SASRA WURUK

SASRA WURUK
Gugurnya Prabhu Watu Menak Koncar #2


__ADS_3

Pangeran Dewangga Sena mendekat ke arah dimana Jabonarang berdiri. Dalam hati putra Prabhu Kreshna Yuda ini ada dendam yang membara terhadap orang tua yg bernama Jabonarang ini.


Malam hampir menyelimuti Kotaraja Medang Kemulan ini, senja telah turun dan dalam keremangan suasana, Pangeran Dewangga Sena masih cukup jelas melihat wajah dari orang tua itu.


Dengan di temani oleh Patih Watu Spuh Gada dan Ki Gambong, ketiganya bergerak dan menghampiri penguasa Gunung Merut itu.


Demikian pula dengan Jabonarang sendiri , ia melihat putra mahkota dari Prabhu Kreshna Yuda ini mendekatinya dengan di temani oleh dua orang dan salah satunya cukup ia kenal.


Hei,.bukankah orang ini adalah Si Gambong dari Bukit Turi,.Iblis mata setan ,.ternyata ia mendukung putra Prabhu Kreshna Yuda ini, pantas saja beberapa kali serangan yg ku lancarkan menemui kegagalan,. ternyata dia biang kerok nya, berkata dalam hati penguasa Gunung Merut itu.


Berbeda dengan gurunya, si Tiga Golok Setan tampak agak gentar melihat kehadiran dari Pangeran Dewangga Sena ini.


Mereka sudah dua kali berbenturan dengan nya dan kedua duanya mengalami kekalahan.


" Murid -muridku, ternyata malam ini kita mendapatkan kesempatan yang sangat langka, malam ini kita lah yg akan membungkam ambisi orang yang mengaku keturunan dari Si Kresna Yuda, dan sepertinya malam ini adalah akhir dari mimpinya, bersiaplah kalian,..bunuh kedua orang yg bersama nya itu,..ha, ha, ha,.!" teriak Jabonarang sambil tertawa.


" Baik Guru,..!" sahut ketiganya sambil memainkan senjatanya yg berupa golok.


Si Tiga Golok Setan ini bergembira hati nya karena bukan mereka yang di perintahkan untuk menghadapi putra Prabhu Kreshna Yuda ini, melainkan mereka di suruh untuk menghadapi teman nya yakni Patih Watu Spuh Gada dan Ki Gambong.


Mendengar Jabonarang mengejek nya, Pangeran Dewangga Sena lantas menjawab nya,.


" Hehh, orang tua yg sudah bau tanah, bukannya dirimu yang akan segera ke akherat,.untuk menanggung semua perbuatan jahatmu selama hidup di dunia ini, termasuk dengan kematian orang tua ku, Prabhu Kreshna Yuda,.malam ini adalah saat nya dirimu di lenyapkan dari muka bumi ini,.!" seru Pangeran Dewangga Sena.


Putra Prabhu Kreshna Yuda ini sampai mengacungkan tombak pusaka Naga mas ke arah orang tua itu.


Nampak sekali dari nada bicaranya ia sangat mendendam terhadap Jabonarang ini.


Pangeran Dewangga Sena teringat ketika ia mendengar ayahnya telah tewas di tangan orang yang bernama Jabonarang , memang sudah agak lama waktu itu terjadi hampir sepuluh tahun yg lalu.


Tetapi kenangan itu masih saja terus membayangi nya hingga kini seakan baru saja terjadi.


" Baiklah jika dirimu memang menganggapku sebagai pembunuh Prabhu Kreshna Yuda , aku terima,..dan pada malam ini juga di tempat yg sama pula diriku akan melakukan nya terhadapmu , heh, bocah ingusan,..!" ucap Jabonarang.


Dengan sengaja ia memancing kemarahan dari Putra Prabhu Kreshna Yuda ini.


Dan memang benar, jiwa muda dari pangeran Dewangga Sena pun terpancing, dengan penuh kemarahan ia berteriak sambil menyerang orang tua bernama Jabonarang ini.


" ****** kau , Jabonarang,..terima ini ,..heaahh,..!"


Pangeran Dewangga Sena melesat cepat sambil menjulurkan tombak pusaka naga mas yg ada di tangan nya .


" Hufhh,..!"


Dengan cepat pula Jabonarang melesat menghindarinya, ia seolah terbang membubung tinggi ke udara.


Sesaat kemudian , ia pun mengibaskan tangan nya ke arah Pangeran Dewangga Sena , serangkum angin yang kuat langsung menerjang putra Prabhu Kreshna Yuda ini.


