
Setelah mendapatkan tusukan dari pasukan Bekel Ampaian, maka para prajurit yg di pimpin oleh Rakryan Mahamantri Kalasan pun menjadi kacau balau, karena sebenarnya pasukan ini sebagian besar merupakan bekas para prajurit dari Kerajaan Medang Kemulan di masa lalu di masa pemerintahan sang Prabhu Kreshna Yuda.
Untuk itulah , peperangan yg terjadi di dekat benteng keraton ini berakibat pula pada peperangan yang terjadi di alun alun Kotaraja.
Prabhu Watu Menak Koncar sendiri begitu mendengar prajurit yang ia tempatkan di dekat keraton ini berkhianat, hatinya murka dengan segera ia menitahkan untuk menghukum mati semua prajurit yang telah membelot tersebut.
Adalah Patih Bamalurung yg tergesa gesa menyampaikan pesan dari Junjungan nya tersebut kepada Panglima Raden Naruttala dan juga Rakryan Mahamantri Kalasan.
Tetapi pesan Prabhu Watu Menak Koncar ini tidak terlalu di tanggapi oleh Panglima Raden Naruttala sebagai pemimpin keseluruhan dari prajurit Medang Kemulan, karena saat ini mereka pun tengah kesulitan keluar dari tekanan para prajurit Pakuwan Pamintihan.
Kemungkinan perang Senopati pun akan segera terjadi. Ia telah melihat Senopati Garega dari Pakuwan Pamintihan tengah mendekatinya , sehingga ia hanya mengatakan kepada prajurit utusan dari Patih Bamalurung dengan sekena nya saja.
" Hahh, jangan kan hendak menghukum Bekel Ampaian dan para prajurit nya yg membelot itu, nyawa kami pun belum tentu selamat hingga malam tiba,..katakan kepada Ramanda Prabhu untuk segera bersiap melarikan diri,..kekalahan kita telah di depan mata,..!" ucap Panglima Raden Naruttala.
Ia pun sudah tidak dapat berkata lebih jauh lagi ketika pasukan dari Pakuwan Pamintihan yg di pimpin oleh Senopati Garega semakin mendekatinya.
Meskipun Panglima Raden Naruttala berada di induk pasukan nya, tetapi ujung paruh lawan mampu menerobos masuk hingga menusuk jantung pertahanan pasukan Medang Kemulan ini.
Itu adalah salah satu kelebihan dari Senopati Garega dan pasukan yang biasa ia pimpin. Senopati tangguh asal Pakuwan Pamintihan ini mampu menggerakkan seluruh prajurit nya dengan sangat cepat sesuai dengan keinginan nya , terlebih saat ini ia di topang induk pasukan yang cukup bagus membentengi nya dari belakang,.disebabkan di belakang senopati Garega ada Senopati Agung pasukan Pakuwan Pamintihan , yaitu Pangeran Dewangga Sena.
Begitu ujung paruh ini berhasil masuk ke jantung pertahanan dari pasukan kerajaan Medang Kemulan maka dengan cepat pula induk pasukan ini ikut pula membantu menopang ujung paruh mereka menekan pasukan lawan.
Dikhawatirkan oleh pengeran Dewangga Sena akan siasat jebakan yang di terapkan oleh pihak musuh.Yaitu dengan menarik ke dalam pasukan yg di pimpin oleh Senopati Garega ini, sehingga tanpa menunggu lama, Pangeran Dewangga Sena dengan cepat pula mendukung pasukan itu agar tidak terjebak sendirian dalam kekuatan musuh.
Perlahan namun pasti,.pasukan besar ini mampu menghalau hadangan pihak musuh sehingga Senopati Garega semakin bebas mendekati Panglima Raden Naruttala. Pasukan dari Medang Kemulan terus bergerak mundur mendekati dinding keraton.
Di lain pihak,..panglima Raden Watu Giring yg menjadi Senopati sayap kiri pun tengah merangsek masuk meski mereka mendapatkan tantangan dari salah seorang bekas senopati yg sempat menghilang yakni Senopati Adas Gala.
Pertemuan kembali kedua orang ini pun tampaknya segera terjadi setelah dengan gagah beraninya pasukan yang di bentuk oleh Pangeran Dewangga Sena dan Panglima Raden Watu Giring serta Patih Watu Spuh Gada ini menjawab segala tantangan dari para prajurit Medang Kemulan.
