
Memang keadaan Kotaraja Medang Kemulan ini menjadi tidak terkendali.
Karena sebahagiaan besar memang prajurit Medang Kemulan ini bersedia menyerahkan diri.
Akan tetapi sebagian kecil masih melanjutkan peperangan.
Melihat hal tersebut, Patih Watu Spuh Gada mengambil keputusan karena saat itu, Pangeran Dewangga Sena tengah jatuh pingsan akibat mengeluarkan tenaga yg sangat besar. Putra Prabhu Kreshna Yuda itu jatuh pingsan setelah mengeluarkan ajian pamungkasnya dan golok Iblis tujuh bangkai yg memang memerlukan tenaga yg sangat kuat.
Patih Watu Spuh Gada menyampaikan pesan kepada seluruh senopati pasukan dari Pakuwan Pamintihan ini agar menyerang terus kepada para prajurit Medang Kemulan yg tidak mau menyerah tersebut.
Ia juga melepaskan ekor pasukan nya guna menahan laju pasukan yang datang darj Pakuwan Kalindih itu, sehingga perang terus saja berkecamuk meski dalam skala yang lebih kecil, hanya pasukan Kerajaan Medang Kemulan yg di bawah Rakryan Mahamantri Kalasan sajalah yang tetap kukuh melanjutkan peperangan.
Sedangkan sebuah pasukan yang besar yg di keluarkan dari dalam benteng Kotaraja Medang Kemulan ini langsung menyerang pasukan yang datang dari Pakuwan Kalindih.
Memang keadaan dari pasukan yang di pimpin oleh Brojo Lungguk dan Senopati Kurudanta terdesak sangat hebat, banyak sudah prajurit yang terluka maupun yg tewas dari pihak Pakuwan Pamintihan ini.
Namun setelah kehadiran dua pasukan gabungan dari Pakuwan Sindur dan Pakuwan Pemanggar, pasukan yang di pimpin oleh Brojo Lungguk dan Senopati Kurudanta ini nampak bernafas lega.
Senopati Kurudanta yg terlihat sudah terluka langsung bertanya kepada senopatj yg baru datang ini.
" Bagaimana keadaan di induk pasukan kita,..?" tanya nya.
" Berkat pertolongan dari Sang Hyang jagad Bathara,. akhirnya Gusti Pangeran mampu membunuh Prabhu Watu Menak Koncar itu,.. Senopati Kurudanta,.!" ucap Senopati Sindur.
Ia adalah panglima yg memimpin pasukan dari Pakuwan Sindur ini.
" Syukurlah, dan saat ini tugas kita adalah menahan serangan dari Kalindih ini,..!" seru Senopati Kurudanta.
" Benar ,kami berdua bersama senopati dari Pakuwan Pemanggar memang di tugaskan untuk hal ini,..!" sahut Senopati Sindur.
Ia segera menggerakkan pasukan nya guna menahan serangan yg di lancarkan oleh para prajurit dari Pakuwan Kalindih itu.
Keadaan yg semula hampir mampu di menangkan oleh mereka akhirnya berbalik, para prajurit dari Pakuwan Kalindih ini harus mendapatkan serangan yg lebih besar lagi dari kedua pasukan yang datang ini.
Memang dalam hal kemampuan berperang pasukan darj Pakuwan Kalindih ini lebih unggul dari kedua pasukan yang baru datang ini akan tetapi saat ini mereka pun telah mendengar bahwa Prabhu Watu Menak Koncar telah gugur di medan perang membuat nyali mereka turun secara drastis, adalah Akuwu Kalindih sendiri yaitu Akuwu Watu Menak Kober yg berada di induk pasukan nya ini segera berseru dengan keras.
" Segera tarik seluruh pasukan, kita kembali ke Kalindih,..!" teriaknya.
" Mengapa harus mundur Gusti Akuwu..?" tanya salah seorang pembantu terdekat dari Akuwu Kalindih ini.
" Pasukan Kangmas Prabhu Watu Menak Koncar telah kalah, sia sia kita melanjutkan peperangan ini, sebaiknya kita segera kembali ke Kalindih , nanti dari sana kita akan melanjutkan urusan ini , apakah kita akan berperang terus melawan Pangeran Dewangga Sena atau tidak,..!" jelas Akuwu Watu Menak Kober.
" Sayang,..,!" ucap pembantu Akuwu Kalindih ini lirih.
