SASRA WURUK

SASRA WURUK
Di Tahan #7


__ADS_3

Meskipun sudah berusaha untuk menjauhi sendang tersebut dengan perlahan-lahan sekali guna tidak di ketahui oleh ketiga orang itu, namun naas, kaki kanan Putri Dyah Wikamini tiba tiba menginjak sebuah ranting kayu kering dan patah hingga menimbulkan suara yg cukup keras,


" Kreeei,..thaaakk,.!"


Aduh mampus aku , membathin putri Prabhu Watu Menak Koncar itu dalam hatinya.


Memang malam sudah menjadi gelap sekali dan di tambah rasa takut menyergap di hati perempuan itu hingga membuat nya pun terburu buru.


Suara ranting kayu patah tersebut itu pun terdengar oleh ketiga lelaki ini.


" Tampaknya ia berada di sebelah sana,..!" seru seseorang.


Dan menunjuk ke arah asal suara itu timbul.


" Benar, tampaknya ada orang berada di situ, cepat kejar dan tangkap, !" teriak yg seorang lagi.


Tidak terlalu lama ketiga lelaki ini segera berlari menuju arah Putri Dyah Wikamini.


Mengetahui ketiganya telah mengejar ke arahnya , Putri Prabhu Watu Menak Koncar ini pun ambil langkah kaki seribu.


Ia pun mengerahkan tenaganya untuk meninggalkan tempat tersebut. Meski terlihat ia masih sangat lelah


Dalam hutan yang sangat lebat dan gelap tersebut, empat orang terlihat berlarian .


Mungkin tiga orang lelaki ini memang memiliki ilmu yg lebih tinggi daripada putri Dyah Wikamini atau memang mereka lebih menguasai medan , dalam sekejap saja mereka dapat menyusuli putri Prabhu Watu Menak Koncar itu.


" Hufhh, kena kau ,!" teriak salah seorang dari mereka.


Ia berhasil menubruk tubuh Putri Dyah Wikamini hingga terjatuh bergulingan dalam hutan tersebut, bahkan semak belukar pun menjadi saksi pergumulan diantara keduanya.


" Menjauh kau dari ku,..Hehh,..!" teriak Putri Dyah Wikamini sambil mengirimkan tendangan kaki kanannya.


Namun orang itu tetap berusaha untuk memegangi kaki Putri Dyah Wikamini ini dengan sangat erat nya.


"Cepat bantu,..!" teriak orang itu kepada teman teman nya.


Dua orang yg dipanggil langsung menghampirinya dan memegangi kedua tangan Putri Dyah Wikamini.


" Cepat ikat tangan dan kakinya , kita bawa segera ke tempat kita , lekas,..!" seru orang yang di panggil Kakang .


Meski meronta-ronta, akan tetapi Putri Dyah Wikamini kalah tenaga dengan ketiga lelaki yg memegangi nya.


Maka mereka pun mengikat kedua tangan dan kaki putri Dyah Wikamini dan langsung membawa nya pergi dari situ dengan cara di pondong.


Ketiganya lantas meninggalkan tempat tersebut dan memanjat naik ke arah puncak Gunung.


Agak lumayan jauh juga, setelah berjalan beberapa lama barulah mereka tiba di sebuah pondokan yg berada di dekat tepian jurang.


" Letakkan dia di atas amben bambu itu,.!"


Terdengar perintah pemimpin dari ketiganya berkata.


Agar tubuh Putri Dyah Wikamini di letakkan di sebuah amben bambu yg berada di depan pondokan mereka ini.


" Kau , nyalakan api, kita harus tahu siapa sesungguhnya perempuan ini, !" katanya lagi kepada seorang temannya yg masih berdiri.


" Baik kakang,..!" jawab orang tersebut.


Sekejap saja orang di perintahkan ini telah mengumpulkan beberapa kayu dan ranting kering dan untuk selanjutnya dinyalakan.


Daerah itu menjadi terang akibat cahaya api yang telah dinyalakan itu.


Orang yang menjadi pemimpin ketiganya pun menghampiri tubuh Putri Dyah Wikamini dan membalikkan tubuhnya .


" Hehhh,..!"


Seru orang itu dengan sangat kerasnya , ia terkejut bukan kepalang setelah tahu siapa sebenarnya wanita yang mereka bawa itu.


" Ada apa kakang,?" tanya teman nya penasaran.


" Kau lihat sendiri,..!" balas orang yang di panggil kakang ini.


