SASRA WURUK

SASRA WURUK
Tahta Yang Goyah #10.


__ADS_3

" Naruttala,..apa yang dapat di berikan Watu Menak Koncar, mertuamu itu kepada ku, jika diriku bersedia membantu nya kembali,.?"


Pertanyaan yang diajukan oleh Penguasa Gunung Merut itu kepada Raden Naruttala sambil menatap tajam ke arah nya. Sedangkan yang di tatap memalingkan wajahnya ke arah lain, ia tidak sanggup menentang tatapan orang tua ini, karena selain mudah marah, Jabonarang pun di kenal dengan kesaktian nya , bahkan lelaki itu sudah terbiasa sekali menggunakan ilmu sihir. Jadi sebagai seorang yang masih muda, Panglima Raden Naruttala tentu masih jauh di bawah dari Jabonarang ini.


Dahulu orang tua inilah dengan di bantu saudara seperguruan nya Japutara yang membantu Prabhu Watu Menak Koncar menumbangkan kekuasaan dari Sang Prabhu Kreshna Yuda, bahkan saudara seperguruannya, Japutara harus mati sampyuh ketika berhadapan dengan sang Prabhu Kreshna Yuda penguasa kerajaan Medang Kemulan kala itu.


" Setelah apa yang di perbuatnya terhadap kami, terutama tidak menghargai pengorbanan yang telah di berikan oleh adi Japutara, Menak Koncar masih bisa -bisanya mengharapkan bantuan ku lagi,.!" seru Jabonarang.


Panglima Raden Naruttala mengangkat wajah nya seraya berkata,..


" Eyang Jabonarang,. Ramanda Prabhu bersedia memberikan kedudukan atau apa pun yang akan menjadi permintaan mu itu, termasuk juga dengan ketiga muridmu, Tiga Golok Setan,.." ucap nya.


Jabonarang melangkah mendekati jendela rumahnya, memang saat itu sudah larut malam, tetapi hawa terasa panas dan lebih panas lagi hati dari penguasa dari merut itu.


Ia menatap arah kejauhan dari jendela rumahnya yang terbuka tersebut, tatapan nya menuju ke Kotaraja Medang Kemulan.


Pengorbanan adi Japutara sungguh tidak di hargai oleh Menak Koncar itu dan kini ia merengek -rengek seperti anak kecil meminta bantuan kemari, sungguh tidak tahu malu,..apa yang kan kukatakan untuk menolak permintaan nya itu , bertanya dalam hati Jabonarang.


Kemudian dengan satu suitan yang cukup keras , Jabonarang memanggil ketiga murid nya yang berada tidak jauh dari rumahnya .


Tidak terlalu lama, nampak bayangan tiga orang yg mendekati tempat itu.


Mereka ini tiada lain adalah si Tiga Golok Setan dari Gunung Merut, muridnya Jabonarang.


Dan ketiga nya pun segera masuk menghadap guru nya ini.


" Ada apa guru memanggil kami,.?" tanya Kinanja.


Selaku murid yang paling tua diantara ketiga nya.


" Aku ada keperluan dengan kalian bertiga,.!" sahut Jabonarang.


Ketiganya segera mendobgakkan kepala nya menatap guru nya.


" Apakah itu ,..Guru,..?" tanya Wardipa.


Jabonarang, laki laki tua ini kemudian melangkah kembali dan mengambil tempat duduk di hadapan ketiga murid nya itu.


" Aku ingin bertanya kepada kalian bertiga,.apakah pantas gurumu ini turun gunung guna membantu Watu Menak Koncar mempertahankan kekuasaan nya tengah goyah itu,..?" tanya Jabonarang.


Dipandangi nya satu persatu muridnya itu baru setelah nya ia melirik ke arah Panglima Raden Naruttala yg duduk tidak jauh dari mereka.


Adalah Kinanja lah yang menjawab pertanyaan dari guru nya itu,.


" Maaf sebelumnya Guru,.kami bertiga pun memang mengharapkan bahwa guru bersedia untuk kembali membantu Prabhu Watu Menak Koncar guna menghadapi orang yang mengaku sebagai putra Prabhu Kreshna Yuda itu..kami bertiga sudah dua kali di pecundangi nya, dan kami merasa memang lawan yang sepadan dengan nya hanyalah Guru seorang,..!" ungkap Kinanja.