Sedangkan Akuwu Watu Menak Kober tidak menanggapinya, hatinya memang sangat pedih setelah mendengar kematian dari kakak nya Prabhu Watu Menak Koncar.
Di dalam Kotaraja sendiri, pasukan yang di pimpin oleh Rakryan Mahamantri Kalasan pun akhirnya harus mengakui keunggulan Pasukan dari Pakuwan Pamintihan, mereka terdesak hebat hingga harus keluar dari pintu gerbang utama sebelah utara, sementara itu Rakryan Mahamantri Kalasan terluka parah setelah tombak di tangan Panglima Raden Watu Giring mampu melukai pundaknya.
Pemimpin pasukan dari Kerajaan Medang Kemulan itu di larikan oleh para prajurit nya dalam keadaan pingsan.
Setelah keluarnya pasukan yg di pimpin oleh Rakryan Mahamantri Kalasan ini dari Kotaraja, maka para prajurit dari Pakuwan Pamintihan segera mengumpulkan prajurit Medang Kemulan yg menyerah.
Malam yg cukup gelap itu menjadi terang benderang setelah para prajurit menyalakan obor.
Mereka bergerak cepat mengumpulkan prajurit yang telah tewas terbunuh juga yg terluka, sedangkan yg menyerah di kumpulkan dalam satu lapangan.
Para panglima dan Senopati dari Pakuwan Pamintihan menyerukan untuk segera membuat perkemahan di tempat itu.
Sedangkan Pangeran Dewangga Sena yg telah siuman segera mengajak beberapa prajurit terpilihnya untuk segera ke istana Medang Kemulan.
__ADS_1
Ia di temani oleh Patih Watu Spuh Gada, Ki Gambong serta Senopati Garega berjalan menuju ke dalam istana.
Begitu tiba disana, mereka menemukan istana itu telah kosong hanya beberapa pelayan dalam saja yang masih berada di sana.
Pangeran Dewangga Sena dan Patih Watu Spuh Gada teringat kembali melihat istana ini.
Para prajurit di perintahkan untuk memeriksa seluruh tempat dari istana ini. Tetapi memang mereka tidak menemukan para keluarga dari Prabhu Watu Menak Koncar.
" Eyang Patih, tampaknya seluruh keluarga Watu Menak Koncar telah melarikan diri, apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Eyang,..?" tanya Pangeran Dewangga Sena.
Patih Watu Spuh Gada terdiam, ia mengedarkan pandangannya menyapu seluruh tempat yang sudah sangat ia kenali.
Baru setelah cukup lama terdiam Patih Watu Spuh Gada berkata,..
" Anakmas , Pangeran,.segera kirim prajurit untuk mengejar keluarga keraton itu,..agar tidak ada lagi yang akan membuat susah dirimu kelak jika berkuasa,..!" tutur Patih Watu Spuh Gada.
" Baik Eyang Patih,..prajurit katakan kepada panglima Rakai Parumping agar mengejar para penghuni keraton yg melarikan diri itu,..!" seru Pangeran Dewangga Sena kepada salah seorang prajurit.
" Sendika Dawuh Gusti Pangeran,..!" sahut prajurit tersebut.
Ia segera meninggalkan istana Medang Kemulan ini dan kembali ke induk pasukan yang berada di alun-alun Kotaraja.
Pangeran Dewangga Sena terus saja memeriksa keadaan dalam istananya yg sempat di rampas oleh Prabhu Watu Menak Koncar ini.
Cukup lama ia berada disana.
Sedangkan Panglima Rakai Parumping yg mendapatkan laporan sekaligus tugas untuk mengejar pelarian dari keluarga dalam istana langsung bergerak setelah sebelumnya ia meminta petunjuk dari Panglima Raden Watu Giring.
" Kakang Watu Giring, kemanakah menurut kakang mereka itu melarikan diri, ?" tanya Panglima Rakai Parumping.
" Kalau menurut Kakang, keluarga istana ini akan menuju ke Pakuwan Kalindih,..adhi Parumping,..!" sahut Panglima Raden Watu Giring.
" Jika mereka akan ke Kalindih , apa tidak sebaiknya pasukan yang berada di luar itu saja yang mengejar mereka Kakang,..!" seru Panglima Rakai Parumping.
