
Kembali kepada Panglima Rakai Parumping yg tengah melakukan pengejaran keluarga istana.
Mereka , para prajurit dari Pakuwan Pamintihan ini kehilangan jejak tatkala mendapati sebuah kali yang tidak terlalu lebar dan tidak pula terlalu dalam, airnya hanya sebatas lutut saja.
Panglima Rakai Parumping memanggil Bekel Ampaian , yg ia rasa lebih mengetahui seluk beluk keadaan dari wilayah Kotaraja ini.
" Bagaimana Bekel Ampaian,.kemanakah menurut mu larinya keluarga Prabhu Watu Menak Koncar itu,..?" tanyanya pada Bekel Ampaian.
" Maaf sebelumnya,Gusti Panglima , kalau menurut hamba, mereka akan menuju ke Pakuwan Kalindih,..Gusti,..!" jawab Bekel Ampaian.
" Hehh,..!" seru Panglima Rakai Parumping kaget.
Ia tidak menyangka pemikiran dari Bekel Ampaian ini bahwa para keluarga istana itu akan ke Pakuwan Kalindih.
" Apa tidak salah perhitunganmu itu Bekel Ampaian,..apa tidak mungkin mereka akan ke Kalinggha Pura guna meminta perlindungan dan lagi pun arah yang mereka tuju tepat ke arah sana,..!" terang Panglima Rakai Parumping.
Sambil menggelengkan kepalanya , Bekel Ampaian menyahuti ucapan Panglima Rakai Parumping ini,..
" Itu tidak mungkin Gusti Panglima, tidak ada kedekatan antara mereka dengan penguasa disana,berbeda dengan keluarga dari Pakuwan Pamintihan maupun Keluarga Gusti Prabhu Kreshna Yuda, mereka memang masih memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat,..jadi tidak mungkin mereka akan kesana, Gusti,..!" ucap Bekel Ampaian.
" Jika mereka akan ke Kalindih tentu mereka akan melalui jalan yang memutar dan cukup jauh , antara itu mungkin,..?" tanya Panglima Rakai Parumping lagi.
" Mereka memang harus melalui jalan yang memutar ke arah barat dan untuk selanjutnya menuju arah selatan, meski cukup jauh tetapi Gusti Panglima jangan lupakan kehadiran dari pasukan Pakuwan Kalindih di gerbang selatan itu, tentu mereka berharap dapat mencapai pasukan tersebut dan menggabungkan diri dengan mereka,..!" jelas Bekel Ampaian lagi.
" Jika memang demikian perhitungan mu kita harus mencegah usaha mereka itu, jangan sampai mereka dapat mencapai pasukan dari Kalindih itu, ini harus di cegah,..akan sulit bagi kita menangkap mereka jika telah ber gabung dengan pasukan tersebut,..!" ungkap Panglima Rakai Parumping.
" Benar yg Gusti Panglima katakan itu kita harus mencegah mereka,..!" jawab Bekel Ampaian.
" Kamu tahu jalanan yg dapat memotong jalur mereka ini Bekel Ampaian,..?" tanya Panglima Rakai Parumping.
" Hamba tahu Gusti Panglima, sebaiknya kita segera bergerak mumpung hari masih pagi,..!" ucap Bekel Ampaian.
Ia segera memerintahkan pasukannya untuk bergerak kembali dan kali ini mereka tidak menyebrangi kali tersebut melainkan menyusuri ke arah hulu dari kali itu.
Pergerakan dari Bekel Ampaian diikuti pula oleh Panglima Rakai Parumping, mereka membuntuti dari arah belakang.
Dan memang , keluarga Prabhu Watu Menak Koncar telah cukup jauh meninggalkan pasukan yang mengejarnya itu.
Berdasarkan siasat dari Senopati Singajaran, keluarga keraton Medang Kemulan ini memang diajak menjauhi tempat itu dan seperti akan menuju ke Kerajaan Kalinggha Pura, padahal ini taktik untuk mengelabui musuh , tujuan mereka memang akan ke Pakuwan Kalindih.
Akan tetapi perhitungan dari Senopati Singajaran ini sesuai pula dengan yg ada di pikiran Bekel Ampaian, sehingga meskipun mereka telah berjalan cukup jauh dari Kotaraja Medang Kemulan dan merasa sudah tidak di kejar lagi, maka para keluarga istana ini di ajak menuju arah barat untuk selanjutnya menuju arah selatan , mereka tetap pada tujuannya yg akan ke Kalindih.
