SASRA WURUK

SASRA WURUK
Di Tahan #8.


__ADS_3

"Bagaimana dengan pendapat kalian yg lain, Aku ingin mendengar nya,?" tanya Akuwu Watu Menak Kober.


Pertanyaan yang diajukan ke kepada para pembesar Pakuwan Kalindih yg lain membuat suasana menjadi hening ,pada umumnya mereka sulit untuk menentukan pendapat nya.


Beruntung di tempat itu masih ada Rsi Munggal, yg merupakan bagian dari salah seorang penasehat Akuwu dari Pakuwan Kalindih ini.


" Mohon ampun sebelumnya, Gusti Akuwu, kalau menurut hamba memang sudah sepantasnya kita menerima ajakan dari Prabhu Dewangga Sena ini untuk mau berdamai dan bergabung dengan mereka,.!" ungkap Rsi Munggal.


Ia juga menambahkan bahwa tampaknya di bawah kekuasaan dari Prabhu Dewangga Sena ini Kerajaan Medang Kemulan menjadi lebih maju lagi.


Ini terlihat dengan berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan oleh para kawula Medang Kemulan dalam membangun negerinya.


Akan tetapi pernyataan dari Rsi Munggal ini mendapatkan tantangan dari pernyataan Panglima Panantaran.


" Maaf sebelumnya Eyang Rsi,.kalau menurut pendapat ku, tidak sesuai dengan apa yg telah dijelaskan oleh Eyang Rsi tadi, Kalindih harus tegak berdiri sendiri tanpa harus bersandar kepada siapapun , apalagi terhadap Kerajaan Medang Kemulan..Kalindih ini sudah mampu membuat kerajaan sendiri menjadi tandingan dari kerajaan Medang Kemulan itu,.!" terang Panglima Panantaran.


Memang sejak menjadi panglima di Pakuwan Kalindih , Panglima Panantaran menjadi lebih berkuasa atas segala keputusan yg di ambil oleh sang Akuwu sendiri.


Bukan nya hal ini tidak disadari oleh Akuwu Watu Menak Kober , ia merasa bahwa salah seorang yg menjadi kepercayaan nya itu telah terlalu banyak turut campur dalam mengambil keputusan.


Maka Akuwu Watu Menak Kober segera berkata,.


" Jika memang demikian adanya, Apakah dirimu akan sanggup untuk melawan pasukan yang datang dari Kotaraja Medang Kemulan dalam jumlah yang sangat besar , dan diantara Senopati nya adalah Prabhu Dewangga Sena sendiri, apakah Kalindih ini dapat kita pertahankan,..?" tanya Akuwu Watu Menak Kober kepada panglima Panantaran.


Dan yang ditanya pun hanya mampu terdiam saja, memang jika hal yg dikatakan oleh junjungan nya ini benar adanya, maka akan terjadi kesulitan yg besar sekali dalam Pakuwan ini.


" Tentu kita akan dapat dengan mudah di gilas oleh pasukan dari Kotaraja itu, Gusti Akuwu,.!" jawab Patih Watu Demangkur.


" Benar, dengan tanpa sang Prabhu sendiri pun yg turun langsung, tentu kita akan dapat dengan mudahnya mereka kalahkan,.!" timpal Rsi Munggal.


" Untuk itulah diriku memerlukan pendapat kalian semua yg ada di sini , kelak jika telah di putuskan tidak akan ada lagi penyesalan di kemudian hari,.!" ungkap adik Prabhu Watu Menak Koncar ini.


Memang secara keseluruhan, Pakuwan Kalindih tidak mungkin mampu menahan serbuan dari Kotaraja Medang Kemulan jika saat ini menyerang, belum lagi tentu akan banyak jatuh korban di pihak mereka , baik menang , apalagi sampai kalah.


Hingga menjelang petang barulah Akuwu Watu Menak Kober memutuskan langkah yang akan diambilnya kali ini.


" Hehh,..dengan berat hati Aku akan memutuskan langkah kaki Pakuwan Kalindih dalam hal hubungan nya dengan Medang Kemulan,.!" katanya penuh wibawa.


Ia melanjutkan lagi ucapan nya dengan mengatakan bahwa Pakuwan Kalindih akan bergabung dengan Kotaraja Medang Kemulan d bawah kekuasaan dari Prabhu Dewangga Sena.


