SASRA WURUK

SASRA WURUK
Di Tahan #6


__ADS_3

" Sayang, Putri Prabhu Watu Menak Koncar itu berhasil menyelamatkan diri,.!" ucap seseorang di dekat telinga Prabhu Dewangga Sena.


" Hahh,..!"


Sang Prabhu pun menoleh ke sebelah kanan nya dan mendapati seseorang yg mengenakan jubah berwarna putih dengan rambut , kumis dan jenggot nya pun berwarna yg sama dengan pakaian nya itu.


" Eyang Macan Putih,.!" seru Prabhu Dewangga Sena


Memang Orang tua yg berbadan tegap ini adalah jelmaan dari Macan putih yg menjadi teman sekaligus untuk tunggangan nya kemana pun ia pergi.


" Biarlah Eyang, mudah mudahan ia mendapatkan pelajaran dari apa yg telah terjadi ini,.!" ucap Prabhu Dewangga Sena.


" Lalu bagaimana dengan orang tua yg berasal dari gunung kanda itu,..?" tanya Eyang Macan Putih lagi.


" Ia sudah mendapatkan ganjaran dari apa yg telah di perbuatnya Eyang,..!" jawab Prabhu Dewangga Sena.


Sambil menatap kearah jasad dari Mpu Kalong yg telah terbujur kaku,


Memang baru kali ini , Prabhu Dewangga Sena melihat tubuh yang hancur bagian dalam nya tanpa merusak bagian luar nya akibat dari Aji Guntur Nirwana yg di lepaskan nya.


Sebab sebelumnya , tubuh itu akan hancur menjadi debu seperti yang dialami oleh Mpu Kundara saat harus menerima Ajiannya ini.


" Apakah ini dari akibat Golok Iblis tujuh bangkai ini eyang,..?" tanya Prabhu Dewangga Sena kepada Eyang Macan Putih.


" Sebenarnya tidak , cucuku , ini lebih disebabkan dirimu tidak mengerahkan nya secara penuh dalam melepaskan ajian tersebut, jika memang di lambari tenaga dalam yang sangat tinggi , tentu diri orang itu sudah tidak akan berbentuk lagi, !" terang Eyang Macan Putih.


Prabhu Dewangga lantas menganggukkan kepalanya mengerti, dan ia pun mengajak Eyang Macan Putih ini untuk segera pergi dari situ.


Dan tidak terlalu lama berubah lelaki tua yang berbadan tegap ini menjadi seekor Macan putih lagi.


Sambil mengaum dengan kerasnya, keduanya segera meninggalkan tempat tersebut.


" Kita akan membuntuti Dimas Turangga Sena dan ibunda Ratu, Eyang,..!" seru Prabhu Dewangga Sena yg telah berada di atas punggung dari Macan putih tersebut.


Dan dengan sangat cepat nya , melesatlah binatang tersebut menuju Kalindih.


Memang hari telah merangkak naik, tidak terlalu lama , sang Prabhu pun berhasil menyusul adik nya tersebut.


Pangeran Turangga Sena amat terkejut melihat kedatangan dari sang kakak.


" Bagaimana keadaan mu Kangmas Prabhu,..?" tanya Pangeran Turangga Sena kepada kakaknya ini.


" Berkat lindungan sang Hyang jagad Bhatara, Kangmas masih selamat,..!" sahut Prabhu Dewangga Sena yg telah turun dari punggung Macan Putih.


" Apakah Mpu Kampret itu telah tewas Kangmas Prabhu,.?" tanya Pangeran Turangga Sena lagi.


" Sudah Dimas, !" jawab Prabhu Dewangga Sena.


" Lalu bagaimana dengan Kangmbok Dyah Wikamini,..?" kembali Pangeran Turangga Sena bertanya.


" Ia masih berhasil menyelamatkan diri, namun entah kemana perginya,..!" jelas Prabhu Dewangga Sena.


Sang Prabhu pun menceritakan tentang kejadian yg menimpa seluruh penghuni desa yg menjadi landasan perjuangan dari Putri Dyah Wikamini yg berniat untuk melakukan pemberontakan atas kerajaan Medang Kemulan itu.


Setelah selesai menceritakan nya, secara khusus Prabhu Dewangga Sena mengatakan kepada keduanya untuk dapat meluluhkan hati Akuwu Watu Menak Kober agar sudi kiranya mengalah dan tunduk di bawah kekuasaan dari kerajaan Medang Kemulan yg di pimpin oleh nya saat ini.


