SASRA WURUK

SASRA WURUK
Tahta yang Goyah #1.


__ADS_3

Di dalam Pakuwan Sindur sendiri , Akuwu Sindur tengah berunding dengan Patih Gunadharma dan Panglima Pandawa.


" Bagaimana ini , Patih , ..hari ini adalah batas kita menentukan sikap , apakah kita akan patuh terhadap Medang Kemulan atau siap mengangkat senjata berperang dengan mereka,..!" sebut Akuwu Sindur.


Penguasa Pakuwan Sindur ini nampak gundah gulaana disebabkan permintaan yg diajukan oleh Medang Kemulan teramat memberatkan Sindur akan tetapi jika mereka tetap mempertahankan keinginan nya , tentu saja Pakuwan Sindur akan dengan mudahnya di gilas Pasukan Medang Kemulan.


Diantara kedudukan yg sulit ini, membuat nyali Akuwu Sindur menjadi goyah. Ia memang lebih memilih menyerah daripada harus melawan dan berperang dengan Kerajaan Medang Kemulan.


" Ampunkan hamba Gusti Akuwu, sebaiknya Gusti mengulur waktu terlebih dahulu sebelum permintaan Gusti Akuwu itu dijawab oleh Akuwu Pamintihan, jika sudah jelas maka terserah keputusan nya, apakah akan lanjut berperang atau menyerah terhadap Kerajaan Medang Kemulan,..!" ungkap Patih Gunadharma.


" Bagaimana pendapatmu , Panglima Pandawa,..?" tanya Akuwu Sindur.


Pertanyaan yg diajukan oleh Akuwu Sindur ini membuat Panglima Pandawa mengangkat wajah nya , ia yg adalah seorang prajurit tentu saja lebih baik bertarung dengan segenap jiwa dan raga nya daripada harus menyerah.


" Ampun, Gusti Akuwu, kalau hamba ditanya , tentu hamba akan memilih untuk berperang daripada harus menyerah, Gusti,.." ucap Panglima Pandawa.


Ia juga menambahkan bahwa pendapat dari Patih Gunadharma itu memang harus di jalankan karena seperti nya prajurit yg di utus ke Pamintihan pun belum kembali.


Sementara itu , Pangeran Dewangga Sena yg telah memasuki kawasan Lembah Kapitani bersama dengan si Putih terlihat tengah memperhatikan lembah yg cukup indah ini.


Akan tetapi di dalam lembah ini banyak menyimpan sejuta rahasia. Tempat ini banyak di huni oleh makhluk -makhluk yg tak kasat mata alias makhluk ghaib.


Meski demikian , putra Mahkota Medang Kemulan ini tetap melangkahkan kaki nya memasuki daerah ini.


Beberapa kali si Putih menggerung keras sambil menatap ke arah kiri dan kanan nya , seolah ada yg tengah mengganggu nya.


Namun berdasarkan semedi yg telah di lakukan oleh Pangeran Dewangga Sena, bahwa ia telah melihat kehadiran sebuah sinar putih yg tinggi menjulang langit.


Lembah Kapitani di kelilingi oleh bebatuan yg besar dan terjal dengan di alasi rerumputan yg tumbuh subur di tempat itu .Ditambah lagi semak belukar yg tidak terlalu besar.


Apabila dilhat saat senja seperti ini, terlihat lah Lembah Kapitani menjadi lebih indah lagi dan menampilkan kedamaian, namun sebenarnya tidak karena tiba -tiba saja,..


" Dhieghh,.."


" Aaakhh,.."


" Hraaaggggghhh,.."


Dada Pangeran Dewangga Sena di hantam oleh sebuah kekuatan yg sangat besar sehingga membuat nya harus terjungkal jatuh, sedangkan Si Putih menggerung sangat keras, ia tampak melompat ke arah tempat semula Pangeran Dewangga Sena berdiri.


Si putih seperti sedang bertarung melawan seseorang namun tidak kelihatan.


Sementara itu Pangeran Dewangga Sena yg bergulingan di atas rumput segera mengambil sikap duduk sempurna dan memusatkan seluruh pikirannya, ia mengtrapkan sebuah ilmunya agar dapat melihat jelas ke arah pertarungan antara si Putih dan lawan nya itu.


Dan alangkah terkejutnya Pangeran Dewangga Sena karena si Putih tengah di keroyok oleh makhluk -makhluk yg buruk rupa dan memiliki tanduk di atas kepala mereka, jumlah mereka mungkin mencapai dua puluh orang dengan rupa beraneka ragam dan sangat buruk.


Pangeran Dewangga Sena sangat kasihan setelah melihat si Putih harus bekerja keras menghadapi makhluk -makhluk aneh itu.