Bahkan dengan sangat meyakinkan lagi, kali ini Kotaraja Medang Kemulan tidak memberikan syarat apapun jua atas perdamaian ini selain seperti biasanya wilayah bawahan yang harus selalu menyediakan upeti tiap tahunnya, sekaligus sebagai seorang Akuwu yg harus hadir dalam Paseban Agung yg diadakan oleh Kotaraja.


Yg hadir dalam sidang Paseban kali ini pun menyambut hangat keputusan yang telah diambil oleh junjungan mereka tersebut.


Memang mereka lebih senang berada dalam keadaan saat ini yaitu tetap dalam keadaan aman, damai dan tenteram tanpa harus berperang lagi.


Sesungguhnya mereka sudah terlalu lelah untuk tetap berperang terus. Sehingga dengan adanya kata damai ini , kawula Kalindih tidak harus lagi berlinang airmata dengan kematian suami atau putranya yang gugur di Medan perang.Sejak masa pemerintahan Akuwu Watu Menak Koncar berkuasa sampai kepada Akuwu Watu Menak Kober saat ini , entah sudah berapa banyak nyawa yg melayang.


Akan hal nya dengan Panglima Panantaran yg tampak nya tidak puas dengan keputusan yang telah diambil itu , dirinya lebih banyak berdiam diri saja.Ia memang tidak mampu menolak lagi karena keputusan sudah di ambil oleh sang Akuwu.


Bahkan ia telah mendengar dari beberapa prajurit sandinya akan kekalahan Putri Dyah Wikamini yg berada di sebuah desa, hampir seluruh pengawal nya mengalami nasib yang mengenaskan termasuk juga dengan Mpu Kalong, hanya Putri Prabhu Watu Menak Koncar itu saja yg belum di ketahui nasibnya.


Tatkala Akuwu Watu Menak Kober menutup sidang paseban kali ini, dengan secepatnya Panglima muda asal Kalindih ini meninggalkan ruang sidang.


Patih Watu Demangkur dan Rsi Munggal dapat mengerti perasaan dari Panglima Panantaran ini, mereka berdua lantas bercakap-cakap mengenai hal tersebut.


" Apakah dirimu melihat bahwa Panglima Panantaran ini akan mbalela, Rsi,.?" tanya Patih Watu Demangkur.


" Hah, entahlah, nampaknya kemungkinan itu bisa saja terjadi,..!" sahut Rsi Munggal menanggapi pertanyaan dari Patih Watu Demangkur ini.


" Kemungkinan itu pasti ada , akan tetapi jika Panglima Panantaran dapat menggunakan nalar nya dengan baik tentu ia tidak akan bersikap seperti itu,.!" jawab Rsi Munggal.

__ADS_1


Sedangkan Akuwu Watu Menak Kober segera menemui adiknya Ratu Ayu Tunggarani dan Pangeran Turangga Sena.


" Rayyi Tunggarani, kakang telah memutuskan untuk segera mengakui kekuasaan Prabhu Dewangga Sena di Medang Kemulan , kami akan tunduk dan patuh terhadap nya," jelas Akuwu Watu Menak Kober.


Ratu Ayu Tunggarani nampak sangat senang sekali, dari sudut matanya terlihat mengembun airmata, sambil agak terisak ia berkata,


" Syukurlah Kangmas Akuwu, kami berdua sangat senang sekali mendengar nya, bukan begitu Turangga Sena,.!" ucap Ratu Ayu Tunggarani sambil melirik anaknya.


" Benar ibunda Ratu, jika Pamanda Akuwu dapat melihat keadaan dari permaisuri Pamanda Prabhu Watu Menak Koncar di Medang Kemulan , tentu ia tidak akan ragu mengambil keputusan ini, ya ,..Ibunda Ratu ,.!" balas Pangeran Turangga Sena.


" Yeahh, memang sangat benar yg kau katakan itu, biarlah nanti Kangmas Akuwu dapat melihat keadaan Kangmbok Ratu dan Putri Dyah Minak Sriniti di istana , mungkin suatu saat nanti,..!" sahut Ratu Ayu Tunggarani.


Dan keluarga dari Pakuwan Kalindih ini pun berpelukan hangat, karena apa yg diharapkan oleh dua utusan dari Kotaraja Medang Kemulan itu, mereka berhasil menunaikan tugasnya dalam misi perdamaian dengan Kalindih ini.


" Jadi kapan kalian berdua akan kembali ke Kotaraja,..?" tanya Akuwu Watu Menak Kober.


