SASRA WURUK

SASRA WURUK
Pertaruhan #8


__ADS_3

Dan pada keesokan harinya, setelah matahari terbit dari ufuk timur, pasukan yang datang itu kembali di kejutkan dengan kehadiran berbagai macam hewan beracun, seperti ular, kelabang, kalajengking yg menyerang mereka.


Pangeran Dewangga Sena sangat terkejut mengetahui bahwa pasukan nya kembali mendapatkan serangan sihir tersebut.


Kembali ia memanggil para Senopati nya guna membicarakan mengenai hal ini di tengah kepanikan para prajurit nya yg harus mengusir hewan hewan yg menyerang tersebut.


" Bagaimana Eyang Patih,..apa yg harus kita lakukan mengatasi masalah ini,..?" tanyanya kepada Patih Watu Spuh Gada.


" Menurut Eyang, panggil kembali ki Gambong,.. apakah ia masih dapat mengusir serangan sihir ini,..!" seru Patih Watu Spuh Gada.


" Baiklah Eyang Patih,.. prajurit suruh datang kemari ki Gambong ,..!" seru Pangeran Dewangga Sena kepada salah seorang prajurit dari Pamintihan.


" Sendika Gusti Pangeran,..!" sahut Prajurit tersebut.


Di tengah persiapan pasukan Pakuwan Pamintihan dan di dukung oleh dua Pakuwan lagi untuk menyerang Kotaraja pada hari ini mereka mendapatkan tantangan dari ulah Jabonarang lakukan.


Akhirnya ki Gambong pun datang menghadap Pangeran Dewangga Sena dengan wajah pucat pasi,.ia memang merasa tugas berat untuk menangkal sihir yang di perbuat oleh penguasa dari Gunung Merut itu.


" Bagaimana Ki Gambong, apa usaha yg dapat kita perbuat guna menangkal serangan sihir ini,..?!!" tanya Pangeran Dewangga Sena.


" Ampunkan hamba Gusti Pangeran,..hamba merasa cukup sulit untuk menangkal serangan ini,..!" sahut Ki Gambong.


" Cukup sulit bukan berarti tidak ada jalan keluarnya,. katakan apa yg harus kita perbuat, jika kita dapat melakukan nya secara bersama sama mengapa tidak,..!" seru Pangeran Dewangga agak gusar.


Putra Prabhu Kreshna Yuda ini memang berilmu sangat tinggi akan tetapi tampaknya sangat buta mengenai ilmu sihir,.untuk itulah ia memang memerlukan pandangan dari mereka yang memiliki ilmu tersebut seperti ki Gambong ini.


" Ada satu cara , Gusti Pangeran,.."ucap Ki Gambong kurang meyakinkan.


" Apakah itu ,..katakan lah ,..!" seru Pangeran Dewangga Sena lagi.


Ia memang tidak ingin kehilangan pasukan nya lebih banyak lagi akibat serangan sihir ini.


Kemudian Ki Gambong mengatakan kepada Pangeran Dewangga Sena dengan setengah berbisik,..


" Gusti Pangeran harus melepas ikat pinggang yang Gusti Pangeran gunakan itu dan untuk selanjutnya diriku memerlukan kembali bantuan orang yang berada disini untuk menjadikan nya sesuatu yang dapat mengalahkan serta memusnahkan seluruh serangan hewan beracun itu,..!" ucap teman dari Brojo Lungguk ini.


" Hei,..mengapa tidak sedari tadi kau sebutkan hal ini, Ki Gambong.,?" tanya Pangeran Dewangga Sena.


Seraya ia melepaskan sabuk ikat pinggang miliknya yang merupakan ikat pinggang pemberian dari Ramandanya Prabhu Kreshna Yuda dan merupakan ikat pinggang turun temurun milik dari Sang putra mahkota.


Ikat pinggang yg terbuat dari kulit ini dengan kepala nya bergambar ular naga, ada beberapa intan dan berlian menghiasi di kepalanya .


Yah, ikat pinggang ini bertreteskan intan berlian.


Oleh Ki Gambong kemudian Pangeran Dewangga Sena diajak maju ke depan dari seluruh prajurit yang berkumpul itu.


Dimana , binatang beracun tengah merayap mendekati kemah kemah yg menjadi tempat para pasukan ini berada.


Sungguh banyak binatang beracun ini yg datang menyerang dan memiliki kecepatan luar biasa dari semestinya seperti ada yg menggerakkan nya.


" Gusti Pangeran,. letakkan lah Sabuk ikat pinggang itu di tanah dengan ujungnya Gusti Pangeran tetap pegang,..!" ucap Ki Gambong.


