI AUTHOR ๐น๐นโบโบ