" Heaahhh,. "


Pangeran Dewangga Sena yg telah mampu mengetahui dan melihat musuhnya itu segera melesat menerjang makhluk -makhluk aneh tersebut,..


" Dhieghh,.."


" Dhieghh,.."


" Dhieghh,.."


Pangeran Dewangga memeberikan tendangan kerasnya kepada tiga makhluk aneh itu dan langsung menjungkalkan nya.


Kepungan terhadap si Putih agak melonggar, apalagi dengan cepat Pangeran Dewangga berkelebat lagi menghajar tiga orang lagi makhluk -makhluk aneh itu, yg tampak tidak takut dan tidak mau mundur tersebut.


Tetapi memang serangan serangan yg di lancarkan oleh Pangeran Dewangga Sena membuat si Putih mampu mengimbanginya, ia pun bergerak dengan sangat cepat menggunakan jurus yg sama pula dengan yg di keluarkan oleh Pangeran Dewangga Sena.


Jadilah dua kekuatan itu bersatu dan saling mengisi membuat makhluk -makhluk aneh itu tidak berani mendekat lagi , mereka kemudian menjadi bulan bulanan dari serangan kedua nya.


Cakaran dan gigitan si Putih sudah banyak melumpuhkan musuhnya demikian pula tendangan dan pukulan dari pangeran Dewangga Sena, hanya lima orang saja dari makhkuk aneh itu yg masih mampu berdiri selebihnya sudah tergeletak di atas rerumputan.


Kelima makhluk aneh itu pun sudah tidak terlalu berani dekat lagi mereka berlima hanya mengelilingi keduanya sambil kedua tangan nya teracung seperti hendak menggapai, tetapi mereka tetap diam saja tidak bergerak dari tempat nya.


" Ku perintahkan , tinggalkan tempat ini, jangan ganggu kami,..!" seru Pangeran Dewangga Sena.


" Hraaaggggghhh,.."


" Raaaaagghh,.."


" Hraaaghhh,.."


Makhluk -makhluk aneh berteriak dengan tidak jelas , membuat Pangeran Dewangga Sena dan si Putih tampak kebingungan .

__ADS_1


Cukup lama mereka terdiam, tidak melakukan apa -apa, sampai tiba -tiba datanglah segumpal kabut tebal entah dari mana datang nya tiba -tiba saja telah berada di tempat itu.


Ketika gumpalan kabut itu menghilang nampaklah sesosok Lelaki tua dengan sebuah tongkat kayu di tangan nya, sebuah kain panjang tersampir di pundaknya berwarna putih, rambut Lelaki tua yg sudah memutih ini terlihat di gelung, gaya penampilan nya adalah seorang resi.


Pangeran Dewangga Sena sangat mengenalinya, karena lelaki yg ada dihadapan nya itu adalah Rsi Gopala, orang yg cukup di andalkan oleh Ramanda nya saat perang melawan Watu Menak Koncar beberapa tahun silam.


" Pergilah kalian semua,.." seru Lelaki tua itu.


Dengan tongkat nya terangkat ia memerintahkan para makhluk -makhluk aneh untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Tidak terlalu lama, seluruh makhluk aneh itu segera lenyap begitu saja begitu mendapatkan perinrah untuk pergi dari tuan nya.


Kemudian Lelaki tua itu mendekati Pangeran Dewangga Sena dengan langkah nya perlahan.


" Siapakah gerangan , anak muda ini,?"


Terdengar pertanyaan dari Lelaki tua kepada Pangeran Dewangga Sena.


Sedang sang Pangeran tampak terdiam, ia melihat dengan seksama Lelaki tua itu, tidak ada yg berubah dari Lelaki tersebut.


" E..yang , ..Go,..pala,.." seru nya tertahan.


Pangeran Dewangga Sena amat mengenali lelaki tua yg ada dihadapan nya itu, meski terlihat semakin tua tetapi tetap saja ia mengenalinya sebagai Rsi Gopala.


" Siapa kau, anak muda, mengapa dirimu mengenaliku, sedangkan Aku tidak kenal kepadamu,..?" tanya lelaki itu.


" Apakah eyang Resi tidak kenal kepadaku,..?" tanya pangeran Dewangga Sena.


Memang saat terakhir mereka bertemu usia pangeran Dewangga Sena masih sangat muda mungkin hanya sekira sepuluh tahun sedangkan sekarang ia sudah tumbuh dewasa.


" Eyang, aku,..adalah Dewangga Sena ,..putra Prabhu Kreshna Yuda,.." ucap Pangeran Dewangga Sena pelan.


" Hahhh,..!!!"


Lelaki tua itu sangat terkejut mendengarnya , sebab dari yg ia tahu , seluruh keluarga Prabhu Kreshna Yuda telah tiada termasuk putra semata wayang nya Pangeran Dewangga Sena.


