SASRA WURUK

SASRA WURUK
Pertaruhan #2.


__ADS_3

Demikianlah , akhirnya Akuwu Manik Rangga menikahkan putrinya, Putri Dewandhani Maheswari dengan Pangeran Dewangga Sena secara tertutup , hanya di hadiri oleh beberapa orang dari pihak keluarga dalam istana saja dengan di pimpin oleh Resi Wungku dan Wiku Watana.


Sebenarnya hal ini di lakukan demi kelancaran usaha Pangeran Dewangga Sena yg ingin meraih cita-cita nya,.mengambil alih kekuasaan atas kerajaan Medang Kemulan dari tangan Prabhu Watu Menak Koncar.


Namun walaupun demikian , kesakralan dari upacara pernikahan ini tetap terjaga, dan ini tampak terlihat dari kedua orang pasangan pengantin itu.


Dan di Cempogo sendiri, setelah menerima berita yang di bawa oleh Brojo Lungguk. Maka pemimpin pasukan bentukan dari Panglima Raden Watu Giring dan Patih Spuh Gada.


Para petinggi dari pejabat yang berkuasa di masa pemerintahan Prabhu Kreshna Yuda itu mempersiapkan segala sesuatu nya.


Mereka memang masih menunggu perintah dari Pangeran Dewangga Sena sebagai pemimpin mereka. Tetapi sembari menunggu para pemimpin prajurit yang berada di Cempogo itu mengadakan pertemuan membahas semua mengenai kesiapan pasukan nya


" Paman patih Spuh Gada, apa rencana kita selanjutnya sebelum utusan dari Anakmas Pangeran Dewangga Sena datang kemari,..?" tanya Panglima Raden Watu Giring.


Seraya bangkit dari duduknya, Patih Watu Spuh Gada pun berjalan dan melangkah menuju pintu ruangan itu.


" Kita harus mengetatkan penjagaan di sekitar Cempogo dan Langgrah ini,..!" ucapnya.


Patih dimasa Prabhu Kreshna Yuda ini memang sudah terlihat sepuh akan tetapi semangat masih tetap besar dan tidak pernah.mau menyerah pada keadaan.


" Dan selanjutnya hubungi Bekel Ampaian yg berada dalam istana Medang Kemulan, katakan kepadanya untuk mempersiapkan segala sesuatu nya, agar semua rencana yg telah kita susun ini tidak menjadi gagal,..,! ungkap Patih Watu Spuh Gada lagi.


Dan panglima Raden Watu Giring menganggukkan kepalanya.


" Kalau menurut perhitungan dari Paman Patih, apakah mungkin dalam waktu dekat ini, Anakmas Pangeran Dewangga akan membawa prajurit Pamintihan menyerang Kotaraja Medang Kemulan ?" tanya Panglima Raden Watu Giring.


" Jika di lihat dari segala tindak tanduk nya, kemungkinan itu sangat besar akan terjadi, mengingat pernikahan nya dengan Putri Dewandhani Maheswari pun di laksanakan secara tertutup,..!" ucap Patih Watu Spuh Gada.


Dan tanpa sepengetahuan mereka , pembicaraan kedua orang ini di dengar oleh seseorang , yang tanpa sengaja melintas di dekat bangunan itu.


Hahh,..kakang pangeran Dewangga Sena telah menikah,..apakah ia tidak mengerti perasaan ku terhadapnya,.atau memang dirinya tidak memandang sedikit pun terhadap ku, karena aku berasal dari rakyat jelata,..kata orang itu dalam hatinya.


Ia yg tiada lain adalah Kintan Suri , cucu Buyut Lohsari. Dengan cepat gadis ini berlalu sambil menangis, suara tangisannya ini di dengar oleh Patih Watu Spuh Gada.


" Watu Giring , ada seseorang yang mendengar pembicaraan kita , cepat kejar , katakan kepada nya untuk tidak memberitahukan pembicaraan kita ini kepada siapa pun, karena prajurit sandi Medang Kemulan banyak berkeliaran di tempat ini,..jika berita ini sampai bocor ke tangan Prabhu Watu Menak Koncar , kemungkinan nya kita akan menemui kesulitan,..!" seru Patih Watu Spuh Gada kepada Panglima Raden Watu Giring.


" Baik, Paman Patih,..!" sahut Panglima Raden Watu Giring.


Lelaki itu langsung keluar dan melesat mengejar orang yang telah mendengar pembicaraan mereka itu.


Tidak mengalami kesulitan panglima Raden Watu Giring ini mengikuti orang tersebut, karena ia masih saja terisak menangis.


