SASRA WURUK

SASRA WURUK
Gugurnya Prabhu Watu Menak Koncar #3


__ADS_3

Gegap gempita lah para prajurit dari pakuwan Pamintihan meneriakkan atas gugurnya Panglima Raden Naruttala.


Semangat juang mereka semakin tinggi dan di ini berbanding terbalik dengan pasukan Kerajaan Medang Kemulan sendiri. nyali mereka semakin menciut sebesar menir.


Kabar gugurnya Panglima Raden Naruttala ini langsung terdengar oleh Prabhu Watu Menak Koncar dan Putri nya juga merupakan istri dari Raden Naruttala.


" Ramanda Prabhu , izinkanlah hamba turun ke medan perang guna membalaskan dendam Kangmas Naruttala,.!" ucap Putri Dyah Wikamini.


" Tidak Putri ku, biarlah Ramanda mu ini yg akan turun sendiri memimpin pasukan Medang Kemulan ini,..selain memang dirikulah yg diincar oleh putra Prabhu Kreshna Yuda itu, juga aku harus dapat menaikkan semangat juang keseluruhan prajurit Medang Kemulan ini,.!" jawab Prabhu Watu Menak Koncar.


" Tidak Ramanda Prabhu, biarlah Hamba saja, hamba ingin kepala orang yg telah membunuh Kangmas Naruttala itu , izinkanlah hamba yang turun ke gelanggang peperangan, biarlah Ramanda dan keluarga yg lain mengungsi dan pergi dari istana ini ..!" ucap Putri Dyah Wikamini lagi.


" Ramanda mu ini bukan seorang pengecut , Apapun itu , akulah yg akan turun, tidak ada yg lain, karena dahulu pun , Aku yg telah membunuh Prabhu Kreshna Yuda dan kini aku pulalah yg akan melakukan nya lagi,..!" sahut Prabhu Watu Menak Koncar.


Putri Dyah Wikamini terdiam, ia tidak mampu berkata apa apa lagi. Keputusan telah diambil oleh Ramanda nya yg merupakan Raja dari Medang Kemulan saat ini. Adalah sabda pandita ratu yg wajib untuk di patuhi.


Bahkan ia diminta oleh Prabhu Watu Menak Koncar untuk segera meninggalkan istana Medang Kemulan ini.


" Berangkatlah Wikamini,.ajak adik-adikmu, kelak jika keadaan sudah aman kembali lagi kemari, jika Ramanda mu berhasil memenangkan peperangan ini , dan jika sebaliknya, balaskan lah dendam Ramanda mu ini,.anakku,..!" terdengarlah kata kata dari Prabhu Watu Menak Koncar.


" Baiklah, Ramanda Prabhu,.jika memang demikian , hamba akan melakukan nya, meskipun niat hamba adalah memenggal kepala Senopati Garega itu,..!" kata Putri Dyah Wikamini.


Prabhu Watu Menak Koncar tidak lagi memperdulikan ucapan putri nya ini, ia langsung masuk ke dalam biliknya.


Malam itu juga Prabhu Watu Menak Koncar mempersiapkan diri. Ia memakai baju kebesaran seorang Raja yg akan turun ke medan laga.


Bahkan kali ini lengkap dengan mahkota kerajaan dari Medang Kemulan ini.


Ia mengambil sebuah pedang yg biasa ia gunakan jika berperang. Pedang yang cukup besar untuk seukuran manusia biasa.


Dengan langkah mantap ia keluar lagi dari dalam biliknya itu. Dan dengan diiringi oleh dua orang pengawalnya yg bersenjatakan tombak, Prabhu Watu Menak Koncar turun ke halaman istana dan selanjutnya keluar dari pintu gerbang benteng keraton itu.


Ia menghubungi Patih Bamalurung dan Rakryan Mahamantri Kalasan yg berjaga di sekitar benteng keraton ini.


Agak lama juga , barulah Prabhu Watu Menak Koncar mendapatkan berita bahwa Patih Bamalurung dan Rakryan Mahamantri Kalasan telah bergabung di induk pasukan yang telah di tinggalkan oleh Panglima Raden Naruttala yg gugur itu.


Selain memang keadaan pasukan yang di pimpin oleh Patih Bamalurung dan Rakryan Mahamantri Kalasan telah kacau, mereka juga harus mengendalikan seluruh prajurit Medang Kemulan yg tidak memiliki senopati Agung lagi.


" Prajurit,.amankan jalan menuju induk pasukan,..!" ucap Prabhu Watu Menak Koncar kepada prajurit penghubung itu.


