
Telah terjadi beberapa kerusuhan di wilayah kerajaan Chandra Bhaga.
Memang pasukan yang besar belum berangkat dari Kotaraja Nuwala, namun beberapa pasukan kecil telah di berangkatkan guna memberikan tekanan kepada Ratu Pawawaitra Kirana.
Hehh, tentu ratu dari Chandra Bhaga akan berpikir ulang untuk menolak ku, kata Prabhu Banyak Wulung dalam hatinya.
Ia memang tengah mempersiapkan pasukan nya sangat besar, bahkan kali ini tunggangan nya yg cukup besar yaitu seekor Gajah.
Dua ekor gajah telah di persiapkan untuk berangkat ke Kerajaan Chandra Bhaga, satu untuk Prabhu Banyak Wulung ini dan seekor lagi untuk Patih Gantar Yuwana.
Sementara itu panglima Gatra Yudapaksa membawa pasukannya yang menunggang kuda.
Pasukan inilah yg berangkat terlebih dahulu.
Pasukan yang di bawa oleh panglima Gatra Yudapaksa lah yg telah memulai penyerangan di wilayah kerajaan Chandra Bhaga.
Telah terjadi prahara di wilayah perbatasan kerajaan Chandra Bhaga dengan kerajaan Nuwala.
Para prajurit dari kerajaan Nuwala telah membakar dan membunuh penduduk desa yg mereka lewati, dengan berita tersebut segera tiba ke Kotaraja Chandra Bhaga.
Memang benarlah apa yg menjadi keinginan dari Prabhu Banyak Wulung ini, berita mengenai keadaan dari kawula nya yg berada di perbatasan tersebut telah sampai ke telinganya.
Kembali Ratu Pawawaitra Kirana penguasa kerajaan Chandra ini harus bersidang di dalam istananya.
Wajah cantik nya tidak nampak senyuman nya lagi, wajah itu kini dirundung kesedihan yang teramat sangat semenjak kematian dari Prabhu Bhagat Nata, orang tuanya ini
" Paman Patih Rabuk Watu Puluh, apa yg harus kita lakukan sekarang, dapatkah kita mengirimkan pasukan ke perbatasan guna mencegah perbuatan dari Prabhu Banyak Wulung itu,.?" tanya Ratu Pawawaitra Kirana kepada Patih Rabuk Watu Puluh.
" Ampunkan hamba Gusti Ratu,.saat ini saja kita yg berada di Kotaraja ini harus segera bersiap akan kedatangan mereka, bagaimana kita akan mengirimkan pasukan ke perbatasan,.?" balik Patih Rabuk Watu Puluh.
Orang nomor dua dalam kerajaan Chandra Bhaga ini memang tidak dapat memberikan pendapat nya atas pertanyaan yang diajukan oleh junjungan nya.
" Apakah kita hanya akan berdiam diri saja setelah mendengar telah banyak jatuh korban dari rakyat kecil yg tidak berdosa itu, haruskah kita berpangku tangan, dan bagaimana dengan permintaan kita atas kerajaan Kalingga phura dan Pamintihan, adakah khabar dari sana,.?" tanya Ratu Pawawaitra Kirana lagi.
Jelas penguasa dari Kerajaan Chandra Bhaga ini merasa sangat kesulitan untuk menanggung beban yang harus ia hadapi setelah menjadi seorang ratu. Belum lagi usianya pun terbilang masih muda.
Mengapa kah beban berat ini harus berada di pundakku, alangkah senangnya jika dahulu diriku terlahir dari rakyat biasa saja, tentu tidak akan merasakan hal ini , berkata dalam hatinya Ratu Pawawaitra Kirana.
" Ampun Gusti Ratu, sampai saat ini belum ada khabar, baik dari Kerajaan Kalingga phura maupun dari Pakuwan Pamintihan , tampaknya mereka enggan untuk membantu kita, Gusti Ratu,..!" ungkap Patih Rabuk Watu Puluh sambil menjura hormat.
Ucapannya ini sekaligus membuyarkan lamunan dari Ratu Pawawaitra Kirana.
Terdengar desah nafas nya keluar, seakan melepaskan beban yg menghimpit dadanya.
" Yeahh, tampaknya kita memang harus bertahan di atas kaki sendiri tanpa dapat memohon bantuan orang lain, mungkin sudah nasibku harus segera melepaskan kekuasaan dari Kerajaan Chandra Bhaga ini lebih cepat lagi,.!" ucap Ratu Pawawaitra Kirana dengan nada sedih.
