
" Apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi orang tersebut ,..Ki Gambong,..?" tanya Pangeran Dewangga Sena.
Putra Prabhu Kreshna Yuda ini tetap mengarahkan pandangan nya kepada lelaki yang sudah sangat tua ini memakai jubah berwarna hitam yg masih saja mengibas -ibaskan jubahnya tersebut.
" Sebaiknya lah, Gusti Pangeran menggunakan Keris pusaka yang ada di pinggang itu , guna menangkal sihir orang tersebut,.. lakukanlah dengan mengerahkan ilmu Telapak Dewa yg Gusti Pangeran miliki ,..!" terang Ki Gambong.
Sambil melirik ke arah Ki Gambong, Pangeran Dewangga Sena langsung mencabut keris pusaka Naga Aling aling dari balik pinggang nya.
" Maksud Ki Gambong , menggunakan keris Pusaka Naga Aling aling ini,...?" tanya Pangeran Dewangga Sena.
Pamor dari keris pusaka Naga Aling aling ini menyeruak dengan mengeluarkan cahaya putih kekuningan,..amat menyilaukan mata yang memandang nya.
" Tepat sekali ,..Gusti Pangeran ,..arahkanlah keris tersebut kepada orang tua yg sedang mengibas -ibaskan jubahnya itu,..!" ujar Ki Gambong.
Ia juga menambahkan agar Pangeran Dewangga Sena melakukan nya dengan mengerahkan segenap kekuatan dari Ajian Telapak Dewa.
Putra Prabhu Kreshna Yuda langsung menuruti permintaan dari ki Gambong ini,..ia pun mengarahkan ujung keris pusaka Naga Aling aling, dan selanjutnya pula Pangeran Dewangga Sena merapal mantera ajian Telapak Dewa,..dan,..
" Aji Telapak Dewa,...!"
Teriakan yang nyaring dan sangat keras keluar dari mulut Pangeran Dewangga Sena, meluncurkan selarik cahaya terang berwarna putih kekuningan menuju ke tempat dimana Jabonarang tengah berusaha melepaskan sihirnya , menutupi pandangan pasukan dari Pakuwan Pamintihan.
" Bleghuaaarrrr,...!??"
" Dhumbhh,...!!!"
" Aaakhh,...!""
Cahaya terang , putih kekuningan itu menghantam dengan keras menuju ke arah Jabonarang ,..akan tetapi orang tua ini mampu menghindari nya, tetapi para prajurit Kerajaan Medang Kemulan yg ada di belakang nya menjadi korban terjangan dari Ajian Telapak Dewa yg di keluarkan oleh ujung keris pusaka Naga Aling aling.
Hasilnya sungguh mengerikan,.. seluruh prajurit yang terkena hantaman oleh ilmu Pangeran Dewangga Sena menjadi hancur lebur menjadi debu,..bahkan selanjutnya dinding benteng Keraton Medang Kemulan pun menjadi ambrol di sasar oleh serangan tersebut.
Perlahan-lahan kemudian terlihat lah para prajurit Kerajaan Medang Kemulan yg tengah berada di sekitar benteng tersebut.
Pengaruh ilmu sihir milik dari Jabonarang ini menjadi sirna,.dan berhadap hadapanlah kedua pasukan yang akan berperang itu.
" Hehh,..Ternyata cukup banyak jumlah mereka,..!" ucap Senopati Garega kaget.
Padahal sebelum nya ia ingin segera masuk ke dalam keraton Medang Kemulan melalui pintu gerbang yg terbuka itu, namun setelah ia menyadari bahwa pasukan dari kerajaan Medang Kemulan tengah menumpuk disana, Senopati handal dari Pakuwan Pamintihan ini jadi geleng geleng kepalanya.
Hanya akan mengantarkan nyawa saja jika kami bergerak,..berkata dalam hati Senopati yg menjadi ujung paruh dari pasukan Pakuwan Pamintihan ini.
Selanjutnya, Pangeran Dewangga Sena memerintahkan kepada seluruh pasukan nya untuk bersiap melakukan penyerangan.
Sebelum hal tersebut di lakukan , ia masih mengucapkan sesorahnya guna menambah semangat juang para prajurit nya.
" Setiap darah yang tertetes adalah sesuatu pengorbanan yang sangat luar biasa guna menghapus kelaliman dan ke angkara murkaan dari bumi Medang Kemulan ini, jadi berjuanglah sampai titik darah penghabisan,..!"