Dan di tambahkan pula oleh panglima kepercayaan dari Prabhu Kreshna Yuda ini agar Rakai Parumping mengajak serta pasukan yg berada di bawah kepemimpinan dari Bekel Ampaian. Tentu dirinya akan lebih paham mengenai seluk beluk tentang keadaan di luar benteng Kotaraja Medang Kemulan ini.
" Baiklah kalau begitu, Aku akan segera berangkat,..!" ucap Panglima Rakai Parumping.
Dengan membawa para prajurit nya serta mengajak Bekel Ampaian maka bergerak lah pasukan ini dari gerbang utara Kotaraja Medang Kemulan itu.
Mereka memang mendapatkan tugas untuk menangkap seluruh keluarga dari Prabhu Watu Menak Koncar yg telah melarikan diri itu.
Sedangkan keluarga kerajaan Medang Kemulan yg tengah melarikan diri ini memang sudah berada cukup jauh dari istana Medang Kemulan.
Akan tetapi sebenarnya gerak mereka amat terbatas karena kebanyakan dari mereka adalah perempuan, sehingga pemimpin pasukan pengawal yang mengawal mereka ini berulang kali memerintahkan untuk tetap berjalan meski hari masih gelap.
" Gusti Putri , kita tidak bisa berhenti disini, karena daerah ini masih sangat dekat dengan Kotaraja Medang Kemulan, sebaiknya kita harus menyingkir dari sini sebelum matahari terbit,..!" ucap Senopati Singajaran.
Pemimpin pasukan yg bertugas menjaga seluruh keluarga istana kerajaan Medang Kemulan yg berada di bawah pemerintahan dari Prabhu Watu Menak Koncar itu.
" Akan tetapi , Ibunda permaisuri dan adik adik ku nampak sangat kelelahan Singajaran, apakah tidak sebaiknya kita beristirahat sejenak disini,..!" jawab Putri Dyah Wikamini.
Istri Panglima Raden Naruttala ini memang nampak kelelahan setelah melakukan perjalanan, maklum hampir seluruh keluarga keraton ini bukanlah orang orang yg terbiasa berjalan jauh keluar dari istana sehingga membuat mereka langsung cepat kehilangan tenaga nya terlebih lagi banyak diantara mereka berusia anak anak dan perempuan.
" Akan tetapi sangat membahayakan bagi keselamatan kita jika belum mencapai pakuwan Kalindih , Gusti Putri,.. nanti pasukan dari Pamintihan itu berhasil menyusul kita,..!" jelas Senopati Singajaran
" Bagaimana ibunda Ratu, apakah kita akan terus melsnjutkan perjalanan ini,..?" tanya Putri Dyah Wikamini kepada ibundanya.
" Memang sebaiknya kita melanjutkan perjalanan ini Wikamini, nanti kita keburu ke susul oleh mereka,..!" sahut Ibunda Ratu.
__ADS_1
Walaupun ia terlihat kelelahan akan tetapi ketakutan nya akan di tangkap oleh pasukan dari Pamintihan ini membuat nya melawan rasa lelahnya.
" Baik kalau begitu, kita lanjutkan perjalanan ini, !" ucap Putri Dyah Wikamini.
Namun sebelum mereka semua nya bergerak, adalah Putri Dyah Minak Sriniti yg menyela pembicaraan itu.,.
" Kangmbok Ayu , Aku lebih baik berhenti di sini saja, rasa -rasanya kaki ku ini tidak dapat ku gerakkan lagi,..!" ucap nya.
" Hehh, apa dirimu sudah gila, Sriniti,. bukankah dirimu masih muda berjalan baru sebentar saja dirimu sudah tidak sanggup , dasar anak manja,..!" seru Putri Dyah Wikamini dengan berang.
" Sudah sudah,..Biarlah kita beristirahat sejenak disini , biarkan adikmu itu mengistirahatkan kakinya, memang semua kita yg ada di sini merasa capek setelah hampir seharian berjalan,..!" ucap Ratu Medang Kemulan ini.
Akhirnya Putri Dyah Wikamini terdiam tidak melanjutkan kata katanya lagi demikian pula dengan Senopati Singajaran. Ia pun tidak dapat memaksa lagi.
Menjelang matahari terbit itu mereka beristirahat sejenak di sebuah tempat yang sebenar nya belum terlalu jauh dari Kotaraja Medang Kemulan.
Panglima Rakai Parumping yg membuntuti di belakang para keluarga keraton yang melarikan diri ini semakin memangkas jaraknya.
