SASRA WURUK

SASRA WURUK
Pertaruhan #5.


__ADS_3

Gegap gempita pasukan Pakuwan Pamintihan ini ketika bergerak meninggalkan kota Pamintihan.


Dengan di pimpin oleh Pangeran Dewangga Sena , putra mahkota dari Prabhu Kreshna Yuda itu terlihat gagah di atas punggung kuda putihnya yang besar.


Ia memang menolak menggunakan Gajah kebesaran milik mertua sekaligus pamannya Akuwu Manik Rangga, pangeran Dewangga Sena lebih menyukai kuda sebagai tunggangan nya.


Pasukan dari Pakuwan Pamintihan ini sebenarnya memang tidak terlalu besar , akan tetapi mereka akan berkumpul di kepaneon Cempogo, dimana pasukan nya yg lain telah menunggu disana.


Para prajurit dari Pakuwan Sindur dan Pakuwan Pemanggar pun telah berada disana, mereka di perintahkan terlebih dahulu bergerak sehingga dalam keseluruhan nya pasukan dari Pangeran Dewangga Sena akan bertolak ke Kotaraja Medang Kemulan dari Cempogo.


Nampaklah banyak tunggul , kelebet serta rontek yg di bawa oleh pasukan ini, bahkan lambang kebesaran kerajaan Medang Kemulan dimasa pemerintahan dari Prabhu Kreshna Yuda pun turut serta di bawa.


Nampak nya kali Sang Pangeran tidak main main dalam mengambil keputusan, meskipun banyak orang yang meragukan nya terutama dari dalam Pakuwan Pamintihan sendiri.


Tetapi ia tidak ambil pusing, setelah mendapatkan mandat dari sang Paman, dengan segera Pangeran Dewangga Sena berangkat guna menyerang Kotaraja Medang Kemulan yg kini te di duduki oleh Prabhu Watu Menak Koncar.


Beberapa hari kemudian setelah beristirahat beberapa kali di perjalanan maka pasukan besar dari Pakuwan Pamintihan ini tiba di Cempogo, mereka tidak berhenti di desa Lohsari.


Seluruh pemimpin pasukan yang ada di Cempogo menyambut kedatangan pasukan Pakuwan Pamintihan dengan Pangeran Dewangga Sena sebagai Senopati agung nya , ia diapit oleh Panglima Rakai Parumping dan Senopati Garega dari Pamintihan.


Sementara para pemimpin yg berada di cempogo ini adalah Panglima Raden Watu Giring, Patih Watu Spuh Gada, Panewu Cempogo, Panewu Langgrah, Brojo Lungguk dan beberapa panewu yg memiliki kekuasaan tidak terlalu jauh dari Cempogo.


Bahkan juga ada dua orang Senopati dari Pakuwan Sindur dan Pemanggar. Mereka yg di perintahkan oleh Akuwu nya masing -masing untuk membantu perjuangan dari sang Pangeran.


Pakuwan Sindur dan Pemanggar memang berhutang budi terhadap Pangeran Dewangga Sena yg telah membantu mereka menahan dari gempuran pasukan kerajaan Medang Kemulan , sehingga tidak ada kata lain jika mereka ingin mengamankan kedudukan nya mereka memang harus membantu Pangeran Dewangga Sena duduk sebagai Raja, Yang Mulia bertahta di Medang Kemulan ini.


Pada umumnya pemimpin pasukan yang ada di Cempogo amat takjub dengan pasukan Pakuwan Pamintihan yg baru datang ini, meski jumlah belum sebanyak prajurit yang ada di Kotaraja Medang Kemulan tetapi pasukan ini pun sudah lumayan besar di luar perhitungan mereka.


Adalah Panglima Raden Watu Giring yg langsung mengucapkan sesuatu kepada Pangeran Dewangga Sena.


" Ampunkan hamba anakmas Pangeran,..kapan kah kiranya kita akan bergerak ke Kotaraja Medang Kemulan,..?" tanya nya kepada putra Prabhu Kreshna Yuda ini.


Sambil ia melangkahkan kakinya naik ke atas pendopo rumah Panewu Cempogo, seraya duduk Pangeran Dewangga Sena kemudian berujar,..


" Paman Watu Giring dan kalian semua yang berada disini, dengar lah baik -baik,..kita akan bergerak saat bulan benar benar tertutup, !" jawab Pangeran Dewangga Sena.


