SASRA WURUK

SASRA WURUK
Gugurnya Prabhu Watu Menak Koncar #4


__ADS_3

" Jadi dirimu lah yang ingin menuntut balas kematian Prabhu Kreshna Yuda serta menginginkan tahta kerajaan Medang Kemulan ini, begitu,..!" bentak Prabhu Watu Menak Koncar dengan kerasnya.


Suaranya ini terdengar cukup jauh dari tempat tersebut, sehingga membuat para prajurit Medang Kemulan menjadi gembira.


" Hidup,..Prabhu Watu Menak Koncar,..!"


" Hidup Gusti Prabhu,..!"


" Hidup,..Prabhu Watu Menak Koncar,..!"


" Hidup Gusti Prabhu,..!"


Begitulah mereka meneriakkan nya sambil mengacungkan senjata yang mereka pegang ke atas, ini berkali kali mereka teriakkan agar semangat para prajurit Medang Kemulan kembali menyala setelah kedudukan pasukan mereka berada di ujung tanduk.


Akan tetapi setelah mereka mendengar suara rajanya membentak dengan keras dan menggelegar, para prajurit Medang Kemulan semakin bersemangat.


Pangeran Dewangga Sena yg merasa ini tidak dapat dibiarkan lebih lama lagi berlangsung . Ia pun memutuskan untuk segera mengakhiri peperangan ini.


Karena putra Prabhu Kreshna Yuda ini telah melihat banyaknya mayat yang bergelimpangan di alun-alun kotaraja ini di tambah lagi bau anyir darah yg merebak di tempat tersebut setelah mentari menerangi Kotaraja Medang Kemulan .membuat aroma darah pun timbul.


Alun alun Kotaraja ini telah banjir darah dari dua pasukan yang bertempur , antara Para prajurit yg di pimpin nya melawan pasukan Kotaraja Medang Kemulan ini .


" Semua yg kau katakan itu adalah benar, Menak Koncar, diriku memang ingin menuntut balas atas kematian Ramanda Prabhu Kreshna Yuda juga dengan tahtanya yg telah kau rampas itu, dan yg paling penting lagi adalah diriku ingin memperbaiki keadaan kawula Medang Kemulan ini yg telah kau perintah dengan kejam dan sewenang-wenang,..untuk hal inilah dirimu pantas menerima hukuman yang berat,..!" seru Pangeran Dewangga Sena.


" Ha, ha, ha, siapa dirimu ,..hingga berani ingin menghukum ku, Apakah dirimu adalah Sang Hyang Bhatara yg turun ke alam mayapada ini sehingga berani berkata demikian di hadapan seorang Menak Koncar, ha, ha, ha, jangan terlalu banyak bermimpi,..!" teriak Prabhu Watu Menak Koncar sambil tertawa-tawa.


Pedang besar yang ada di tangan nya telah di putar putarnya.


Sementara tangan kirinya menunjuk ke arah Pangeran Dewangga Sena yg tegak berdiri dengan tombak pusaka Naga mas nya .Matanya tajam menatap penguasa Kerajaan Medang Kemulan ini, dendam dalam hatinya menyala kembali setelah melihat orang yang ada dihadapan nya ini.


Orang inilah yg telah membuat dirinya serta keluarganya harus terpisah, kedua orang tuanya tewas sedangkan dirinya harus bersembunyi untuk waktu yang cukup lama.


Bahkan singgasana kerajaan Medang Kemulan yg di bangun oleh leluhur nya ini pun di kuasai oleh orang yang bernama Watu Menak Koncar ini. Sungguh hati Pangeran Dewangga Sena membuncah marah. Namun ia berusaha untuk tetap bersabar setelah mendengar nasehat Patih Watu Spuh Gada yg berada tidak jauh dari nya.


" Tenangkan diri mu. anakmas Pangeran,..jangan terbawa perasaan, satu halangan sudah kita lewati , kini tinggal yg seorang ini saja, tenanglah,..!"


Itulah ucapan yg disampaikan oleh Patih kepercayaan Prabhu Kreshna Yuda ini. Sehingga membuat amarah di dada Pangeran Dewangga Sena agak mereda.


Putra Prabhu Kreshna Yuda ini melangkah mendekat ke arah Prabhu Watu Menak Koncar yg masih tertawa tawa.


" Memang benar, akulah utusan Hyang Bhatara untuk menghukummu , jadi bersiaplah,..!" ucap Pangeran Dewangga Sena dengan pelan.


