SASRA WURUK

SASRA WURUK
Gugurnya Prabhu Watu Menak Koncar #5.


__ADS_3

Perang Tanding antara Panglima Raden Watu Giring dengan Rakryan Mahamantri Kalasan pun tidak dapat di hindarkan lagi.


Panglima kebanggaan Prabhu Kreshna Yuda ini langsung menyerang Rakryan Mahamantri Kalasan.


Tombak yg berada di tangannya dengan sangat cepat ia tusukkan.


Mendapatkan serangan yg sangat cepat , tidak membuat Rakryan Mahamantri Kalasan merasa gugup. Pedangnya lantas menjawabnya dengan sebuah tepisan.


" Triiiinng,..!"


Luput memang serangan tersebut, akan tetapi sebuah serangan menyusul, melalui kaki kanan nya , Panglima Raden Watu Giring mengirimkan tendangan.


Rakryan Mahamantri Kalasan yg masih menggenggam pedangnya lantas menebaskan nya guna menghentikan serangan tersebut.


Panglima Raden Watu Giring yg tidak ingin kaki nya terpotong segera menggerakkan tombaknya menyusul , mau tidak mau Rakryan Mahamantri Kalasan harus memapasi serangan tersebut.


" Dhieghh,.."


" Traangg,..!"


Bersamaan beradunya kedua senjata itu, tendangan keras Panglima Raden Watu Giring mendarat telak di dada Rakryan Mahamantri Kalasan.


Salah seorang kepercayaan dari Prabhu Watu Menak Koncar ini merasakan sakit di lambung nya akibat hantaman tendangan tersebut. Tubuhnya bahkan harus mundur beberapa tindak ke belakang. Ia berusaha memperbaiki posisi nya sekaligus mengatur jalan nafasnya .Akan tetapi ternyata Panglima Raden Watu Giring tidak membiarkan nya begitu saja.


" Heahhhh,.."


Dengan satu lompatan yang panjang, Panglima Raden Watu Giring menjulurkan kembali tombaknya mengarah dada. Hal ini membuat Rakryan Mahamantri Kalasan harus melompat mundur ke belakang . Beberapa kali bersalto di udara , luput lah serangan tersebut.


Tatkalah menjejakkan kakinya di atas tanah, Rakryan Mahamantri Kalasan segera memutar pedangnya dengan sangat cepat, bagaikan kitriran yg mengeluarkan desau dari pedang tersebut ia melayani serangan yg di lancarkan oleh senopati sayap kanan dari Pasukan Pakuwan Pamintihan ini.


Perang Tanding ini berjalan sangat seru di karenakan ada dendam pada masing -masing pihak.


Sementara itu , di induk pasukan sendiri, pertemuan antara Prabhu Watu Menak Koncar dengan Pangeran Dewangga Sena nampaknya masih berjalan alot.


Ternyata penguasa Kerajaan Medang Kemulan ini tidak dapat dengan mudah di kalahkan oleh Pangeran Dewangga Sena.


Atau mungkin sang Pangeran memang hampir kehabisan tenaga setelah di paksa bertarung selama hampir dua hari tanpa beristirahat sedikit pun.


Selain itu, lawan yang dihadapi nya pun bukanlah lawan yg sembarangan , ternyata Prabhu Watu Menak Koncar memang memiliki banyak ilmu, meskipun demikian ia pun terlihat lebih bugar karena baru kali ini ia melakukan pertarungan, berbeda dengan Pangeran Dewangga Sena yg telah bertarung cukup lama saat berhadapan dengan Jabonarang.


Sehingga membuatnya harus keteteran ketika serangan yg di lancarkan oleh Penguasa Kerajaan Medang Kemulan ini bergelombang laksana air bah menerjang.


Pelan namun pasti , kedudukan dari Pangeran Dewangga Sena semakin sulit, terlebih ia mendengar bahwa pasukan nya yg berada d luar benteng Kotaraja mengalami kekalahan.


Pikiran dari Pangeran Dewangga Sena terganggu sesaat, akan tetapi hal ini di manfaatkan oleh Prabhu Watu Menak Koncar.


Ia dengan garangnya menyabetkan senjatanya,


" Hiyyaaahh,..!"


" Haitt,..!"


Pedang yang cukup besar ini mampu menembus pertahanan Pangeran Dewangga Sena.


Ia memang agak terlambat untuk menghindari serangan tersebut sehingga senjata yang ada di tangan Prabhu Watu Menak Koncar masih mampu melukai lengan nya.


