
Baik Putri Dyah Minak Sriniti maupun ibundanya tidak mengeluarkan pendapat nya, mereka diam saja setelah mendengar penuturan dari prajurit sandi itu.
" Bukankah Gusti Ratu dan Gusti Putri telah siap,..?" tanya prajurit sandi ini lagi.
" Ehh, iya, iya, kami siap , prajurit,.!" sahut Permaisuri Prabhu Watu Menak Koncar ini.
" Kalau begitu , ini untuk kalian semua Gusti Ratu dan Gusti Putri,.!" ucap Prajurit itu kemudian.
Ia mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya dan memberikaan kepada sang Ratu dan Putri Dyah Minak Sriniti.
Benda tersebut seperti sebuah pil dan jumlahnya sesuai dengan jumlah keluarga dari Prabhu Watu Menak ini.
Sepertinya pil ini adalah penangkal dari ilmu sirep yg akan di lepaskan oleh Mpu Kalong saat mereka akan membawa keluarga dari Prabhu Watu Menak Koncar ini.
Dengan agak ragu ragu, ibunda dari Putri Dyah Wikamini ini menerima benda tersebut dan segera menyimpan nya.
" Ingat, Gusti Ratu , pil itu harus di telan saat malam telah tiba, jangan sampai terlambat,..!" jelas prajurit sandi dari pakuwan Kalindih itu.
Istri Prabhu Watu Menak Koncar ini menganggukkan kepalanya.
" Baiklah kalau begitu, hamba pamit Gusti Ratu ,.!" kata prajurit Sandi ini lagi.
Ia pun bergegas meninggalkan kaputren tempat dimana keluarga Prabhu Watu Menak Koncar di tahan.
" Sriniti, bagaimana pendapat mu ,..?" tanya ibundanya.
" Sriniti , bingung ibunda,.!" jawab Putri Dyah Minak Sriniti.
" Sama, ibunda pun bingung, bagaimana harus bersikap, bukankah selama ini, Prabhu Dewangga Sena sangat baik terhadap kita, apakah kita akan melarikan dari tempat ini dan kembali ke Kalindih,..!" kata Permaisuri Prabhu Watu Menak Koncar itu.
Demikin pula dengan Putri Dyah Minak Sriniti, ia telah merasa nyaman tinggal di tempat itu, yg dahulu adalah istana nya saat Prabhu Watu Menak Koncar bertahta, bahkan pelayanan yang di berikan kepada mereka sama persis saat ramandanya itu berkuasa.
Hanya untuk keluar dari Kotaraja saja mereka harus di kawal dengan para prajurit.
Bahkan untuk mereka yang jarang keluar dari lingkup keraton , serasa tidak ada yg berubah.
Jadi tawaran yang diajukan oleh Putri Dyah Wikamini melalui salah seorang prajurit sandi nya sulit untuk mereka terima.
" Sriniti ,.untuk apa kita keluar dari istana ini , jika memang kita semua tidak mendapatkan hukuman, di luar sana kita akan semakin kesulitan , !" seru Permaisuri Prabhu Watu Menak Koncar ini kepada putrinya.
" Benar ibunda , sebaiknya perintah dari kangmbok Wikamini itu kita acuhkan saja, atau malah lebih baik kita laporkan saja kepada Prabhu Dewangga Sena,..!" sahut Putri Dyah Minak Sriniti.
" Hehhh,..!" ucap Permaisuri Prabhu Watu Menak Koncar ini kaget mendengarnya.
Memang mereka cukup puas berada di dalam istana Medang Kemulan ini, akan tetapi untuk melaporkan putri nya sendiri kepada Prabhu Dewangga Sena adalah sesuatu yg tidak boleh di lakukan.
" Tidak Sriniti, jangan kau laporkan kangmbokmu kepada Prabhu Dewangga Sena, kasihan nanti ia akan di buru dan. di kejar terus menerus oleh para prajurit Medang Kemulan ini, bahkan akan menjadi buronan yg paling di cari,.!" terang Ibundanya.
Putri Dyah Minak Sriniti diam mendengar penuturan dari ibundanya ini ia tidak mau mendebatnya, walaupun hati kecil nya bertentangan dengan apa yg telah di ucapkan ibundanya itu.