" Hah, ha, ha, ha, apa Aku tidak salah dengar, dirimu adalah utusan dari sang Hyang Bhatara untuk menghukumku,..Puiihh,.. sebaiknya dirimu kembali kepada ibu mu , bocah,..kau bukanlah putra Prabhu Kreshna Yuda,..dirimu hanya seorang yang mengaku saja,.ha,.ha,.ha,..!" seru Prabhu Watu Menak Koncar.


Sementara itu , pasukan Kerajaan Medang Kemulan sejak kehadiran dari Rajanya di medan peperangan telah berhasil menahan laju serangan pasukan dari Pakuwan Pamintihan dan seluruh gabungan nya.


Entah ini memang disebabkan oleh Prabhu Watu Menak Koncar disitu atau memang kecakapan dari Patih Bamalurung yg mengendalikan keseluruhan pasukan Medang Kemulan ini setelah gugurnya Panglima Raden Naruttala.


Meskipun demikian , para prajurit dari Pakuwan Pamintihan tetap bertarung dalam satu kesatuan yang masih utuh.


Ketika Panglima Raden Watu Giring meneriakkan perubahan gelar mereka , maka para prajurit itu segera mengikuti perintah tersebut.


Panglima Raden Watu Giring pun mengirimkan pesan kepada Patih Watu Spuh Gada melalui seorang prajurit penghubung.


" Ampunkan hamba Gusti Patih, Gusti Panglima meminta kepada Gusti Pangeran Dewangga Sena agar secepatnya dapat menaklukan Prabhu Watu Menak Koncar ini , di karenakan pasukan kita yg berada di luar benteng Kotaraja Medang Kemulan ini tampaknya kesulitan untuk menahan pasukan yang datang dari Pakuwan Kalindih,.Gusti Panglima juga akan merobah tata gelar perang nya menjadi gelar Cakra Bhuya,.ini mengantisipasi serangan yg di lakukan oleh Patih Bamalurung,..!" ucap Prajurit penghubung itu.


Patih Watu Spuh Gada menganggukkan kepalanya,.ia pun memberikan pesan kepada Panglima Raden Watu Giring untuk melakukan apa yang patut untuk di lakukan nya, sementara itu untuk urusan Pangeran Dewangga Sena ini Panglima Raden Watu Giring tidak usah cemas.


" Katakan padanya bahwa sebentar lagi kita akan mampu menguasai Medang Kemulan ini,..!" ucap Patih Watu Spuh Gada.


" Baik Gusti Patih,..!" sahut prajurit penghubung itu.


Ia pun segera meninggalkan tempat itu.kembali ke pasukan nya yg di pimpin oleh Panglima Raden Watu Giring.


Kembali kepada dua sosok utama yg kini tengah saling berhadap hadapan ini.

__ADS_1


Dari pihak kerajaan Medang Kemulan ada Prabhu Watu Menak Koncar yg bertubuh tegap dan cukup tinggi , sedangkan dari pihak Pakuwan Pamintihan ada Pangeran Dewangga Sena .


Dua tokoh ini akan menjadi penentu kemenangan antara dua kekuatan yang besar yg tengah berperang ini.


Pangeran Dewangga Sena yg mendapatkan berita bahwa pasukan nya yg berada di luar benteng Kotaraja Medang Kemulan ini telah terdesak oleh Pasukan yg datang dari Pakuwan Kalindih akhirnya mengambil sikap untuk segera mengakhiri perang yg sudah berlangsung selama tiga hari ini.


Ia tidak mungkin menunggu lebih lama lagi , sekarang atau tidak sama sekali , itulah yang yg ada di dalam pikirannya.


Sehingga putra Prabhu Kreshna Yuda itu memutar tombaknya beberapa kali di depan dadanya dan kemudian ia berteriak dengan sangat keras sambil melesat cepat menerjang Prabhu Watu Menak Koncar.


" ****** kau , Menak Koncar,..heahhh,..!"


" Traaangg,..!"


Tombak pusaka Naga mas yg ada di dalam genggaman nya ini ia tusukkan ke arah dada Prabhu Watu Menak Koncar ini.


Oleh penguasa kerajaan Medang Kemulan itu kemudian ditangkis dengan menggunakan pedangnya yang cukup besar. Dua kekuatan besar beradu,.tampaknya Prabhu Watu Menak Koncar tidak bergeming dari tempatnya , ia masih kokoh berdiri, sedangkan Pangeran Dewangga Sena harus melompat mundur kembali setelah merasakan tenaga nya seolah membalik , seperti membentur tembok yang sangat kokoh dan tebal.