Memang tidak terlalu parah luka yang di timbulkan oleh goresan pedang itu, tetapi darah langsung mengembun keluar.


Pangeran Dewangga Sena tampak terlihat semakin kelelahan, ia berusaha terus untuk menghindar, dan sesekali mengirimkan serangan balasan.


Rupanya karena terlalu banyak ia mengeluarkan tenaga dalam nya , ketika harus melepaskan Ajian Telapak Dewa miliknya ini membuat tubuh Pangeran Dewangga Sena terkuras tenaga nya di tambah lagi luka yang barusan di dapatnya ini membuat semakin memperparah keadaan.


Patih Watu Spuh Gada yg memang tidak terlalu jauh dari sisi Pangeran Dewangga Sena berpikir keras untuk mengatasi permasalahan yg di hadapi junjungan nya itu.


Ia tidak ingin Putra Prabhu Kreshna Yuda ini gagal dalam usaha nya merebut kembali tahta Medang Kemulan dari tangan Prabhu Watu Menak Koncar itu.


Sebenarnya Patih Watu Spuh Gada berniat ingin mengeroyok Prabhu Watu Menak Koncar ini, akan tetapi niatnya ini ia urungkan, takut jika Pangeran Dewangga Sena akan marah karena merendahkan nya.


Tetapi memang keadaan saat ini cukup sulit untuk Putra Prabhu Kreshna Yuda ini yg tampaknya benar benar kelelahan.


Hal itu di perparah lagi dengan ejekan dari Prabhu Watu Menak Koncar .


" He, he ,he, sebentar lagi kau akan mampus di tanganku,..terima lah ini Hiyyyahh,..!" seru Prabhu Watu Menak Koncar.


Ia kembali menyerang dengan dahsyatnya , bahkan kali ini ia memadukan serangan pedangnya dengan ilmu nya yg di lepaskan.

__ADS_1


Ajian Gemah Anala yg berwarna kemerahan laksana api itu mengejar kemana pun Pangeran Dewangga Sena pergi.


Sementara sang Pangeran sudah tidak dapat lagi membalasnya, ia berusaha untuk menyimpan tenaga nya agar tidak tewas dengan cepat di hantam serangan lawan.


Pada kondisi yang kritis ini, Patih Watu Spuh Gada berteriak dengan keras kepada Pangeran Dewangga Sena.


" Anakmas Pangeran,.. gunakanlah ilmu puncak mu juga Golok Iblis tujuh bangkai,. lakukanlah,. !" seru Patih Watu Spuh Gada dengan keranya.


Pangeran Dewangga Sena sempat melirik ke arah Patih Watu Spuh Gada ini, dan oleh sang Patih di jawab dengan anggukan kepalanya.


" Baiklah,..Eyang Patih,..!" desis Pangeran Dewangga Sena nyaris tak terdengar.


Disaat dirinya menghindari serangan yg di lancarkan oleh Prabhu Watu Menak Koncar itu, disaat itu pulalah ia mengeluarkan sebuah senjata yang diambil nya dari tangan Mpu Kundara.


Yeahh,.senjata yang berupa golok berwarna kehitam-hitaman ini langsung mengeluarkan aroma yang tidak sedap begitu keluar dari sarungnya.


" Traaangg,..!"


Tatkala Prabhu Watu Menak Koncar terus memburu nya dengan sabetan pedangnya , Pangeran Dewangga Sena langsung membalas nya dengan tebasan golok Iblis tujuh bangkai yg telah tergenggam erat di tangan nya.


Kali ini benturan yg sangat keras pun terjadi, ada perobahan pada saat kedua senjata beradu. Prabhu Watu Menak Koncar tergetar hebat, tangan nya terasa kesemutan.


Ia pun terdorong mundur oleh tolakan tenaga dari benturan tersebut.


Prabhu Watu Menak Koncar terkejut bukan main. Ia memandangi Pangeran Dewangga Sena tak berkedip, juga dengan golok yg ada di tangan lawannya itu.


" Golok Iblis tujuh bangkai,..!" serunya kaget bukan kepalang.


Matanya tak lepas dari menatap senjata yg berada di genggaman tangan pangeran Dewangga Sena ini.


" Jadi , kau telah membunuh Mpu Kundara,.hehh,...?" tanya Prabhu Watu Menak Koncar keras.


" Benar, Aku lah yg telah membunuh Mpu Kundara,.ha,.ha,.ha,.!" teriak Pangeran Dewangga Sena.


Tidak seperti biasanya, kini Pangeran Dewangga Sena tampak berubah, aura wajahnya menampakkan kebengisan dan kekejaman, setelah ia menggenggam Golok Iblis tujuh bangkai itu.