" Itu artinya ada waktu tiga hari lagi kita berada di Cempogo ini,.Anakmas Pangeran,..!??" tanya Patih Watu Spuh Gada.


" Benar eyang patih,..menurut panggraita ku, waktu itulah sangat baik untuk kita menyerang Kotaraja Medang Kemulan ,..!" seru Pangeran Dewangga Sena.


Ia yg kini tengah di kelilingi oleh para pemimpin pasukan nampak sangat gagah dan tegas dalam memberikan perintah dan ucapannya, agak berbeda dengan sebelumnya.


Patih Watu Spuh Gada yg agak mengerti jalan pemikiran putra Prabhu Kreshna Yuda ini segera menyahutinya,.


" Apakah Anakmas Pangeran berusaha menghindari serangan sihir yang dapat di lakukan oleh Jabonarang itu , sehingga harus bergerak dalam keadaan gelap,..?" tanyanya pada Pangeran Dewangga Sena.


Sambil mengangguk pelan, Pangeran Dewangga Sena pun membenarkan apa yang telah di katakan oleh Patih Watu Spuh Gada ini.

__ADS_1


" Benar yg Eyang Patih katakan itu,.. setidaknya kita harus belajar dari kekalahan Ramanda Prabhu Kreshna Yuda yg tidak mampu melawan sihir dari penguasa Gunung merut itu, ditambah lagi pada waktu itu mereka berdua dengan Japutara, sehingga kali ini Aku berharap , sebelum kita tiba di Kotaraja Medang Kemulan kita tidak akan menemui halangan dari sihir orang tua itu,..!" jelas Pangeran Dewangga Sena.


Memang pada saat ini bulan purnama telah lewat , akan tetapi sang dewi malam masih akan muncul saat mendekati pagi hari.


Sehingga ketetapan yang diambil oleh sang Pangeran adalah saat tiga hari lagi dimana tidak akan muncul lagi cahaya rembulan meskipun menjelang pagi.


Karena dalam perjalanan nya menuju Kotaraja , pasukan yang di bawanya tentu akan berjalan terus saat malam pun tiba. Untuk menghindari serangan sihir yang di miliki oleh pembantu dari Prabhu Watu Menak Koncar ini ia berniat melakukan perjalanan saat bulan memang tidak akan muncul di langit Medang Kemulan.


Setelah semua nya mendengar penjelasan yang di berikan oleh Pangeran Dewangga Sena ini merasa jelas maka untuk pasukan dari Pakuwan Pamintihan ini diperintahkan oleh Pangeran Dewangga Sena untuk beristirahat, karena kemungkinan nya mereka tidak akan mendapatkan istrahat lagi saat tiga hari ke depan, dimana pasukan akan berangkat menyerbu Kotaraja Medang Kemulan.


Setelah mendengar perintah dari Senopati Agungnya mereka dapat beristirahat maka dengan tempat seadanya , para prajurit dari Pakuwan Pamintihan ini segera memasang beberapa kemah untuk mereka, meski cukup sederhana , cukuplah untuk mereka terhindar dari dingin dan hujan apabila turun tiba tiba.


Begitulah pasukan yang besar telah berkumpul di Cempogo dan rumah Panewu Cempogo sebagai tempat melakukan pengambilan keputusan dalam hal ini, Senopati Agunglah yg menjadi pemutus segala keputusan nya.


Seperti saat di sebutkan oleh para pemimpin dan senopati pasukan ini, dengan gelar apa mereka akan maju oleh Sang Pangeran ia menginginkan gelar Garuda Nglayang lah gelar yg akan mereka pergunakan.


Akan tetapi Pangeran Dewangga Sena masih dapat menerima saran dan usulan dari para bawahan nya dalam mengambil keputusan.


Ketika ia menyebutkan bahwa senopati pengapit kanan akan di tempati oleh Patih Watu Spuh Gada dan Senopati pengapit kiri nya adalah Panglima Raden Watu Giring.


Keputusan nya ini langsung disarankan oleh Patih Watu Spuh Gada untuk ditinjau ulang.


" Ampunkan , Eyangmu ini, anakmas Pangeran, karena Eyang sudah merasa tua , lebih baiklah sayap kanan itu di tempati oleh Panglima Rakai Parumping dari Pakuwan Pamintihan,.dan biarlah sayap kanan di tempati oleh Panglima Raden Watu Giring,..!" ujar Patih Watu Spuh Gada.


" Mengapa demikian Eyang Patih ,..?" tanya Pangeran Dewangga Sena heran.