Tetapi , entahlah putra nya dari selirnya yg ada di Kalindih itu, berkata dalam hati Rsi Gopala.


" Apakah memang benar dirimu itu adalah Pangeran Dewangga Sena putra Mahkota Medang Kemulan ini,.?" tanya Rsi Gopala lagi.


Pangeran Dewangga mengangguk kan kepalanya, ia berusaha untuk meyakinkan orang yg bernama Rsi Gopala ini.


" Apa buktinya jka memang benar dirimu adalah Pangeran Dewangga Sena,..?" tanya Rsi Gopala.


Pangeran Dewangga Sena mengambil tombak Naga Mas yg di dapatnya dari puncak Chandramawa yg telah di berikan oleh Wiku Birawa.


Ia menunjukkan tombak pusaka Naga Mas itu kepada Rsi Gopala.


Namun anehnya sang rsi masih belum percaya dengan gelengan kepalanya.


" Aku belum percaya bahwa dirimu memang pangeran Dewangga Sena, boleh jadi dirimu telah merampas tombak itu dari kakang Birawa," seru Rsi Gopala.


" Jadi apa yg dapat meyakinkan eyang Rsi bahwa diriku ini adalah Dewangga Sena..?" balik Pangeran Dewangga Sena bertanya.


" Jika memang dirimu mampu menunjukkan tanda lahir dari Pangeran Dewangga Sena , baru aku percaya,!" ujar Rsi Gopala.


Tanpa menyebutkan apa tanda lahir itu Rsi Gopala meminta kepada pemuda yg ada di hadapan nya tersebut.


Ia sebenarnya lebih bersikap waspada dan lebih berhati-hati setelah melihat kemampuan pemuda ini yg mampu mengalahkan para pengawal nya dari kalangan makhluk halus itu di tambah lagi di tangan pemuda ini tergenggam sebuah senjata pusaka yg berupa tombak itu. Sehingga meski tampak tenang sang Rsi tidak melepaskan pandangan nya dari Pangeran Dewangga Sena ini.


" Baiklah Eyang, jika tanda ini yg Eyang maksud kan," ucap Pangeran Dewangga Sena.


Sambil ia membuka pakaian atas nya sebelah kiri, tampaklah sebuah tanda lahir yg ada di pundak Pangeran Dewangga Sena ini.


" Hahhh,.."


Lagi lagi Rsi Gopala terkejut melihatnya, saking tidak percaya nya ia maju lebih dekat lagi dengan Pangeran Dewangga Sena.


Begitu berdiri dekat dengan sang Pangeran , tangan nya langsung menyentuh tanda lahir itu seraya berkata,


" Benarkah dirimu ini adalah Pangeran Dewangga Sena , putra Prabhu Kreshna Yuda,..?"


" Benar Eyang, akulah Dewangga Sena, oleh sebab itulah aku datang ke lembah Kapitani demi keris pusaka Kyai Naga Aling aling, yg berada di tangan Eyang Resi,.." sahut Pangeran Dewangga Sena.


" Kalau benar dirimu ini adalah Pangeran Dewangga Sena , mari ikut dengan ku,.." ucap Rsi Gopala.


Ia berjalan meninggalkan tempat itu, meski tampak seperti sedang berjalan akan tetapi langkah laangkah kaki orang tua ini sangat cepat seperti tidak menyentuh tanah lagi.


Pangeran Dewangga Sena mengikutinya dari belakang, keduanya berjalan menyusuri lembah Kapitani dan mulai berjalan menanjak menuju sebuah bukit yg tidak terlalu besar, baru setelah nya keduanya sampai pada sebuah mulut goa yg tidak terlalu besar.


" Mari Pangeran, silahkan masuk ke dalam,..!" ajak Rsi Gopala.

__ADS_1


Pangeran Dewangga Sena menuruti saja ajakan Rsi Gopala ini, meski agak membungkukkan tubuhnya, maka masuk lah kedua nya ke dalam goa tersebut.


Tidak terlalu lama mereka telah berada di sebuah ruangan yg lebih luas dengan seluruh tatanan nya terlihat sangat rapl


Ada beberapa kursi dan meja yg terbuat dari pahatan batu yg tersususn di tempat itu.


" Silahkan duduk anak mas Pangeran,.."


Terdengar ucapan dari Rsi Gopala ini, selanjutnya ia masuk ke dalam sebuah bilik yg pintu nya pun terbuat dari batu


Pintu tersebut bergeser setelah Rsi Gopala menyentuh sebuah batu kecil yg menonjol pada sebelah pintu itu, dan secara otomatis , pintu tersebut terbuka dan di dalamnya membuat siapa saja yg melihatnya pasti akan terbelalak matanya.


Dalam bilik tersebut bertumpuk harta kekayaan mulai dari emas hingga permata ada di dalam bilik tersebut.


