SASRA WURUK

SASRA WURUK
Gugurnya Prabhu Watu Menak Koncar #9.


__ADS_3

Pangeran Turangga Sena berlalu dengan cepat, ia memang memiliki kemampuan lari yg sangat baik dan juga cepat.


Pangeran yg selalu membawa senjata panah ini kemana pun ia pergi terlihat memang ingin segera sampai di kediaman nya di dalam sebuah hutan yang cukup jauh dari mana pun juga.


Ia hanya membutuhkan waktu sehari saja untuk sampai di tempat nya itu ,berbeda tatkala pertama berangkat bersama Putri Dyah Wikamini , yg melakukan perjalanan nya dengan sangat santai dan tidak tergesa gesa.


Setibanya di pondokan nya, Pangeran Turangga Sena segera memberitahukan niatan nya ini kepada sang ibu.


" Ibunda, bagaimana jika kita menghadap Kangmas Pangeran Dewangga Sena di istana Medang Kemulan,..?" tanya nya kepada Ratu Ayu Tunggarani.


" Hehh..!"


Ratu Ayu Tunggarani ini tersentak kaget mendengarkan ucapan putra nya ini, ia memang merasa sudah cukup lama tinggal dan hidup jauh dari khalayak ramai dan berada di dalam hutan yang sangat sepi ini. Ia merasa sudah sangat tenang tinggal di tempat itu.


Akan tetapi jika ia menatap putra nya ini, ada kegelisahan dalam hatinya.


Hahh, apakah selamanya putra ku ini tinggal disini terus tanpa ia dapat mengetahui dunia luar, tentu dirinya ingin dapat melihat keadaan di luar sana juga bertemu dengan orang banyak termasuk saudaranya itu, berkata dalam hati Ratu Ayu Tunggarani.


" Apakah dirimu sudah mantap untuk meninggalkan tempat ini ,..Rangga,..?" tanya ibundanya.


Dengan menganggukkan kepalanya Pangeran Turangga Sena menjawab,..


" Aku sudah siap ibunda,..Turangga ingin melihat dunia luar dan berharap dapat bertemu dengan kangmas Pangeran Dewangga ,.!" jawabnya.


" Apakah dirimu yakin bahwa Kangmas mu itu mau menerima kita berdua, atau jangan -jangan kita berdua ini ia tangkap dan ia penjarakan, karena masih memiliki hubungan kekerabatan dengan kangmas Prabhu Watu Menak Koncar, bagaimana pendapatmu anakku,..?" tanya Ratu Ayu Tunggarani.


" Ibunda,..Turangga yakin ,.. Kangmas Pangeran Dewangga Sena tentu tidak akan bertindak sekejam itu,.. bukankah diriku adalah adiknya juga, bukankah diriku ini putra Ramanda Prabhu Kreshna Yuda juga Ibunda,..!" jelas Pangeran Turangga Sena.


" Hei,..atau ia memang ingin melenyapkan dirimu karena dirimu ini akan menjadi penghalang nya bertahta di istana Kerajaan Medang Kemulan ini,..!" sahut Ratu Ayu Tunggarani menyelidik.


" Itu tidak mungkin terjadi Ibunda, Kangmas Pangeran Dewangga Sena tentu tidak akan bertindak seperti Prabhu Watu Menak Koncar,.. Turangga yakin akan hal ini,..!" jawabnya.


" Darimana dirimu yakin bahwa Kangmas mu itu akan mau menerima dirimu dengan tangan terbuka , bagaimana jika hal yg telah terjadi pada ibunda terjadi pula padamu anakku ,. Turangga Sena,..!" terang Ratu Ayu Tunggarani lagi.


Pangeran Turangga Sena jadi terdiam setelah mendengar penjelasan dari ibundanya ini. Memang semua kemungkinan yg di ucapkan oleh Ratu Ayu Tunggarani ini memang ada benarnya.


Ia menurunkan endongnya dari atas punggung dan menghempaskan tubuh nya untuk duduk di sebuah batu yg ada di depan pondokan mereka ini.


" Akan tetapi , Aku merasa yakin akan kebenaran bahwa Kangmas Pangeran Dewangga Sena mau menerima kita berdua ibunda,..!" ucap Pangeran Turangga Sena lirih.


Dari nada bicaranya kali ini tidak menyiratkan keyakinan yang kuat, sehingga membuat hati Ratu Ayu Tunggarani menjadi sedih.Ia terlalu menekan perasaan putra nya ini sehingga menjadi sedih.