Setelah cukup dekat, alangkah terkejutnya orang kepercayaan Prabhu Kreshna Yuda ini ketika ia mengetahui bahwa orang itu adalah Kintan Suri.


Heh,..mengapa ia menangis begitu,.. tanya Raden Watu Giring sambil mendekati Kintan Suri yg tengah duduk pada sebongkah batu.


" Sungguh tega Kakang Pangeran terhadap ku, aku benci,.. aku benci...padanya,..!" teriak Kintan Suri.


Suaranya ini terdengar sangat kuat karena malam itu terasa hening, tidak terdengar suara suara binatang malam yg berbunyi mengumandangkan nyanyian nya.


Ternyata Kintan Suri memendam rasa terhadap anakmas Pangeran Dewangga Sena,.. sehingga dirinya mau dan sering membantunya ,..apa yang harus kulakukan untuk menjelaskan hal ini kepada nya,.. pikir Panglima Raden Watu Giring.


Ia sedang mencari cara yg tepat agar gadis itu tidak tersinggung dan bertambah sakit hatinya.

__ADS_1


Perlahan , Lelaki yg sudah tidak lagi muda itu melangkah berjalan mendekati Kintan Suri sambil terbatuk -batuk.


" Ehemmm, ehemm,.ah kiranya Kintan Suri , paman pikir siapa , malam malam begini ada orang yang tengah menangis disini,..!" seru Panglima Raden Watu Giring ketika ia sudah mendekat.


" Ehh,..Ahahh,.. Paman Watu Giring rupanya,..!" ucap Kintan Suri.


Cucu buyut Lohsari ini sangat terkejut dengan kedatangan panglima Raden Watu Giring di.tempat itu.


Ia tampak mengusap kedua matanya dengan menggunakan kain panjang yang di kenakan nya. Meskipun dadanya masih naik turun menahan kekesalan yg di rasakan nya.


Tidak memperdulikan sikap Kintan Suri, Panglima Raden Watu Giring mengambil tempat duduk yang tidak terlalu jauh dari gadis itu seraya bercerita.


Panglima kebanggaan di masa Prabhu Kreshna Yuda ini kemudian bercerita mengenai dirinya yg memiliki seorang putri yang mungkin lebih tua usianya dari Kintan Suri yg mengalami hal yang serupa dengan yang telah di alami oleh Kintan Suri ini. Bahkan yg lebih parah lagi kekasih putrinya itu menikah dengan teman nya sendiri.


Hal itu sempat membuat Putri Panglima Raden Watu Giring itu tidak mau melakukan apa pun bahkan nyaris bertindak bodoh dengan melakukan hal yang tidak sepatutnya, yaitu bunuh diri.


Akan tetapi setelah Putrinya ini mendapatkan wejangan dari beberapa orang, akhirnya ia bisa menerima , bahwa semua yang terjadi di alam ini telah ada yg mengaturnya.Mungkin dirinya akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dari bekas kekasihnya itu.


" Tahukah kamu, Kintan Suri, putri ku kini telah menikah dengan salah seorang punggawa kerajaan Kalinggha Pura, dan mereka kini hidup berbahagia dengan dua orang anaknya,..!" urai Panglima Raden Watu Giring mengakhiri ceritanya.


Sedang Kintan Suri yg mendengarkan nampak terdiam, diirnya memang belum bisa menerima kenyataan yang tengah di hadapinya itu.


" Apakah Anakmas Pangeran Dewangga Sena mengetahui perasaan mu itu terhadap nya,..?" tanya Panglima Raden Watu Giring lagi.


Kintan Suri menggelengkan kepalanya dengan lemah,..ia memang tidak pernah mengutarakan isi hatinya kepada pemuda itu.Tetapi menurut pendapat nya, Pangeran Dewangga Sena mengetahui isi hatinya tanpa ia mengucapkan nya.


" Tidak Paman,.. Kakang Pangeran Dewangga Sena memang tidak mengetahui bahwa diriku menyukai nya,..!" ucap Kintan Suri polos.


" Heh,..dengan demikian tidak ada kesalahan pada dirinya bila ia menikah dengan gadis lain,. karena hubungan kalian pun tidak jelas,..!" kata Panglima Raden Watu Giring.


Kentara sekali ucapan gadis ini adalah ucapan orang yang tengah putus asa. Ini dapat di ketahui oleh Panglima Raden Watu Giring,..buru buru ia mengatakan kepada Kintan Suri bahwa menyukai seseorang itu tidak memandang kasta dan derajat , jika memang dirinya di takdir kan dapat berjodoh dengan pangeran Dewangga Sena tentu itu pun dapat terwujud, akan tetapi saat ini memang putra Prabhu Kreshna Yuda itu tengah melakukan pernikahannya dengan Putri Dewandhani Maheswari yg juga adalah cara dirinya dapat mewujudkan cita-cita nya.