Mendapati serangan balasan , Pangeran Dewangga Sena segera menghindari nya dengan melesat pula ke udara , kedua duanya kini tengah mengambang di atas udara memamerkan ilmu peringan tubuh nya.


Dan di atas udara ini pulalah keduanya melanjutkan pertarungan nya.


Kembali Pangeran Dewangga Sena menusukan mata tombak Naga mas ke arah jantung Jabonarang, serangan kali ini pun tidak kalah cepatnya dengan yg pertama.


Namun anehnya , bukan nya menghindar , Jabonarang malah mengibaskan jubah hitamnya.


" Hiyyahh,..!"


Kembali angin yang sangat keras melanda dan menerjang ke arah Pangeran Dewangga Sena.


Serangan mendadak ini membuat tubuh dari putra Prabhu Kreshna Yuda itu tidak mampu menghindarinya.


Ia segera terlempar sangat keras dan cukup jauh dari tempat semula.


" Pangeran, .!"


Terdengar teriakan dari Patih Watu Spuh Gada dan Ki Gambong bersamaan. Mereka terkejut , melihat Senopati Agung pemimpin pasukan Pakuwan Pamintihan ini sampai jatuh terlempar.


Pangeran Dewangga Sena sendiri yg merasakan nyeri pada dadanya, namun tidak ia perdulikan, Putra Prabhu Kreshna Yuda langsung bangkit berdiri sambil bertopangkan tombak pusaka Naga mas.


Ujung tombak pusaka Naga mas ini mampu menyinari tempat tersebut, di karenakan bahwa mata tombak itu berlapiskan emas murni dan saat ini tengah di aliri tenaga dalam yg sangat tinggi dari Pangeran Dewangga Sena, hingga membuatnya memancarkan cahaya yang sangat terang. Hawa amarah kentara sekali dari Putra Prabhu Kreshna Yuda.


Patih Watu Spuh Gada yg melihat hal ini segera mendekati pangeran Dewangga Sena seraya membisikinya,.


" Anakmas Pangeran,. tahan lah sedikit kemarahan mu, itu akan merugikan dirimu sendiri,. bersabarlah, kendalikan dirimu,..!" ucap Patih Watu Spuh Gada.

__ADS_1


Orang tua yg merupakan kepercayaan dari Prabhu Kreshna Yuda ini tidak ingin Pangeran Dewangga Sena kalah dari Jabonarang dikarenakan ia tidak mampu mengendalikan diri.


Pangeran Dewangga Sena pun mengangguk, ia memang menyadari bahwa dirinya telah terbawa perasaan melihat seseorang yg ada dihadapan.


" Ha, ha, ha, ternyata dirimu tidak lebih baik Kreshna Yuda, sedang ia pun tidak mampu menandingi ku, apalagi dirimu, bersiaplah , malam ini akulah yang akan jadi malaikat pencabut nyawamu,.!" ucap Jabonarang dengan pongah nya.


Memang ia merasa bahwa nama besar Pangeran Dewangga Sena ini terlalu di lebih-lebihkan , terbukti baru beberapa jurus saja ia telah mampu menjatuhkannya.


" Jangan terlalu berbangga diri, orang tua ,..terima ini,.. heahhh,.!" teriak Pangeran Dewangga Sena.


Ia memutar tombak pusaka Naga mas cepat di depan dada , laksana baling baling.


Cahaya kuning ke emasan berpendaran di tempat tersebut.Membuat keadaan semakin terang.


Pangeran Dewangga kembali menyerang Jabonarang, ia mengemposi tenaga dalam nya, sambil mengarahkan tombak pusaka Naga mas ke arah leher lawan.


Jabonarang sendiri langsung membalas dengan mengibaskan tangan nya yg berisi serangkum angin kencang guna mementahkan serangan ini.


Akan tetapi pada kali ini hati Jabonarang harus kecewa , bahkan tak ayal ia lah yang harus berjumpalitan menghindari serangan sendiri yg membalik itu.


Rupanya , selain mampu menghasilkan cahaya yang sangat terang , putaran tombak pusaka Naga mas mampu menjadi tameng yg sangat tangguh sehingga serangan lawan tidak mampu menembus nya.


Melihat lawan keteteran akibat membaliknya tenaga nya, Pangeran Dewangga Sena langsung memburu nya.


" Hiyyyahh,..!"


Ia melanjutkan serangan nya dengan menggunakan kakinya mengarah ke perut dari orang tua itu.


Jabonarang yg melihat tendangan penuh tenaga dari lawan nya segera memapasinya dengan tangan kirinya memukul tendangan tersebut.


