SASRA WURUK

SASRA WURUK
Prahara di Chandra Bhaga.#1


__ADS_3

" Hentikan,..!" teriak Bekel Lanjaran.


Setelah ia melihat lelaki yang menyeramkan dan bersenjata nenggala itu akan membuka pintu dari kereta kencana kerajaan Medang Kemulan.


" Hehh,.berani nya kau menantang aku, sepasang Iblis bermata merah,.!" sahut Gurung sambil membalikkan badannya.


Pemimpin rampok dari Gunung Chandra Geni itu nampak agak kaget mendengar ada suara orang yang menegurnya.


Orang ini memainkan senjatanya dengan memutar nya dengan cepat.


" Majulah kau kalau berani prajurit, kau hanya akan mengantarkan nyawa saja, hehh,.!" ucapnya lagi.


" Kaulah yang harus mampus, heahh,.!" seru Bekel Lanjaran.


Bekel prajurit pengawal terpilih yg kini menjadi pengawal Prabhu Dewangga Sena langsung menyerang dengan senjatanya.


" Traaangg,.!"


Pedang yang mengarah dada dari Gurung langsung di pukul dengan keras oleh senjata nenggala yg berada di tangan pemimpin rampok ini.


Terasa pedang di tangan Bekel Lanjaran ini hampir saja terlepas, telapak tangan dari Bekel prajurit ini terasa panas sekali.


Akan tetapi ia tidak gentar, dengan cepat Bekel prajurit itu kembali menyerang dengan cepat.


" Hiyyah,.!"


Kembali pedang nya melesat cepat mengarah ke leher Gurung.


" Trinnng,.!"


Karena merasa lebih tinggi tenaga dalamnya, Gurung kembali memapasi serangan tersebut. Dan kemudian ia ganti balas menyerang.


" Heaaah,.!"


Sebuah tendangan mendatar di lepaskan olehnya mengarah lambung Bekel Lanjaran.


Sang Bekel kemudian bergerak mundur , ia tidak ingin terkena hantaman lelaki bertubuh tinggi besar ini.


" Hufhhh,.,!"


Bekel Lanjaran mampu menghindari serangan tersebut, ia berusaha memperbaiki posisi nya.


Sambil kembali memainkan pedangnya, Bekel Lanjaran menggenggam erat pedangnya dan kembali melesat cepat memberikan tusukan ke arah dada Gurung.


" Haithh,.!"


Pemimpin rampok ini berhasil menangkap ujung pedang dari Bekel Lanjaran dengan menggunakan kedua jarinya.


" Heaahhh,..!"


Untuk selanjutnya ia mengirimkan tendangan nya ke arah pinggang dari Bekel Lanjaran.


" Dhieeghh,.!"


" Aakhh,.!"


Terdengar keluhan tertahan dari Bekel Lanjaran, setelah menerima tendangan keras dari lawannya.Bahkan pedang nya pun terlepas dari tangan nya dan berpindah ke tangan Pemimpin rampok gunung Chandra Geni itu.


Bekel Lanjaran terjatuh dan bergulingan di atas tanah akibat dari tendangan keras yg ia terima tadi.


Sekejap kemudian Bekel Lanjaran segera bangkit, ia takut akan mendapatkan serangan dari orang yang bertubuh tinggi besar ini.


" Ha, ha, ha, hanya segitu saja kemampuan mu, dan berani untuk menantang sepasang Iblis bermata merah, bersiaplah untuk segera ke liang kubur,..heaahh,.!" seru Gurung sambil bergerak perlahan mendekati Bekel Lanjaran.


" Hufhh,..!"


Kini salah seorang dari pentolan sepasang Iblis bermata merah ini menyerang dengan menggunakan senjata pedang yang berhasil ia rampas dari Bekel Lanjaran.


Ia terus saja mencecar Bekel prajurit terpilih Medang Kemulan ini, meski gerak cukup lambat namun sangat bertenaga, Bekel Lanjaran yg sudah tidak memiliki senjata ini menjadi kewalahan di buatnya.


Beberapa kali ia harus berlompatan dan sesekali harus berjumpalitan menghindari serangan dari pemimpin gerombolan rampok Gunung Chandra Geni itu.


Hingga suatu saat dirinya berhasil terbebas dari kurungan sepasang Iblis bermata merah ini, dengan mengemposi tenaganya, Bekel Lanjaran melompat tinggi dan melakukan tendangan ke arah punggung pemimpin rampok yg bernama Gurung tersebut.


" Heahhh,..!"


" Dhieeghh,..!"


" Hahh,..!"