Mereka sepertinya bukan prajurit yang baru di bentuk melainkan sudah biasa bertarung dalam kesatuan yang utuh. Pergerakan pasukan ini sesuai kehendak dari Panglima Raden Watu Giring yg piawai memanfaatkan sempit nya lokasi perang dan bahkan ia telah mengetahui , sisi kejiwaan dari pihak musuh telah jatuh , ditambah dengan adanya pasukan yang membelot.
Dengan sangat cepat, senjata dari para prajurit yg di pimpin oleh Panglima Raden Watu Giring ini mampu menebas leher para prajurit Kerajaan Medang Kemulan.
Sudah cukup banyak prajurit yang tewas dari Medang Kemulan dan ini menambah jatuh sisi kejiwaan mereka.
Pasukan yang di pimpin oleh Senopati Adas Gala mundur dan mundur terus , itulah yang bisa mereka lakukan.
Terdengar teriakan dari Senopati Adas Gala agar mereka segera bersatu dengan induk pasukan nya yg berada di dekat benteng keraton.
Tindakan beberapa Senopati terbaik Kerajaan Medang Kemulan ini salah besar, mereka yang memiliki kelebihan prajurit malah hendak berkumpul dalam sebuah tempat , tentu akan lebih mudah pasukan musuh membantai mereka.
Terlihat kondisi pasukan yang di pimpin oleh Panglima Raden Naruttala ini memang sangat kacau bahkan mereka cenderung tidak saling memberi tahukan keadaan mereka masing-masing, jadilah kedudukan mereka semakin sulit.
Tampaknya para Senopati nya harus segera bertarung guna mempertahankan kewibawaan pasukan nya.
Senopati Garega yg menggunakan tombak terlihat menatap tajam ke arah Panglima Raden Naruttala.
" Sudah saatnya dirimu enyah dari bumi Medang Kemulan ini,. Naruttala,..!" seru Senopati Garega keras.
" Hehh,.. siapa kau berani mengusir ku,.Yang ada dirimu lah yg harus lenyap dari sini karena telah berani memberontak kepada Gusti Prabhu Menak Koncar, Pemimpin yg sah di Medang Kemulan ini,..!" balas Panglima Raden Naruttala.
Dengan pedang terhunus, Senopati Agung dari Kerajaan Medang Kemulan ini berhadap hadapan dengan Senopati Garega. Ini memang bukan kali pertama mereka bertemu, di saat panglima Raden Naruttala menyerang pakuwan Sindur ia pun telah berhadapan dengan Senopati Garega.
" Apakah matamu buta, Naruttala,.. lihatlah ,.. seluruh pasukan mu kini sudah terdesak,..bahkan para prajurit yg ada di benteng keraton itupun sudah banyak yang menyerah,.. apakah kau tidak mengetahuinya,..!" kata Senopati Garega dengan keras.
Memang dengan sengaja Senopati dari Pakuwan Pamintihan ini mengatakan hal yg demikian itu agar dapat merusak konsentrasi dari lawannya kali ini.
Dan Panglima Raden Naruttala pun terpancing atas ucapan musuh nya itu, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh jalan nya pertempuran,..memang keadaan dari pasukan nya dalam keadaan sulit. Jika ia melihat ke arah induk pasukan lawan, dimana ada Pangeran Dewangga Sena,.ternyata nyali semakin menciut, dengan bebas nya putra Prabhu Kreshna Yuda ini membunuhi para prajurit nya.
__ADS_1
Seolah terbang Pangeran Dewangga Sena melayang kesana kemari mencari mangsanya. Tombak dan keris nya telah berlumuran darah.Membuat siapa saja yang melihatnya menjadi bergidik.
Panglima Raden Naruttala segera memanggil salah seorang prajurit nya dan melihat hal tersebut, Senopati Garega berseru keras,..
" Apakah kau akan mengeroyokku , Naruttala,..?" tanya Senopati Garega dengan nada meninggi.
Akan tetapi Panglima Raden Naruttala tidak menggubrisnya,.ia mengatakan kepada prajurit nya ini untuk memanggil Jabonarang dan muridnya agar dapat menghentikan sepak terjang Pangeran Dewangga Sena yg seperti malaikat maut pencabut nyawa.
Bergegaslah prajurit tersebut mencari Jabonarang. Seorang dukun sihir yang kali ini tampaknya menemui jalan buntu untuk mengalahkan pasukan yang datang dari Pakuwan Pamintihan itu.
Sedangkan Panglima Raden Naruttala segera berkata,..