Ia memang sangat kesulitan untuk menentukan dan mengambil keputusan dalam menghadapi serangan yg telah di lancarkan oleh Prabhu Banyak Wulung itu.
Terkadang terpikir olehnya kembali untuk menerima saja permintaan dari penguasa kerajaan Nuwala ini agar rakyatnya tidak sengsara seperti sekarang ini.
Namun jika ia mengingat ke belakang , bangkit amarah di hati Ratu Pawawaitra Kirana ini ketika mengetahui apa yang telah menimpa salah seorang kerabat dekatnya yg harua meregang nyawa saat menjadi selir Prabhu Banyak Wulung itu.
Ia di bunuh oleh penguasa kerajaan Nuwala tersebut setelah memberontak terhadap nya saat akan mengambil saudara nya yg lain yg akan ia jadikan istri.
Dengan sangat gampangnya Prabhu Banyak Wulung menjatuhkan tangannya terhadap selirnya ini.Dan tetap melanjutkan niatnya untuk menjadikan adik dari selirnya ini menjadi selir nya yg ke sekian banyak nya.
Perbuatan nya itulah yg menjadikan Ratu Pawawaitra Kirana amat sangat tidak senang dengan penguasa Kerajaan Nuwala tersebut.
" Tidak, tidak, diriku tidak boleh menyerah , sampai akhir hayat aku akan tetap berjuang meski nyawaku taruhannya,..!" berkata Ratu Pawawaitra Kirana dengan keras.
Seolah ia menguatkan kembali semangat juang nya yg sempat kendor itu.
Nyawa rakyat Chandra Bhaga telah banyak yg melayang, darah sudah tertumpah , tangis dari anak-anak kecil yg kehilangan orang tuanya sudah tidak terkira lagi, diriku harus tetap bertahan,.berkata dalam hati Ratu Pawawaitra Kirana.
__ADS_1
" Prajurit,..panggil kemari Senopati Loh Giri dan Senopati Loh Danta, aku memanggil mereka berdua,.!" seru Ratu Pawawaitra Kirana dengan lantang kepada prajurit pengawalnya.
" Sendika Dawuh Gusti Ratu,.!" ucap prajurit tersebut.
Sambil menjura hormat, kemudian ia meninggalkan istana itu menuju luar guna mencari dua orang yg menjadi pemimpin pasukan Kerajaan Chandra Bhaga ini.
" Ampunkan hamba Gusti Ratu, untuk apakah kiranya harus memanggil Senopati kembar itu,..?" tanya Patih Rabuk Watu Puluh.
Patih Rabuk Watu Puluh ini nampak kurang senang dengan kedua orang yg menjadi pemimpin pasukan kerajaan Chandra Bhaga ini.
Dari sorot matanya jelas menunjukkan bahwa ia tidak menyukai nama kedua orang itu.
" Aku ingin mengetahui seberapa lama kiranya Chandra Bhaga ini mampu bertahan dari serbuan kerajaan Nuwala itu, sehingga kita dapat menentukan langkah-langkah selanjutnya ,!" jawab Ratu Pawawaitra Kirana.
Dan memang tidak terlalu lama , kedua Senopati kembar yang bertugas sebagai pemimpin tertinggi dari Pasukan kerajaan Chandra Bhaga itu datang ke hadapan sang Ratu.
" Ampunkan kami berdua, Gusti Ratu, ada apakah kiranya Gusti Ratu memanggil kami,..?" tanya Senopati Loh Giri sambil menjura hormat.
Ratu Pawawaitra Kirana memandangi wajah kedua orang ini dengan tatapan penuh harap.
Ia pun menjelaskan duduk permasalahannya mengapa mereka berdua di panggil datang untuk menghadap.
Sang Ratu menanyakan kekuatan dari para prajurit Chandra Bhaga dalam mengahadapi peperangan dengan kerajaan Nuwala ini.
" Sampai berapa lamakah kita mampu bertahan, Senopati ?" tanya Ratu Pawawaitra Kirana kepada kedua orang Senopati nya ini.
" Ampunkan hamba Gusti Ratu, tampaknya kita hanya akan mampu bertahan selama dua hari saja jika Prabhu Banyak Wulung datang menyerang kemari,. itu belum di hitung jika ada orang dalam kerajaan Chandra Bhaga ini yg akan membelot dan Mbalela,.!" terang Senopati Loh Danta.
" Hehh,..!"