Bekel Lanjaran teroeranjar kaget bukan main, tendangan yg keras yg dilancarkan nya dalam jarak dekat ini memang mengenai dengan telak punggung dari sepasang Iblis bermata merah tersebut, tetapi seolah tidak dirasakan nya , malah si Gurung ini membalikkan badannya seraya menebaskan pedangnya dengan cukup cepat,


" Hiyyah,..!"


" Hufhhh,..!"


Bekel Lanjaran yg baru saja mendarat di atas tanah terpaksa harus melompat kembali menghindari serangan tersebut, ia berusaha menjauhi Gurung.


Tetapi tampaknya pemimpin gerombolan rampok Gunung Chandra Geni ini tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, ia terus bergerak mengurung Bekel Lanjaran dengan serangan nya yg semakin gencar sambil mendekati kereta kencana yg menjadi incarannya.


Kesulitan yang di rasakan oleh Bekel Lanjaran semakin terasa setelah ia melihat salah seorang prajurit nya terluka di buat oleh para kawanan rampok yg mengeroyoknya.


Memang secara keseluruhan , para prajurit terpilih Medang Kemulan ini masih mampu mengatasi keadaan meski mereka kalah jumlah.


Namun ternyata ada juga dari gerombolan yg di pimpin oleh sepasang iblis bermata merah ini yg memiliki kemampuan lumayan tinggi sehingga berhasil mendesak salah seorang prajurit terpilih Medang Kemulan itu.

__ADS_1


Di saat seperti ini, Bekel Lanjaran menjadi lengah akibat melihat salah seorang bawahan nya yg teluka.


Sebuah serangan yg di lancarkan oleh Gurung dengan menggunakan pedang miliknya sendiri ini berhasil melukai pundak Bekel Lanjaran.


" Heahh,..!"


" Hehh, aakhh,.!"


Bekel Lanjaran tampak gugup mendapatkan serangan tersebut, ia berusaha menghindari nya dengan memiringkan tubuhnya namun tetap saja pedang itu mampu melukainya.


Bekel Lanjaran meringis tertahan sambil terus berusaha menjauhi Gurung , lawannya kali ini.


Namun sepasang Iblis bermata merah sambil tertawa tawa mengejek terus melancarkan serangannya , orang ini merasa di aras angin.


Hingga pada suatu saat , disaat serangan pedang nya berhasil di hindari oleh Bekel Lanjaran, dengan menundukkan kepalanya, datang lagi sebuah serangan melalui senjata nenggala yg berada di tangan kirinya guna mengakhiri perlawanan dari Bekel Lanjaran itu.


" Heahh,..!"


" Traakhhh.!"


Memang saat yg kritis untuk Bekel Lanjaran ini seperti nya harus berakhir tragis, tetapi ternyata tidak , tusukan dari senjata nenggala milik dari Gurung ini tertahan oleh sebatang kayu, dan terhenti sama sekali.


" Hehh,..!"


Gurung tersentak kaget di buatnya, dirinya segera mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat itu guna mencari tahu siapa sebenarnya orang yg telah menyelamatkan Bekel Lanjaran ini.


" Hei, keluarlah, jangan hanya berani dari kejauhan, ini aku Gurung dari Gunung Chandra Geni, hadapi aku jika memang dirimu itu seorang lelaki,.!" teriak Gurung dengan sangat keras nya.


Hatinya panas setelah mengetahui bahwa serangan nya ini telah digagalkan oleh seseorang yg tidak di lihatnya.


Sementara Gurung yg kaget dengan kegagalan nya akibat senjata nenggala nya di hantam sebatang kayu kecil, buat Bekel Lanjaran kesempatan ini tidak di sia-siakan olehnya, Bekel prajurit pengawal Prabhu Dewangga Sena ini melompat menjauhi pemimpin rampok ini, tengah bingung mencari orang yg memapasi serangan nya tadi.


" Heh, siapa pun dirimu segera tampakan, sebelum ku buat habis orang -orang yg ada disini,!" teriak Gurung lagi.


Hatinya cukup panas karena belum pun melihat ujud dari orang tersebut.


Sedangkan saat itu para anak buahnya sudah tampak menyusut, para prajurit Medang Kemulan memang berhasil mendesak pengeroyok nya ini.


Di saat jumlah mereka hampir berimbang , tiba tiba, sebuah angin berkesiuran sangat keras dan langsung mengarah dari Gurung,.


" Dhieeghh,..!"


" Aakh,..!"


Sesosok tubuh melayang dengan cepatnya dari arah belakang dan langsung menghantam punggung pemimpin rampok asal Gunung Chandra Geni ini dan langsung menjatuhkan Gurung jatuh terjerembab di atas.


Buru -buru Gurung bangkit, dan menatap ke arah datangnya orang tersebut.