Lantas keduanya pun menghampiri tubuh Putri Dyah Wikamini dan melihat siapa sesungguhnya dia.


" Hahh,..!"


" Kalian,..!"


Keduanya memang mengenali siapa perempuan itu, demikian pula dengan putri dari Prabhu Watu Menak Koncar ini.

__ADS_1


" Apa maksud kalian bertiga menangkapku,.?" tanya Putri Prabhu Watu Menak Koncar dengan nada marah.


Ia geram sekali setelah mengetahui bahwa orang yang telah menangkap nya ini adalah murid-murid dari Jabonarang penguasa Gunung Merut.


Ketiganya langsung terdiam mendengar ucapan Putri Dyah Wikamini, mereka saling pandang.


" Bagaimana ini kakang,..?" tanya Wardipa.


" Aku tidak tahu,..!" jawab Kinanja.


" Tenang saja kakang, kita jadikan istri panglima Naruttala ini sebagai barang mainan kita malam ini,.!" ujar Wandiga.


" Bagaimana jika Akuwu Watu Menak Kober mengirimkan pasukannya datang kemari dan menangkap kita, Kakang,.!" balas Wardipa.


Kinanja hanya terdiam mendengar ucapan dari adik seperguruannya itu.Dalam hatinya memang merasa gentar juga jika Pakuwan Kalindih datang menyerang kemari.


Padahal mereka sudah berusaha untuk menjauhi Kotaraja Medang Kemulan dan bergerak arah ke barat tepatnya di Gunung Chandra Muka ini.


" Ahh, tidak mungkin pasukan dari Pakuwan Kalindih akan datang kemari, mereka tentu tidak berani melakukan hal itu , takut dengan pasukan dari Kotaraja Medang Kemulan,.!" terang Wandiga.


" Benar juga yg kau katakan itu Wandiga, jadi apa yg selanjutnya kita lakukan dengan bekas istri Panglima Naruttala ini,..!" balas Kinanja.


Wandiga pun kemudian membisiki sesuatu kepada kakak seperguruan nya itu dan membuat mata dari Kinanja ini terbelalak karena nya.


" Ha, ha, ha, ternyata otak mu memang pintar Wandiga, jadi siapa yang dahulu melakukan nya,..?" tanya Kinanja sambil tertawa-tawa.


" Tentu kakang yg lebih dahulu,..!" sahut Wandiga.


Sedangkan Wardipa yg tidak mengerti segera bertanya kepada keduanya.


" Apa yg kakang Kinanja tertawa kan itu,.?" tanya nya kepada Kinanja.


Adalah Wandiga yg menjawab nya dengan berkata sangat pelan di telinga Wardipa itu.


" Hehh,..!"


Ia sangat terkejut mendengar nya, dan langsung menyahutinya,.


" Ahh, aku tidak akan ikut, terserah kakang berdua,..!" ucapnya.


Ia pun langsung meninggalkan tempat itu.Pergi menjauh dari keduanya.


Karena bagaimana pun juga ia sudah sangat mengenal putri Prabhu Watu Menak Koncar tersebut.


Lain halnya dengan kedua kakak seperguruan nya ini, mereka berdua mendekati tubuh dari Putri Dyah Wikamini ini.


Masih dalam keadaan terikat tangan dan kakinya, Ia berseru lantang,.


" Cepat lepaskan ikatan ku ini, atau kalian akan segera mendapatkan murka dari Paman Akuwu Watu Menak Kober,..!"


Kedua orang yg merupakan murid dari Jabonarang ini saling berpandangan dan kemudian tertawa..


" Ha, ha ,ha ,kami tidak takut dengan ancaman mu Wikamini,!" kata Kinanja.


" Benar, sekarang dirimu itu bukan siapa-siapa lagi, hanya bekas seorang anak Raja yg terbuang dan tidak memiliki apa-apa lagi,.!" timpal Wandiga.


Keduanya terus saja mendekati Putri Dyah Wikamini dan selanjutnya memegangi tangan dan kakinya.


Kinanja berusaha berusaha melepaskan ikatan tali yang ada di kaki perempuan tersebut, sedangkan Wandiga melepaskan ikatan yang ada di tangan nya.


" Lepaskan, lepaskan aku,.!" teriak Putri Dyah Wikamini sambil meronta-ronta.


Di wajah perempuan malang ini terlihat ketakutan yg teramat sangat.