Sungguh suatu perhitungan yang sebenarnya cukup baik, tetapi dasar memang nasib, akhirnya pada hari ketiga sejak keluarga dari Prabhu Watu Menak Koncar ini berjalan, mereka mendapatkan hadangan dari Pasukan Pakuwan Pamintihan yg di pimpin oleh Panglima Rakai Parumping.
Sungguh sangat di sayangkan oleh Senopati Singajaran , akhirnya mereka harus bertemu pasukan tersebut sedangkan jarak dengan pasukan Kalindih masih cukup jauh.
Mau tidak mau, para prajurit yg d pimpin oleh Senopati Singajaran yg tidak terlalu banyak ini harus berhadapan dengan pasukan dari Pakuwan Pamintihan yg jumlah nya sangat besar, apalagi di tambah dengan pasukan yang di pimpin oleh Bekel Ampaian.
Tentu saja pertarungan tidak dapat di hindarkan lagi.
" Cepat , kalian semua menyerah,.jika nyawa kalian ingin selamat ,!" seru Panglima Rakai Parumping dengan tegas.
" Puiihhh,..lebih baik kami mati daripada harus menyerah,..!" teriak Putri Dyah Wikamini.
Istri dari Panglima Raden Naruttala ini terlihat sangat marah sekali terlebih , pelarian mereka telah di ketahui oleh musuh.
Matanya mengeluarkan sorot penuh kebencian terhadap pasukan yang menghadang mereka ini, apalagi di lihat nya ada Bekel Ampaian dan para prajurit Medang Kemulan yg berkhianat ada disana pula.
Rasa benci dan marahnya menjadi satu dan terasa membuncah terlebih jika ia mengingat suaminya yang telah tewas itu.
" Senopati Singajaran,. perintahkan kepada prajurit mu untuk melakukan perang puputan,..jangan sampai ada yang lari, biarlah kita mati daripada harus di tawan mereka,.!" teriak Putri Dyah Wikamini sambil mengacungkan senjatanya.
Akan tetapi pemikiran dari Putri Dyah Wikamini ini berbeda dengan ibunda ratu serta adiknya Putri Dyah Minak Sriniti.
Keduanya merasa lebih baik menyerah daripada harus mati melawan.
__ADS_1
" Ibunda Ratu, tidak mungkin kita menyerah kepada musuh, toh akhirnya jika kita tertangkap mereka akan menghukum gantung kita, oleh sebab itu sebaiknya kita melawan hingga mati,..!" seru Putri Dyah Wikamini.
Ia sangat tidak sependapat dengan Ibundanya ini yg menyarankan mereka untuk menyerah.
" Kangmbok Ayu,.saran yg dikatakan oleh ibunda ratu itu ada benarnya, jika kita semua mati disini, siapa lagi yg akan meneruskan perjuangan dari Ramanda Prabhu, bukankah beliau yg telah menyuruh kita untuk menyingkir, itu artinya kita harus selamat ,guna membalaskan dendam nya,..!" ucap Putri Dyah Minak Sriniti.
Putri Dyah Wikamini terdiam, karena dua orang terdekatnya telah menyudutkan pendapat nya.
" Terserah Ibunda Ratu dan kau , Rayyi Sriniti, yg jelas aku akan melawan mereka ,..!" balas Putri Dyah Wikamini.
Lantas ia meninggalkan ibunya serta adiknya tersebut.
Putri Dyah Wikamini mendejsti Senopati Singajaran yg tampaknya memang tidak punya pilihan lain selain harus bertempur.Meski kemungkinan untuk menang sangat tipis sekali setipis kulit bawang.
Putri Dyah Wikamini kemudian berseru dengan lantang, suaranya itu ditujukan kepada Bekel Ampaian.
" Hehh,.. Ampaian ,..masih berani dirimu menunjukkan wajah burukmu itu di hadapan kami semua, apakah dirimu tidak merasa malu terhadap perbuatan mu yg sangat hina ini , kurang apa sikap Ramanda Prabhu yg telah mengampuni mu serta mengangkatmu sebagai seorang Bekel prajurit di Medang Kemulan ini, sekarang apa balasan yg telah kau lakukan terhadap kami , juga terhadap Ramanda Prabhu,..jijik rasanya melihat wajah mu itu Ampaian,..!" seru Putri Dyah Wikamini.
Sambil ia mengacungkan senjatanya ke arah Bekel Ampaian yg berada di paling depan darj pasukan nya.
Bekel Ampaian kemudian menjawab ucapan dari bekas Junjungan nya ini dengan pelan.
