
Mendengar ucapan dari pangeran Dewangga Sena ini keduanya tampak tengah kebingungan, Pangeran Dewangga Sena langsung menyambung ucapannya lagi.
" Maaf sebelumnya Eyang Buyut,.kedatangan ku bukan nya ingin mempersulit kalian berdua, namun ini semua murni hanya keinginan diri ku yg ingin mempersunting Kintan Suri sebagai pendamping hidupku,..!" terang Pangeran Dewangga Sena.
Kintan Suri mengangkat wajah nya yg sedari tadi di tekuk nya menatap lantai, ia memberanikan diri menatap Pangeran Dewangga Sena seraya berujar,..
" Bukankah Gusti Pangeran telah memiliki seorang istri, apakah keinginan Gusti Pangeran ini tidak akan mempersulit diri ku dan juga Putri Dewandhani Maheswari yg telah menjadi istrimu itu,..Pangeran,..?" tanya nya kepada Pangeran Dewangga Sena.
Kini Pangeran Dewangga Sena lah yg memalingkan wajahnya , ia menatap jauh dalam kegelapan malam yg telah menyelubungi desa Lohsari. Sambil menarik nafas nya dalam dalam, Putra Prabhu Kreshna Yuda menjawab pertanyaan dari Kintan Suri ini.
" Suri, pernikahan kakang dengan diajeng Maheswari itu adalah karena perjodohan yg di lakukan oleh Pamanda Akuwu Manik Rangga sebagai syarat kakang dapat membawa pasukan dan prajurit pakuwan Pamintihan menyerang Kotaraja Medang Kemulan itu, dan lagi pun, Diajeng Maheswari telah mengetahui hubungan kakang dengan mu, sepertinya ia tidak akan mempermasalahkan nya, untuk itu kuharap dirimu kelak mau tinggal di istana Medang Kemulan bersama ku, Suri,..!" jelas Pangeran Dewangga Sena.
" Aku sangat mencintaimu, dan berharap dapat hidup bersamamu selama nya, Suri,..!" ucap nya lagi.
" Ahhh,..!"
Terdengar lah suara dari Kintan Suri, sesungguhnya cucu buyut Lohsari ini sangat bingung dan kesulitan sekali untuk memutuskan langkah apa sebaiknya yg akan di ambilnya , pada satu sisi ia memang sangat menyukai pemuda yang berparas tampan ini ditambah lagi ia adalah calon seorang Raja yg sebentar lagi akan di wisuda serta berkuasa atas Kerajaan Medang Kemulan inj, dan di lain pihak ia tidak ingin di sebut sebagai perebut suami orang , karena pemuda itu telah beristri.
Sungguh sebuah keputusan yang sangat berat untuk diambilnya.
Melihat hal tersebut, Buyut Lohsari langsung berkata,..
" Gusti Pangeran,..kami akan menerima keputusan ini, Cucuku Kintan Suri tentu akan mau menerima pinangan dari Gusti Pangeran ini, namun satu pinta ku juga termasuk dengan Kintan Suri sendiri,..!" ucap Buyut Lohsari .
Namun ia belum mengatakan apa yg minta nya ini hingga membuat penasaran Pangeran Dewangga Sena.
" Apakah itu Eyang Buyut, lekaslah katakan,..?" tanya Pangeran Dewangga Sena penasaran.
Buyut Lohsari masih memandangi cucunya Kintan Suri yg kembali menekuk wajahnya, ia merasa bahwa keputusan nya ini memang dapat di terima nya.
" Begini Gusti Pangeran, Kintan Suri bersedia untuk menjadi istrimu asalkan ia tetap dapat tinggal disini di desa Lohsari ini, Gusti,.!" jawab Buyut Lohsari .
Pangeran Dewangga Sena agak kaget mendapati jawaban tersebut, namun ia pun segera mengiyakan.
" Baiklah Eyang Buyut dan adi Suri, aku mau menerima syarat tersebut , walaupun tidak ada halangan nya jika kelak dirimu bersedia untuk tinggal di istana,..!" ungkap Pangeran Dewangga Sena.
Tampak kepala Kintan Suri itu mengangguk perlahan, ia merasa telah dapat keluar dari permasalahan berat yang tengah di hadapinya ini, cucu buyut Lohsari itu merasa bersyukur memiliki orang tua se bijaksana Eyang nya ini.
" Jika memang demikian hal nya, sebaiknyalah diriku harus segera kembali ke Kotaraja, Aku tidak ingin para pemimpin disana cemas dengan ketidakhadiranku, untuk itu aku pamit Eyang Buyut,..!" ucap Pangeran Dewangga Sena.