" Kali ini, kaulah yang harus mampus,.Menak Koncar,.. bersiaplah, .ha, ha, ha,..!"


Terdengar kembali teriakan dari putra Prabhu Kreshna Yuda ini. Ia tengah memainkan senjata golok yg ada di tangan nya itu.


Patih yg sudah sangat sepuh ini kemudian menjauhi tempat tersebut , ia pun masih sempat memberikan nasehat untuk tidak tunduk atas kemauan golok yg ada di tangan Pangeran Dewangga Sena ini.


" Kendalikan dirimu, anakmas Pangeran,..!" ucap nya lirih.


" Ha, ha , ha, Eyang Patih jangan khawatir,..!" sahut Pangeran Dewangga Sena sambil tertawa.


Memang benar , kali ini Pangeran Dewangga Sena sepertinya telah di bawah pengaruh dari Golok Iblis tujuh bangkai itu.


Ia berseru sangat keras sambil meloncat menyerang Prabhu Watu Menak Koncar.


" ****** kau Menak Koncar, terima ini, heahh,..!"


Langsung saja Putra Prabhu Kreshna Yuda ini menyerang Prabhu Watu Menak Koncar dengan cepatnya. Golok iblis tujuh bangkai yg ada di tangan nya menebas mendatar mengarah leher dari Prabhu Watu Menak Koncar.


Melihat hal tersebut, kali ini Penguasa Kerajaan Medang Kemulan itu tidak berani lagi memapasi serangan ini dengan menggunakan pedang nya, ia meloncat mundur dan berusaha menjauhi lawannya.


Namun perubahan yang sangat drastis terjadi lagi, semula Pangeran Dewangga Sena yg telah kelelahan dan hampir kehabisan tenaga, tetapi sejak menggenggam Golok Iblis tujuh bangkai tenaga nya muncul lagi dan kali ini berkali kali lipat.


Ia terus saja memburu Prabhu Watu Menak Koncar yg kelihatan nya agak gentar melihat senjata lawan, ia banyak menghindar dari semua serangan.


Sesekali memang ia masih mampu menyerang, tetapi tampaknya serangan nya itu sia sia saja.


Pangeran Dewangga Sena terus saja maju, bahkan seolah tidak takut lagi terhadap senjata lawan, bahkan ketika pedang Prabhu Watu Menak Koncar ini mampus menembus pertahanan nya, tubuhnya tidak merasakan apa apa.


Jangankan mampu membuat nya terluka, pakaian yang di gunakan oleh Pangeran Dewangga Sena ini pun tidak terkoyak.


" Aneh,..!" desis Prabhu Watu Menak Koncar.


" Ha, ha ,ha ,..hari ini adalah hari terakhir mu melihat matahari,..Koncar,..terima ini,..hiyyyah,..!" seru Pangeran Dewangga Sena.


Bagaikan terbang , kembali putra Prabhu Kreshna Yuda itu melesat dan menyerang Prabhu Watu Menak Koncar dengan Golok Iblis tujuh bangkai nya.


Karena kecepatan yg luar biasa dari lawan, Prabhu Watu Menak Koncar tidak mampu lagi untuk menghindar, ia memalangkan pedangnya menangkis serangan tersebut.


" Triiiiiiieng,..!"

__ADS_1


Pedang yang ada di tangan Prabhu Watu Menak Koncar ini putus menjadi dua , padahal pedangnya ini bukan pedang sembarangan tetapi terbuat dari bahan yang sangat kuat.


Sehingga Golok Iblis tujuh bangkai mampu menggores dada dari Prabhu Watu Menak Koncar setelah senjata nya tadi tidak mampu menahan serangan Pangeran Dewangga Sena.


Kekagetan yg luar biasa di hati Prabhu Watu Menak Koncar,. di tambah lagi , warangan yg ada di Golok Iblis tujuh bangkai itu telah masuk ke tubuhnya. Membuat Prabhu Watu Menak Koncar terpengaruh, ia hanya menatap heran tanpa bisa berbuat apa-apa.


Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Pangeran Dewangga Sena kembali sang Pangeran menebaskan golok nya ke arah leher lawan.


" ****** kau Menak Koncar,.hiihhh,. !"


" Crassshhh,..!"


Dengan kekuatan penuh ia menebas leher Prabhu Watu Menak Koncar hingga putus.