Ia berusaha untuk dapat lepas dari kedua orang itu, namun sayang tenaga nya kalah jauh sehingga ia tidak berdaya sama sekali saat tangan Kinanja mulai menggerayangi tubuhnya.


Sementara Wandiga pun ikut melepaskan pakaian yg di kenakan oleh putri Prabhu Watu Menak Koncar itu.


Meski pun ia meminta dengan cara mengiba kepada keduanya untuk melepaskannya namun tetap saja kedua murid Jabonarang ini melanjutkan usahanya yg bejat itu.


" ******* kalian, Aku akan membalas perbuatan kalian ini dengan balasan yg lebih pedih lagi,." teriak Putri Dyah Wikamini sambil terus meronta.


Saat keduanya telah berhasil melucuti seluruh pakaian yang di kenakan oleh putri Dyah Wikamini maka untuk selanjutnya , secara bergantian keduanya pun menggagahi nya hingga pingsan.


" Kita buang saja ke bawah jurang ini, Kakang,.!" ucap Wandiga.


Setelah ia puas melakukan sesuatu yg tidak sepatutnya untuk di lakukan, hingga membuat Putri Dyah Wikamini ini sampai pingsan.


" Memang sebaiknya begitu, Wandiga , marilah kita lemparkan ke bawah, biar nanti jadi santapan binatang buas di bawah sana,!" ucap Kinanja.

__ADS_1


Maka kedua orang tersebut pun menggotong tubuh Putri Dyah Wikamini yg masih dalam keadaan pingsan tersebut.


Sebentar kemudian , keduanya pun melepaskan tubuh dari Putri Prabhu Watu Menak Koncar itu dengan cara melemparkan nya ke dalam jurang yang berada tidak jauh dari pondokan tersebut.


Setelah selesai maka Kinanja dan Wandiga kembali lagi ke pondokan dan mereka telah melihat Wardipa sudah ada di situ.


" Kakang berdua terlalu kejam, bukankah guru bersahabat baik dengan sang Prabhu Watu Menak Koncar, dan kini kalian berdua telah membunuh anaknya,.!" ujar Wardipa tidak senang.


" Saat ini kita tidak memiliki hubungan dengan mereka, baik dengan Akuwu Watu Menak Kober terlebih dengan keluarga dari Prabhu Watu Menak Koncar sendiri, bahkan mereka pun harus membayar mahal atas yg terjadi terhadap guru dan paman guru kita,.Wardipa,..!" terang Kinanja.


" Ya, meskipun demikian guru masih menghormati keluarga Putri Dyah Wikamini itu, dan yg kedua mengapa kakang berdua sampai hati membunuhnya, dia bisa kakang biarkan tetap hidup tidak harus di bunuh,.!" ungkap Wardipa.


" Ahh, sudahlah, jangan terlalu merisaukannya, saat ini tiada seorang pun yang tahu atas apa yg telah terjadi, asalkan dirimu tidak membocorkannya,.!" sahut Wandiga.


Wardipa pun terdiam, ia tidak mau bertengkar dengan kedua kakak seperguruan nya itu, sebab sudah sejak lama mereka bersama , bahkan sampai berjuluk si Tiga Golok setan dari Gunung Merut.


Nama besar mereka cukup menggetarkan bagi siapa saja yg mendengar nya.


***********


Di Pakuwan Kalindih sendiri , sang Akuwu tengah mengadakan sidang paseban untuk membahas mengenai ajakan damai yg telah disampaikan oleh dua utusan dari Kotaraja Medang Kemulan.


Dalam sidang kali ini sengaja Akuwu Watu Menak Kober memanggil seluruh pejabat dan pembesar Pakuwan Kalindih.


Ia ingin mendengar secara langsung pendapat mereka akan hal itu.


" Sebelum nya , Aku sebagai pemimpin tertinggi dari Pakuwan Kalindih ini mengucapkan terima kasih atas kehadiran kalian semua,.!" kata Akuwu Watu Menak Kober membuka sidang Paseban.


Akuwu Watu Menak Kober mengedarkan pandangan matanya ke seisi ruangan.


Baru ia melanjutkan lagi ucapannya.


" Adapun hal yang penting dan ingin segera mendapatkan pemecahan permasalahan nya adalah bahwa telah datang utusan dari Kotaraja Medang Kemulan kemari,.!" ucap Akuwu Watu Menak Kober lagi.


Dan tiba tiba saja ruangan istana dari Pakuwan Kalindih ini menjadi agak ramai dan riuh setelah mendengar nama utusan dari Kotaraja Medang Kemulan.


