SASRA WURUK

SASRA WURUK
Di Tahan #4.


__ADS_3

Prabhu Dewangga Sena berpamitan kepada istrinya Ratu Ayu Dewandhani Maheswari sang permaisuri.


" Jadi Kangmas Prabhu akan berangkat sendirian ke Kalindih, apakah itu tidak terlalu berbahaya,..?" tanya Sang Permaisuri.


" Tidak Diajeng, Kangmas akan berhati-hati sekali,..doakanlah agar urusan ini cepat selesai nya,..!" sahut Prabhu Dewangga Sena .


Raja Medang Kemulan ini telah berganti pakaian sebagaimana layaknya pakaian orang kebanyakan, ia menanggalkan semua atribut yg melekat pada tubuhnya itu.


Meski demikian perawakan dan wajahnya masih nampak kekar dan sangat tampan walaupun berpakaian sangat sederhana.


Permaisuri Dewandhani Maheswari memeluknya dari belakang seraya berkata,.


" Kalau menurut hamba, lebih baik Kangmas Prabhu membawa pasukan Medang Kemulan ini untuk memerangi Kalindih, Diajeng khawatir akan keselamatan Kangmas Prabhu,.." ucap nya sambil meletakkan kepalanya di punggung Prabhu Dewangga Sena.


Sang Prabhu membalikkan tubuhnya dan langsung memegang kedua belah pipi dari sang permaisuri , ia bahkan mengecup keningnya dengan sangat lembut.


" Belum perlu itu dilakukan , Diajeng, Kangmas memiliki keinginan untuk tidak melakukan peperangan dalam waktu dekat ini dengan siapapun termasuk Kalindih, entahlah jika mereka yg akan datang menyerang kemari, mungkin itulah saatnya, Medang Kemulan melakukan peperangan,..!" terang Prabhu Dewangga Sena sambil melepaskan pelukan nya.


Selanjutnya sang Prabhu bergegas meninggalkan biliknya itu dan keluar menuju halaman istana.


Kepergian nya ini diikuti oleh tatapan sedih dari sang Permaisuri, Ratu Ayu Dewandhani Maheswari.


Ahh, memang sikap mu terlalu lemah Kangmas Prabhu, sudah seharusnya kau tunjukkan bahwa Medang Kemulan ini sangat kuat sejak berada di bawah kekuasaan mu, dengan menaklukan wilayah wilayah yg tidak mau tunduk di bawah perintah mu itu, sayang dirimu terlalu banyak pertimbangan, ucap permaisuri Dewandhani Maheswari dalam hatinya.


Sore itu juga, sang Prabhu segera bergerak menuju tempat dimana Pangeran Turangga Sena dan ibundanya di tahan.


Bersama Macan Putih yg menjadi temannya sejak ia kecil maka keduanya pun melesat menuju Kalindih.


Memang dalam perhitungan sang Prabhu, jika ia berhasil menyelamatkan adik dan ibu tirinya itu ini tentu ada kesempatan untuk menundukkan Pakuwan Kalindih dengan cara damai tanpa melalui peperangan.


Di dalam perjalanan menuju wilayah Kalindih ini, tiba tiba saja Prabhu Dewangga Sena teringat sesuatu dan berfikir sesaat.


Apa tidak sebaiknya aku ke Kepaneon Langgrah terlebih dahulu guna menemui prajurit yang terluka itu, berkata dalam hatinya .


Ia memang harus menyelidiki dahulu keadaan di Kalindih itu sebelum memasukinya.


Dan oleh karena itulah , ia mengarahkan Macan Putih berbelok menuju Kepaneon Langgrah.


Sangat kencang sekali lari Macan Putih itu, bagaikan kilat saja melesatnya hingga tidak membutuhkan waktu terlalu lama tibalah sang Prabhu di Langgrah.


Meski hari telah malam, akan tetapi tetap saja Prabhu Dewangga Sena masuk kesana menuju rumah Panewu.


Alangkah terkejutnya si pemilik rumah ketika mengetahui bahwa ada seorang tamu agung yg singgah di rumahnya tersebut.


" Ampunkan Hamba Gusti Prabhu, mengapa tidak memberitahukan terlebih dahulu agar kami dapat menyiapkan penyambutan nya, alangkah deksuranya jika Langgrah menerima Gusti Prabhu dalam keadaan begini,..!" ucap Panewu Langgrah menyembah hormat kepada Prabhu Dewangga Sena.