Akan tetapi ini di lakukannya agar kelak anak nya ini tidak terlalu terkejut jika bertemu dengan hal yg tidak sesuai dengan harapan nya, untuk itulah Ratu Ayu Tunggarani mengatakan hal tersebut.


" Baiklah,..besok kita akan menghadap ke istana Medang Kemulan menemui kakak mu itu, berdoalah agar ia mau menerima kita berdua,.. anakku,..!" ujar Ratu Ayu Tunggarani.


" Benarkah ibunda katakan ini, kita akan berangkat ke Kotaraja Medang Kemulan besok,..?!!" seru Pangeran Turangga Sena tidak percaya.


Ratu ayu Tunggarani mengangguk sambil tersenyum.


" Bersiaplah,..besok kita berangkat ,.!" sahutnya.


Ratu Ayu Tunggarani masuk ke dalam pondokan membereskan peralatan dapur nya yg tadi ia tinggalkan.


Sementara itu Pangeran Turangga Sena yg tengah senang ini , meraut beberapa bilah bambu yg akan ia jadikan sebagai anak panah.


Pemuda ini memang telah terbiasa melakukan hal tersebut sejak ia masih sangat kecil ketika harus lari dari Pakuwan Kalindih pada waktu itu.


Hati pemuda ini amat bahagia karena Ibundanya mau berangkat ke Kotaraja Medang Kemulan menemui Pangeran Dewangga Sena.


Sementara di istana Kerajaan Medang Kemulan sendiri terlihat sangat sibuk karena sepekan lagi penobatan Pangeran Dewangga Sena sebagai raja diraja di Medang Kemulan ini akan di langsungkan.


Beberapa sudut kota telah di hiasi oleh beberapa umbul-umbul .


Para prajurit Medang Kemulan banyak yang berlalu lalang menjaga keamanan dari daerah Kotaraja ini.

__ADS_1


Undangan telah di berikan kepada ke empat Akuwu yg berada di bawah kekuasaan dari kerajaan Medang Kemulan ini, termasuk kepada Akuwu Watu Menak Kober.


" Apakah anakmas Pangeran yakin bahwa Akuwu Watu Menak Kober itu mau datang,..?" Patih Watu Spuh Gada kepada Pangeran Dewangga Sena.


" Dari sikapnya kali ini kita akan dapat menentukan langkah selanjutnya,.jika ia memang berkeinginan untuk datang kemari dalam penobatan kali ini maka dirinya merasa tunduk di bawah panji-panji kebesaran Medang Kemulan ini, dan jika dirinya menolak untuk datang, itu sama artinya bahwa kita memang harus menundukkan mereka,.. meskipun jalan kekerasan kurang aku sukai Eyang Patih,..!" terang Pangeran Dewangga Sena.


" Anakmas Pangeran harus berhati-hati bersikap dan bertindak,..jika kelak telah memerintah negeri ini jangan terlalu banyak menuruti perasaan, harus bertindak tegas ,..anakmas,.!" jelas Patih Watu Spuh Gada.


" Aku mengerti Eyang Patih,..!" sahut Pangeran Dewangga Sena.


Memang kali ini , Pangeran Dewangga Sena pun telah bersiap akan ke desa Lohsari, ia akan menemui Kintan Suri untuk datang pada hari penobatan nya.


Memang hati Pangeran Dewangga Sena ini sulit melupakan Kintan Suri , cucu dari Buyut Lohsari itu.


Padahal dalam istana sendiri , ia telah di temani oleh istrinya , Putri Dewandhani Maheswari, putri dari Akuwu Manik Rangga dari Pakuwan Pamintihan.


Pada saat itu, Pangeran Dewangga Sena mengatakan kepada istrinya ini, bahwa ia akan pergi,..


" Diajeng Maheswari,..Kangmas akan pergi hari ini dan mungkin besok baru kembali,..!" ucap Pangeran Dewangga Sena kepada istrinya.


" Kangmas pergi dengan siapa,..?" tanya Putri Dewandhani Maheswari.


" Kali ini Kangmas akan pergi seorang diri,..ada sesuatu yg harus di lakukan,..Diajeng,..!" jawab Pangeran Dewangga Sena.


" Apakah tidak sebaiknya Kangmas membawa seorang teman, misalnya Senopati Garega untuk diajak turut sebagai teman di perjalanan,..?" tanya Putri Dewandhani Maheswari lagi.


" Tidak perlu Diajeng,.. kali ini Kangmas memang berniat untuk pergi seorang diri saja ,..!" jelas Pangeran Dewangga Sena.