Karena sebelum kedatangan Panglima Raden Naruttala dan para prajurit nya ke Gunung Merut itu, menantu dari Prabhu Watu Menak Koncar ini sudah mengadakan pembicaraan dengan si Tiga Golok Setan. Untuk itulah Panglima Raden Naruttala berani datang dengan harapan bahwa ketiganya akan mau dan berhasil membujuk gurunya ini guna membantu kembali Prabhu Watu Menak Koncar .


Namun berbeda dengan Jabonarang , setelah ia mendengarkan ucapan dari murid tertuanya ini , ia malah murka,.


" Hehh,..kalau hanya persoalan dengan orang yang bernama Dewangga Sena itu, adalah kalian bertiga sajalah yg bodoh,..,!" serunya dengan keras.


Sambil jari telunjuk nya mengarah kepada ketiga murid nya itu.


Ia memang tidak senang mendengar bahwa tiga muridnya itu berhasil di kalahkan oleh seorang pemuda yang mengaku sebagai putra dari Prabhu Kreshna Yuda. Dan kali ini kehadirannya menuntut atas tahta kerajaan Medang Kemulan.


" Kalian bertigat tidak berguna, hanya bisa nya menghabiskan beras saja, untuk menghadapi seorang saja kalian tidak mampu, sia sia rasanya aku mengajari kalian bertiga,.tidak dapat diandalkan,." ujar Jabonaran dengan ketus.


Ia memang merasa ketiga muridnya ini telah mencoreng wajahnya.


Kinanja segera menyahuti perkataan dari guru nya ini,.


" Maaf guru,..memang kami mengakui kekalahan kami dari Pemuda itu, karena jurus kalajengking patup dan menara gading kami memang tidak mampu menembus pertahanannya,.pemuda itu mampu membuyarkan semua nya,..!" jelas murid tertua dari Jabonarang ini.

__ADS_1


" Hehh, alasan saja,." seru Jabonarang.


Selanjutnya adalah Wandiga yg menyatakan bahwa pemuda yang menjadi lawan mereka kala itu juga mengeluarkan satu ajian yg sama dengan yg di miliki oleh Prabhu Kreshna Yuda. Ajian Telapak Dewa.


" Darimana kalian tahu,..?" tanya Jabonarang kaget.


Ia memang melihat ajian yg di miliki oleh penguasa kerajaan Medang Kemulan itu, dan ajian itu pula yang telah menewaskan saudara seperguruan nya Japutara.


Oleh ketiga muridnya dijawab, bahwa mereka saat ikut dalam peperangan melawan Prabhu Kreshna Yuda , mereka melihat pertarungan antara sang Prabhu dengan paman gurunya Japutara.


Dan ketiga murid dari Jabonarang ini membandingkan kedua nya, dengan pemuda yang menjadi lawannya itu.


" Sama Guru,..ajian yg di miliki oleh pemuda itu dengan yg di miliki oleh Prabhu Kreshna Yuda, jadi kami bertiga berkeyakinan bahwa pemuda itu memang putra Mahkota, putra Prabhu Kreshna Yuda,..!" terang Kinanja.


Barulah Jabonarang terdiam , lelaki yang sudah cukup sepuh ini kembali teringat atas kejadian di peperangan di Kotaraja Medang Kemulan itu.


Ia dan Watu Menak Koncar berhasil memenangkan peperangan dengan membunuh Prabhu Kreshna Yuda.


Dan untuk selanjutnya Watu Menak Koncar lah yang menjadi penguasa di kerajaan Medang Kemulan itu. Jabonarang yg turut andil besar memenangkannya tidak mendapatkan apa-apa sehingga membuat dirinya sakit hati.


Padahal saat itu dirinya masih bersedih atas kematian dari saudara seperguruan nya .


Kini Watu Menak Koncar kembali datang untuk meminta dirinya membantu lagi di saat Tahta yang Goyah.


Memang saat ini di Medang Kemulan sudah tidak ada lagi yang dapat di harapkan oleh Watu Menak Koncar, setelah kepergian Jabung Alap dan Adas Gala, di tambah lagi setelah kematian dari Panglima Lokantara, berkata dalam hati penguasa Gunung Merut itu.


Ia sempat terhanyut dengan lamunan nya saat masih bersama dengan adik seperguruannya Japutara membantu Watu Menak Koncar dari Pakuwan Kalindih untuk menjatuhkan Prabhu Kreshna Yuda dari singgasananya.


" Jadi menurut kami bertiga , hanya Guru sajalah yang akan mampu menandingi pemuda itu,..!" ucap Kinanja lagi.


Perkataan dari murid tertua nya ini membuyarkan lamunan dari jabonarang.