Dan ucapan nya ini mengagetkan keduanya, bukankah ia baru saja tiba disini, mengapa ingin segera kembali lagi, itulah yang ada dalam benak Buyut Lohsari dan cucunya itu.
" Apakah Gusti Pangeran tidak akan menginap di Lohsari ini,..?" tanya Buyut Lohsari.
Sambil mengangguk, Pangeran Dewangga Sena berkata,.
" Tidak Eyang Buyut, karena aku telah berjanji untuk kembali pada esok hari,..Aku tidak ingin mereka cemas dengan ketidak hadiranku di istana Medang Kemulan ,..jadi untuk itu Aku harus segera kembali,..!" terang Pangeran Dewangga Sena.
Ia pun bangkit dari tempat duduk nya, selanjutnya segera melangkah turun dari pendapa rumah Buyut Lohsari itu.
Langkahnya ini diikuti oleh Kintan Suri dari belakang.
Ketika keduanya berada tepat pada halaman depan rumah tersebut, Pangeran Dewangga Sena menghentikan langkah kaki nya dan segera menatap Kintan Suri .
Ia meraih tangan gadis cantik ini dengan mengucapkan sebuah kata-kata,..
" Suri,..kakang sangat berharap kelak dirimu mau menemani ku dalam mengarungi hidup ini di istana Kerajaan Medang Kemulan,..!" ucapnya.
Kintan Suri masih menundukkan wajahnya ketika Pangeran Dewangga meraih dagunya dan menatap dirinya , sedangkan ia hanya mampu berpaling sambil menjawab,..
" Gusti Pangeran, sungguh hati perempuan mana yang tidak akan senang tinggal hidup di dalam sebuah istana, akan tetapi diriku tidak ingin dengan kehadiranku dalam istana akan membuat yg lain merasa tersisih juga membuat ia merasa sakit hati,..!" jawab Kintan Suri lirih.
" Maksudmu Diajeng Maheswari,..?" tanya Pangeran Dewangga Sena .
Kintan Suri menganggukkan kepalanya.
" Mungkin dirimu belum terlalu mengenal dengan diajeng Maheswari , ia amat sangat baik, dan tidak terlalu banyak menuntut,..kelak jika dirimu telah hadir dalam istana akan dapat mengetahui siapa sebenarnya diajeng Maheswari itu,..!" jelas Pangeran Dewangga Sena.
" Mudah mudahan,.Gusti Pangeran ,..!" sahut Kintan Suri.
" Sebelum Kakang kembali, ada sesuatu yg ingin kukatakan kepadamu Suri,..!" ujar Pangeran Dewangga Sena.
" Apa itu Gusti Pangeran,..?" tanya cucu buyut Lohsari ini.
" Jangan lah dirimu memanggil Gusti Pangeran kepadaku, panggil saja dengan sebutan Kakang, aku rindu mendengar nya ,.setidaknya jika kita sedang berduaan atau tidak berada dalam istana,..!" jelas Pangeran Dewangga Sena.
__ADS_1
" Ahh, sungguh deksura rasanya jika hamba harus melakukan hal tersebut Gusti Pangeran, bukankah dirimu adalah junjungan hamba,...!" ucap Kintan Suri.
" Tidak Suri,..dirimu dapat menyebutnya terlebih ketika tidak sedang berada di dalam istana, kita dapat bebas , tidak akan melanggar unggah ungguh keraton, dan ini pun memang permintaan ku,..!" terang Pangeran Dewangga Sena.
" Baiklah,..Gusti Pangeran,..ehh,.. Kakang Dewangga Sena,..hamba akan melakukan nya, .!" ucap Kintan Suri.
Meskipun ia merasa risih dengan sebutan tersebut walaupun dahulu keduanya sering bersama tanpa ada batasan, namun kini tampaknya semua berbeda setelah Pangeran Dewangga Sena di ketahui adalah seorang bangsawan dan sebentar lagi akan jadi penguasa Kerajaan Medang Kemulan ini.Sangat berbeda terasa.
Tetapi ketika Pangeran Dewangga Sena memaksanya , terasa ucapan itu lebih enak kedengarannya termasuk di telinga Pangeran Dewangga Sena.
" Nah begini kan lebih enak kedengarannya,..tidak ada batasan antara diriku dan dirimu Suri,.. kakang pamit kembali , dan akan menunggumu di istana sepekan lagi,..!" ucap Pangeran Dewangga Sena.
" Selamat jalan Kakang Dewangga,.mudah mudahan kami dapat memenuhi permintaan mu itu,..!" sahut Kintan Suri.