Ucapan nya itu menjadi pemacu semangat dari para prajurit Pakuwan Pamintihan,.melalui para Senopati nya dan dengan di iringi oleh tabuhan genderang perang,.. bergeraklah seluruh pasukan yang di bawa oleh putra Prabhu Kreshna Yuda ini dari tiga sisi.
Dari sisi selatan yang merupakan pintu gerbang utama, nampak Senopati Garega dan pasukan nya tengah mendekati pasukan yang berada di dekat gerbang tersebut.
__ADS_1
Sedangkan dari arah pintu gerbang sebelah timur ada Panglima Rakai Parumping yg tengah mendekati gerbang tersebut dengan senjata terhunus.
Demikian pula dari arah barat,.. sebagai Senopati nya ada Panglima Raden Watu Giring yg bergerak pula guna dapat masuk dari arah gerbang tersebut.
Melihat pergerakan pasukan musuh yang berusaha untuk masuk ke dalam benteng keraton Medang Kemulan ini, Panglima Raden Naruttala yg menjadi Senopati Agung nya segera memerintahkan para prajurit panahnya untuk maju terlebih dahulu guna menghentikan laju pasukan yang datang ini.
" Pasukan panah,.. Serang,...!" seru Panglima Raden Naruttala.
Tak ayal lagi, ratusan bahkan mungkin ribuan anak panah meluncur deras ke arah pasukan Pakuwan Pamintihan yg mendekati pintu gerbang utama ini.
Senopati Garega yg menjadi Senopati ujung paruh gelar Garuda Nglayang ini segera memerintahkan kepada para prajurit nya agar membentuk formasi tameng guna melindungi para prajurit nya dari serangan pertama dari pasukan Medang Kemulan ini.
Tidak sampai disini, Senopati Garega kemudian memerintahkan kepada para prajurit nya untuk membalas serangan dengan menggunakan anak panah pula.
Sehingga pada benturan pertama pada peperangan kali ini adalah adu serangan anak anak panah.
Setelah beberapa prajurit yang jatuh berguguran dari kedua belah pihak,..pasukan Tameng dari Pakuwan Pamintihan segera melanjutkan usaha nya mendekati pintu gerbang utama ini.
Setelah Pasukan yg di pimpin oleh senopati Garega perlahan-lahan maju, maka induk pasukan dari Pakuwan Pamintihan yg di pimpin langsung oleh Pangeran Dewangga Sena pun mulai bergerak pula.
Dan dari arah yg berlawanan, pasukan Kerajaan Medang Kemulan sendiri pun datang menyambut pasukan yang datang ini.
Pasukan Medang Kemulan yg di pimpin oleh Panglima Raden Naruttala sebagai Senopati Agungnya berusaha untuk menjauhkan pasukan yang di pimpin oleh Pangeran Dewangga Sena dari pintu gerbang. Mereka berusaha untuk mencegat pasukan yang datang ini agar tidak dapat masuk ke dalam benteng Keraton Medang Kemulan.
Hal yg serupa pun terjadi di kedua sisi pasukan dari Pakuwan Pamintihan,.baik Panglima Raden Watu Giring maupun Panglima Rakai Parumping harus tertahan jauh di luar dari benteng Keraton.
Umumnya para pembesar Kotaraja Medang Kemulan ini tidak menginginkan Kotaraja menjadi karang abang dengan menjadikannya sebagai tempat ajang peperangan dan untuk itulah mereka berusaha keluar dari dalam benteng dan berperang jauh di luar dari keraton Medang Kemulan ini.
Baik Senopati Garega yg menjadi Senopati ujung paruh pasukan Pakuwan Pamintihan ini maupun Panglima Raden Naruttala dari Medang Kemulan memberikan perintah untuk melakukan serangan.
Memang keadaan kali ini, Pasukan dari Kerajaan Medang Kemulan masih lebih besar dari pasukan Pakuwan Pamintihan,.. tetapi kelebihan pasukan ini tidak menjadi kentara ketika para Senopati tangguh dari Pakuwan Pamintihan dapat menjadi momok yang sangat menakutkan untuk lawan- lawan nya.
Selain kemampuan bertempur yg sangat tinggi,.. mereka juga mampu menggerakkan pasukan nya dengan sangat baik.
Ini sangat terlihat, ketika Senopati Garega dengan sangat cerdiknya membuka sedikit ruang kepada pasukan induknya agar dapat masuk menekan pasukan yang di pimpin oleh Panglima Raden Naruttala.