" Secepatnya , Kangmas Akuwu, khabar baik ini harus segera di sampaikan kepada Anakmas Prabhu Dewangga Sena,..!" jawab Ratu Ayu Tunggarani.


Dan akhirnya pada malam itu di putuskan bahwa kedua utusan dari Kotaraja Medang Kemulan ini akan kembali ke Kotaraja pada dua hari ke depan.


*************


Di lain tempat , Prabhu Dewangga Sena yg akan kembali ke Kotaraja Medang Kemulan setelah berhasil membebaskan adik dan ibunya, segera bergerak cepat .


Saat dalam perjalanan ia berfikir untuk singgah terlebih dahulu di Kepaneon Langgrah.


Memang sebaiknya aku harus singgah dahulu di Langgrah, begitulah berkata dalam hatinya Raja muda dari Medang Kemulan ini.


Memang tidak lah terlalu lama ia telah sampai ke tempat tujuan, yaitu Langgrah.


Di sana ia bertemu dengan para prajurit Medang Kemulan yg bertugas menjaga Pangeran Turangga Sena dan Ratu Ayu Tunggarani.


" Ampunkan kami Gusti Prabhu, apakah yg harus kami lakukan segera,..?" tanya Bekel pemimpin prajurit itu kepada sang Prabhu.


" Berapa jumlah pengawal Kepaneon Langgrah ini,.Panewu,..?" tanya nya kepada Panewu Langgrah.


" Cukup banyak Gusti Prabhu,..!" sahut Panewu Langgrah sambil menjura hormat.


" Kalau demikian,.kirimkanlah sekira tiga puluh orang pengawal Langgrah untuk menemani mereka ke perbatasan Pakuwan Kalindih , tunggu kehadiran Dimas Turangga Sena disana, dan jika ada sesuatu yg sangat penting terjadi cepat laporkan kemari,.!" terang Prabhu Dewangga Sena.


Penguasa Kerajaan Medang Kemulan ini ingin menjaga keselamatan dari kedua kerabatnya itu tidak sesuatu yg tidak diinginkan.


Seperti yg telah terjadi beberapa waktu lalu, sehingga kali ini ia meminta kepada Panewu Langgrah agar bersedia menyiapkan pengawalan terhadap keduanya.


" Aku akan tetap berada di Langgrah atau di Cempogo sampai mengetahui keadaan keduanya ,jadi segeralah lakukan perintahku ini,.!" kata Prabhu Dewangga Sena lagi.


Dan tidak menunggu lama Panewu Langgrah pun menyiapkan para pengawal nya yg akan menemani para prajurit Medang Kemulan ini ke perbatasan Pakuwan Kalindih.


Dan pada hari itu juga mereka berangkat dengan di temani oleh lima prajurit terpilih dari Medang Kemulan menuju ke perbatasan .


Prabhu Dewangga Sena sendiri pun segera mengatakan kepada Panewu Langgrah dalam hal janji nya kepada mereka.


" Paman Panewu Langgrah, akan halnya dengan janjiku, nanti tepat pada Paseban Agung , Aku akan mengumumkan nya, bahwa dua Kepaneon ini akan dijadikan sebagai Pakuwan, kalian dapat bersatu , atau pun berdiri sendiri, semua nya terserah kepada kalian berdua,..!" ungkap Prabhu Dewangga Sena.


Kepala Panewu Langgrah menjadi tertunduk, ia memang sangat berharap akan hal itu, karena memang wilayah keduanya cukup luas, dan masih cukup jauh dari Kotaraja Medang Kemulan sendiri, sehingga jika mereka dapat pemimpin setingkat Akuwu tentu akan dapat menjadikan daerahnya ini semakin maju.


" Kami sangat berterimakasih , Gusti Prabhu,.nanti masalah ini akan kami bicarakan dengan kakang Cempogo,.!" sahut Panewu Langgrah.


Beberapa lama keduanya berbincang, baru kemudian sang Prabhu beristrahat pada malam itu di rumah Panewu Langgrah.


Saat pada esok harinya, Prabhu Dewangga Sena bergerak menuju Kepaneon Cempogo, ada keinginan nya untuk menemui Buyut Lohsari.

__ADS_1


***********


Di sebuah goa di puncak Gunung Chandra Muka sebelah barat, terlihat seorang perempuan tua yg menggunakan sebuah tongkat tengah menghadapi sesosok tubuh perempuan yang masih pingsan.


Heh, sungguh tega orang melakukan ini kepada mu cah ayu, berkata perempuan itu dalam hati.