Ia pun melepaskan genggaman tangan Putra Prabhu Kreshna Yuda itu dan membiarkan nya pergi meninggalkan nya.
Terasa ada yang hilang di hati gadis itu tatkala sudah tidak melihat tubuh Pangeran Dewangga Sena yg hilang di telan kegelapan malam.
" Sudahlah,..mari kita masuk,..malam ini terasa dingin,..!" ucap Buyut Lohsari sambil menepuk pundak cucunya itu.
Kintan Suri tampak kaget dan mengikuti langkah eyangnya masuk ke dalam rumah.
Sementara itu Pangeran Dewangga Sena segera melesat dengan menunggangi Macan Putih yg selalu bersamanya.
Malam itu juga ia meninggalkan desa Lohsari balik ke Kotaraja Medang Kemulan.
Dalam perjalanan nya ini ia tsmpaknya sedang berbahagia setelah mendengar kesedian dari Kintan Suri untuk datang pada saat wisuda penobatan dirinya menjadi Raja di Medang Kemulan.
Malam hingga menjelang fajar menjelang , calon penguasa Medang Kemulan ini terus bergerak dengan cepatnya hingga ia tiba pada sebuah tempat yang cukup sering terjadi pencegatan oleh para begal dan rampok.
Pendengaran yang sangat tajam dari sang pangeran segera membuat nya memperlambat langkah Macan Putih teman nya ini.
" Putih,.. sepetinya ada yang tengah bertarung,..sebaiknya kita melihatnya,..!" bisik Pangeran Dewangga Sena kepada tunggangan nya ini.
Seolah mengerti dengan ucapan Pangeran Dewangga Sena , Macan Putih itu pun langsung memperlambat larinya, segeralah Pangeran Dewangga Sena turun dari punggung nya.
Ia berusaha mempertajam pendengaran nya karena tadi mendengar ada nya benturan senjata yang beradu di sertai dengan teriakan.
Sepertinya arah sana, berkata dalam hati Pangeran Dewangga Sena , ia pun segera melesat ke tempat tersebut dan diikuti oleh si Putih.
Siapakah mereka ini, apakah para pedagang yang akan ke Kotaraja , tanya Pangeran dalam hati, ia mendekati tempat pertarungan itu.
Dalam keremangan pagi, Pangeran Dewangga Sena dapat melihat betapa pemuda yang tengah di keroyok itu berusaha terus melindungi perempuan paruh baya itu.
" Ha, ha, ha, segeralah menyerah kau anak muda, sebelum pedangku ini menebas lehermu, serahkan semua barang barang bawaan mu itu termasuk juga perempuan ini,..!" teriak salah seorang pengeroyok itu.
" Hehh, langkahi dulu mayatku baru kau bisa mendapatkan semua keinginan mu itu,..*******,..hiyyah,..!" teriak pemuda itu.
Ia kembali melesat menyerang ke empat orang yg tengah mengeroyoknya ini.
Sebuah pedang di tangannya bergerak cepat menebas ke arah orang yang tadi berbicara itu.
Luput memang serangan nya ini, tetapi dengan cepat pula pemuda itu mengarahkan serangan nya kepada orang yang ada di sebelah kirinya,.
" Heahh,..!"
" Traaangg,..!"
" Hehh,..!"
Orang yang di serangnya ini menangkis dengan sebuah senjata berupa trisula pendek, benturan pun terjadi, dan salah seorang pengeroyok ini sangat terkejut mendapati tenaga lawan lebih besar darinya, tubuhnya tampak terdorong mundur beberapa tindak.
Namun sebuah serangan datang dari arah kiri pemuda itu,..guna mencegah ia mampu mengalahkan lawan nya.
" Heahh,..!"
" Triiing,..!"
Pemuda ini memapasi serangan yg datang dari arah kirinya itu, dan ia terpaksa melayani serangan tersebut serta membiarkan lawan yang tadi hampir dapat di kalahkannya.
Serangan dari keempat orang itu semakin gencar saat mereka berusaha untuk mendesak si pemuda.
Memang menjadi kesulitan tersendiri tsmpaknya bagi pemuda itu yg harus melindungi perempuan paruh baya , ia tidak bisa bergerak leluasa untuk menyerang lawan karena harus berada dekat dengan perempuan itu.
Kelemahan ini tampaknya di ketahui oleh empat orang yg tengah mengeroyok nya, salah seorang segera meninggalkan dirinya dan berusaha mendekati perempuan tersebut.
__ADS_1
Pada suatu kesempatan , ketika pemuda ini tengah di sibukkan oleh serangan ketiga lawan nya, pemimpin dari keempat orang ini berhasil mendekati perempuan tersebut dan,..