Dan memang istri Prabhu Watu Menak Koncar ini masih berharap dapat menundukkan hati putrinya , Putri Dyah Wikamini itu untuk mau menyerah, namun kalau harus membocorkan upayanya untuk menyelamatkan mereka kepada Prabhu Dewangga Sena adalah sesuatu yg tidak boleh di lakukan, begitulah yang ada di benak sang permaisuri.
Sehingga mereka berdua kemudian terdiam tidak mengatakan apa apa lagi.
Sementara itu waktu terus bergulir, pesta pernikahan dari sang Prabhu dengan Putri Dewandhani Maheswari telah berada di penghujung nya, saat ini adalah malam terakhir dari perayaan tersebut.
Hampir seluruh penduduk dan kawula Medang Kemulan telah merasakan kegembiraan dari hajatan besar Raja mereka kali ini, dan untuk para pengawal dan prajurit Medang Kemulan sendiri pun kelihatan nya pada titik puncak dari kelelahannya, setelah selama sepekan mereka harus berjaga terus menerus siang dan malam untuk mengamankan kerajaan Medang Kemulan dari para pengacau maupun penyusup.
Dan pada malam terakhir ini, sepertinya mereka sudah pada saatnya untuk dapat beristirahat , karena selama ini keadaan Kotaraja dalam keadaan aman terkendali, menurut mereka selama ini tidak ada yg mencurigakan dapat berbuat keonaran dalam kotaraja sehingga agaknya mereka tidak terlalu memperketat penjagaan.
Inilah yg di manfaatkan oleh beberapa orang yg di pimpin oleh Mpu Kalong dan Bekel Sangiran.
Sesuai dengan rencana dari penguasa gunung kanda itu, bahwa setelah sepekan tentu para prajurit Medang Kemulan akan merasa kelelahan yg teramat sangat dan penjagaan atas Kotaraja Medang Kemulan sendiri tentunya akan sangat longgar sekali.
__ADS_1
Memang tidak sepenuhnya salah dari siasat Mpu Kalong itu, tetapi rencananya sudah dapat di endus oleh Pangeran Turangga Sena dan Senopati Ampaian, apalagi saat adik dari Prabhu Dewangga Sena ini mendapatkan berita dari Putri Dyah Minak Sriniti yg mendatanginya secara khusus , putri dari Prabhu Watu Menak Koncar ini menceritakan apa yg telah dimintakan kakak nya itu kepada Pangeran Turangga Sena.
" Jadi kangmbok Wikamini akan mengirimkan utusannya datang kemari pada malam ini, Sriniti,.?" tanya Pangeran Turangga Sena.
" Benar, Kangmas Turangga Sena,..mereka kali ini di pimpin oleh Mpu Kalong dari gunung kanda, !" jawab Putri Dyah Minak Sriniti.
" Baiklah kalau begitu, Aku mengucapkan terima kasih atas pemberitahuan ini, Kangmas Prabhu harus segera mengetahuinya,.!" ucap Pangeran Turangga Sena.
Ia lantas meninggalkan Putri Dyah Minak Sriniti dan menuju ke dalam bilik Prabhu Dewangga Sena.
Pangeran Turangga Sena langsung melaporkan hal tersebut kepada kakak nya, Prabhu Dewangga Sena.
Sang Prabhu kelihatan nya terkejut sekali mendapati laporan dari adiknya ini.
" Jika memang demikian Turangga Sena, bawalah tombak Pusaka Kyai Naga Mas ini, dan jangan lupa ajak Ki Gambong dan Ki Brojo Lungguk untuk menghadapi orang tersebut, nama Mpu Kalong ini sudah sangat terkenal bagi kalangan pemilik ilmu hitam, jadi mudah mudahan Ki Gambong dapat menangkal nya,..!" ujar Prabhu Dewangga Sena.
" Hamba, Kangmas Prabhu, seluruh titah Kangmas akan hamba laksanakan,..!" sahut Pangeran Turangga Sena.
Ia menerima tombak pusaka Naga Mas itu lengkap dengan selongsongnya dari tangan Prabhu Dewangga Sena, kakaknya ini.
Pangeran Turangga Sena bergegas keluar dari dalam bilik sang Prabhu.
Dan begitu berada di luar istana, Pangeran Turangga Sena memerintahkan seorang prajurit untuk memanggil dua orang kepercayaan dari Prabhu Dewangga Sena itu.
Tidak terlalu lama, Ki Gambong dan Brojo Lungguk tiba di tempat dimana Pangeran Turangga Sena berada.