Ia megangkat wajah nya memandangi satu persatu muridnya itu.


Jabonarang memang sudah tidak muda lagi , dan kali ini ambisinya pun tidak seperti dahulu ketika masih bersama dengan Japutara adik seperguruannya itu.


Disaat itu memang ia cukup berhasrat untuk dapat menjadi seorang yang berkuasa dan banyak d hormati oleh orang lain.


Akan tetapi semuanya itu berubah seiring dengan berjalan nya waktu dan sikap yang telah di tunjukkan oleh orang yang kali ini meminta dirinya untuk kembali membantu nya yaitu Prabhu Watu Menak Koncar.Ia merasa di khianati.


" Guru,..jika memang guru tidak ingin membantu Prabhu Watu Menak Koncar dari rongrongan pemuda itu, setidaknya Guru dapat berbuat atas nama perguruan kita yg ada di Merut ini,.!" ucap Wandiga.


" Apa maksudmu, Wandiga,..?" tanya Jabonarang.


Kemudian orang kedua dari Tiga Golok Setan dari Gunung Merut ini menjelaskan kepada gurunya, bahwa maksud ucapannya itu adalah agar perseteruan kelompok dari Gunung Merut dengan pemuda yang menamakan pangeran Dewangga Sena ini segera di hentikan dengan cara membunuh pemuda itu agar kelak nama besar perguruan Merut tetap d segani di tlatah kerajaan Medang Kemulan ini.


Terlebih mereka bertiga sudah dua kali di pecundangi oleh pemuda itu. Sehingga sakit hati ketiga murid Jabonarang ini sudah setinggi gunung kepada Pangeran Dewangga Sena.


" Kami hanya berharap kepada Guru yg akan dapat menghentikan sepak terjang pangeran Dewangga Sena itu tidak kepada yg lain,..!" ucap Wardipa menimpali .


Terlihat Jabonarang menghela nafasnya berkali kali, ia sebenarnya sudah malas mendengar nama dari Watu Menak Koncar itu. Sehingga dirinya malas untuk membantunya.


Hehh, kalau dahulu kami berdua tidak membantunya belum tentu ia dapat duduk enak diatas singgasana kerajaan Medang Kemulan, berkata dalam hati Jabonarang.


" Naruttala, apakah Watu Menak Koncar juga mengirimkan orang nya guna menemui Adas Gala dan Jabung Alap,.?" tanya Jabonarang kepada Panglima Raden Naruttala.


" Sudah Eyang, salah seorang Senopati Medang Kemulan telah bergerak ke kediaman Jabung Alap, dan ia pula yang akan menemui Adas Gala,.." jawab Panglima Raden Naruttala.


" Baiklah kalau begitu,. kali ini Aku bersedia untuk membantu kalian , ini semua aku lakukan demi nama perguruan Gunung Merut ini, bukan karena tunduk patuh ku kepada Watu Menak Koncar mertua mu itu,.." kata Jabonarang dengan nada melunak.


" Terima kasih, terima kasih Eyang Jabonarang ,.kabar gembira ini akan segera Aku laporkan kepada Ramanda Prabhu tentu hati nya akan sangat senang sekali,..!" ungkap Panglima Raden Naruttala.


Melihat Panglima Raden Naruttala kegirangan setelah mendengar Jabonarang bersedia membantu Prabhu Watu Menak Koncar, salah seorang murid dari Jabonarang bertanya,..

__ADS_1


" Naruttala,..menurut yg telah kami dengar Gusti Prabhu Watu Menak Koncar telah mengirimkan seseorang untuk menghabisi nyawa pangeran Dewangga Sena, apakah benar,..?" tanya Wandiga.


" Benar kakang Wandiga,.. Ramanda Prabhu Watu Menak Koncar telah mengirimkan Mpu Kundara untuk melenyapkan pemuda yang mengaku sebagai pangeran Dewangga Sena itu,..!" jawab Panglima Raden Naruttala.


" Hahhh,..Watu Menak Koncar telah menghubungi si Kundara,..?" tanya Jabonarang terkejut.


" Benar Eyang Jabonarang,..!" ucap Panglima Raden Naruttala.


" Bagaimana dengan hasilnya, apakah pemuda itu berhasil di bunuh oleh si Kundara itu,..?" tanya Jabonarang lagi.


" Sampai saat ini kami tidak mendapatkan kabar akan hal itu, eyang Jabonarang,.." jawab Panglima Raden Naruttala.