Ia kemudian mengurut beberapa bagian tubuh dari perempuan tersebut.


Sudah selama dua hari dirimu pingsan, katanya lagi.


Sesaat kemudian perempuan tua itu melesat keluar dari dalam goa tersebut dengan cepatnya, ada sesuatu yg ingin ia cari guna mengobati perempuan yang pingsan tersebut.


Tidak terlalu lama ia pun telah kembali dengan membawa beberapa dedaunan.


Ketika ia telah masuk ke dalam goa,.


" Ahhh, dimana aku ini,..!" seru perempuan yang pingsan tadi.


Ternyata ia sudah siuman, berkata perempuan tua itu dalam hatinya.


Segera di letakkan nya barang barang bawaan nya itu.


" Kau sudah sadar cah ayu,..?" tanya perempuan tua itu mendekati nya.


" Si, si, si..sia ,..pa kah kau ini , orang tua ,..?" tanya perempuan yang terbaring ini.


Ia berusaha untuk bangkit dari tempat tidur nya tersebut.


" Aku adalah Wintira , orang orang disini mengenaliku dengan sebutan Nini Wintira, lalu siapa dirimu ini Cah ayu,.?" tanya perempuan tua yg mengaku bernama Nini Wintira ini.


" Ahh, a,..ku,..adalah Wikamini,..!" jawab perempuan yang terbaring lemah .


" Wikamini, suatu nama yg bagus sesuai dengan orang nya,.. siapakah orang yang telah melakukan hal ini kepadamu, Cah Ayu,..?" tanya Nini Wintira.


Dengan di iringi isak tangis, putri Dyah Wikamini segera menceritakan tentang apa yang telah terjadi menimpa nya itu.


Dari kematian suami dan Ramanda nya, hingga ia di perkosa oleh si Tiga Golok setan dari Gunung Merut tidak ada yg terlepas, semuanya ia ceritakan sambil berderai airmata.


" Jadi dirimu ini adalah Putri dari Prabhu Watu Menak Koncar dan sedang berseteru dengan cucu dari Prabhu Wisnu Dharma,..?" tanya Nini Wintira.


" Benar , Nini, Aku adalah Putri Prabhu Watu Menak Koncar,..!" sahut Putri Dyah Wikamini.


Putri Prabhu Watu Menak Koncar ini pun menanyakan kepada perempuan tua itu dimana ia menemukan dirinya.


Oleh Nini Wintira di jawab bahwa saat ia tengah berjalan jalan tiba tiba saja dirinya melihat sesuatu yg jatuh dari arah tebing jurang yang cukup terjal arah sebelah timur Gunung Chandra Muka ini.


" Lalu dirimu aku bawa kemari,.Cah Ayu,.!" jelas Nini Wintira lagi.


Tampak raut wajah putri Dyah Wikamini menjadi sedih saat ia mengenang kembali kejadian terakhir kalinya yg menimpa dirinya itu.


" Aku tidak dapat menerima perlakuan mereka kepadaku, Nini , meski diriku membenci Prabhu Dewangga Sena tetapi dendamku terhadap ketiga murid Jabonarang itu akan ku bawa mati, aku akan menuntut balas ,!" terang Putri Dyah Wikamini.


Nampaknya dendam kesumat telah bersarang dalam dadanya kepada si Tiga Golok setan dari Gunung Merut.


" Mengapa mereka sampai hati melakukan hal tersebut, Cah Ayu,. bukankah mereka adalah bagian dari pengikut ramanda mu sendiri,.?" tanya Nini Wintira kepada putri Dyah Wikamini.


Sambil menatap langit-langit goa tersebut, Putri Dyah Wikamini sendiri mengatakan tidak mengerti apa yang menyebabkan mereka sampai hati melakukan hal tersebut kepadanya, yg jelas ketiganya sudah tidak menganggap nya lagi, dan untuk itulah ia harus melenyapkan mereka.


" Namun sebelum diriku mengatakan sesuatu kepadamu Cah Ayu,. apakah dirimu telah pernah berhubungan dengan seseorang sebelum di perkosa oleh si Tiga Golok setan dari Gunung Merut itu,..?" tanya Nini Wintira.


" Hehh,..!"

__ADS_1


Sungguh terkejut putri Prabhu Watu Menak Koncar ini mendapatkan pertanyaan tersebut, ia tidak mengerti ke arah mana ujung pertanyaan dari perempuan tua ini.


__ADS_2