" Ada apa Anakmas Pangeran memanggil kami berdua,.?" tanya Brojo Lungguk.
Pangeran Turangga Sena kemudian menceritakan segala sesuatu nya secara singkat , dan ia di perintahkan untuk menangkap orang yg bernama Mpu Kalong tersebut.
" Gusti Pangeran, Mpu Kalong ini terkenal licik dan suka bermain main dengan racun berhati-hati lah,.!" ucap Ki Gambong.
Pangeran Turangga Sena menganggukkan kepalanya, ia pun memerintahkan kepada senopati Ampaian untuk mengatur prajurit nya, dan mereka harus di bekali dengan penangkal ilmu sirep.
Ia pun memberikan beberapa penangkal ilmu sirep kepada para prajurit dari kesatuan yang di pimpin oleh Senopati Ampaian.
Memang tidak semua prajurit mendapatkan penangkal itu, sebahagian lagi memang di biarkan untuk terkena pengaruh sirep tersebut agar lebih meyakinkan musuh.
" Anakmas Pangeran, prajurit kita yg mendapatkan penangkal dari Ki Gambong ini pun harus berpura pura untuk tertidur, dan begitu mereka semuanya masuk barulah kita tangkap mereka kita tangkap,..bukan begitu Ki Gambong,..!" ucap Brojo Lungguk.
Dan Ki Gambong pun mengiyakan, sehingga kesepakatan nya sudah jelas , begitu mereka telah melepaskan sirepnya maka seluruh prajurit kotaraja yg bertugas menjaga akan tertidur , baru setelahnya mereka akan mengepung dan menangkap musuh setelah mereka masuk.
Persiapan dari para prajurit Medang Kemulan ini telah matang , mereka tinggal menunggu saatnya saja dengan berdebar debar.
Mereka menunggu sesuatu yg diyakini akan berlangsung menegangkan.
Di taman Kaputren yg di tempati oleh keluarga dari Prabhu Watu Menak Koncar ini telah di penuhi beberapa prajurit yg akan bertugas menjaga tempat itu.
Di luar kaputren sendiri, tidak ada penjagaan yang berlebihan sehingga tidak kelihatan mencolok , hanya ada beberapa prajurit yg biasa bertugas.
Suasana pada malam tersebut berjalan seperti malam malam biasanya.
Acara perayaan pesta dari Sang Prabhu berlanjut terus hingga malam semakin larut, saat pada puncaknya, Prabhu Dewangga Sena dan sang permaisuri kembali ke biliknya, sedangkan acara kemeriahan yg menampilkan wayang kulit berlangsung hingga pagi.
Setelah Prabhu Dewangga Sena kembali ke biliknya , berangsur angsur keramaian di Kotaraja ini pun semakin berkurang, hanya beberapa orang saja yg ingin menghabiskan malam sambil terus menonton pertunjukan wayang malam itu.
Suasana bertambah mencekam saat angin dingin berhembus di dekat istana.Dalam keremangan malam, nampak lebih dua puluh orang yang berjalan mendekati tembok keraton dan berada tepat di belakang kaputren.
" Cepatlah Bekel Sangiran, perintahkan prajurit mu untuk menyebar dan bergerak untuk mendekati pintu kaputren itu,..!" ucap Mpu Kalong kepada Bekel Sangiran.
" Baik, Empu,..!" sahut Bekel Sangiran.
Dengan bahasa isyarat pemimpin prajurit sandi dari pakuwan Kalindih itu memerinthakan para prajurit nya untuk segera mendekati tembok Kaputren tersebut.
__ADS_1
Beberapa orang menuju kearah pintu masuk kaputren yg di jaga oleh empat orang prajurit Medang Kemulan yg bersenjatakan tombak siap untuk menghadang siapa saja yang ingin masuk.
" Sudah saat nya Empu mengeluarkan sirep tersebut agar para prajurit jaga itu segera tertidur,..!" ucap Bekel Sangiran kepada Mpu Kalong.
" Tunggu sebentar,..!" jawab Mpu Kalong.
Lelaki tua itu kemudian berjongkok sebentar dan menepuk nepuk tanah yg ada di dekat tembok keraton ini, dan untuk selanjutnya ia mengambil segenggam tanah dalam tangan nya.