" Tidak perlu unggah ungguh,dan suba sita, Panewu, kedatangan ku kali ini kemari adalah hendak menyelamatkan dimas Turangga Sena dan Ibunda Ratu Tunggarani, jadi Panewu tidak perlu sungkan,..!" sahut Prabhu Dewangga Sena berterus-terang.


Ia memang tidak menginginkan kehadiran nya di tempat itu di ketahui oleh banyak orang terutama yg tidak memiliki kepentingan.


Agar dirinya dapat bergerak lebih bebas dalam menentukan langkah guna membebaskan kedua orang terdekatnya tersebut.


" Jadi Gusti Prabhu telah menerima pesan kami itu,..?" tanya Panewu Langgrah heran.


" Benar Panewu, Aku telah menerima pesan dari mu yg di bawakan oleh kedua pengawal Kepaneon Langgrah ini, untuk itulah Aku menginginkan kejelasan peristiwa nya,..!" ucap Sang Prabhu.


Cukup terkejut memang pemimpin kepaneon Langgrah itu, di sebabkan kedua orang pengawal utusannya belum pun kembali akan tetapi sang Prabhu telah tiba di Langgrah terlebih dahulu, aneh begitulah yang ada di benak Panewu Langgrah ini


Namun meski demikian ia tidak menanyakan nya kepada Prabhu Dewangga Sena.


Pemimpin Kepaneon Langgrah itu pun menjelaskan duduk permasalahannya.Ia bahkan menghadirkan prajurit yang terluka itu.


" Ampunkan hamba Gusti Prabhu, kini hamba tidak mengetahui bagaimana keadaan dari Gusti Pangeran dan Gusti Ratu, sebab sewaktu hamba tinggalkan mereka masih dalam berbicara dengan para penghadang itu,..!" ungkap Prajurit terpilih .


" Siapa saja mereka itu, prajurit,.?" tanya Prabhu Dewangga Sena kepada sang prajurit.


" Yg sempat terlihat hamba adalah Putri Wikamini dan orang tua yg sempat membuat kerusuhan dalam istana beberapa waktu yang lalu, Gusti Prabhu.!" terang prajurit itu.


" Mpu Kalong maksudmu,..?" tanya Prabhu Dewangga Sena.


" Benar Gusti Prabhu,..!" sahut sang Prajurit.


Prabhu Dewangga Sena selanjutnya menanyakan kepada prajurit itu mengenai jumlah mereka


Oleh sang Prajurit dijelaskan bahwa jumlah mereka itu mungkin mencapai seratus orang banyaknya


" Cukup banyak ternyata jumlah nya ,..!" seru Prabhu Dewangga Sena.


Ia pun segera memikirkan bagaimana caranya untuk dapat membebaskan kedua kerabatnya itu.


Adalah Panewu Langgrah yg memberikan usulan,.


" Apakah tidak sebaiknya pengawal dari Langgrah ini ikut dengan Gusti Prabhu,.?" tanya Panewu Langgrah.

__ADS_1


" Tidak Panewu, kali ini Aku sendiri saja yang akan ke sana, bagaimana pun Aku berharap keduanya dapat diselamatkan tanpa banyak jatuhnya korban, sangat besar harapanku di Medang Kemulan ini tidak terjadi peperangan dalam waktu dekat ini,.!" terang Prabhu Dewangga Sena.


" Mohon ampun Gusti Prabhu, sangat berbahaya sekali masuk kesana seorang diri,.. nampaknya Putri Dyah Wikamini mampu menjadi sosok panutan bagi para prajurit Medang Kemulan di masa pemerintahan Prabhu Watu Menak Koncar yg melarikan diri itu, Gusti,.!" ucap prajurit Medang Kemulan itu.


Prabhu Dewangga Sena nampak nya tetap pada pendirian nya , ia bersikeras untuk masuk kesana seorang diri, meski telah mendengar ucapan prajurit nya itu.


" Baiklah Panewu Langgrah, Aku akan segera kesana pada malam ini juga, !" ucapnya kepada Panewu Langgrah.


" Apakah tidak perlu adanya seorang penunjuk jalan,..Gusti Prabhu,.?" tanya Panewu Langgrah.


Kepala raja Medang Kemulan ini menggeleng lemah,


" Tidak , Panewu Langgrah, karena aku telah mengetahuinya seperti yang telah dijelaskan oleh prajurit tadi,.!" jawab Sang Prabhu.


Sehingga sang Prabhu pun segera keluar dari rumah pemimpin kepaneon Langgrah itu.


Malam memang sudah semakin larut, suasana dingin telah merayap hingga ke tulang sungsum. Akan tetapi dengan mantap penguasa kerajaan Medang Kemulan itu tetap melangkah pergi.