" Kalau begitu , Maheswari hanya dapat mendoakan agar Kangmas selamat dalam perjalanan meskipun saat ini keadaan belum terlalu aman bua Kangmas, namun Maheswari yakin Kangmas akan mampu melawan siapapun juga yg berniat buruk terhadap Kangmas,..!" ucap Putri Dewandhani Maheswari.


Ia melepaskan suaminya ini untuk pergi.Walaupun ia tidak tahu tujuan sang suami tetapi dirinya ikhlas melepaskan nya.


Pangeran Dewangga Sena pun segera berlalu dari istana Medang Kemulan ini, ia memang tidak melalui gerbang utama, melainkan dari sebuah jalan rahasia yang pernah ia lalui saat meninggalkan istana Medang Kemulan ini bersama Panglima Raden Watu Giring ketika harus melarikan diri dari kejaran para prajurit yg di pimpin oleh Panglima Lokantara , ketika kerajaan Medang Kemulan ini jatuh ke tangan Prabhu Watu Menak Koncar.


Dengan cepat Pangeran Dewangga Sena melesat pergi ketika telah berada dj luar benteng Kotaraja Medang Kemulan itu.


Ia memang ingin segera mengundang datang Kintan Suri dan Buyut Lohsari ke istana ketika saat wisuda itu tiba.


" Whuashhh,..!"


Bagai secepat kilat, Macan Putih yg merupakan sahabat dari Pangeran Dewangga Sena ini bergerak.


Gerakan nya bagai terbang saja melalui jalanan yg tidak biasa dan lebih pendek jarak nya.


Saat Mentari telah merendah di ufuk barat, tibalah sang Pangeran di desa Lohsari.


Ia langsung menuju ke kediaman dari Buyut Lohsari yg tepat berada di jantung desa itu.


Begitu tiba disana, seluruh penghuni rumah itu sangat terkejut melihatnya.


" Gusti Pangeran,..!" seru Buyut Lohsari .


Pemimpin desa Lohsari ini tengah mengaso di pendapa rumahnya segera bangkit menyambut kedatangan dari pengeran Dewangga Sena itu.


" Benar Eyang Buyut..,!" jawab Pangeran Dewangga Sena.


" Ada apakah kiranya , Gusti Pangeran Dewangga Sena hingga harus datang sendiri kemari,..?" tanya Buyut Lohsari.


Sambil ia mempersilahkan sang Pangeran untuk masuk ke dalam.


Dan tidak terlalu lama dari dalam keluarlah Kintan Suri , begitu ia mendengar eyangnya ini tengah bercakap cakap dengan seseorang.


Ia pun langsung menjatuhkan badan nya seraya menyembah hormat kepada Pangeran Dewangga Sena.


" Kiranya Gusti Pangeran Dewangga Sena yg datang ,.!" ucapnya sambil menjura hormat.

__ADS_1


" Ehh,..apa apaan ini Suri,. bangkit lah, Aku ini adalah masih Kakang mu,.Dewangga Sena, seperti yang dahulu, tidak ada yg berubah,..!" ucap Pangeran Dewangga Sena.


Ia menarik tubuh dari Kintan Suri untuk bangkit berdiri.


Memang perasaan nya tatkala bertemu dengan gadis pujaan hatinya ini , yg merupakan cucu Buyut Lohsari itu menjadi terasa tenang sekali. Ada perasaan aneh yang selalu menyelusup dalam hatinya. Ia tidak ingin berpisah dengan gadis cantik ini.


" Bagaimana pun juga,.Gusti Pangeran adalah Junjungan hamba,..deksura rasanya jika tidak hormat dan patuh kepada Gusti Pangeran,..!" ungkap Kintan Suri.


" Sudahlah , lupakan lah dahulu unggah ungguh itu karena ini bukan di istana Kerajaan Medang Kemulan,.marilah kita duduk,..!" ajak Pangeran Dewangga Sena.


Maka Kintan Suri pun menuruti nya, ia pun duduk dengan bersimpuh di hadapan Pangeran Dewangga Sena demikian pula dengan BuyutLohsari.


" Ada apakah gerangan nya, sehingga Gusti Pangeran harus datang kemari,..?" tanya Buyut Lohsari lagi.


Ia kembali mengulangi pertanyaan nya ini karena belum mendapatkan jawabannya dari Sang Pangeran.


Pangeran Dewangga Sena langsung menjelaskan kepada Buyut Lohsari itu bahwa kehadiran nya ke Desa Lohsari ini untuk mengundang Buyut Lohsari dan juga Kintan Suri untuk datang saat wisuda nya di laksanakan.