Dengan tatapan penuh amarah,pemimpin rampok langsung memainkan senjatanya dan membuang pedang yg di dapatnya dari Bekel Lanjaran itu.


" Sang Prabhu,.!" serunya.


Dan dilihat oleh Bekel Lanjaran, orang yang hampir saja membunuhnya tadi sudah bergerak ke arah dari Prabhu Dewangga Sena yg memang melakukan penyelamatan terhadap dirinya.


Gurung yg cukup terkejut dengan tendangan keras menghantam punggungnya ini memutar nenggalanya dengan cepat, deru angin pun terasa di sekitar tempat itu.


" Heahhh,..!"


Gurung menyerang Prabhu Dewangga Sena dengan hantaman nenggala ke arah kepala dari Prabhu Dewangga Sena.


Penguasa kerajaan Medang Kemulan ini tanpa merobah posisi nya menghindari serangan tersebut dengan menundukkan kepalanya, lewat serangan yg di lancarkan oleh pemimpin rampok gunung Chandra Geni ini, tetapi dengan cepat pula ia memutar nenggala yg ada di tangan nya ke arah dada dari Prabhu Dewangga Sena.


" Heahh,..!"


" Hufhhh,..!"


" Thakhh,.!"


Rupanya sang Prabhu mengetahui lanjutan serangan dari lawan nya ini dengan cepat ia memapasi pergelangan tangan dari Gurung agar tidak berhasil masuk .


Benturan terjadi antara telapak tangan dari Prabhu Dewangga Sena dengan pergelangan tangan dari Gurung , dan serangan tersebut terhenti, hampir saja nenggala yg ada di tangannya ini terlepas karena benturan keras tersebut.


Meski mengetahui bahwa lawan nya ini bukan orang sembarangan, Gurung melanjutkan kembali pukulan nya dengan menggunakan tangan kirinya terarah ke kepala dari Prabhu Dewangga Sena.


Dengan sangat cepat pula Prabhu Dewangga Sena menangkap kepalan tangan nya ini menggunakan tangan kanan nya.


Kepalan tangan Gurung, pemimpin rampok dari Gunung Chandra Geni ini berhasil digenggam oleh Prabhu Dewangga Sena.


Sambil menyalurkan tenaga dalamnya, sang Prabhu mulai meremas kepalan tangan milik dari Gurung ini.


Asap tipis terlihat keluar dari tangan sang Prabhu, di sertai dengan suara meringis yg keluar dari mulut Gurung.


" Iihh, ehh,.!"


Buru buru ia menarik tangan nya ini, namun tampaknya sangat sulit seolah genggaman tangan Prabhu memiliki lem perekat yang sangat kuat.


Tidak mau kalah , Gurung kembali mengayunkan Nenggala nya yg tadi masih di genggamannya.


" Heahhh,..!"


" Haiiit,.!"


Nenggala itu berusaha ia tusukan ke arah lambung sang Prabhu.


Tidak kalah cepat , dangan satu kali sentakan kecil , Prabhu Dewangga Sena menendang tangan Gurung yg menggenggam senjata nenggala ini, hingga terlepas.

__ADS_1


Untuk selanjutnya, Prabhu Dewangga Sena melepaskan kembali tendangan kaki kanannya menghantam perut dari pemimpin rampok asal Gunung Chandra Geni ini.


Dalam jarak yang sangat dekat itu , Gurung merasakan seolah perutnya di hantam sebongkah batu kali yg sangat besar, untuk kedua kalinya ia jatuh terjerembab di atas tanah di hadapan Prabhu Dewangga Sena.


Wajah nya terlihat mengeluarkan darah , ia berusaha bangkit lagi tanpa menggenggam apa -apa lagi.


" Hoekkkkhh,..!"


Gurung memuntahkan darah segar, ia pun berkata,.


" Sss, si, sia..pa , kau sebenarnya,..?" tanya nya kepada Prabhu Dewangga Sena.


Raut wajahnya kini sudah tampak ketakutan, walau pun demikian ia tetap ingin melanjutkan pertarungan itu, hasrat nya akan apa yg ada di dalam kereta kencana ini memaksa nya untuk tetap mengalahkan orang ada di hadapannya ini, meski jauh di dalam hatinya ia sudah mulai gentar.


" Aku adalah penguasa Medang Kemulan ini, jadi segeralah tinggalkan tempat ini sebelum habis kesabaran ku,..!" sahut Prabhu Dewangga Sena keras.


Gurung menatap seolah tidak percaya dengan pendengarannya, ia kembali berkata,.


" Jadi , kau ini adalah Prabhu Dewangga Sena,.?" tanya nya lagi.