Kemudian Patih Watu Spuh Gada , patih kepercayaan dari Prabhu Kreshna Yuda ini menjelaskan kepada sang Pangeran alasan nya, selain ia memang sudah cukup tua bahkan terlalu sepuh biarlah ia berada dekat di sisi pangeran Dewangga Sena agar dapat memberikan masukan dan tidak menjadi Senopati yg akan menggerakkan para prajurit.


Alasan nya ini dapat di terima oleh Pangeran Dewangga Sena , maka ia pun kemudian menjelaskan siapa saja yang akan menjadi senopati dan tempat serta posisi mereka.


Tersebutlah, dalam dua sayap pasukan di tempati oleh dua orang panglima nya yaitu Panglima Raden Watu Giring dan Panglima Rakai Parumping dari Pamintihan.


Sedang di ujung paruh di tempatkan pula senopati Garega dari Pakuwan Pamintihan yg menempatinya.


Sedang di ujung ekor pasukan nya adalah dua senopati dari Pakuwan Sindur serta Pemanggar yg menempati pos tersebut.


Adalah Brojo Lungguk kemudian yg menanyakan tempatnya,.


" Kalau kami berada dimana Gusti Pangeran,..?" tanya nya pada Pangeran Dewangga Sena.


" Kalian dan serta para Panewu dan pengawalnya berada di induk pasukan bersama ku, aku berharap Paman Brojo Lungguk dapat atau setidaknya memiliki teman yang mengerti dengan ilmu sihir milik Jabonarang itu,..!" jelas Pangeran Dewangga Sena.


Setelah di sepakati bentuk dan gelar pasukan yg akan menyerang Kotaraja Medang Kemulan ini , secara keseluruhan pasukan yang akan berangkat itu mengambil kesempatan untuk beristirahat seperti yg telah di perintahkan oleh Pangeran Dewangga Sena.


Karena mereka tidak tahu sampai kapan mereka akan dapat menundukkan Kotaraja Medang Kemulan itu, sehari , dua hari atau bahkan sepekan , jadi kesempatan yg sedikit ini memang harus di manfaatkan.


Di rumah Panewu Cempogo ini secara pribadi Brojo Lungguk berbicara kepada pangeran Dewangga Sena mengenai usaha nya yg telah berhasil membunuh utusan dari Kotaraja Medang Kemulan untuk Pakuwan Kalindih dalam hal meminta bantuan kesana.

__ADS_1


" Surat yg dibawa oleh utusan dari Kotaraja Medang Kemulan itu telah kuserahkan kepada Panglima Watu Giring,..!" ucap Brojo Lungguk.


" Benarkah hal itu Paman,..?" tanya Pangeran Dewangga Sena.


" Benar anakmas Pangeran,..inilah suratnya,..!" jawab Panglima Raden Watu Giring.


Orang yang menjadi panglima dan yg telah berusaha menyelamatkan nyawa Pangeran Dewangga Sena dan ibundanya pada waktu penyerangan Watu Menak Koncar ke Kotaraja Medang Kemulan itu segera menyerahkan segulung daun lontar kepada Pangeran Dewangga Sena.


Sang Pangeran segera membukanya sambil terus membacanya.


" Hehh,..jika memang niatan mereka akan menghimpit pasukan kita dari dua arah,..kita harus menyiapkan pasukan yg dapat memotong pergerakan pasukan dari Kalindih itu ,..Paman Watu Giring,..!" seru Pangeran Dewangga Sena.


" Benar yg Anakmas Pangeran katakan itu, kita memang harus mempersiapkan pasukan yang dapat memotong pasukan dari Kalindih ini sehingga, pasukan mereka tidak dapat memberikan bantuan kepada pasukan Kotaraja Medang Kemulan itu,..akan tetapi siapa kira kira yg dapat melauk hal itu,..?" tanya Panglima Raden Watu Giring.


Adalah Brojo Lungguk yg kurang mengerti maksud pembicaraan dari kedua orang ini segera menyahuti ucapan keduanya,..


" Maaf sebelumnya Gusti Pangeran, bukankah Kalindih tidak mengetahui permintaan dari Kotaraja Medang Kemulan ini, karena utusan nya telah berhasil ku bunuh, jadi mengapa kita merisaukan Kalindih,..?" tanya nya kepada Pangeran Dewangga Sena.


Sebelum Pangeran Dewangga Sena yg menjawab pertanyaan itu, Patih Watu Spuh Gada lah yang kemudian menjelaskan kepada bekas Begal itu,..