Dirinya menembus kegelapan malam bersama seekor macan Putih.


Setelah dirinya mengetahui letak keberadaan landasan perjuangan dari Putri Dyah Wikamini, putri Prabhu Watu Menak Koncar tersebut.


Prabhu Dewangga Sena terus saja menyusuri kegelapan malam menuju ke wilayah perbatasan Pakuwan Kalindih itu.


Satu yg menjadi ganjalan dalam hati sang Prabhu adalah kehadiran dari penguasa Gunung Kanda.


Tampaknya diriku memang harus bertarung kembali dengan nya, berkata dalam hati sang Prabhu.


Mendekati pagi hari, Prabhu Dewangga Sena telah berhasil mendekati desa yg menjadi tempat landasan dari putri Dyah Wikamini itu.


Dengan menggunakan kemampuan nya Prabhu Dewangga berhasil memasukinya tanpa di ketahui oleh para pengawal putri dari Prabhu Watu Menak Koncar.


Dengan sangat hati -hati sekali , Penguasa Kerajaan Medang Kemulan tersebut melompat pada salah satu wuwungan rumah yg ada di desa tersebut.


Sejenak memperhatikan keadaan sekelilingnya, dan setelah dirasa aman, Prabhu Dewangga Sena barulah membuka salah satu atap rumah tersebut untuk mengintip ke dalam.


Hehh,


Prabhu Dewangga Sena sangat terkejut bukan main setelah melihat apa yg terjadi di bawah nya, tampak sepasang anak manusia yang berlainan jenis sedang melakukan hubungan layaknya pasangan suami istri.


Pantas saja diriku tidak menemui hambatan saat masuk kemari, lebih baik segera kucari saja dimana Dimas Turangga Sena dan Ibunda Ratu Ayu Tunggarani berada berkata lagi dalam hatinya sang Prabhu.


Tanpa menunggu lama Ia pun menutup kembali celah atap rumah yg telah dibukanya tadi.


Pelan namun pasti, setelah ia berhasil hinggap di atas wuwungan rumah itu bagai seekor rajawali , dan lantas membuka atapnya dan seperti yg telah di duga nya, di bawahnya terdapat dua orang yg tiada lain adalah adiknya Pangeran Turangga Sena dan ibunda nya Ratu Ayu Tunggarani.


Setelah meyakini bahwa keduanya adalah orang yang dicarinya maka Prabhu Dewangga Sena pun turun ke dalam rumah tersebut.


Ia melayang turun dan masih menggunakan penutup wajahnya berupa kain hitam.


Sungguh terkejut Pangeran Turangga Sena dan Ratu Ayu Tunggarani melihat kehadiran seseorang yg menggunakan penutup wajah berwarna hitam itu.


Akan tetapi setelah Prabhu Dewangga Sena membuka kain penutup wajahnya ini,.


" Kangmas Prabhu,.!" seru Pangeran Turangga Sena heran.


" Ssssthh,..!" ucap Prabhu Dewangga Sena.


Ia memberi isyarat kepada adiknya itu untuk tidak berbicara, di khawatirkan akan di dengar oleh para pengawal yang berjaga di sekitar rumah itu.


Dengan sangat cepat, Prabhu Dewangga Sena melepaskan ikatan kedua orang itu seraya bertanya,.


" Dimas , dimana kah para prajurit Medang Kemulan yg lain di tahan,..?" tanya nya kepada pangeran Turangga Sena.


" Ada di rumah yg berada di belakang rumah ini, Kangmas,..!" jawab Pangeran Turangga Sena.


" Baik, jika demikian, segeralah dimas dan ibunda Ratu keluar dari depan , nanti kangmas akan membebaskan para prajurit itu,. berhati-hatilah,.!" ucap Prabhu Dewangga Sena.


Ia pun melompat kembali ke atas wuwungan atap rumah tersebut, dalam satu kali lesatan saja ia telah berada diatas kembali.


Sang Prabhu melihat cukup banyak yg mengawal rumah tempat di tahan nya adik dan Ratu Ayu Tunggarani tersebut.


Aku harus melumpuhkan para pengawal yang berada di depan agar Dimas Turangga Sena dapat keluar dengan aman, Pikir Prabhu Dewangga Sena.


Ia pun mengambil tiga buah senjata rahasia dari balik bajunya dan,


" Hufhhh,..!"


" Seiiing,..!"


" Seiiiing,.!"


" Siiiing,.!"