Hahh, gila,..tenaga dalam orang ini sangat kuat sekali,.pantaslah Ramanda Prabhu dapat ia tundukkan,..berkata dalam hati Pangeran Dewangga Sena.


Dirinya memang cukup terkejut setelah melihat hasil benturan pertama ini.


" Ha, ha , ha, kau kaget ,..Bocah,.. sesungguhnya dirimu itu memang bukanlah putra Prabhu Kreshna Yuda ,..kau hanyalah seorang pemuda yang tengah bermimpi di siang bolong,..ha, ha, ha,..!" seru Prabhu Watu Menak Koncar.


Sambil tertawa, Prabhu Watu Menak Koncar ini memainkan kembali pedang besarnya.


" Bersiaplah,..hari ini kau harus mati di tanganku,..!" ucap nya lagi.


Dengan melangkah pelan, Prabhu Watu Menak Koncar mendekati Pangeran Dewangga Sena dan selanjutnya,.


" Hiyyyahh,..!"


" Traaangg,..!"


Ia mengayunkan pedangnya menebas ke arah leher Pangeran Dewangga Sena.


Untuk selanjutnya, Pangeran Dewangga Sena menyerang balik Prabhu Watu Menak Koncar dengan sebuah tusukan tombaknya terarah ke perut dari Raja Medang Kemulan ini.


Tetapi serangan ini pun belum mampu menembus pertahanan dari lawan, Prabhu Watu Menak Koncar mampu menggerakkan pedangnya dengan cepat memangkas serangan tersebut.


Berulang kali benturan terjadi sehingga membuat genggaman tangan Pangeran Dewangga Sena atas Tombak pusaka Naga mas ini terasa panas.


Tetapi Putra Prabhu Kreshna Yuda itu tidak mau kalah, ia pun semakin meningkatkan tenaga dalam nya dan juga peringan tubuh nya,.membuat pertarungan yang semula berjalan lamban kini telah menjadi semakin cepat.


Pangeran Dewangga Sena pada suatu kesempatan mampu mengurung pertahanan lawan dengan senjata tombak nya.


Sehingga pada satu kesempatan,..


" Heahhh,..!"


" Thakkkkh,..!"


Tombak pusaka Naga mas ini berhasil menyusup masuk ke arah pundak lawan nya. Tetapi keanehan pun terjadi.


Tombak pusaka Naga mas ini tidak mampu melukai tubuh Prabhu Watu Menak Koncar itu.


Apakah Watu Menak Koncar ini memiliki ilmu kebal,..tanya pangeran Dewangga Sena dalam hati.


Saking tidak percaya nya, Pangeran Dewangga Sena sampai menatap mata tombak pusaka Naga mas itu.


Memang tombak pusaka Naga mas ini tidak mengalami apa -apa, tetapi mengapa tidak mampu melukai tubuh Prabhu Watu Menak Koncar itu.


Prabhu Watu Menak Koncar sendiri tertawa terkekeh-kekeh melihat ulah Pangeran Dewangga Sena yg sepertinya sedang bingung itu.


" He ,he , he ,kau heran bocah,..senjata rongsokan seperti itu mana mungkin mampu melukai ku,.. sekarang sebaiknya lah kau menyerah dan bertekuk lutut di hadapan ku,.. cepaaaat,.. sebelum batas kesabaran ku habis,..!" teriak Prabhu Watu Menak Koncar.

__ADS_1


Walaupun dalam hatinya cukup takjub akan kemampuan lawan nya kali ini, tetapi Pangeran Dewangga Sena tidak mudah menyerah, ia segera mengtrapkan kembali ilmu Telapak Dewa yg di milikinya, meskipun saat ini tubuhnya sudah tidak sebugar saat dirinya melawan Jabonarang .


" Heaahhh,..Aji Telapak Dewa,..!"


" Dhumbhh,..!"


" Bleghuaaarr,..!"


" Ha,.ha, ha,.!"


Serangan yg di lancarkan oleh Pangeran Dewangga Sena ini tidak menemui sasaran nya, karena dengan cepat Prabhu Watu Menak Koncar berkelit dari serangan tersebut, sambil tertawa ia mengejek lawan nya.


Pangeran Dewangga Sena memang merasa kecewa karena serangan nya tersebut luput. Tetapi dengan cepat ia melompat menerjang Prabhu Watu Menak Koncar itu.


" Hiyyaah,..!"


" Dhumbhh,..!"