" Dhekk,..!"


" Heahhh,..!"


Benturan pun terjadi , antara kaki dari Pangeran Dewangga Sena dengan tangan Jabonarang.Tetapi tampaknya memang tenaga dalam keduanya berimbang.


Baik Pangeran Dewangga Sena maupun Jabonarang harus mundur ke belakang beberapa tindak.


Namun dengan cepat sekali, Putra Prabhu Kreshna Yuda ini mengayunkan Tombak pusaka tersebut ke arah kepala lawannya, Jabonarang yg mengerti kehebatan senjata ini hanya sedikit saja ia menundukkan kepalanya untuk selanjutnya ia pun membalas serangan tersebut dengan sebuah pukulan tangan kosong ke arah perut Pangeran Dewangga Sena.


Serangan ini di jawab oleh Putra Prabhu Kreshna Yuda itu dengan mengangkat lutut nya.


Benturan kembali terjadi, dan terlihat belum ada yg lebih unggul.


Jabonarang yg tidak menggunakan senjata terus merapatkan diri agar bisa memasukkan pukulan nya.


Tampaknya siasat ini berhasil , tombak Pusaka Naga mas agak kesulitan untuk mengoyak pertahanan nya.


Tetapi Pangeran Dewangga Sena tidak kalah cerdik nya, ia pun segera mengeluarkan keris Naga Aling aling dari warangkanya.


Keris pusaka ini menjadi lebih berguna di saat pertarungan yg rapat ini.


Akhirnya Jabonarang berusaha keluar dari libatan Pangeran Dewangga Sena, ia kembali memusatkan serangan nya seperti semula dengan mengerahkan tenaga dalam nya dan melontarkan ilmunya yg mengandung angin pukulan yang keras dan kuat.


Serangan yg di lancarkan oleh penguasa Gunung Merut itu tidak seperti awal pertemuan yg mampu menjatuhkan Pangeran Dewangga Sena, kini serangan tersebut harus mentah akibat putaran Tombak Naga mas yg menjadi tameng.


Pertarungan keduanya pun semakin seru dengan semakin meningkatnya kecepatan sehingga hanya bayangan saja yang kelihatan.


Cahaya tombak pusaka Naga mas terus memburu Jabonarang kemana pun perginya.


Penguasa gunung Merut ini memang keteteran ketika Pangeran Dewangga Sena tidak memberinya lagi kesempatan.


Baik tombak maupun keris mengurung rapat tubuh orang tua itu.


Ditambah lagi gerakan yg sangat cepat dari sang Pangeran membuat tubuh Jabonarang harus terlempar ketika sebuah tendangan yg keras menghantam perutnya.


" Bukhhh,..!"


" Guruu,..!!"


Seru ketiga muridnya ketika melihat gurunya itu terlempar jatuh ke atas tanah dengan keras.


Sejenak ketiganya saling menatap kembali, setelah Jabonarang bangkit dengan cepat .


" Aku tidak apa -apa,.kalian bunuh kedua orang itu,.!" kata Jabonarang.

__ADS_1


" Baik ,. Guru,..!" jawab mereka.


Jabonarang sendiri langsung mendekati kembali Pangeran Dewangga Sena tampaknya kali ini ia mengeluarkan sebuah senjata berupa pisau kecil berwarna hitam legam berdaun panjang.


Pisau ini terlihat memliki kandungan racun yang ganas dari warna nya yg gelap itu.


" Tanpaknya aku memang harus membunuh mu ,.bocah ingusan, pisau ku inilah yg akan menggorok lehermu.bersiaplah,.!" ucap Jabonarang.


Orang tua ini menegakkan pisaunya di hadapan nya, ia beberapa kali mengelusnya.


Keluarlah asap kelabu dari pisau hitam ini, bau nya cukup menyengat dan membuat suasana di tempat itu menjadi aneh. Kentara sekali aura kematian keluar dari pisau kecil ini.


Untuk selanjutnya , Jabonarang mengacungkan senjatanya ke arah Pangeran Dewangga Sena.


Dan ,..


Dalam sekejap, bersamaan melesatnya tubuh orang tua ini, pisau hitam itupun ikut melayang pula bahkan seolah memiliki mata ia meluncur terlebih dahulu dari si pemiliknya.


" Trinng,..!"


Tatkala pisau kecil tersebut berusaha masuk dan hendak menusuk dada Pangeran Dewangga Sena, tombak pusaka Naga mas lah yg memapasinya.