" Sendika Gusti Prabhu,..!" jawab Prajurit itu.


Segeralah prajurit yang bertugas sebagai pengawal keraton ini melaksanakan perintah dari Junjungan nya itu. Ia memang berada di barisan dari pasukan yang di pimpin oleh Patih Bamalurung.


Mendengar sang Prabhu Watu Menak Koncar akan turun sendiri ke gelanggang peperangan, hati para pembesar kerajaan menyala kembali.


Disebabkan tidak adanya pemimpin yang mampu memberikan arahan yang dapat di patuhi oleh para prajurit Medang Kemulan ini sepeninggal Panglima Raden Naruttala.


Sehingga tekanan yang di berikan oleh Prajurit Pakuwan Pamintihan ini semakin berat dan sulit untuk di tandingi.


Setitik air sejuk terasa di dada para prajurit Medang Kemulan dengan hadirnya Prabhu Watu Menak Koncar yg merupakan rajanya sendiri.


Berbeda dengan para prajurit yg di pimpin oleh Pangeran Dewangga Sena, meskipun mereka mendengar ucapan bahwa Prabhu Watu Menak Koncar akan turun sendiri ke medan laga.Semangat mereka semakin menyala ketika melihat Junjungan mereka yaitu Pangeran Dewangga Sena berhasil mendesak Jabonarang yg merupakan lawannya .


Memang saat ini , kedudukan Pangeran Dewangga Sena berada diatas angin setelah hampir semua ilmu dari penguasa Gunung Merut itu di keluarkan nya tidak juga membuahkan hasil.


Pangeran Dewangga Sena semakin garang dan semakin trengginas sekali ketika ia telah merambah pada ilmu puncaknya dari ilmu pukulan telapak Dewa yg di milikinya.


Dentuman dan ledakan dari pukulan nya ini membuat Jabonarang keteteran,. beberapa kali penguasa Gunung Merut itu harus menghindar dan sesekali membalasnya dengan melontarkan beberapa tali temali yg berwarna merah yg juga mampu meledak dan suaranya memekakkan telinga.


Tetapi serangan nya ini tidak terlalu berpengaruh pada Pangeran Dewangga Sena yg telah sampai pada puncak ilmu Telapak dewanya.


Sambil melesat cepat dan membubung tinggi ke udara, ia berteriak,..

__ADS_1


" Aji Telapak Dewa,..heahh,..!


" Dhumbhhh,..!"


" Bleghuaaarr..!"


Jabonarang yg menjadi incaran dari ajian telapak Dewa ini masih mampu menghindari nya dengan melompat mundur dan untuk selanjutnya ia pun melesat ke udara.


Satu hal yang menjadi kesalahan dari perhitungan penguasa gunung Merut itu, ketika tubuhnya tengah membubung di udara, ia menjadi sasaran yg empuk dari Ajian Telapak Dewa yg di miliki oleh Pangeran Dewangga Sena ini.


Dalam posisi mengambang di udara putra Prabhu Kreshna Yuda ini kembali melontarkan ilmunya, tak ayal tubuh dari Jabonarang yg juga dalam keadaan di udara itu terkena dengan telak dari hantaman Ajian Pangeran Dewangga Sena itu.


" Aaaakhhhh,..!"


Terdengarlah teriakan yang menyayat hati dengan jatuhnya tubuh dari Jabonarang tersebut.


Tubuh orang tua yg cukup sepuh itu hitam seperti hangus terbakar sangat sulit untuk mengenali nya lagi.


" Guruuuu,..!"


Teriak ketiga murid nya yang tengah bertarung dengan Patih Watu Spuh Gada dan Ki Gambong.


Mereka berlarian menuju tubuh gurunya yang terlempar dari gelanggang pertarungan . Setelah melihat tubuh gurunya hangus ter bakar dan sudah tidak bernyawa lagi, Tiga Golok Setan ini menatap nyalang ke arah Pangeran Dewangga Sena yg berdiri tegak tanpa bergerak sedikit pun.


" Kalian mau menuntut balas,..silahkan,..majulah,..!" tantang Pangeran Dewangga Sena.


Matanya tidak lepas dari ketiga orang yg pernah menjadi lawannya ini.


Dan saat itu menjelang pagi, sehingga dalam keremangan hari, pangeran Dewangga Sena melihat sikap keragu -raguan dari ketiga orang murid Jabonarang ini.


Malah ketiganya saling berbisik.