Ratu Pawawaitra Kirana sangat terkejut mendengar nya, ia sungguh tidak menyangka akan ucapan dari Senopati nya ini.
Bahwa mereka berdua telah melihat ada tanda-tanda nya pembesar kerajaan Chandra Bhaga akan berpihak kepada kerajaan Nuwala.
" Jangan asal bicara Senopati Loh Danta, dirimu harus dapat membuktikan apa yg telah kau ucapkan tadi,..!" seru Patih Rabuk Watu Puluh.
Matanya menatap tajam ke arah Senopati Loh Danta , dan yg ditatap pun membalasi nya dengan pandangan penuh tanya.
" Diriku bukan hanya asal bicara saja, Gusti Patih,.. kami telah menyelidiki nya, dan memang hal tersebut mungkin saja terjadi,..!" sahut Senopati Loh Danta.
" Apa buktinya,..?" tanya Patih Rabuk Watu Puluh dengan suara meninggi.
" Saat ini kami memang lagi mengumpulkan beberapa bukti , sehingga hal ini kami sampaikan kepada Gusti Ratu,.!" ungkap Senopati Loh Giri.
Ratu Pawawaitra Kirana menatap ke arah Patih Rabuk Watu Puluh dan dua orang Senopati nya ini. Ia merasa heran atas laporan dari kedua Senopati nya itu.
Selama ini ia belum pernah mendengar hal tersebut, baru kali ini dirinya mendapatkan laporan tersebut.
" Paman Patih, mengapa hal ini baru ku dengar, mengapa Paman tidak melaporkan hal tersebut,..?" tanya Ratu Pawawaitra Kirana heran.
Padahal selama ini menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Patih Rabuk Watu Puluh mengenai keadaan dari kerajaan Chandra Bhaga.
" Ampunkan hamba Gusti Ratu, bahwa apa yg di katakan oleh Senopati Loh Giri dan Loh Danta itu tidaklah benar, istana Chandra Bhaga ini dalam keadaan aman, tidak ada yg berani mbalela terhadap Gusti Ratu,..!" ucap Patih Rabuk Watu Puluh meyakinkan.
Senopati Loh Giri dan Loh Danta.menatap tidak berkedip ke arah Patih Rabuk Watu Puluh,ternyata orang kepercayaan dari Ratu Pawawaitra Kirana ini mengatakan kepada sang Ratu bahwa tidak gerakan untuk membelot ke kerajaan Nuwala.
Padahal mereka sudah melihat sendiri beberapa orang Bekel Prajurit yg mengajak bawahan nya untuk memihak kepada Prabhu Banyak Wulung.
" Akan tetapi Gusti Ratu kami melihat sendiri di lapangan bahwa memang telah banyak prajurit yang tidak mau untuk menjalankan perintah kami, bahkan cenderung melawan,.!" terang Senopati Loh Giri kepada Ratu Pawawaitra Kirana.
Kembali Ratu Pawawaitra Kirana mengarahkan pandangan nya kepada dua orang Senopati nya yg kembar ini, dan terkadang kembali kepada Patih Rabuk Watu Puluh.
" Aku semakin sulit untuk mempercayai , siapa diantara kalian yang benar , sangat sulit sekali , padahal kalian berdua ku panggil kemari untuk mengetahui kekuatan pasukan Chandra Bhaga ini, untuk hari lebih baik kalian tinggalkan aku sendiri,..!" jelas Ratu Pawawaitra Kirana.
__ADS_1
Penguasa kerajaan Chandra Bhaga ini semakin sulit untuk menemukan jalan keluar yang paling baik menghadapi Prabhu Banyak Wulung itu.
Ia memasuki ke dalam bilik nya.Sang Ratu kemudian berusaha mendekatkan diri nya kepada sang pencipta. Agar mendapatkan petunjuk dari Nya.
***********
Saat itu pasukan yang dipimpin oleh Prabhu Dewangga telah berjalan beberapa hari.
Kerika mereka sedang beristirahat di sebuah hutan, tiba tiba dari kejauhan nampak debu membubung ke langit .Pertanda bahwa ada seseorang yg tengah mengendarai kuda.
Setelah agak lama datanglah penunggang kuda itu mendekati perkemahan tersebut.
Memang para prajurit Pamintihan sedang mendirikan perkemahan untuk menginap malam ini.
" Siapa orang itu , paman Panglima,..?" tanya Prabhu Dewangga Sena kepada panglima Rakai Parumping.