Sambil menjulurkan tombak pusaka Naga mas ke arah dada , tangan kiri dari sang pangeran membuka dan mengeluarkan ajian Telapak Dewa .


Namun dua serangan sekaligus ini belum juga menemui sasaran nya.


Karena dengan cukup cepat pula, Prabhu Watu Menak Koncar berhasil menghindarinya sambil ia menebaskan mendatar pedangnya.Membuat Pangeran Dewangga Sena harus menundukkan kepalanya agar tidak terpangkas oleh pedang besar itu.


Pertarungan terus berlanjut,. keduanya di berikan ruang oleh kedua belah pihak untuk bertarung dengan lebih bebas, baik dari para prajurit Medang Kemulan maupun dari Pakuwan Pamintihan.


Mendekati tengah hari kekuatan dari Prabhu Watu Menak Koncar semakin meningkat , tenaga nya pun semakin besar, ia pun telah melepaskan ajian nya pula guna mengimbangi serangan Pangeran Dewangga Sena ini.


Ketika putra Prabhu Kreshna Yuda ini melepaskan ajian nya , Prabhu Watu Menak Koncar pun melepaskan ajian nya.


" Aji Telapak Dewa,..heahhh,..!" seru Pangeran Dewangga Sena.


" Aji Gemah Anala,..hiyyat,..!" balas Prabhu Watu Menak Koncar.


" Dhumbhhh,..!"


"Bleghuaaarr,.."


Dua kekuatan itu beradu di udara dan melepaskan pijaran kembang api yang sangat banyak.


Ajian Telapak Dewa yg berwarna putih kekuningan itu beradu dengan ajian Gemah Anala yg berwarna merah seperti nyala api.


Dalam benturan tersebut kedudukan keduanya masih berimbang.


Meskipun sesekali Pangeran Dewangga Sena berusaha masuk langsung untuk menghujamkan tombaknya , tetapi tetap saja tidak mampu menggoyahkan pertahanan Prabhu Watu Menak Koncar.


Bahkan pedangnya pun kini telah berwarna merah pula.


Perang tanding antara keduanya nampaknya masih sulit untuk di tentukan siapakah yang akan memenangkan nya.


Berbeda dengan kedudukan kedua pasukan, setelah Panglima Raden Watu Giring merobah gelar pasukan nya, kini pasukan gabungan itu telah kembali mendesak dan merobek pertahanan pasukan kerajaan Medang Kemulan.


Dua orang Senopati utama dari kerajaan Medang Kemulan itu mulai keteteran ketika mereka harus menghadapi situasi bahwa mereka harus menahan ketangguhan senopati senopati dari pasukan Pakuwan Pamintihan itu.


Patih Bamalurung yg memiliki kecakapan mengatur para prajurit nya akhirnya tidak dapat lagi memberikan arahan dan perintah lagi dengan sempurna setelah ia di paksa bertarung dengan Panglima Rakai Parumping.


Demikian pula dengan Rakryan Mahamantri Kalasan, dihadapan nya kini telah ada Panglima Raden Watu Giring yg menghadang nya.


" Hehh, Kalasan ,.. akhirnya kita bertemu kembali,..!" tegur Panglima Raden Watu Giring.


" O,..ternyata kau Watu Giring,..sungguh aku tidak menyangka bahwa dirimu berani kembali lagi kemari, setelah hari itu dirimu lari terbirit-birit dari sini,..!" ejek Rakryan Mahamantri Kalasan.


Wajah Panglima Raden Watu Giring merah padam mendengar ucapan lawannya ini, memang saat ia mendapatkan tugas untuk mengawal keluarga kerajaan , termasuk Pangeran Dewangga Sena kecil dengan ibundanya Ratu Ayu Manik Wangi,..ia harus berjuang dan bersembunyi dari kejaran pasukan Watu Menak Koncar pada waktu itu.


Semuanya memang di lakukan nya untuk memenuhi permintaan dari Prabhu Kreshna Yuda pada waktu itu, dan dirinya memang telah berjanji didepan sang Prabhu.

__ADS_1


" Hehh, Kalasan ,.. kau jangan banyak mulut,..sekarang kita buktikan siapa yang layak untuk hidup hari ini, kau atau aku,..!" seru Panglima Raden Watu Giring.


" Behh,..jangan karena sekarang pasukan mu berhasil mendesak pasukan ku,..diriku menjadi takut,..Aku Kalasan tidak akan lari dari kenyataan ,..aku siap menerima tantangan mu itu Watu Giring,..!" balas Rakryan Mahamantri Kalasan.


__ADS_2