Tanah tersebut untuk selanjutnya dibacai mantera , mulut nya komat kamit sebentar dan mengeluarkan suara yg kurang jelas bagi yg mendengar nya,
" Phuhhh, phuihh, phuhh,..!"
Tiga kali Mpu Kalong meniup tanah yg ada di tangan nya ini dan kemudian ia lemparkan ke atas mengarah ke dalam istana Medang Kemulan yg berada di bailk tembok keraton yg cukup tinggi itu.
" Kita tunggu sebentar reaksi dari sirep itu,.Bekel Sangiran,..!" ucap Mpu Kalong kepada Bekel Sangiran.
Memang sesuai dengan rencana dari penguasa Gunung Kanda ini , tidak terlalu lama memang terlihat para prajurit jaga yg ada di depan pintu masuk kaputren itu bertumbangan karena merasakan kantuk yang teramat sangat.
Bahkan para prajurit Medang Kemulan yg sedang nganglang guna meronda menjaga istana turut pula terkena pengaruh sirep yg di lontarkan oleh Mpu Kalong ini.
Bekel Sangiran yg melihat keampuhan dari ilmu yg di lepaskan oleh orang tua dari gunung Kanda ini , hatinya jadi girang, dengan sebuah isyarat ia memerintahkan para prajurit nya untuk segera membuka pintu masuk ke dalam kaputren itu.
Setelah pintu terbuka , bergegaslah sepuluh orang prajurit sandi dari Pakuwan Kalindih ini masuk ke dalam, sedangkan yang lainnya segera mengikuti Mpu Kalong menuju bilik dari sang Prabhu Dewangga Sena.
" Bekel Sangiran , segera ikuti aku,..!" kata Mpu Kalong agak keras.
Ia sudah merasa sangat aman berkata keras karena saat ini , istana kerajaan Medang Kemulan telah dalam pengaruh sirep yg ia lepaskan, sehingga sudah tidak ada lagi yg berjaga.
" Kemana, Mpu,..?" tanya Bekel Sangiran.
" Ke dalam bilik Prabhu Dewangga Sena,. kita habisi bocah itu, Bekel,..!" sahut Mpu Kalong.
Tidak bertanya lagi, Bekel Sangiran segera mengikuti Mpu Kalong dari belakang, dan mereka segera di ekori oleh prajurit sandi yg tersisa yg tidak ikut masuk ke dalam Kaputren.
Mpu Kalong dan Bekel Sangiran melangkahi para prajurit Medang Kemulan yg telah terkapar tertidur di karenakan sirep itu.
Namun begitu penguasa Gunung Kanda ini berusaha untuk mendekati bilik dari sang Prabhu , tiba tiba saja terdengar suara berseru keras,..
" Berhenti,..!"
Cukup keras teriakan ini hingga menghentikan langkah mereka termasuk juga dengan Mpu Kalong.
" Siapa kalian, mengapa berani masuk ke dalam istana ini tanpa izin,..?" tanya orang itu lagi.
Suaranya cukup keras dan mengandung tenaga dalam , sehingga suara itu bergema ke seluruh istana Medang Kemulan .
" Ha, ha, ha, aku adalah orang yang akan mencabut nyawa Prabhu Dewangga Sena, tunjukkan dirimu yang berani menghadang ku, ini aku Mpu Kalong dari Gunung Kanda, majulah,..!" teriak Mpu Kalong dengan garangnya.
Sambil ia terus menerus memainkan kipasnya yg merupakan senjata andalan nya.
" Hehh, seorang cabul tengah menyambangi istana kerajaan Medang Kemulan ini, gerangan siapakah kiranya yg akan jadi mangsanya itu, he he he,..!" seru orang yang belum menampakkan diri nya tersebut.
Ia memang sangat senang sekali melihat Mpu Kalong ini kebingungan mencari asal suaranya.
" Cepatlah keluar , atau kubakar sekalian istana Medang Kemulan ini, hahhh,.!" bentak Mpu Kalong.
Tangan nya sudah terangkat tinggi karena hatinya cukup panas tidak dapat melihat lawan bicaranya ini.
" Ternyata Kalong kampret tidak sehebat dengan julukan nya,.. untuk menemukan diriku saja ia terpaksa harus main ancam segala,..akan tetapi baiklah , ..!" sahut orang itu lagi.
Dan tiba tiba saja ,..
" Whushhhh,..!"
__ADS_1
Muncullah sesosok tubuh di hadapan dari Mpu Kalong ini.