__ADS_1


Ketiga senjata rahasia itu melesat cepat dan merobohkan ketiga pengawal yang di tempat kan oleh Putri Dyah Wikamini berada di depan pintu rumah tersebut.


Tanpa menimbulkan suara ketiganya langsung menemui ajalnya.


Selanjutnya Sang Prabhu melihat arah kiri dan kanan nya.


Masih terdapat empat orang lagi, berkata dalam hati , Penguasa Kerajaan Medang Kemulan itu.


Kembali sang Prabhu merogoh senjatanya ada di balik bajunya dan selanjutnya melumpuhkan ke empatnya.


Barulah setelah para pengawal dapat di lumpuhkan nya , Prabhu Dewangga Sena melesat ke arah rumah yg berada di belakang dari rumah tempat di tahan nya Pangeran Turangga Sena dan Ibunda nya .


Dengan mengerahkan peringan tubuh nya Prabhu Dewangga Sena melayang menuju rumah tersebut.


Tetapi dua orang pengawal yang di tugasi oleh Putri Dyah Wikamini berjaga jaga di depan rumah tersebut sempat melihat kehadiran seseorang yg tengah melayang di udara .


Sontak saja mereka berdua berteriak,.


" Ada penyusup,.!"


" Ada penyusup,.!"


" Bunyikan kentongan,..!"


Prabhu Dewangga Sena yg mendengar nya segera melayangkan tiga buah senjata rahasia nya guna membungkam mulut ketiganya.


" Heahh,..!"


" Shettt!"


" Sheeit,.!"


" Shieet,..!"


" Cleb,.!"


" Cleb,..!"


" Jlebbh,.!"


Ketiganya pun roboh tanpa ampun lagi, setelah kerongkongan nya tertembus ketiga senjata rahasia tadi.


Namun tak urung suara teriakan mereka itu membuat geger seisi rumah yg ada desa tersebut.


Bunyi kentongan pun segera bersahut sahutan membangunkan para penghuni nya termasuk sang pemimpin nya , yaitu Putri Dyah Wikamini.


Sedang Prabhu Dewangga Sena sendiri dengan sangat cepat segera masuk ke dalam rumah yg ia tuju itu, memang terdapat empat orang prajurit dari Kerajaan Medang Kemulan yg di tahan disana.


" Gusti Prabhu,..!" seru ke empatnya secara bersamaan.


Mereka senang bukan kepalang melihat siapa yang telah datang itu.


Prabhu Dewangga Sena tanpa menjawab ucapan para prajurit nya itu segera membebaskan mereka dari belenggu tali yang mengikatnya.


" Cepat kalian tinggalkan tempat ini, segeralah kalian ke Langgrah,..!" ucap sang Prabhu.


" Baik Gusti Prabhu,..!" sahut prajurit Medang Kemulan itu.


Akan tetapi dari arah depan rumah ini terdengar teriakan-teriakan dari para penghuni desa tersebut.


" Ayo tangkap penyusup itu,..!"


" Jangan sampai lepas,..!" teriak yg lain.


Begitulah, akhirnya tempat tersebut sepertinya sudah terkepung dari berbagai jurusan.


" Bagaimana ini Gusti Prabhu,.apa yg harus kita lakukan ,..,?" tanya Bekel prajurit tersebut kepada Prabhu Dewangga Sena.


" Jangan khawatir, kalian keluar dari arah belakang, biar nanti aku sendiri yg akan menahan mereka, cepatlah kalian tinggalkan tempat ini,. hufhh, heahh,.!"


Selesai berkata Prabhu Dewangga Sena kembali melesat ke atas atap rumah, dan dalam keremangan cahaya mentari pagi yg masih malu malu menampakan cahayanya terlihat berpuluh puluh orang tengah mengepung tempat itu.


" Heahhh,..!"


Tidak menunggu lama , kembali Prabhu Dewangga Sena melesat dengan ringan nya ke arah depan dari rumah tersebut sambil menghamburkan beberapa buah senjata rahasia.


Dan hasilnya lumayan bagus, beberapa orang segera tumbang terkena dari serangan nya tadi.


Untuk sesaat, Penguasa dari Kerajaan Medang Kemulan ini hinggap di atas wuwungan rumah yg dijadikan untuk menahan Pangeran Turangga Sena dan ibundanya itu.


Dan para pengepung rumah yg dihuni oleh para prajurit Medang Kemulan itupun bergerak menuju ke arah dimana Prabhu Dewangga Sena berada.


Dan itu merupakan kesempatan yang sangat baik bagi ke-empat nya untuk melarikan diri.

__ADS_1


__ADS_2