Masih menurut Panglima Raden Watu Giring , bahwa Pangeran Dewangga Sena pun tampaknya menyukai dirinya, Kintan Suri terkejut mendengar nya.


" Darimana Paman tahu bahwa Kakang Pangeran Dewangga Sena menyukai diriku,..,?" tanya nya penasaran.


Panglima Raden Watu Giring kemudian menerangkan kepada cucu buyut Lohsari ini , sesaat sekembalinya pangeran Dewangga Sena dari mencari dua benda pusaka yang menjadi piyandel kerajaan Medang Kemulan , yg ditanyakan oleh Sang Pangeran adalah dirinya.


" Memang benar yg Paman katakan itu, kakang Pangeran Dewangga Sena memang menemuiku, itulah mengapa perasaan ku ini seakan mengatakan bahwa ia pun memang menyukai diriku,..Paman,..!" jawab Kintan Suri.


Gadis ini kembali terisak-isak menahan tangisnya.


Panglima Raden Watu Giring selanjutnya berkata kepada Kintan Suri untuk dapat berkorban kepada orang yang di sayangi itu, dan jika kelak takdir menentukan , mungkin dirinya masih dapat berjodoh dengan pangeran Dewangga Sena terlebih bila ia berhasil jadi penguasa di Kerajaan Medang Kemulan ini.


Sesungguhnya Panglima Raden Watu Giring tidak dapat bertindak sembrono terhadap gadis ini karena ia tahu Pangeran Dewangga Sena pun memendam rasa terhadap nya.


Jika ia bertindak lebih keras dan berujung pada kematian dari gadis ini tentu dirinya lah yang akan di persalahkan oleh Pangeran Dewangga Sena.


Untuk itu ia berusaha membujuk dengan lembut agar Kintan Suri tidak bertindak yg aneh aneh terlebih sampai membocorkan rencana mereka itu.


" Paman,.. jangan kan perasaan ku,..nyawaku pun akan ku korbankan untuk kakang Pangeran Dewangga Sena,.!" jawab Kintan Suri.


" Bagus,..paman senang mendengar nya, sekarang kembali lah ke bilik mu, karena malam sudah cukup larut,..!"

__ADS_1


Ucapan dari Panglima Raden Watu Giring ini mengakhiri pembicaraan keduanya. Kintan Suri pun bangkit dari duduk nya seraya melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.


Tinggallah Panglima Raden Watu Giring seorang diri di tempat itu.


Hehh,..kalau masalah perasaan memang sulit untuk di atasi , tidak memandang kaya atau miskin,..Sudra atau Ksatria,.. rakyat jelata ataupun penguasa ,..jika telah hati yg bicara tentu akan tidak mudah mengatasinya,,.kata Panglima Raden Watu Giring di dalam hatinya.


Tidak terlalu lama ia pun meninggalkan tempat itu kembali ke tempat nya semula. Sementara itu malam pun beranjak pagi.


Dan tanpa terasa sinar lembut sang mentari memggantikan tugasnya dewi malam. Di pagi yg cerah itu, di Kepaneon Cempogo,.. telah berkumpul beberapa pemimpin nya termasuk Panewu Langgrah yg sengaja datang pagi itu.


Hadir pula di tempat itu Panglima Raden Watu Giring yg di temani oleh Brojo Lungguk.


Saat ini baik , Cempogo maupun Langgrah sudah terbiasa dengan kehadiran bekas begal yg mahsyur itu.


Mereka pada umum nya amat senang dengan kehadiran nya di barisan pendukung dari Pangeran Dewangga Sena.


Bahkan kali ini berita yang akan di sampaikan itu berasal dari dirinya.


" Ki Brojo Lungguk, terangkan lah apa yang telah kau dengar dari Gusti Pangeran,..,!" ucap Panglima Raden Watu Giring kepada Ki Brojo Lungguk.


" Ahh,..sebaiknya Gusti Panglima sajalah yang menerangkan nya,..!" sahut Brojo Lungguk.


" Bukankah yg telah bersama dan dapat perintah dari Gusti Pangeran adalah dirimu Brojo Lungguk, jadi dirimu lah yang harus menjelaskan kepada kita semua agar menjadi sangat jelas,.." ucap Panglima Raden Watu Giring.


Dan semua mata memandang kepada Brojo Lungguk, seakan mereka memang ingin mendengarkan apa yang telah menjadi titah Gusti Pangeran itu.