" Benar, akulah Prabhu Dewangga Sena, dan mulai hari ini , ku peringatkan kepada kalian semua untuk tidak melakukan tindak kejahatan di wilayah kerajaan ku ini, atau kalau tidak kalian akan menyesal,.!" sergah Prabhu Dewangga Sena lagi.


Mendengar hal itu, Gurung pun mulai ciut nyalinya, apalagi anak buahnya tinggal beberapa orang saja lagi.


Sambil melirik kiri dan kanannya,. pemimpin dari rampok asal Gunung Chandra Geni bersuit nyaring,.


" Suiit,..,!"


Suara itu sebagai pertanda bahwa Gurung telah memanggil orang orang nya untuk datang.


Dalam waktu sekejap saja, Gurung telah di kelilingi oleh para anak buahnya.


Dengan suara lantang ia berseru,.


" Serang,..!"


Hampir sepuluh orang langsung menyerang Prabhu Dewangga Sena yg berdiri dengan gagahnya.


" Hehah,..!"


" Ciaat,..!"


" Hiyyaah,..!"


" Trakhh,.!"


" Dheggh,..!"


" Dhukkh,.!"


Mereka berlompatan menyerang Prabhu Dewangga Sena dengan menggunakan senjatanya masing-masing.


Ada yang bersenjata pedang, tombak bahkan kapak bermata dua.


Namun yg mereka serang kali ini bukanlah lawan sembarangan, dengan sangat cepat seolah sulit untuk diikuti oleh mata, langsun saja tiga orang pertama yang menyerangnya jatuh terjungkal dengan senjata lepas dari genggaman tangannya.


Tidak sampai disitu , rupanya Prabhu Dewangga Sena sangat geram sekali atas sikap dari gerombolan rampok ini terutama pemimpin nya , Gurung,.maka putra Prabhu Kreshna Yuda langsung tancap gas melumpuhkan mereka.


" Dhieghh,.!"


" Dhieghh,.,"


" Dhieghh,..!"


" Dhieghh,.."


" Thukkh,..!"


Sekali lompatan saja , sudah tidak ada lagi dari gerombolan rampok ini yg mampu berdiri, mereka tumbang terkena hantaman tendangan geledek yg di lepaskan oleh sang Prabhu.


Gurung yg melihat dengan mata kepala nya sendiri akan hal tersebut segera angkat kaki dari tempat itu.


Ia lari seolah seperti sedang di kejar hantu.


Bekel Lanjaran yg melihat hal ini hendak berusaha untuk mengejarnya .


" Jangan,..biarkan ia pergi,..!" seru Prabhu Dewangga Sena.


" Akan tetapi Gusti Prabhu, jika di biarkan lolos ia nanti akan berusaha kembali lagi dengan anak buahnya yang lebih banyak lagi,.!" sahut Bekel Lanjaran.


" Biarlah ia pergi, saat ini kumpulkan orang orangnya ini dan bawa ke Kotaraja Medang Kemulan, juga segera obati luka luka mu itu Bekel Lanjaran,..!" ucap Prabhu Dewangga Sena kepada Bekel Lanjaran.


Ia juga mmerintahkan kepada sang Bekel untuk segera kembali ke Kotaraja Medang Kemulan sambil membawa para tawanan .


Adalah Bekel Lanjaran yg merasa aneh dengan ucapan junjungan nya ini dan lantas bertanya.


" Ampun Gusti Prabhu , lalu bagaimana dengan Gusti Prabhu sendiri, bukankah kami harus mengawal sampai ke Pamintihan,.?" tanya nya.


Prabhu Dewangga Sena nampak tersenyum, ia memang sudah memutuskan untuk pergi ke Pamintihan dengan berdua saja bersama sang permaisuri.


" Sudahlah Bekel Lanjaran, sekarang kalian semua kembali lah ke istana bawa pula kereta kencana ini bersama kalian, kami akan melanjutkan perjalanan hanya berdua saja dengan Diajeng Maheswari,.tidak usah terlalu khawatir akan keselamatan kami,.!" jelas Prabhu Dewangga Sena.


Ia pun meminta kepada Bekel Lanjaran untuk menyampaikan pesan kepada adiknya Pangeran Turangga Sena agar lebih memperketat penjagaan di beberapa wilayah kerajaan Medang Kemulan yg sering mengalami gangguan dari para penjahat dan perampok.


Dan sebelum sang Prabhu meninggalkan tempat itu, ia masih memberikan beberapa petunjuk sekaligus obat untuk para prajurit nya.

__ADS_1


Dan dalam sekejap saja, Sang Prabhu telah melesat meninggalkan tempat tersebut.


__ADS_2