Senjata Jabonarang ini memang jatuh ke atas tanah, tetapi seolah ada yg mengendalikan nya, pisau tersebut melesat kembali menyerang Pangeran Dewangga Sena.


Jabonarang sendiri segera mengibaskan jubahnya untuk menyerang Pangeran Dewangga Sena.


Sehingga kali ini, secara bersamaan Putra Prabhu Kreshna Yuda mendapatkan serangan dari dua arah.


Memang tombak pusaka Naga mas masih mampu menangkis serangan dari jubah Jabonarang, sedangkan keris Naga Aling aling lah yg menjadi lawan dari pisau terbang yg di miliki oleh penguasa Gunung Merut tersebut.


Kali ini , Pangeran Dewangga Sena yg kelihatan terdesak.


Ia banyak mundur dan terus menangkis serangan lawan.


Dalam keremangan malam dua orang anak manusia yang berbeda usia terpaut sangat jauh tengah mempertaruhkan nyawa nya demi sesuatu yang mereka yakini kebenarannya.


Tidak terlalu jauh dari keduanya terdapat pula lingkaran pertarungan yang mempertemukan antara si Tiga Golok Setan melawan Patih Watu Spuh Gada yg di bantu Ki Gambong.


Malam terus semakin larut tetapi peperangan yang terjadi di Kotaraja Medang Kemulan ini masih berlanjut dengan serunya.


Keadaan memang sangat berpihak kepada pasukan dari Pakuwan Pamintihan , pasukan yang kalah dalam hal jumlah ini mampu mendesak pasukan Medang Kemulan .


Terlebih setelah terdengar bahwa beberapa Senopati tengguhnya terluka, semangat pasukan dari Pakuwan Pamintihan semakin menyala.


Di induk pasukan, perang senopati yg terjadi antara Senopati Garega dengan Panglima Raden Naruttala tampaknya akan menemui babak akhir, keduanya telah melontarkan dengan mengeluarkan ilmu pamungkas yg mereka miliki.


Sehingga pertarungan keduanya pun sudah mendekati puncaknya.


Disaat Senopati Garega melepaskan ajian nya sambil terus mengayunkan tombaknya. Oleh Senopati Agung pemimpin pasukan Kerajaan Medang Kemulan ini di balas pula dengan serangan pedangnya yg dilambari ilmu pamungkasnya juga.


Benturan beberapa kali terjadi hingga melontarkan keduanya cukup jauh, tetapi ternyata kemenangan memang berpihak pada Senopati Garega, dimana saat tombak yg ada dalam genggaman nya ini meluruk lurus menuju jantung Panglima Raden Naruttala , dengan cepat menantu Prabhu Watu Menak Koncar ini memutar pedang nya guna menagkisnya, akan tetapi, selain memang memiliki ilmu yang sangat tinggi, Senopati tangguh asal Pakuwan Pamintihan ini merubah arah serangan nya.


ia memutar mata tombak itu mengarah kaki lawan, dan demikian pula dengan pedang yg ada di tangan Panglima Raden Naruttala mengikuti kemana tombak itu bergerak.


Tangan kiri dari Senopati Garega pun mengambil kesempatan , sebuah pukulan tamparan telapak tangan yg berisi ilmu pamungkas dari Senopati asal Pakuwan Pamintihan ini mendarat telak di dada Panglima Raden Naruttala.


" Dhieghh,..!"


" Aaakkhh,..!"


" Crabhhh,..!"


Tubuh panglima Raden Naruttala limbung mendapatkan hantaman telak dari tangan kiri Senopati Garega , ia memang berusaha agar tidak terjatuh meskipun dada nya terasa ambrol.


Belum pun Panglima tertinggi dari kerajaan Medang Kemulan ini berhasil memperbaiki posisi nya, datanglah serangan yg sangat cepat dari Senopati Garega.


Dan kali ini mata tombak nya lah yg berbicara,


Tombak tersebut langsung menancap di dada Panglima Raden Naruttala dan tembus hingga ke punggungnya.


Ketika di tarik kembali oleh Senopati Garega , tombaknya ini, tumbanglah tubuh Panglima Raden Naruttala dalam keadaan mati bersimbah darah.


Mengetahui bahwa Panglima Raden Naruttala telah tewas di tangan Senopati Garega , gegap gempita lah suara para prajurit pakuwan Pamintihan meneriakkan,.


" Panglima Naruttala , Gugur,.!"

__ADS_1


" Panglima Naruttala , Gugur,.!"


Teriakan ini membuat sebahagian besar mereka Kerajaan Medang Kemulan tidak percaya sedang sebahagian lagi semakin ciut nyali nya.


__ADS_2