" Baik,.baik ,.baiklah, aku akan menceritakan semuanya kepada kalian, dengarkanlah,..!" seru Brojo Lungguk.


Karena ia tidak tahan atas tatapan orang orang yg berada di rumah Panewu Cempogo itu.


Dan mulailah Brojo Lungguk menceritakan apa yang telah di perintahkan oleh Pangeran Dewangga Sena itu,.bahkan pernikahan yang di lakukan oleh Pangeran Dewangga Sena itu dengan Putri Dewandhani Maheswari putri dari Akuwu Pamintihan pun tidak luput ia ceritakan.


Setelah ia selesai bercerita mengenai perintah dari Pangeran Dewangga Sena maka yg hadir di tempat itu segera berbisik-bisik satu dengan yang lainnya.


" Ada apa, Panewu Langgrah,..jika memang ingin menanyakan sesuatu , sebaiknya ditanyakan jangan di simpan di dalam hati,..!" seru Panglima Raden Watu Giring.


Pemimpin prajurit ini melihat kepada Panewu Langgrah yg sepertinya ingin mengatakan sesuatu.


" Begini Panglima Watu Giring, langsung saja aku ingin bertanya, jika dalam waktu satu purnama ini kita menyerang Kotaraja Medang Kemulan , Apakah itu tidak terlalu terburu-buru,..?" tanya nya kepada Panglima Raden Watu Giring.


Dan Orang kepercayaan dari Prabhu Kreshna Yuda ini pun menjawabnya dengan mengatakan kepada Panewu Langgrah bahwa semua itu tentu telah di perhitungkan oleh Pangeran Dewangga Sena juga Akuwu Manik Rangga yg telah menjadi mertuanya.


" Tidak mungkin , kakang Akuwu Manik Rangga membiarkan pasukan nya berangkat tanpa dirinya memperhitungkan untung ruginya terlebih kali ini yg akan di lawan adalah Prabhu Watu Menak Koncar ,..yg telah ia kenala kekuatan dan kesaktian nya,.." terang Panglima Raden Watu Giring.


Dan pendapat Panglima Raden Watu Giring ini pun mendapatkam dukungan dari Brojo Lungguk yg menyebutkan , meskipun Pamintihan dan Pangeran Dewangga Sena telah mengetahui bahwa Prabhu Watu Menak Koncar telah memanggil para Senopati nya yg dahulu telah membantunya menumbangkan kekuasaan dari Prabhu Kreshna Yuda, termasuk di dalam nya ada Jabonarang dari Merut dan Jabung Alap dari timur'serta Adas Gala dari bukit Adas, ke semuanya itu tidak akan mampu menopang kekeroposan kekuatan kerajaan Medang Kemulan itu. Sehingga memang sudah sewajarnya Pangeran Dewangga Sena menggerakkan seluruh prajurit nya termasuk dari Pakuwan Pamintihan untuk menyerang Kotaraja Medang Kemulan.


Memang dalam setiap perjuangan kita harus mempertaruhkan sesuatu, jika kita memang ingin mendapatkan hasil yang terbaik ,..jelas Panglima Raden Watu Giring.


Seluruh orang yang berada di rumah Panewu Cempogo itu menjadi berdebar debar dengan rencana yg telah di susun oleh Pangeran Dewangga Sena ini,..meskipun menurut mereka tampak terburu buru akan tetapi jauh di dalam lubuk hati yang paling dalam mereka semuanya memang ingin segera lepas dari penindasan Prabhu Watu Menak Koncar itu.


Terutama bagi dua orang Panewu itu, yg telah mendapatkan janji, akan dijadikan sebuah Pakuwan jika kelak mereka memenangkan peperangan kali ini.


Benar juga apa yang di katakan oleh panglima Raden Watu Giring ini jika kita ingin mengharapkan sesuatu tentu kita juga harus mempertaruhkan sesuatu agar hal itu dapat terwujud , berkata dalam hati Panewu Cempogo.

__ADS_1


Ini akan menjadi pertaruhan yg sangat besar buat kami berdua jika kelak , Cempogo dan Langgrah menjadi landasan pasukan pangeran Dewangga Sena, jika kami memenangkan peperangan kali ini mungkin kami akan Mukti, akan tetapi jika kami mengalami kekalahan tentu kami akan mati.. berkata dalam hati Panewu Langgrah.


Namun Panewu yg masih gagah ini tampak bersemangat setelah mendengar berita yang di bawa oleh Brojo Lungguk itu, meski terkesan agak terburu-buru tetapi mereka yakin dengan keputusan yang telah diambil itu.


__ADS_2