Kepalanya jatuh menggelinding diatas tanah,.Dan selanjutnya Pangeran Dewangga Sena memberikan tendangan ke arah tubuh Prabhu Watu Menak Koncar yg tidak memiliki kepala lagi itu hingga tumbang.


" Ha, ha, ha, ha, ****** kau Menak Koncar,.. akulah penguasa Medang Kemulan ini,..ha, ha, ha,!" teriak Pangeran Dewangga Sena.


Sambil ia mengacungkan senjatanya ke udara, putra Prabhu Kreshna Yuda ini tertawa tawa senang melihat lawan nya telah mati bersimbah darah dengan kepala nya putus.


Semua mata menatap ke arah Pangeran Dewangga Sena yg tampak tengah tertawa tawa senang ini.


Mereka memang telah melihat bahwa lawan sang Pangeran telah jatuh ke atas tanah.


Adalah para prajurit Pakuwan Pamintihan yg amat sangat senang melihat kejadian itu,.mereka langsung meneriakkan kata-kata,.


" Prabhu Watu Menak Koncar telah gugur,..!"


" Prabhu Watu Menak Koncar telah gugur,..!"


Teriakkan itu mereka ulang berkali kali guna meruntuhkan semangat lawan sekaligus untuk mengakhiri perang itu.


Sesungguhnya teriakan teriakan dari para prajurit Pakuwan Pamintihan ini memang berpengaruh terhadap keseluruhan jalannya peperangan, terutama bagi pasukan dari kerajaan Medang Kemulan sendiri.


Patih Bamalurung yg masih mampu bertarung dengan Panglima Rakai Parumping segera mengirimkan seorang prajurit guna memastikan ucapan para prajurit Pakuwan Pamintihan yg berada di induk pasukan itu.


Cukup cepat prajurit itu bekerja, setelah ia melihat keadaan dari junjungan nya yg telah tewas dengan kepala terputus segera melaporkan kepada Patih Bamalurung.


" Benar Gusti Patih, Gusti Prabhu telah gugur,..!" ucap prajurit itu.


" Hahh,..apakah kau tidak salah lihat, prajurit,..?" tanya Patih Bamalurung tidak percaya.


" Hamba melihat dengan mata kepala saya sendiri,..Gusti Prabhu telah gugur dengan kepalanya terpisah dari badannya, Gusti Patih,..!" jawab prajurit Medang Kemulan itu.


Patih Bamalurung tampak terdiam , ia sungguh tidak mempercayainya.


Ketika Panglima Rakai Parumping meneriakkan kepadanya untuk menyerah , langsung di jawab oleh Patih Bamalurung dengan ketus.


" Aku bukan seorang pengecut,. Aku akan bertarung hingga mati,..jangan harap aku akan menyerah kepada mu, Parumping,..!"


Patih Bamalurung langsung menyerang panglima Rakai Parumping . Senjatanya yg berupa trisula pendek segera meluruk Panglima dari Pakuwan Pamintihan itu.


Panglima Rakai Parumping meladeninya, ia membalas serangan lawannya dengan pedang pendeknya.


Pertarungan antara kedua orang ini pun kembali berlanjut dengan masing-masing berbeda perasaan.


Adalah Patih Bamalurung yg tengah gundah gulana setelah mendengar Prabhu Watu Menak Koncar junjungan nya ini telah tewas, maka serangan nya pun jadi sangat kacau.


Berbeda dengan Panglima Rakai Parumping , ketika dari induk pasukan nya ia mendengar bahwa Senopati Agungnya telah berhasil membunuh Prabhu Watu Menak Koncar, hatinya sangat senang sekali, ini juga terlihat dalam tata geraknya yg semakin mapan dan sangat baik.


Hingga pada suatu saat , sambil ia menghindari tusukan trisula lawan, pedang pendeknya segera masuk menusuk jantung Patih Bamalurung.


Orang nomor dua dari Kerajaan Medang Kemulan ini pun te as menyusul Prabhu Watu Menak Koncar.


Kembali terdengar teriakkan dari para prajurit Pakuwan Pamintihan ,.


" Patih Bamalurung telah tewas,..!"


" Patih Bamalurung telah tewas,..!"


" Patih Bamalurung telah tewas,..!"


Berulang kali, teriakan itu menggema dari sayap kanan Pasukan Pakuwan Pamintihan ini.


Saat menjelang malam, seluruh senopati dari Pakuwan Pamintihan meneriakkan kepada para prajurit kerajaan Medang Kemulan untuk menyerah setelah Rajanya ,Prabhu Watu Menak Koncar dan Patih Bamalurung gugur di medan perang.

__ADS_1


__ADS_2