" Ibunda Ratu, permintaan ku ini adalah agar tidak terjadi lagi peperangan antara Pakuwan Kalindih dengan Kotaraja Medang Kemulan,..namun satu hal,.jika ia memang bersikukuh tidak mau tunduk , terpaksalah diriku akan mengambil sikap tegas mengatasinya, walaupun diriku masih sangat berharap ibunda Ratu untuk meluluhkan hatinya,..!" terang Prabhu Dewangga Sena.


" Doakanlah anakmas Prabhu, ibunda berhasil dalam tugas kali ini, bagaimana pun juga Kangmas Akuwu Watu Menak Kober itu adalah kakak ku,..mudah mudahan ia masih mau mendengar ucapan ku ini,..!" sahut Ratu Ayu Tunggarani.


Setelah terjadi pertemuan itu, maka Prabhu Dewangga Sena pun meninggalkan keduanya, ia merasa tidak perlu lagi menjaga mereka , sebab kota Pakuwan Kalindih pun sudah tidak terlalu jauh lagi.


Sang Prabhu pun bergerak pulang ke Kotaraja Medang Kemulan.

__ADS_1


Dan dua orang yg menjadi utusan dari Kotaraja Medang Kemulan itu pun melanjutkan juga perjalanan nya menuju Kalindih.


Menjelang sore tibalah Ratu Ayu Tunggarani dan Pangeran Turangga Sena di istana pakuwan Kalindih.


Mereka berdua di sambut dengan hangat oleh Akuwu Watu Menak Kober.


Penguasa Pakuwan Kalindih ini memeluk erat adik dan keponakan nya ini seolah tidak ingin melepaskan nya.


" Bagaimana khabar mu Rayyi Tunggarani,..?" tanya sang Akuwu kepada Ratu Ayu Tunggarani.


" Baik Kangmas Akuwu,..!" sahut Ratu Ayu Tunggarani.


" Sudah sebesar ini keponakan ku, ternyata sudah sangat lama kita tidak bertemu,..sehingga Paman tidak mengenali mu lagi,..!" ucap Akuwu Watu Menak Kober kepada Pangeran Turangga Sena.


Memang saat pangeran Turangga Sena dan ibundanya pergi meninggalkan Kalindih usianya masih kanak-kanak, namun kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat gagah dan berwajah sangat tampan.


" Mungkin lebih dari sepuluh tahun kami meninggalkan Kalindih ini , Kangmas Akuwu,.. sehingga membuat mu tidak dapat lagi mengenali keponakan sendiri,..!" sahut Ratu Ayu Tunggarani.


Ia pun meneruskan ucapannya dengan mengatakan bahwa kehadiran mereka di Kalindih bukan semata mata sowan terhadap sang kakak melainkan ada sesuatu yg ingin mereka bicarakan.


" Tenanglah Rayyi Tunggarani, kita lupakan lah dahulu masalah yang telah lalu dan juga masalah mengenai kerajaan Medang Kemulan dan Pakuwan Kalindih, sebaiknya kita berbicara mengenai keadaan kalian selama di perantauan ,.. Kangmas masih ingin mendengar kisah kalian berdua itu,.!" ucap Akuwu Watu Menak Kober.


Dan mendengar ucapan dari kakaknya ini, Ratu Ayu Tunggarani pun mengisahkan cerita mereka ketika harus pergi dari Kalindih ini.


Cukup lama ia bercerita, dan tampak sesekali perempuan paruh baya ini menyeka air matanya yang keluar ketika harus mengenang kisah pahit yang harus mereka berdua terima.


Saat tiba ia menceritakan tentang pertolongan mereka kepada Putri Dyah Wikamini saat mencoba melarikan diri dari kejaran para prajurit Medang Kemulan, tiba tiba saja Akuwu Watu Menak Kober langsung menyela nya,.


" Jadi kalian berdua lah yg telah menyelamatkan Dyah Wikamini itu, Rayyi Tunggarani,..?" tanya nya kepada Ratu Ayu Tunggarani.


" Benar Kangmas Akuwu, kami berdua lah yg telah menyelamatkan nya, apakah ia tidak pernah menceritakan nya kepada dirimu, Kangmas Akuwu,..,?" tanya Ratu Ayu Tunggarani.