" Begini , Brojo Lungguk,..meskipun dirimu memang telah berhasil membunuh utusan dari Kotaraja Medang Kemulan itu tetapi wacana mereka akan menjebak pasukan kita dari dua arah belum tentu tidak terlaksana,..!" ucap Patih Watu Spuh Gada.


" Mengapa demikian ,..Patih Watu Spuh Gada,..?" tanya Brojo Lungguk tidak mengerti.


Akhirnya Patih yg berusia sepuh ini menjelaskan, kemungkinan nya Kotaraja Medang Kemulan akan mengirimkan lagi utusan nya setelah utusan yg sebelumnya tidak juga kembali, atau malah Pakuwan Kalindih telah mengetahui pergerakan pasukan Pakuwan Pamintihan yg ada di Cempogo ini, tentu saja Akuwu Watu Menak Kober tidak akan membiarkan saudara nya ini berjuang sendirian, ia pasti akan mengirimkan prajurit nya guna membantu nya.


Dan setelah mendengar penjelasan lengkap dari Patih Watu Spuh Gada ini barulah Brojo Lungguk mengerti. Ia pun memberikan usulan agar dirinya di berikan kesempatan untuk menjadi pemotong pasukan yang akan datang dari Kalindih itu ,dengan catatan ia di beri tambahan prajurit dari induk pasukan.


" Baiklah jika memang demikian Paman Brojo Lungguk, aku akan memberikan pasukan khusus dan sudah sangat terlatih dari Prajurit Pakuwan Pamintihan ini kepadamu untuk memotong pergerakan pasukan dari Kalindih itu,.!" ungkap Pangeran Dewangga Sena.


Beberapa orang , termasuk Patih Watu Spuh Gada agak kurang setuju dengan keputusan yang diambil oleh Putra Prabhu Kreshna Yuda ini , ia merasa keputusan ini terlalu beresiko dengan memberikan Brojo Lungguk yg melakukan penghadangan terhadap pasukan yang akan datang dari Kalindih itu.


Akan tetapi mereka tidak berani mengutarakan nya takut menyingung perasaan Brojo Lungguk yg mereka ketahui memiliki sikap dan sifat yang agak berangasan dan kadang bertindak sesuka hatinya.


Sedangkan pangeran Dewangga Sena mengerti kegelisahan para pembantunya ini namun ia tetap tenang saja bahkan dirinya mengalihkan pertanyaan dengan kesiapan pasukan mereka yang berada di Kotaraja Medang Kemulan sendiri.


" Lalu bagaimana dengan kesiapan pasukan yang di pimpin oleh Bekel Ampaian yg berada di Kotaraja,..?" tanya nya pada Panglima Raden Watu Giring.


" Sungguh,..Bekel Ampaian dan para prajurit yg berada di dalam kesatuan nya telah siap sedia menjadi pendukung kita ketika pasukan kita menyerang Kotaraja Medang Kemulan, anakmas Pangeran,.. mereka akan menusuk pasukan Prabhu Watu Menak Koncar dari belakang,..!" terang Panglima Raden Watu Giring.


" Bagus kalau begitu Paman Watu Giring,..kita memang harus dan terus berhubungan dengan mereka agar upaya dan usaha kita berhasil dan berjalan sempurna,..semoga jagad Dewa bhatara akan membantu kita dalam usaha menggulingkan kekuasaan Watu Menak Koncar ini,.!" seru Pangeran Dewangga Sena lagi.


Nampaknya sang Pangeran memiliki keyakinan dapat memenangkan peperangan kali ini.


Ia memang memeprtaruhkan banyak hal dalam peperangan kali ini, selain nama baik keluarganya juga keinginan untuk dapat merebut kembali tahta kerajaan Medang Kemulan yg sempat terampas itu.


Sejenak, saat matahari telah terbenam di ufuk barat, maka pertemuan pada hari itu pun di tutup.

__ADS_1


Pangeran Dewangga Sena kemudian pergi ke belakang untuk membersihkan tubuhnya, baru setelah itu ia bergerak sendiri menuju ke desa Lohsari tanpa ada yang mengetahuinya.


Ada rasa kerinduan pada sepasang mata indah yg di miliki oleh seorang gadis cantik nan ayu yg merupakan kembang desa Lohsari, cucu dari Buyut Lohsari,..Kintan Suri namanya.


__ADS_2