Penguasa Gunung Merut ini sampai geleng geleng kepala, setelah mendengar nama yg di sebutkan oleh panglima dari kerajaan Medang Kemulan ini.


Ia sudah cukup lama mendengar nama Mpu Kundara, bahkan sudah dua kali ia harus berhadapan dengan nya.


Jika si Kundara telah menjadi bagian dari barisan istana kerajaan Medang Kemulan tentu kekuatan Watu Menak Koncar sudah semakin besar pula,..berkata dalam hati penguasa Gunung Merut itu.


Ia meskipun memiliki banyak ilmu sihir tetapi tidak mampu menundukkan orang yang bernama Mpu Kundara itu, bahkan ketika terjadi perebutan atas Golok Iblis tujuh bangkai kala itu.


Pertarungan keduanya berjalan cukup seimbang , bahkan ketika Mpu Kundara berhasil memegang Golok Iblis tujuh bangkai, dirinyalah merasa terdesak. Dan harus meninggalkan gelanggang pertarungan.


Agak lama Jabonarang terdiam setelah mendengar perkataan dari Panglima Raden Naruttala. Ia tidak menyangka bahwa Prabhu Watu Menak Koncar tengah mengahadapi masalah yang sangat serius untuk mmepertahankan kekuasaan nya atas tahta Medang Kemulan kali ini.


Menurut beberapa orang, penguasa Gunung Merut ini seimbang dengan Mpu Kundara yg berasal dari Bukit Iblis itu.


Meskipun Jabonarang masih mengakui bahwa dirinya masih sangat sulit untuk mengatasi Mpu Kundara itu terlebih setelah dirinya berhasil merebut Golok Iblis tujuh bangkai .


Malam di gunung Merut ini tampak cukup sunyi setelah para penghuni yg ada di dalam rumah Jabonarang terdiam semua nya, masing -masing larut dengan pikirannya masing-masing.


Hanya suara binatang -binatang malam terdengar. Dari arah barat terdengar lolongan anjing hutan yang saling bersahutan.


Di tambah bunyi jangkerik yg tidak lelah nya mengeluarkan suaranya.


Dan sesekali terdengar suara burung kedasih dan di balasi oleh burung hantu yg mengeluarkan suara anehnya.


" Baiklah Naruttala, karena dirimu sudah mendengar keputusan ku, maka kali ini ku perintahkan kepada mu untuk segera beristirahat,..!" ucap Jabonarang.


Perkataan nya itu memecah keheningan malam yg sudah sangat larut bahkan menjelang pagi.


Memang tampak dari raut wajah Panglima Raden Naruttala ini yg kelihatan cukup lelah. Meskipun sebenarnya sebagai seorang pemimpin tertinggi pasukan kerajaan Medang Kemulan , ia sudah terbiasa tidak terutama ketika harus memimpin sebuah penyerangan dan peperangan.


Namun malam ini rasa kantuk nya cukup sulit untuk di usirnya meskipun keadaan tempat itu awalnya masih gerah , tetapi ketika suasana berubah saat menjelang pagi hawa dingin yg segera menyergap tubuh nya.


" Terima kasih Eyang Jabonarang, !" ucap Panglima Raden Naruttala.


Ia pun beranjak menuju ke sebuah bilik yang di peruntukkan buat tetamu yg singgah di puncak Merut itu.


Sedangkan para prajurit pengiringnya tetap berjaga di depan rumah nya itu.


Tinggallah kini di ruangan itu Jabonarang dengan ketiga muridnya.


Orang tua yang sepuh ini kemudian menanyakan beberapa hal kepada ketiganya.


Diantara nya adalah apakah pemuda yang bernama Dewangga Sena itu memang memiliki kemampuan yang seperti mereka tuturkan itu, atau karena mereka bertiga malu kepadanya.


" Sungguh Guru, kami memang berkata yg sebenarnya , bahkan pada peperangan yg terjadi di Pakuwan Sindur, ia menggenggam senjata tombak naga mas milik Prabhu Kreshna Yuda yg menjadi piyandel kerajaan Medang Kemulan,.." jelas Kinanja.


Mendengar pernyataan muridnya ini lagi lagi Jabonarang jadi terkejut.


Karena pada saat tewasnya Prabhu Kreshna Yuda memang masih menggenggam tombak pusaka Naga mas


Mengapa diriku terlalu bodoh tidak mengambil tombak pusaka Naga mas itu bahkan juga dengan keris pusaka Naga Aling aling yg ada di tangan nya,..berkata dalam hati Jabonarang.

__ADS_1


__ADS_2