Induk pasukan dari Pakuwan Pamintihan yg di pimpin langsung oleh Pangeran Dewangga Sena bergerak maju , ketika Senopati Garega bergerak agak ke tepi,..maka pasukan dari kerajaan Medang Kemulan yg masih saja keluar dari dslam benteng harus tertahan di sekitar benteng,..akibat induk pasukan dari Pakuwan Pamintihan mencegat langsung mereka , sedangkan Senopati Garega yg agak membuka ke arah kiri langsung berusaha menjepit induk pasukan dari kerajaan Medang Kemulan ini.
Demikian pula beberapa Panewu yg berada di induk pasukan yang di pimpin oleh Pangeran Dewangga Sena ini,.mereka bergerak arah berlawanan dari pasukan yang di pimpin oleh senopati Garega.
Dua orang yang menjadi pemimpin pasukan di sebelah kanan dari induk pasukan itu adalah Panewu Cempogo dan Panewu Langgrah.
Mereka berdua berhadapan dengan pasukan dari kerajaan Medang Kemulan yg di pimpin oleh seorang Senopati bernama Jabung Alap.
Seorang yg menjadi andalan dimasa perang melawan Prabhu Kreshna Yuda pada waktu itu.
Senopati Jabung Alap sebenarnya tidak berkeinginan memimpin sepasukan prajurit dari kerajaan Medang Kemulan ini, namun atas desakan dari Panglima Raden Naruttala , akhirnya Senopati Jabung Alap bersedia untuk menerima nya. Jadilah ia Senopati pengapit pada sayap kiri dari induk pasukan Kerajaan Medang Kemulan ini.
Di saat mentari telah condong ke arah barat,.keadaan medan pertempuran yang berada di depan benteng dan pintu gerbang utama Medang Kemulan ini dalam keadaan masih seimbang.
Memang pasukan dari Pakuwan Pamintihan berhasil mencegah keluarnya pasukan dari Kerajaan Medang Kemulan tetapi tetap saja mereka belum mampu merangsek masuk ke dalam dan lebih menekan pasukan lawan.
__ADS_1
Disebabkan pasukan Medang Kemulan yg di pimpin oleh Panglima Raden Naruttala ini, masih mampu melakukan serangan dari balik benteng Keraton ketika mereka belum berhasil keluar dari gerbang utama itu.
Ini membuat pasukan dari Pakuwan Pamintihan harus membagi perhatiannya kepada serangan tersebut.
Meskipun jarak nya sudah cukup dekat dengan pintu gerbang tersebut akan tetapi pasukan Pakuwan Pamintihan ini masih saja mendapatkan tekanan yg sangat hebat dari pasukan kerajaan Medang Kemulan.
Sehingga sampai saatnya mentari tenggelam dalam pelukan malam, garis peperangan masih pada tempatnya semula, kekuatan pasukan Pakuwan Pamintihan ini belum mampu mendesak pasukan Medang Kemulan .
Ketika pangeran Dewangga Sena menyerukan kepada pasukan nya untuk kembali pada landasan mereka, maka keadaan pasukan ini masih cukup baik.
Demikian pula keadaan dari pasukan Kerajaan Medang Kemulan, walaupun telah jatuh berguguran para prajurit nya , namun secara keseluruhan kedudukan pasukan ini masih dapat mengusir di katakan baik.
Para prajurit dari kerajaan Medang Kemulan mengumpulkan prajurit nya , baik yg sudah tewas ataupun dalam keadaan terluka.
Seluruhnya di bawa masuk ke dalam benteng Keraton. sedangkan para prajurit yg lain berusaha menutup benteng Keraton yg jebol di hantam oleh Ajian Pangeran Dewangga Sena.
Tidak jauh berbeda dengan Pasukan dari Medang Kemulan,.. pasukan Pakuwan Pamintihan pun melakukan hal yang sama mereka menarik pasukan nya kembali dengan membawa serta para prajurit yg tewas dan terluka pula.
Dan di dalam kemah Pangeran Dewangga Sena sendiri telah hadir beberapa pemimpin pasukan diantara nya Panglima Raden Watu Giring, Panglima Rakai Parumping, Patih Watu Spuh Gada, Senopati Garega serta beberapa Panewu yg menjadi pendukung dari Pangeran Dewangga Sena termasuk dua Senopati dari Pakuwan Sindur dan Pemanggar.
Mereka membicarakan hal mengenai hasil peperangan kali ini yg menurut sebahagian besar pendapat mereka tidak berhasil mendesak pasukan dari Kerajaan Medang Kemulan ini.