" Maaf sebelumnya, Gusti Putri, Aku Bekel Ampaian adalah seorang senopati di masa pemerintahan dari Prabhu Kreshna Yuda,..apakah salah kiranya jika diriku memihak kepada putranya Prabhu Kreshna Yuda itu yg telah mengangkat diriku sebagai seorang senopati , dan diriku pun tidak pernah merengek rengek mohon ampunan dari Gusti Prabhu Menak Koncar,..Aku adalah aku, dan kini memang diriku berpihak kepada Gusti Pangeran Dewangga Sena, kalau diriku berpihak kepada Gusti Prabhu Menak Koncar itu sama artinya diriku berkhianat kepada orang yang telah membesarkan diriku,.!" jawab Bekel Ampaian.
Ia juga menyambung ucapannya ini dengan mengatakan kepada Putri Dyah Wikamini , untuk dapat mengatakan apapun terhadapnya yg jelas ia telah memutuskan berpihak kepada pangeran Dewangga Sena.
Jawaban dari Bekel Ampaian ini bukannya membuat amarah Putri Dyah Wikamini mereda, ia semakin bertambah murka seraya berkata,..
" Dasar pengkhianat, sekali berkhianat selamanya dirimu akan berkhianat,..****** kau Ampaian, .heahhh,..!" teriak Putri Dyah Wikamini.
Ia langsung meloncat menyerang Bekel Ampaian dengan pedangnya.
Senopati Singajaran yg ingin mencegah nya tidak dspat berbuat apa -apa lagi, ia pun harus berhadapan dengan Panglima Rakai Parumping yg segera memerintahkan untuk menangkap mereka dan menghabisi bagi siapa saja yang melakukan perlawanan.
Pasukan kecil yang d pimpin oleh Senopati Singajaran ini memang meletakkan keluarga kerajaan berada di tengah mereka , agar mereka dapat di jaga dari serangan musuh.
Satu persatu para prajurit Medang Kemulan ini jatuh bertumabngan dan menghembuskan nafas nya untuk terakhir kalinya hingga yg tersisa hanya dua orang saja yang mampu bertahan yaitu Putri Dyah Wikamini dan Senopati Singajaran.
Ternyata putri sulung Prabhu Watu Menak Koncar ini memiliki kemampuan yang cukup tinggi, ia mampu memberikan perlawanan yang sengit ketika berhadapan dengan Bekel Ampaian.
Sedangkan di sisi lain, Senopati Singajaran pun ber juang sekuat tenaga nya menghadapi panglima Rakai Parumping.
Meskipun ilmu serta kemmapuan dari Panglima Pakuwan Pamintihan ini jauh berada di atas Senopati Singajaran, akan tetapi melawan orang yang tampaknya tidak takut mati, ia masih harus kesulitan.
" Menyerahlah, Singajaran,..nanti Diriku sendiri yg akan memintakan ampun kepada Gusti Pangeran Dewangga Sena,.. Aku berjanji,..!" ucap Panglima Rakai Parumping.
" Bagiku hanya satu, hidup atau mati, tidak ada kata menyerah dalam kamusku, Panglima Rakai Parumping terserah padamu , jika memang mampu menangkap diriku hidup -hidup silahkan, tetapi jangan harap diriku akan menyerah,.. Heahh ,..!" teriak Senopati Singajaran.
Sambil melompat ia menyerang Panglima Rakai Parumping dengan menggunakan senjatanya, pedangnya menebas mendatar baru kemudian meluruk tajam mengarah ke jantung lawan.
Panglima Rakai Parumping melompat mundur dan kemudian menangkis serangan dari lawan nya ini.
Kedua pedang beradu, dan menimbulkan percikan kembang api, memang Panglima dari Pakuwan Pamintihan ini berusaha untuk menangkap hidup hidup Senopati Singajaran , Senopati pengawal keluarga kerajaan tersebut.
Akan tetapi tampaknya sangat sulit bagi Panglima Rakai Parumping melaksanakn niatan nya ini, Senopati Singajaran sepertinya sudah tidak memikirkan dirinya lagi, dengan membabi buta ia terus saja menyerang hingga akhirnya.
" Heahhh,..!"
" Crabhhhh,..!"
" Aaaakhh,..!"
Dalam satu lompatan yang tinggi tatkala Panglima Rakai Parumping berusaha menghindari serangan lawan, ia berhasil melompati tubuh dari Senopati Singajaran tersebut dan naluri keprajuritan nya membuatnya harus menusukkan pedang nya dari arah belakang lawan.