Sambil menggeleng lemah Akuwu Kalindih berkata pelan,.


Mendengar hal tersebut, Ratu Ayu Tunggarani pun merasa sedih, ternyata mereka berdua tidak pernah dianggap oleh putri Prabhu Watu Menak Koncar itu.


Saat pelayan dalam istana Pakuwan Kalindih ini menyajikan hidangan atas keduanya maka keluarga dari Prabhu Watu Menak Koncar ini pun bersantap bersama dan mengenang kembali masa masa bahagia yg pernah mereka rasakan saat masih berkumpul menjadi satu di Kalindih tersebut.


Ada perasaan haru di hati Ratu Ayu Tunggarani ini yg melihat keadaan istana itu tidak terlalu jauh berubah, ia masih ingat sekali di bilik mana di tempati nya saat ia masih menjadi sekar Kedaton dari Pakuwan Kalindih ini.


Saat lampu lampu menyala di dalam istana Pakuwan Kalindih ini dan menerangi, Akuwu Watu Menak Kober pun mengajak kembali kedua kerabatnya ini untuk berbincang lagi.


" Katakanlah kepadaku, apa maksud dan tujuan kalian berdua datang kemari selain sowan terhadap ku, apakah kalian ini memang di utus oleh Prabhu Dewangga Sena.?" tanya nya kepada Ratu Ayu Tunggarani.


" Memang tepat sekali yg Kangmas Akuwu katakan itu, kami berdua datang kemari selain memang sudah sangat rindu dengan keluarga disini, kami juga memang di perintahkan oleh Anakmas Prabhu untuk mengatakan hal ini kepada Kangmas Akuwu,..,!" ucap Ratu Ayu Tunggarani.


" Apa itu , Rayyi Tunggarani,..?" tanya Akuwu Watu Menak Kober lagi.


" Kami berdua dimintakan secara khusus oleh Anakmas Prabhu agar dapat melunakkan hati Kangmas supaya tidak lagi ada permusuhan antara Kalindih dengan Kotaraja Medang Kemulan, Anakmas Prabhu berharap Kangmas Akuwu mau tunduk kepada kekuasaan Medang Kemulan ini, yg kini di pegang oleh Anakmas Prabhu Dewangga Sena,..,!" jelas Ratu Ayu Tunggarani .


" Apa syarat yg dimintakan oleh Prabhu Dewangga Sena itu, Rayyi Tunggarani,..?" tanya Akuwu Watu Menak Kober.


" Anakmas Prabhu tidak meminta syarat apa -apa selain seperti biasanya , setiap wilayah yg tunduk pada Kerajaan Medang Kemulan harus memberikan upeti setiap tahunnya, itu saja , dan satu hal lagi, jika di langsungkan Paseban Agung, Kangmas Akuwu wajib datang ke Kotaraja,..!" ungkap Ratu Ayu Tunggarani.


Memang Prabhu Dewangga Sena tidak meminta syarat apa -apa terhadap Kalindih ini untuk mengakui kekuasaan Medang Kemulan selain harus memberikan ulu bekti atau upeti seperti biasanya daerah yang tunduk di bawah satu kekuasaan.


Dan mendengar hal ini, Akuwu Watu Menak Kober tampak sangat senang sekali, Akuwu yg hanya memiliki sebelah matanya itu seperti merasa diangkat oleh penguasa yg baru yang ada di Kotaraja Medang Kemulan tersebut.


" Baiklah Rayyi Tunggarani, permintaan mu ini tentu akan ku terima dan besok pada acara Paseban akan ku tanyakan kepada para pembesar Kalindih , apakah mereka bersedia atau tidak ,nanti setelah nya baru akan ku putuskan,..!" kata Akuwu Watu Menak Kober.


" Terima kasih, Kangmas Akuwu, Kami berdua sangat berharap bahwa maksud baik Anakmas Prabhu itu dapat di terima pula dengan baik disini,.!" ucap Ratu Ayu Tunggarani.


Sampai larut malam, ketiganya masih berbincang melepas rindu.

__ADS_1


Saat malam telah pada puncak nya barulah mereka beristirahat, Ratu Ayu Tunggarani di tempatkan pada biliknya dahulu, sedangkan Pangeran Turangga Sena berada di sebelah nya.


Kedua utusan dari Kotaraja Medang Kemulan ini memang masih memiliki harapan , mereka melihat sikap dari Akuwu Watu Menak Kober yg menyambut mereka dengan hangat dan penuh kekeluargaan.