Dari beberapa Senopati menyebutkan agar mereka dapat lebih memusatkan perhatian kepada gerbang utama yg disana ada Panglima Raden Naruttala yg menjaga nya.
" Kalau menurutku , pada peperangan hari pertama ini kita masih lebih unggul dari mereka,..!" ucap Panglima Raden Watu Giring.
Memang pasukan nya belum berhasil menerobos pertahanan dari para prajurit Medang Kemulan itu, tetapi mereka merasa hal tersebut di sebabkan oleh ulah dari Jabonarang yg mampu mengecoh mereka dengan ilmu sihir nya.
" Mengapa kakang Watu Giring mengatakan hari ini kita lebih unggul dari mereka,..dimana kakang Watu Giring memandang nya,..?" tanya Panglima Rakai Parumping heran.
Di jelaskan kemudian oleh Panglima Raden Watu Giring bahwa ia melihatnya dari sudut pandang nya , yaitu jika seandainya pasukan nya tidak tertahan oleh ilmu yang di lontarkan oleh Jabonarang ini, tentu pasukan yang di bawanya telah dapat masuk dan merobek pertahanan dari pasukan Medang Kemulan yg berada di sisi barat ini.
" Benar apa yang dirimu katakan ,..Watu Giring, paman pun melihat bahwa kendala terbesar kita adalah saat beberapa kali kita harus menerima serangan yg di lontarkan oleh Jabonarang,..mulai sejak ia melepaskan beberapa binatang -binatang beracun nya sampai kita kehilangan pasukan Medang Kemulan dari pandangan mata, beruntung kali ini , di tengah -tengah pasukan kita masih ada Ki Gambong yg dapat berbuat lebih untuk menangkal serangan tersebut,..!" ungkap Patih Watu Spuh Gada.
Selanjutnya Senopati Garega lah yg mengajukan tanya mengenai gelar yg akan mereka pakai pada keesokan harinya.
" Ampun, Gusti Pangeran ,..apa tidak sebaiknya kita merobah gelar pasukan kita dengan gelar Sapit urang pada esok hari,..?" tanya Senopati Garega
" Kalau menurut ku, Gelar yg kita pakai kali ini pun cukup baik,..pasukan kita masih dapat memanfaatkan luasnya tempat peperangan kali ini ,.jadi lebih baik kita pertahankan saja gelar Garuda Nglayang ini,..!" terang Patih Watu Spuh Gada.
" Yeahh,..Aku sependapat dengan apa yg telah di katakan oleh Eyang Patih Watu Spuh Gada itu, gelar kita pada hari ini sudah cukup baik meskipun hasil yang kita terima belum sepenuhnya memuaskan hati,..!" sahut Pangeran Dewangga Sena.
Senopati Agung pasukan ini memang merasa belum saat nya untuk merobah gelar yg mereka pakai walau saat ini,.Dua sayap utama pasukan menjadi tumpuan pada dua sisi pintu gerbang , baik barat maupun timur, akan tetapi sayap sayap pada leher dan kepala dari induk pasukan ini pun telah sangat jelas membantu gerak laju pasukan yang menempatkan senopati Garega sebagai ujung paruhnya yg harus mengoyak pertahanan dari pintu gerbang utama untuk pertama kali nya.
Baik Senopati Garega maupun beberapa Panewu yg menjadi penyeimbang pada sisi yang lain mampu membuat gerak laju pasukan dari Kerajaan Medang Kemulan harus terhenti pada satu titik yaitu di depan gerbang utama.
Pada kesempatan kali ini secara khusus , Ki Gambong menyebutkan agar pasukan dari Pakuwan Pamintihan ini lebih berhati-hati lagi dalam menghadapi serangan gelap yg akan di lontarkan oleh Jabonarang.
" Kita memang tidak dapat memandang sebelah mata terhadap penguasa Gunung Merut itu,.mungkin pada esok hari kita akan menemukan hal yg lain lagi dari ilmu sihirnya yg sangat banyak itu,..!" ungkap Ki Gambong.
Seluruh para pemimpin yg berada di kemah pangeran Dewangga Sena ini saling berpandangan ,.. memang kekuatan satu orang ini cukup membuat kesulitan tersendiri dari pasukan Pakuwan Pamintihan itu.
__ADS_1
Jadi , setelah mendengar hal tersebut ,..secara khusus pula Pangeran Dewangga Sena memerintahkan kepadanya untuk menyiapkan pula penangkalnya, agar perjuangan mereka kalj ini dapat membuahkan hasil yang sempurna , dapat mengalahkan Prabhu Watu Menak Koncar itu.