" Kang.. sebaiknya kita tinggalkan saja tempat ini,.percuma kita akan melawanya , kita pasti akan kalah,..!" ucap Wardipa kepada Kinanja.


" Aku sependapat Kakang,.sebaiknya kita tinggalkan Medang Kemulan ini , kita kembali ke merut dan berusaha meningkatkan kemampuan kita untuk menantang nya lagi,..!" jelas Wandiga.


" Baiklah kalau begitu, kita sepakat meninggalkan tempat ini untuk selanjutnya nanti pada suatu hari kita balaskan dendam guru,..!" ucap Kinanja.


Ketiganya menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Ketiga murid dari Jabonarang ini kemudian mengangkat tubuh dari penguasa Gunung Merut ini dan membawa nya ke garis belakang peperangan dan selanjutnya ketiganya meninggalkan Kotaraja Medang Kemulan.


Mereka meyakini bahwa peperangan kali ini akan di menangkan oleh pihak lawan setelah gugurnya dua pilar utama dari Kerajaan Medang Kemulan itu yakni Panglima Raden Naruttala dan guru mereka Jabonarang.


Demikian pula di pihak dari Pangeran Dewangga Sena. Setelah tewasnya Jabonarang , hati mereka menjadi senang sekali, sebab orang tua yg cukup sepuh itu entah sudah beberapa kali menyulitkan mereka dengan sihirnya. Hampir saja pasukan yang cukup besar dari Pakuwan Pamintihan ini berantakan di karenakan ulahnya.


Sehingga mendengar nama Jabonarang telah tewas maka kembali teriakan gegap gempita di langit pagi Medang Kemulan ini pecah membahana.


" Jabonarang telah tewas,.!"


" Jabonarang telah gugur,..!"


Itulah ucapan dengan sorak sorai dari para prajurit Pakuwan Pamintihan, dan semakin menambah kemampuan bertempur dari mereka.


Prabhu Watu Menak Koncar sendiri yang telah berhasil masuk di dalam induk pasukan nya walaupun ia dengan susah payah menembus kepungan prajurit musuh merasa dirinya semakin tidak berdaya.


Sedangkan bersama Japutara dan Jabonarang pada waktu itu kami kesulitan menundukkan pasukan Medang Kemulan yg dipimpin oleh Prabhu Kreshna Yuda, apalagi sekarang , mereka berdua telah tiada, sungguh sulit untuk membayangkannya, itulah yang ada di benak sang Prabhu.


Namun meskipun demikian sedikit banyak kehadirannya di induk pasukan membuat nyali para prajurit nya bertambah.


" Hidup Prabhu Watu Menak Koncar,..!"


" Hidup,..sang Prabhu,..!"

__ADS_1


" Hidup Prabhu Watu Menak Koncar,..!"


" Hidup sang Prabhu,..!"


Demikianlah teriakan dari para prajurit Medang Kemulan membalas teriakan dari para prajurit Pakuwan Pamintihan ini.


Sorak sorai dan gemuruh suara saling bersahutan membahana di bumi Medang Kemulan.


Pagi itu perang terus berlanjut dengan sayap pasukan dari para prajurit Pakuwan Pamintihan yg hampir bersatu, dan merupakan suatu tanda bahea perang sebentar lagi akan usai.


Ini di sebabkan karena kemampuan dari para Senopati Kerajaan Medang Kemulan tidak mampu membendung kekuatan dari dua sayap baik kiri dan kanan yg di miliki oleh Pakuwan Pamintihan ini mampu merangsek masuk dan tidak mampu di buyarkan oleh musuh.


Belum lagi kekuatan dari Bekel Ampaian yg berhasil menekan pasukan yang di pimpin oleh Rakryan Mahamantri Kalasan yg juga kalah jumlah prajurit.


Ternyata prajurit yang membelot ke Pakuwan Pamintihan lebih banyak daripada yang masih setia kepada Prabhu Watu Menak Koncar sendiri.


Merupakan tamparan yang sangat keras kepada para petinggi kerajaan Medang Kemulan sendiri.


Menjelang matahari menggatalkan kulit,.Pasukan Pakuwan Pamintihan yg di Senopati i oleh Pangeran Dewangga Sena terus merangsek masuk ke dalam induk pasukan lawan.


Adalah Panglima Rakai Parumping dari sebelah kanan yg berhasil menumbangkan senopati dari Kerajaan Medang Kemulan yg di pimpin oleh Jabung Alap, tidak dapat bertahan terhadap serangan yg akan lancarkan oleh panglima cerdik dari Pakuwan Pamintihan ini.