*********


Sementara itu , seorang perempuan cantik tengah berlari dengan sekuat tenaga menjauhi desa yg berada di wilayah Pakuwan Kalindih ini.


Ia yg tiada lain adalah Putri Dyah Wikamini yg merupakan Putri dari Prabhu Watu Menak Koncar itu berhasil meloloskan diri dari serangan Eyang Macan Putih sehingga ia pun masih selamat dengan meninggalkan para pengawal yang berjuang mati matian melawan jelmaan Macan Putih yg menjadi tunggangan Prabhu Dewangga Sena tersebut.


Hehh, dimana aku ini, bertanya dalam hati Putri Dyah Wikamini.


Ia yg berlari ke arah barat kini telah menginjak kan kakinya di sebuah tepian hutan dan berada di kaki sebuah gunung.


Apakah gunung itu adalah Gunung Chandra muka, berkata lagi ia dalam hatinya.


Perlahan ia mencari sebuah mata air untuk melepaskan dahaganya , karena hampir seharian ia belum menelan sesuatu , baik itu makanan atau pun minuman.


Tidak terlalu lama mencari tibalah ia pada sebuah sendang yg tidak terlalu luas dan berair sangat jernih.


Segera saja sang Putri masuk ke dalam sendang guna memenuhi keinginan nya , baru setelah nya ia pun mandi di Sendang tersebut.


Saat malam menjelang, tiba tiba saja Putri Dyah Wikamini mendengar suara beberapa orang yang sedang menuju tempat tersebut.


Buru -buru ia meraih pakaiannya dan meninggalkan tempat tersebut bersembunyi di balik rerimbunan semak belukar.


Tidak terlalu lama muncullah tiga orang ke Sendang tersebut, dan mereka pun segera membersihkan tubuhnya dengan mandi dalam sendang tersebut.


" Ehh, kakang,.. seperti nya ada seseorang berada disini sebelum kita datang tadi,..!" seru seorang dari ketiganya.


" Siapa dan darimana dirimu tahu,..?" tanya yg seorang lagi.


" Lihat ini,..!" balas orang itu.


Sambil ia menunjukkan sebuah pakaian perempuan, dan diangkat nya cukup tinggi agar dapat di lihat yg lain


Sementara di balik semak belukar , Putri Dyah Wikamini yg sedang mengintip itu , hatinya kesal bukan main sebab ia meninggalkan salah satu pakaian nya di tepian Sendang tersebut.


Ahh bodoh sekali aku, mengapa pakaian ku masih ada yg tertinggal katanya dalam hati.


Ia berusaha untuk mengenali ketiganya untuk memastikan apakah lawan atau kawan.


Namun dalam keremangan senja menjelang malam itu ia sangat sulit untuk memastikan nya, meski demikian ia berusaha tetap tenang dan diam saja di balik persembunyian nya.


Dan dari Sendang tersebut terdengar lagi ucapan dari orang orang tersebut.


" Tampak nya , pemilik pakaian ini adalah seorang perempuan yang berwajah cantik, kita harus mendapatkan nya , kakang,..!" seru orang itu.


" Ahh, darimana kau dapat memastikan bahwa itu adalah pakaian seorang perempuan cantik, atau malah jangan jangan itu adalah pakaian demit penunggu hutan ini,!" sahut yg lain.


" Mana ada seorang demit memiliki pakaian sebagus ini, dan harum lagi,..!" balas temannya.


Dan orang yg fi di panggil kakang itu pun naik ke atas tepian Sendang tersebut seraya mengambil pakaian tersebut dan mencium nya.


" Benarkan kakang, pakaian ini milik seorang perempuan yang memiliki paras yang cantik, !" ucap temannya.


" Sepertinya memang demikian, adi , pemilik pakaian ini adalah seorang perempuan dari kalangan bangsawan, ayo kita cari sampai dapat, hitung hitung bisa kita jadikan penghangat malam yg dingin ini,..!" balas teman nya.


Putri Dyah Wikamini yg mendengar ucapan orang itu bergidik bulu kuduknya, ia berusaha untuk segera meninggalkan tempat tersebut.


Perlahan , sang putri pun berusaha menjauhi tempat tersebut.


Ia melangkah dengan sangat berhati-hati sekali agar tidak di ketahui oleh tiga orang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2