Sehingga jarak mereka tidak terpaut jauh lagi. Ditambah pula bahwa Panglima Rakai Parumping amat pintar menelusuri jejak jejak mereka.
" Tampaknya mereka tidak terlalu jauh di depan kita , Bekel Ampaian,..!" ucap Panglima Rakai Parumping kepada Bekel Ampaian.
" Benar Gusti Panglima,..mungkin hanya beberapa ratus tombak saja mereka berada di depan kita,..!" sahut Bekel Ampaian.
" Kalau begitu perintahkan kepada seluruh prajurit untuk mempercepat langkah mereka agar sebelum malam kita telah dapat menyusul mereka,..!" terang Panglima Rakai Parumping.
" Baik Gusti Panglima,..!" kata Bekel Ampaian.
Maka pemimpin pasukan Kerajaan Medang Kemulan yg telah membelot dan mengikuti Pangeran Dewangga Sena ini memerintahkan kepada para prajurit nya untuk segera mempercepat langkah mereka.
Sehingga para prajurit itu nampak seperti sedang berlari saja guna mengejar para keluarga keraton yang melarikan diri ini.
Sedangkan Pasukan dari Pakuwan Kalindih yg telah mundur dari Kotaraja Medang Kemulan segera berhenti di suatu tempat.
Akuwu Watu Menak Kober seprtinya tengah berpikir akan sesuatu.
Hal ini di lihat oleh salah seorang kepercayaan nya lantas bertanya,.
" Ada apa ,.Gusti Akuwu ,..apa yang membuat dirimu berhenti,..?" tanya nya.
Sambil menatap seluruh prajurit nya Akuwu Watu Menak Kober mengatakan bahwa ia kepikiran tentang keluarga kakaknya itu , keluarga Prabhu Watu Menak Koncar.
" Bagaimana nasib mereka,.apakah mereka berhasil di tawan Pangeran Dewangga Sena,..?" tanyanya seolah pada dirinya sendiri.
" Apa tidak sebaiknya kita mengirimkan para prajurit sandi guna mengetahui keberadaan mereka itu, Gusti Akuwu,..?" tanya orang kepercayaan nya ini.
" Benar juga yg kau ucapkan itu,..memang sebaiknya kita mengirimkan prajurit sandi guna mengetahui keberadaan mereka, perintahkan kepada mereka untuk mencari tahu keberadaan keluarga Kakang Prabhu Watu Menak Koncar itu,..!"
Terdengar lah perintah Akuwu dari Kalindih ini untuk menelusuri keadaan dari keluarga Prabhu Watu Menak Koncar tersebut.
Empat orang prajurit sandi dari Kalindih ini segera meninggalkan induk pasukan nya kembali mengarah ke Kotaraja Medang Kemulan.
Induk pasukan dari Pakuwan Kalindih ini masih berhenti di tempat tersebut sampai mereka mendapatkan kabar yg jelas mengenai keberadaan dsri keluarga kerajaan Medang Kemulan .
Di lain pihak, pada pagi yg sangat cerah ini , banyak prajurit dari Pakuwan Pamintihan yg menguburkan mayat mayat yang telah tewas dari hasil peperangan kali ini.
Pada saat itu mereka juga meminta partisipasi para rakyat Kotaraja Medang Kemulan guna membantu usaha mereka ini. terlihat jelas bekas bekas peperangan tersebut setelah matahari menerangi alam semesta.
Darah ada dimana mana, bau anyir masih sangat kuat menyengat , membuat siapa saja yang melihatnya menjadi bergidik di buatnya.
__ADS_1
Memang perang telah berakhir dengan kemenangan berada di pihak Pangeran Dewangga Sena, akan tetapi rasa trauma masih menyelimuti perasaan kawula Kotaraja Medang Kemulan ini, belum terlalu lama mereka merasakan kenikmatan di alam damai namun kali ini mereka telah merasakan lagi arti pahitnya peperangan.
Beruntung kali ini para prajurit dari Pakuwan Pamintihan tidak sampai membakar rumah dan bangunan tinggal yg ada di Kotaraja ini sehingga korban dari rakyat biasa nyaris tidak ada demikian pula dengan bangunannya, berbeda tatkala pertama kalinya Prabhu Watu Menak Koncar yg menduduki Kotaraja ini, banyak rumah dan bangunan yang musnah terbakar.