Jabung Alap tewas bersimbah darah dengan kepala nya lepas dari tubuhnya di tebas pedang dari Panglima Rakai Parumping.


Kini sang panglima dari Pakuwan Pamintihan ini berhadap hadapan dengan Patih Bamalurung dari kerajaan Medang Kemulan.


Setelah Patih kerajaan Medang Kemulan ini berusaha masuk menggantikan kedudukan dari Panglima Raden Naruttala yg telah gugur itu.


Demikian pula dengan Panglima Raden Watu Giring yg menempati posisi sayap kiri pun mampu mengalahkan Senopati handal dari kerajaan Medang Kemulan yaitu Senopati Adas Gala,. pemimpin para prajurit Kerajaan Medang Kemulan ini tewas dengan tubuhnya tertusuk tombak hingga tembus ke punggung nya.


Ia gugur di tangan panglima Raden Watu Giring.


Memang panglima Raden Watu Giring ini masih menaruh dendam tatkala kekalahan pasukan nya beberapa waktu yang ketika Watu Menak Koncar untuk pertama kalinya menyerang Kotaraja Medang Kemulan ini. Adalah senopati Adas Gala lah bersama panglima Lokantara yg membuat pasukan Panglima Raden Watu Giring kocar kacir pada waktu itu.


Dan kali ini dendam itu terbayar lunas. Tombak pendek milik panglima Raden Watu Giring yg berlumuran darah itu diangkat tinggi tinggi.


Terdengarlah pekik sorak yg membahana meneriakkan kematian dari Senopati Adas Gala., lagi dan lagi mental pasukan Medang Kemulan ini runtuh.


Satu persatu senopatinya telah berguguran , membuat Rakryan Mahamantri Kalasan berucap kepada Prabhu Watu Menak Koncar untuk segera meninggalkan Kotaraja.


" Hehh,.Kalasan,..aku bukanlah seorang pengecut, andai pun tinggal diriku seorang saja yang masih mampu berdiri diantara ribuan prajurit Medang Kemulan ini, aku tidak akan mundur , aku akan bertarung sampai titik darah penghabisan,..!" seru Prabhu Watu Menak Koncar dengan garangnya.


" Bukan begitu Gusti Prabhu,..keadaan pasukan kita kali ini benar benar terjepit, sebaiknya lah Gusti Prabhu kembali ke istana dan selanjutnya meninggalkan istana menuju Pakuwan Kalindih,..itu adalah jalan satu satunya Gusti Prabhu agar pasukan kita ini tidak tumpas,..!" terang Rakryan Mahamantri Kalasan.


" Tidak ,..apa pun itu , aku akan berjuang dengan segenap jiwa ragaku mempertahankan Medang Kemulan ini, meskipun semua orang melarang ku, diriku tidak bisa lari dari kenyataan, karena dahulu akulah yg telah memulainya dan saat ini , diriku pulalah yg akan mengakhirinya,..!" kata Prabhu Watu Menak Koncar dengan keras.


Ia pun langsung maju dengan pedang besarnya mendekatj Pangeran Dewangga Sena yg sedang melakukan serangan terhadap para prajurit Kerajaan Medang Kemulan.


Sambil sesekali Putra Prabhu Kreshna Yuda ini meneriakkan kepada para prajurit Medang Kemulan untuk menyerah.


Tetapi para prajurit yg berada di induk pasukan itu tetap saja ngotot untuk berperang, sungguh miris nyawa mereka berakhir di mata tombak pusaka Naga mas.


Ketika Pangeran Dewangga Sena mendapatkan seruan dari Patih Watu Spuh Gada akan kehadiran dari Prabhu Watu Menak Koncar maka Pangeran Dewangga Sena pun beralih mengahadap kepada Raja Medang Kemulan ini.


Keduanya saling berhadap-hadapan satu dengan yang lainnya.


Mata Prabhu Watu Menak Koncar menyala berwarna kemerahan tanda dirinya menahan amarah.


" Hei,.bocah ,..kaukah yg bernama Dewangga Sena itu,..?" tanya Prabhu Watu Menak Koncar.


Nada ucapannya mengguntur sangat keras, ia bahkan telah menggenggam erat pedang nya besar tersebut.


" Benar , akulah Dewangga Sena putra dari Prabhu Kreshna Yuda, sedangkan dirimu adalah Watu Menak Koncar bukan,..?" balik Pangeran Dewangga yg bertanya.

__ADS_1


__ADS_2