" Dirimu terlalu menganggap enteng diriku,.. Aku Naruttala tidak akan gentar menghadapi siapa pun termasuk dirimu,. Garega,.kau hanya seorang pecundang yang kali ini berusaha untuk mencari kamukten,.!" jelas Panglima Raden Naruttala.
Ucapan dari pemimpin pasukan Kerajaan Medang Kemulan ini memang membangkitkan amarah Senopati Garega,. langsung saja Senopati tangguh asal Pakuwan Pamintihan ini melesat,..
" Heahh,..****** kau ,.. Naruttala,..!" teriaknya.
Tombak pendek yang menjadi senjata andalan nya meluruk cepat mengarah ke jantung panglima Raden Naruttala yg berdiri tegak dengan kedua kakinya di pentangkan, ia memang telah siap untuk bertarung dengan salah satu Senopati musuh tersebut.
" Trangg,..!"
Panglima Raden Naruttala segera memapasi serangan tersebut dengan pedangnya, luput lah serangan pertama dari Senopati Garega .
Begitu menjejakkan kakinya di atas tanah, Kemabli Senopati Garega melesat dengan sangat cepat dan kali ini melalui landean tombak nya ia berusaha memukul pundak Panglima Raden Naruttala.
Menantu dari Prabhu Watu Menak Koncar ini memiringkan tubuhnya guna menghindari serangan tersebut.
Akan tetapi ternyata Senopati Garega memang sangat trengginas, setelah dua serangan nya tidak menemui sasaran nya , ia pun langsung mengarahkan pukulan tangan kirinya ke dada lawan.
Kembali Panglima Raden Naruttala menangkisnya dengan menggunakan tangan kirinya,..ternyata gerakan yg di lakukan oleh Senopati Garega ini hanya tipuan belaka, dengan cepat ia menggerakkan landean tombak nya memukul pinggang dari Panglima Raden Naruttala.
" Akkhh,.!"
Landean tombak milik Senopati Garega ini menghantam telak membuat panglima Raden Naruttala harus mengerang kesakitan.
Ia menggeser tubuhnya menjauhi lawannya. Tetapi Senopati Garega memang tidak ingin melepaskan lawan nya ini, ia meloncat memburu panglima Raden Naruttala .
Dengan sebuah tusukan yg mematikan , mata tombak yg di genggam oleh Senopati Garega mengarah tepat ke dada lawan.
" Trangg,..!"
Kembali , Panglima Raden Naruttala yg tidak ingin segera kalah, menangkis serangan tersebut, meskipun pinggang nya masih berdenyutan akibat hantaman landean tombak tadi ,ia pun segera membalas serangan Senopati Garega ini.
" Heaaahh,..!"
" Trannggg,..!"
" Triiingg ,...!"
Dua kali tebasan pedang yang cukup cepat menjadi balasan atas serangan dari Senopati Garega dan untuk kali ini kedudukan dari Senopati asal Pakuwan Pamintihan ini lah yang dalam posisi di tekan.
Gerakan dari Panglima Raden Naruttala semakin cepat saja tatkala tidak satupun serangan nya yg mampu menembus pertahanan lawan.
Pedangnya berputaran laksana kitiran mengepung tubuh Senopati Garega.
Akan tetapi Senopati Garega tidak menjadi bingung di buatnya, sesekali ia membalas dengan tombaknya guna membuyarkan serangan tersebut.
Tampaknya sampai menjelang malam pertarungan keduanya dalam keadaan berimbang. Mereka berdua saling serang dan saling tangkis untuk mempertahankan selembar nyawa mereka itu.
__ADS_1
Di tempat lain, setelah mengetahui bahwa induk pasukan dari Kerajaan Medang Kemulan ini terdesak hebat, Jabonarang segera menuju ke tempat dimana Panglima Raden Naruttala tengah bertarung mengadu nyawa dengan Senopati Garega, Jabonarang yg di temani oleh ketiga muridnya segera bertanya kepada prajurit penghubung itu, ia tidak mau mengganggu jalan nya perang tanding antara Panglima Raden Naruttala dengan Senopati Garega ini.
" Hehh,..diamana putera Prabhu Kreshna Yuda itu,..?" bentaknya kepada prajurit itu.
" Itu mereka ,..Ki,..!" sahut prajurit penghubung tersebut.
Jabonarang segera mengarahkan pandangannya kepada seorang Lelaki muda yg bertarung dengan sangat ganas nya membantai para prajurit Kerajaan Medang Kemulan.
Hahh,..ternyata dirinya memang memiliki kelebihan dari Prabhu Kreshna Yuda berkata dalam hati Jabonarang.