" Utusan dari Medang Kemulan,..!"


Begitu lah para pembesar dan pejabat Pakuwan Kalindih ini berkata, diantara mereka saling pandang.


Karena Perseteruan Pakuwan Kalindih dengan Kotaraja Medang Kemulan memang belum usai, bahkan kali ini sejak kedatangan salah seorang putri Prabhu Watu Menak Koncar ke tempat itu, semakin membuat hubungan nya semakin memanas.


Jadi mereka menjadi heran dengan kedatangan utusan dari Kotaraja Medang Kemulan tersebut.


" Ampun Gusti Akuwu, siapakah gerangan utusan dari Kotaraja Medang Kemulan itu,.mengapa mereka tidak berada di sini bersama kita,.?" tanya Patih Pakuwan Kalindih .


Sejenak Akuwu Watu Menak Kober menarik nafasnya, ia memang sengaja tidak menghadirkan adik perempuan nya ini, sebab sebelum dirinya mengetahui pendapat para pemangku kekuasaan Pakuwan Kalindih ini , Akuwu Watu Menak Kober tidak berani mengambil resiko dengan menyebutkan orang nya.


Apalagi menghadirkan nya dalam ruangan itu.


" Mereka adalah utusan yg dapat di percaya dan telah pergi meninggalkan tempat ini,.!" jawab Akuwu Watu Menak Kober.


Karena sebenarnya ia tahu , banyak orang dalam Pakuwan Kalindih ini tidak senang dengan Ratu Ayu Tunggarani dan putranya Pangeran Turangga Sena, bahkan keponakan nya sendiri pun yaitu Putri Dyah Wikamini telah menangkap mereka , sehingga sang Akuwu masih berusaha menyembunyikan jati diri keduanya.


" Apakah utusan itu adalah Gusti Ratu Tunggarani dan Pangeran Turangga Sena, Akuwu,..?" tanya panglima Kalindih.


Orang yang paling bertanggung jawab mengenai keamanan dari Pakuwan Kalindih ini sebenarnya sudah dapat menebak dan tahu siapa orang yang menjadi utusan dari Kotaraja itu.


Panglima dari Kalindih pun tahu dengan apa yg telah dilakukan oleh putri Dyah Wikamini di dekat perbatasan Kalindih.


Mendengar pertanyaan dari Panglima perangnya, Akuwu Watu Menak Kober langsung diam.


Ia memang tidak dapat mengelak lagi dengan pertanyaan itu.


" Ahh, tidak masalah dengan utusan nya, saat ini yg ingin ku dengar dari kalian semua mengenai pendapat kalian tentang ajakan Kotaraja Medang Kemulan yg menginginkan kita tunduk dan patuh terhadap mereka,.!" jelas Akuwu Watu Menak Kober tanpa menanggapi pertanyaan dari Panglima nya tadi.


Kembali ruangan paseban itu menjadi hening atas pertanyaan dari pemimpin mereka ini.


Sebahagian dari mereka kemudian ada yang berbisik satu sama yg lainnya membahas pertanyaan dari sang Akuwu.


" Ampunkan hamba gusti Akuwu,.kalau menurut hamba , sebaiknya kita terima saja tawaran dari Prabhu Dewangga Sena itu,.!" ucap Patih dari Pakuwan Kalindih ini sambil menjura hormat.


" Tidak Gusti Akuwu,..kalau menurut hamba sebaiknya kita tetap pada pendirian untuk tidak tunduk kepada Medang Kemulan, Gusti,!" ucap Panglima Kalindih memotong ucapan dari Patih nya itu.


" Apa alasan mu , panglima Panantaran,..?" tanya Akuwu Watu Menak Kober kepada panglimanya ini.


" Ampunkan Gusti Akuwu,.Prabhu Dewangga Sena terlalu muda untuk menjadi seorang raja di Medang Kemulan ini, belum sepantasnya ia menduduki tahta kerajaan Medang Kemulan itu,.!" jawab Panglima Panantaran.


" Ahh, bukankah ia memang pewaris tahta kerajaan Medang Kemulan ini dari trah ayahnya , Prabhu Kreshna Yuda dan kalau menurutku ia sudah cukup dewasa sebagai seorang Raja,..!" balas Patih Watu Demangkur.

__ADS_1


Akuwu Watu Menak Kober memandangi kedua orang dekat nya ini yg lagi sedang berdebat dengan pendapat nya masing-masing.


__ADS_2