" Seorang utusan dari kerajaan Kalingga phura, Gusti Prabhu,..!" sahut Panglima Rakai Parumping.
Dan tidak terlalu lama masuklah seorang yg berpakaian prajurit , dan dari tanda keprajuritan memang orang tersebut berasal dari Kerajaan Kalingga phura.
" Ampunkan hamba, Gusti Prabhu,.. hamba adalah utusan dari kerajaan Kalingga Phura, ingin menyampaikan sesuatu kepada Gusti Prabhu,..!" ucap Prajurit itu kepada Prabhu Dewangga Sena.
" Ada apa,.. prajurit, adakah sesuatu yg penting yg ingin di laporkan,..?" tanya Prabhu Dewangga Sena.
" Benar , Gusti Prabhu,..!" sahut prajurit tersebut.
Ia lantas menceritakan bahwa pasukan dari Kalingga Phura telah mendapatkan berita dari prajurit sandi Kerajaan Chandra Bhaga bahwa pasukan dari Kerajaan Nuwala telah mulai melakukan penyerangan terhadap kerajaan Chandra Bhaga.
Sehingga pemimpin tertinggi dari pasukan kerajaan Kalingga Phura meminta kepada pasukan yang dipimpin Prabhu Dewangga Sena ini secepatnya bergerak .
" Baiklah , nanti selepas ini kami akan segera bergerak,.namun untuk malam ini biarlah kami menginap disini terlebih dahulu,.!" jawab Prabhu Dewangga Sena.
Raja Medang Kemulan ini memang melihat kondisi dari seluruh pasukan dalam keadaan kelelahan, sehingga ia tidak memaksanya untuk melanjutkan perjalanan nya.
Dan malam itu juga, prajurit dari pasukan kerajaan Kalingga Phura ini pun meninggalkan perkemahan pasukan dari Pakuwan Pamintihan ini.
Setelah kepergian dari prajurit tersebut, Prabhu Dewangga Sena memanggil beberapa petinggi pakuwan Pamintihan ini termasuk Panglima Rakai Parumping.
Segera saja dirinya menanyakan hal yang telah mereka dengar tadi.
" Paman panglima,.. apakah kita dapat membagi dua saja pasukan ini,..?" tanyanya kepada Panglima Rakai Parumping.
" Maksud Gusti Prabhu,..?" tanya Panglima Rakai Parumping tidak terlalu paham jalan pemikiran rajanya ini.
Prabhu Dewangga Sena menjelaskan kepada panglima Rakai Parumping , agar jalan mereka dapat lebih cepat adalah lebih baik jika mereka membagi dua pasukan,. satu pasukan yang terdiri dari pasukan khusus Pakuwan Pamintihan ini berjalan terlebih dahulu, baru satu pasukan lagi mengekor di belakang nya, termasuk yg membawa perbekalan.
Panglima Rakai Parumping setelah mendengar penuturan dari junjungan nya itu segera memahami, salah seorang kepercayaan dari Akuwu Manik Rangga menyahuti ucapan Prabhu Dewangga Sena dengan mengatakan bahwa itu adalah suatu cara yg paling baik.
" Ampunkan hamba Gusti Prabhu, jika memang demikian siapakah yang akan berjalan terlebih dahulu,..?" tanya Panglima Rakai Parumping.
" Biarlah Aku yg akan lebih dahulu yg berjalan, namun pasukan yang ku bawa harus terdiri dari prajurit yg terpilih,..!" jelas Prabhu Dewangga Sena.
Hal tersebut di setujui oleh Panglima Rakai Parumping, dan malam itu juga ia langsung membagi pasukan nya menjadi dua bagian, yg satu di pimpin oleh Prabhu Dewangga Sena dan selebihnya di pimpin oleh Panglima Rakai Parumping.
Malam itu juga , Prabhu Dewangga Sena melanjutkan perjalanan nya dengan sebahagian kecil dari pasukan Pakuwan Pamintihan ini.
Memang mereka terdiri dari para prajurit terpilih dari Pamintihan.
Derap langkah kaki kuda yang cukup banyak itu melaju di dalam kegelapan malam itu.
Sang Prabhu dengan kuda tunggangan nya yg berwarna putih berlari cukup kencang memimpin pasukan nya bergerak menuju ke Kerajaan Chandra Bhaga.
Menjelang pagi pasukan ini sudah mendekati wilayah perbatasan kerajaan Chandra Bhaga.
__ADS_1
Dari kejauhan nampak oleh mereka cahaya api yang membubung ke udara.