Pedang yg berada di tangan Panglima Rakai Parumping ini berhasil menembus punggung dari Senopati Singajaran hingga tembus ke dada nya.
__ADS_1
Senopati dari Kerajaan Medang Kemulan ini tewas bersimbah darah karena tertembus pedang Panglima Rakai Parumping.
Melihat hal tersebut, Putri Dyah Wikamini merasa tidak ada jalan lain untuk keluar dari kekalahan ini, ia mengambil sebuah kesempatan tatkala Bekel Ampaian tengah sedang sibuk menangkis serangan nya, dalam sebuah lompatan yang cukup panjang , Putri Sulung Prabhu Watu Menak Koncar ini berusaha meninggalkan tempat tersebut.
Tetapi para prajurit Pakuwan Pamintihan tidak tinggal diam begitu saja,. beberapa orang prajurit segera melepaskan anak-anak panah nya guna menghentikan lari Putri Dyah Wikamini ini.
Salah satu anak panah yang melesat itu berhasil menembus pundak Putri Dyah Wikamini.
Ibundanya dan adiknya seru keras..
," Kangmbok"
" Anakku ,.. Wikamini,..!"
Bersamaan itu pula tubuh dari Putri Dyah Wikamini roboh ke atas tanah.
Melihat hal tersebut, Panglima Rakai Parumping memerintahkan para prajurit nya untuk melihat keadaannya.
" Cepat lihat , apakah ia masih hidup atau tidak ..!" seru Panglima Rakai Parumping.
Empat orang prajurit segera bergegas melaksanakan perintah Panglima Rakai Parumping ini.
Mereka mendatangi tempat dimana Putri Dyah Wikamini tadi terjatuh.
" Hehh..kemana perginya orang tersebut,.!" ucap salah seorang prajurit .
Setelah mereka tidak melihat lagi tubuh putri Prabhu Watu Menak Koncar ini berada di tempatnya jatuh.
Mereka kemudian menyusuri bekas bercak darah itu hingga berakhir di sebuah tepian sungai.
Sungai tersebut cukup dalam dan berarus sangat deras berbeda dengan saat mereka susuri pertama kalinya.
Dan aliran sungai tersebut mengarah barat.
Keempat nya segera kembali menghadap Panglima Rakai Parumping .
" Mana Putri Dyah Wikamini itu,..?" tanya Panglima Rakai Parumping.
Keempat prajurit tersebut terdiam tidak menjawab,..mereka saling be pandangan saja.
" Apakah Putri Dyah Wikamini berhasil meloloskan diri,..?" tanya Panglima Rakai Parumping lagi.
" Benar Gusti Panglima, putri Dyah Wikamini ini berhasil meloloskan diri, dan tampaknya ia menceburkan diri ke dalam sungai itu,..!" jawab salah seorang prajurit.
" Cepat selusuri sungai itu , hingga kalian mendapatkan nya,..!" perintah Panglima Rakai Parumping.
Ia pun menambah prajurit nya lagi guna mencari Putri Dyah Wikamini yg telah menghilang itu.
Hingga malam turun, pencarian terhadap Putri Dyah Wikamini ini tidak membuahkan hasil.
Dan akhirnya Panglima Rakai Parumping memerintahkan kepada para prajurit untuk mendirikan kemah dekat tepian sungai tersebut.Mereka bermalam disana.
Sementara itu sesosok tubuh yg tengah hanyut di sungai tersebut telah cukup jauh meninggalkan tempat dimana pertama kalinya ia terjatuh.
Dan pada keesokan harinya, tubuh yg hanyut tersebut tersangkut di sebuah dahan kayu yang jatuh ke sungai tersebut.
Dan tatkala ada seorang pemuda yang pagi itu ingin mencari ikan dengan menggunakan kailnya tiba tiba merasa heran mendapati sesosok tubuh yg tampaknya telah meninggal .
Siapakah orang ini ,berkata dalam hati pemuda itu.
Ia menarik tubuh perempuan yang tiada lain adalah Putri Dyah Wikamini ini ke darat.
Setelah berada diatas, ia meletakkan nya di rerumputan dan memeriksa nya.
Hehh ternyata ia masih hidup, meskipun denyut nadi nyaris tidak terasa lagi bergeraknya ,berkata dalam hati pemuda itu.
__ADS_1
Buru -buru, ia mengangkat tubuh perempuan tersebut dan membawa pergi dari tempat tersebut.