" Oh, kalau masalah itu ,kami telah mendapatkan undangan dari Panewu Cempogo, Gusti Pangeran, jadi Gusti Pangeran tidak perlu khawatir akan hal ini,..!" terang Buyut Lohsari.


" Syukurlah Eyang Buyut jika memang demikian, akan tetapi kali ini Aku sendiri yg mengundang kalian berdua untuk datang, sekaligus ada yg ingin aku katakan kepada Kintan Suri , Eyang Buyut,..!" ucap Pangeran Dewangga Sena.


" Baiklah kalau begitu, Eyang akan ke dalam dahulu,..!" kata Buyut Lohsari.


Ia mengerti dan paham maksud ucapan dari calon panguasa kerajaan Medang Kemulan itu, maka ia pun segera meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam.


Senja turun bersamaan lembayung yg menampakan ujudnya, menambah keindahan di desa Lohsari inj.


Duduk berhadap-hadapan lah kedua muda mudi ini.


Tampaknya Pangeran Dewangga Sena agak sulit untuk mengutarakan maksud hatinya ini, padahal ia adalah calon seorang Raja yg akan berkuasa dan bertahta di Medang Kemulan ini.


Setelah ia mengumpulkan keberanian nya , Pangeran Dewangga berkata,..


" Kintan Suri , selain kehadiran mu Kakang harapkan pada saat wisuda penobatan itu , ada sesuatu yg ingin kakang tanyakan kepadamu,..Suri,..!" ucap Pangeran Dewangga Sena.


Kintan Suri hanya menundukkan wajahnya, ia memang tidak berani lagi menatap wajah pemuda pujaan hatinya ini, karena saat ini ia adalah seorang Raja yg akan berkuasa atas Kerajaan Medang Kemulan ini.


" Tatap lah kakang, Suri,..bicaralah,..!" kata Pangeran Dewangga Sena.


Ia meraih dagu gadis desa Lohsari ini, agar dapat melihatnya dengan jelas.


" Apa yang harus Suri katakan Gusti Pangeran,. sedangkan Gusti Pangeran belum mengatakan apa apa,..!" ucap Kintan Suri.


" Oh iya,..kakang sampai lupa, bahwa Kakang berkeinginan untuk kelak dirimu dapat menemani kakang di istana Medang Kemulan selamanya,..!" ungkap Pangeran Dewangga Sena.


Kintan Suri kembali terdiam setelah mendengar ucapan Pangeran Dewangga Sena ini, ia bingung untuk menjawabnya, apakah ia akan menerimanya atau mungkin menolaknya.


" Jawablah, Suri,.. Kakang memerlukan jawaban mu itu,..agar diriku bisa tenang,..!" kata Pangeran Dewangga Sena.


" Suri belum dapat memutuskan nya , Gusti Pangeran,..!" jawab Kintan Suri.


" Mengapa tidak bisa Suri, apa sulitnya,..?" tanya Pangeran Dewangga Sena.


" Suri harus bertanya terlebih kepada Eyang Buyut sebelum memutuskan nya, Gusti Pangeran,..!" kata Kintan Suri.


" Baiklah,..silahkan panggil Eyang Buyut, dan tanyakan lah ,..!" ujar Pangeran Dewangga Sena.


Kintan Suri lantas masuk ke dalam dan memanggil Buyut Lohsari lagi untuk keluar.


Setelah mereka duduk kembali maka Kintan Suri pun mengatakan apa yg jadi permintaan dari Pangeran Dewangga Sena ini.


Kintan Suri menjelaskan bahwa keputusan nya ini tergantung kepada Eyang nya, Buyut Lohsari itu.


" Kalau menurutku, dirimu memang harus tunduk dan patuh terhadap permintaan dari Gusti Pangeran ini, apapun itu ia adalah Junjungan kita, dirimu tidak boleh menolaknya,..!" ungkap Buyut Lohsari.

__ADS_1


" Maaf sebelumnya, Eyang Buyut,..kali ini Aku datang bukan sebagai yg akan berkuasa atas Kerajaan ini, tetapi kali ini diriku datang sebagai pribadi dari Dewangga Sena tanpa embel-embel kerajaan Medang Kemulan,..jadi sesungguhnya Kintan Suri dan Eyang Buyut dapat menolak dan menerima nya , semuanya tergantung kepada kalian berdua ,..!" jelas Pangeran Dewangga Sena.


Mendengar hal tersebut, kedua orang ini malah bertambah bingung , menerima nya atau malah menolaknya, sehingga cukup lama mereka terdiam dan membisu.


__ADS_2