" Menyerahlah, atau perempuan ini akan mati,..!" serunya.
Ia memalangkan pedangnya di leher perempuan itu.
Pemuda yang tengah bertarung ini tampak kebingungan di buatnya, ia menghentikan serangannya sambil melihat ke arah orang yang bicara itu.
" Lekas ,..buang senjata mu itu, kalau tidak, perempuan ini akan mati, Hehh !" seru orang itu lagi.
Sambil ia menekan lebih keras lagi pedangnya.
" Bb, bbaik,.. aku akan menyerah,..!" ucap pemuda itu.
Ia menurunkan pedangnya dan hendak melemparkan nya,. sepetinya dirinya memang akan menyerah.
Namun tiba-tiba,..
" Thakk,!"..
Sebuah batu kecil melayang dan mengenai leher orang yang tengah menyandera perempuan itu, tubuh nya jatuh keatas tanah , dan perempuan paruh baya ini terbebas darinya, ia segera berlari menjauhi tempat itu.
Melihat kejadian yg begitu cepat nya, untuk tiga teman orang yang telah terjatuh itu tidak dapat berbuat apa-apa, sehingga,..
" Heaaahh,..!"
" Dhieghh,.!"
" Dhieghh,..".
" Deskhh,..!".
Pemuda itu melesat dan langsung menghajar ketiganya, sehingga tiga orang mendapatkan hantaman di dada mereka seraya menjungkalkan nya.
Tidak sampai di situ, Pemuda yg masih sangat muda langsung meneruskan serangan nya, tampaknya ia tidak akan memberi ampun lagi, pedangnya bergerak cepat.
" Tunggu,..!"
Seru seseorang yg keluar dari persembunyian,nya ia berusaha untuk menghentikan serangan pemuda itu.
Dan memang pemuda ini tidak jadi melanjutkan serangan nya lagi , ia menoleh ke belakangnya untuk mengetahui siapa kah yang telah menghentikan nya ini.
Tampaklah sosok seorang pemuda yang masih berusia muda dengan wajah sangat tampan, namun pemuda ini merasa seperti ia telah mellihatnya sendiri.
" Mengapa saudara ini menghentikan ku,..?" tanya pemuda itu.
" Sudahlah , tidak baik membunuh orang yang sudah tidak berdaya, biarkan saja mereka pergi,..!" ucap orang yang baru datang .
Ia tiada lain adalah Pangeran Dewangga Sena, calon penguasa Medang Kemulan itu berusaha menghentikan sepak terjang pemuda ini agar tidak jadi membunuh tiga orang yang sedang jatuh .
" Mereka akan sangat berbahaya jika di biarkan bebas, nanti mereka akan melakukan nya lagi,..!" gerutu pemuda itu.
Memang saat ini yg tertinggal hanyalah pemimpin dari kawanan rampok itu saja yg tertotok akibat serangan yg di lepaskan oleh Pangeran Dewangga Sena.
Putra Prabhu Kreshna Yuda ini kemudian melepaskan totokan dari orang tersebut.
" Pergilah dan jangan jadi rampok lagi, berusaha untuk bekerja secara baik-baik, jangan jadi seorang perampok, pergilah,..!" seru Pangeran Dewangga Sena.
Ia menepuk pundak orang tersebut.
" Bbb, ba..baik,..terima kasih tuan,..!" ucap nya sambil menjura hormat kepada Pangeran Dewangga Sena.
Langsung saja orang itu lari meninggalkan tempat tersebut, kini tinggallah tiga orang itu saja.
" Mengaoa saudara lepaskan orang itu,.akan sangat membahayakan nantinya,..!" kata Pemuda itu agak geram.
" Ahh, kan masih ada para prajurit Medang Kemulan yg akan menangkap mereka jika kelak mereka melakukan lagi,..oh iya siapakah saudara ini,..?" tanya Pangeran Dewangga Sena.
Dan perempuan paruh baya yang berada dekat dengan si pemuda itu segera memberi sebuah isyarat agar tidak mengatakan apa-apa kepada orang yang ada di hadapan nya ini.
" Kami adalah dua orang yg ingin melihat lihat keadaan dari Kotaraja Medang Kemulan,..!" jawab pemuda itu.
" Apakah kalian ini bukan seorang pedagang yang akan mejajakan dagangannya ke Kotaraja,..?" tanya Pangeran Dewangga Sena.
" Tidak tuan, kami hanya dua orang yg berasal dari gunung yg ingin melihat keadaan Kotaraja Medang Kemulan ,..!" sahut perempuan paruh baya ini.
__ADS_1