Rsi Gopala bergegas masuk ke dalamnya dan mengambil sebuah senjata berupa keris dan langsung berkata,


" Anakmas Pangeran inilah keris Naga Aling aling,.." ucap Rsi Gopala.


Ia langsung menyerahkan senjata tersebut ke tangan Pangeran Dewangga Sena dan oleh sang Pangeran di terima dengan senang sekali.


" Keris Naga Aling aling,.." seru nya.


Sambil mengecup keris pusaka peninggalan leluhurnya ini maka Pangeran Dewangga Sena pun langsung menyelipkan nya di sabuk ikat pinggang nya.


Rsi Gopala berkata lagi,..


" Anakmas Pangeran, tahukah dirimu ,bahwa harta benda yg banyak ini adalah kepunyaan mu, dahulu Gusti Prabhu menyerahkan dan menyuruh diriku agar mampu menjaga sebahagian besar hartanya, dan kelak menyerahkan nya kepada mu, oleh sebab itulah, semua yg ada di dalam goa ini adalah milikmu,.." tutur Rsi Gopala.


Ia melanjutkan ucapan nya, karena setiap perjuangan memerlukan pembiayaan yg sangat besar selain tenaga yg besar pula, oleh sebab itulah di sarankan agar dirinya tidak menolaknya, karena ia tahu Pangeran Dewangga Sena memang membutuhkan nya.


" Baik Eyang Rsi nanti , Diriku akan membawa harta kekayaan Ramanda Prabhu ini ke desa Lohsari,.!" sahut Pangeran Dewangga Sena.


Sambil menatap lekat pada orang tua yg ada dihadapan nya itu.


Maka Pangeran Dewangga Sena berkata,.


" Apa ada yg lain lagi, Eyang resi,..?"


" Ada,....!" sahut Rsi Gopala.


" Apa itu Eyang,..?" tanya Pangeran Dewangga Sena heran.


" Apakah dirimu telah memiliki aji Guntur Nierwana, nakmas Pangeran,..?" tanya Rsi Gopala .


Dengan menganggukan kepalanya, Pangeran Dewangga Sena menjawab,..


" Sudah Eyang Resi, Dewangga Sena telah menguasai nya, karena memang itulah peninggalan yg telah ramanda Prabhu Kreshna Yuda kepada ku ,.!" jawab Pangeran Dewangga Sena.


" Baguslah kalau begitu,.Eyang ingin melihatnya, mari kita keluar,..!" ajak Rsi Gopala.


Keduanya kembali keluar dari dalam goa tersebut dan mencari sebuah tempat yg lebih luas agar dapat melihat apa yg akan di lakukan oleh sang Pangeran.


" Silahkan anakmas Pangeran, Eyang ingin melihat Aji Guntur Nierwana itu,.." seru Rsi Gopala.


" Baik, Eyang,...!" jawab Pangeran Dewangga Sena.


Kemudian Pangeran Dewangga Sena maju beberapa langkah ke depan , ia mengambil sikap berdiri dengan meregangkan kedua kaki nya kedua tangan nya ia angkat ke atas kemudian di satukan di depan dadanya.


Mulut Pangeran Dewangga Sena terlihat berkomat kamit seperti sedang membaca sebuah mantera.


Kemudian dengan sebuah teriakan yg keras Pangeran Dewangga Sena melepaskan pukulan nya.


" Aji Guntur Nierwana,.. heaahhh,.."


Dan dari tangan Pangeran Dewangga Sena keluarlah sebuah cahaya yg sangat terang , mula mula nya berwarna merah , kemudian berubah menjadi berwarna ke kuningan, kemudian berubah lagi menjadi warna kebiru biruan dan kemudian lanjut lagi menjadi berwarna putih terang menyilaukan dan pada tahap terakhir, pukulan jarak jauh yg di lontarkan oleh Pangeran Dewangga Sena ini berubah menjadi berwarna ke hitam -hitaman, dan mengeluarkan asap, ketika serang itu di arahkan pada sebongkah batu besar maka hancur lebur lah batu itu menjadi debu dan berteerbangan ketika tertiup Angin.


" Plak,.."


" Plak,.."


" Plak,.."


" Hebat,.."


" Hebat,.."


Ucap Rsi Gopala , setelah melihat hasil yg telah di lakukan oleh Pangeran Dewangga Sena.


" Memang dirimu adalah Pangeran Dewangga Sena , pewaris tahta Medang Kemulan, Eyang berharap dirimu dapat memerintah dengan bijaksana,.." ucap Rsi Gopala.

__ADS_1


" Mudah -mudahan Eyang, dan Aku ucapkan terima kasih , Eyang,.." ucap Pangeran Dewangga Sena.


Rsi Gopala sampai memeluk erat tubuh pangeran Dewangga Sena.


__ADS_2