Orang tua yg sudah sangat sepuh ini menatap tidak berkedip ke arah Pangeran Dewangga Sena yg menjadi pemimpin pasukan Pakuwan Pamintihan ini. Meskipun sebagai seorang Senopati Agung, tetapi ia tidak hanya sekedar memberikan perintah saja tetapi turun langsung ke medan peperangan dengan gagah berani, ditambah lagi ia memang mempunyai bekal yang cukup akan hal itu.
Sehingga sepak terjang nya membuat kesulitan tersendiri untuk para prajurit Medang Kemulan ini.Sambil ia meneriakkan agar mereka menyerah , tetapi tetap saja jiwa ksatria sejati ia tunujkkan ketika kata katanya ini tidak mendapat perhatian dari para prajurit musuh itu. Tombak dan kerisnyalah yg kemudian berbicara.
Memang tenaga dari Pangeran muda ini sangat mumpuni, menjelang malam itu , ia masih saja mampu bergerak cepat bagai terbang saja menghajar lawan -lawan nya.
Sebentar lagi malam turun, tentu diriku akan lebih mudah untuk mengalahkan nya, jika putra Kresna Yuda ini telah tewas tentu akan ciut nyali pasukan dari Pakuwan Pamintihan itu, berkata lagi di dalam hatinya Jabonarang.
Memang saat itu matahari sudah merendah di ufuk barat. Jabonarang kemudian memanggil ketiga muridnya.
" Kinanja, Wandiga dan Wardipa, kemari kalian semua ,..!" teriak orang tua itu.
" Ada apa ,..Guru,..?" tanya Kinanja , murid tertuanya.
" Kemari cepat,.. minum ini,..!" ucap Jabonarang agak keras.
Ia segera memberikan tiga butir pil hitam kepada ke tiga muridnya tersebut.
" Pil apa inj ini Guru,.. mengapa sangat pahit sekali,..?" tanya Wandiga.
Ia yg telah meminum pil pemberian dari gurunya ini kelihatan sangat kepahitan sekali. Akan tetapi setelah gurunya berkata,..
" Sudah,..tahan saja sebentar,.nanti pahit nya juga akan hilang, pil ini untuk membuat kalian kebal terhadap senjata tajam juga terhadap racun, sekarang kita hampiri Putra Prabhu Kreshna Yuda itu,..mari,..!" ajak Jabonarang kepada ketiga muridnya ini.
Untuk selanjutnya keempat orang ini langsung menuju ke tempat dimana Pangeran Dewangga Sena yg tengah bertarung sambil terus memberikan perintah kepada seluruh prajurit Pakuwan Pamintihan yg d pimpin nya .
Di dekat Putra Prabhu Kreshna Yuda itu ada Patih Watu Spuh Gada dan Ki Gambong yg terus saja mengawal nya.
Kedua orang tua itu melihat kehadiran dari Jabonarang , penguasa Gunung Merut ini, lantas mengatakan kepada Pangeran Dewangga Sena ini untuk menghentikan serangan nya.
" Anak Mas Pangeran,..tampaknya dirimu telah mempunyai lawan kini,..!" seru Patih Watu Spuh Gada.
" Siapa Eyang Patih,..?" tanya Pangeran Dewangga Sena.
Ia telah berada di dekat Patih Watu Spuh Gada.
" Itu ,..penguasa Gunung Merut,.tampaknya ia memang di tugaskan untuk menghadapi mu ,. Anakmas Pangeran,..!" jelas Patih Watu Spuh Gada.
" Hehh,..suatu kebetulan sekali,.aku pun sangat ingin bertemu dengan nya , hutang nyawa bayar nyawa,..!" ucap Pangeran Dewangga Sena.
Jari jari tangan nya menggenggam erat landean tombak Pusaka Naga mas.
Mata nyalang menatap Jabonarang yg berjalan mendekatj nya.
Ki Gambong kemudian berbisik,..
" Hati-hati Gusti Pangeran,..ilmunya akan semakin meningkat ketika malam tiba dan semakin gelap semakin dahsyat pula ilmunya,..!" terang nya.
" Kalian berdua tenang saja, usahakan agar ketiga muridnya itu tidak berbuat curang, biar yg tua ini aku yg akan menghadapinya , sedikit banyak dirimu telah banyak memberikan ilmu mengenai penangkal dari ilmu sihirnya itu,..Ki Gambong,..!" ucap Pangeran Dewangga Sena sambil tersenyum.
__ADS_1