Pangeran Dewangga Sena menuruti perkataan dari Ki Gambong ini, ia melepaskan sabuk ikat pinggang nya dari tubuhnya dan untuk itu , dirinya terpaksa memegang Keris pusaka Naga Aling aling bersama tombak pusaka Naga mas di tangan kirinya.


Sesuatu hal yang aneh pun segera terjadi ketika dua pusaka tersebut bersatu, dan bersamaan itu pula Sabuk ikat pinggang yang di letakkan oleh Pangeran Dewangga Sena pun mulai bergerak aneh pula.


" Gusti Pangeran ,..kerahkanlah segenap seluruh tenaga dalam dan salurkan ke sabuk ikat pinggang itu dengan sebelum nya membacakan mantera ini,..!" ucap Ki Gambong.


" Apa mantera nya ,.Ki Gambong,..?" tanya Pangeran Dewangga Sena tidak mengerti.


Maka Ki Gambong pun mengajari sebuah mantera untuk mengatasi masalah Sihir yang tengah di lepaskan oleh Jabonarang ini.


" Ikuti ucapan hamba Gusti Pangeran,..!" ucap Ki Gambong.


" Baik,..!" sahut Pangeran Dewangga Sena.


Ki Gambong kemudian mengucapkan sebuah mantera..


" Hei,.Nogo Royo-Royo,.ingsun matek Aji Nogo Wongso Dahono,.."

__ADS_1


Terdengar suara dari Ki Gambong yg kemudian di ikuti oleh Pangeran Dewangga Sena.


Dan tiba tiba terjadilah perubahan pada Sabuk ikat pinggang yang di pegang oleh tangan kanan dari Putra Prabhu Kreshna Yuda ini.


Sabuk ikat pinggang tersebut tiba -tiba bergoyang sangat hebat dan berubah menjelama seekor ular naga yang sangat besar. Diatas kepala nya terlihat berlian dan permata yang menyilaukan mata.


Dan dari mulut ular naga yang cukup besar ini pun kemudian mengeluarkan cahaya merah, ia menyemburkan api dari dalam mulutnya itu.


Pangeran Dewangga Sena menjadi terkejut di buatnya.


" Hehhh,..!" serunya kaget.


Dan ki Gambong pun berteriak,..


" Lepaskan pegangan mu , Gusti Pangeran ,.. perintahkan Naga tersebut untuk menghancurkan binatang -binatang beracun itu..!"


Tidak menunggu lama, Pangeran Dewangga Sena kemudian melakukan apa yang di pesankan oleh Ki Gambong.


" Hei, Ular Naga,..basmi seluruh hewan hewan beracun itu,..!" seru Pangeran Dewangga Sena kepada sabuk ikat pinggang nya yg telah menjelma menjadi seekor Ular Naga yg cukup besar ini.


Seolah mengerti akan ucapan dari Pangeran Dewangga Sena , Ular Naga ini kemudian menggeliat kan kepalanya dan menyemburkan api ke arah binatang -binatang melata yang beracun ini sambil mengeluarkan suara anehnya yg cukup keras.


" Ghrooaaaahh,..!"


" Wussshhhhhs,..!"


Dalam sekali sembuaran saja banyak ular ular kecil, kelabang dan kalajengking yg mati di buatnya.


Setelah beberapa kali ia melakukan hal tersebut maka habislah seluruh binatang sihir yang di kirimkan oleh Jabonarang , penguasa Gunung Merut itu.


Pangeran Dewangga Sena , ki Gambong yg berada dekat dengan tempat kejadian merasa senang setelah melihat hasil yang telah di lakukan oleh Ular Naga jelamaan dari Sabuk ikat pinggang tersebut.


Pangeran Dewangga Sena kemudian disuruh kembali untuk menangkap ekor ular tersebut oleh Ki Gambong.


Ketika tangan kanan dari Pangeran Dewangga Sena menyentuh kembali ekor Ular Naga ini, perlahan namun pasti Binatang besar ini berubah kembali menjadi sebuah Sabuk ikat pinggang lagi.


" Hamba tidak menyangka bahwa dirimu mampu melakukan nya, Pangeran ,..!" seru Ki Gambong gembira.


Ia terlihat sangat senang sekali, karena ketika mentari menanjak naik satu rintangan.


Ia dengan suara lantang nya kemudian berkata,..


" Panglima Raden Watu Giring, Panglima Rakai Parumping dan Senopati Garega,.. bersiaplah ,.. kita serang Kotaraja Medang Kemulan ini,..!"


Seruan dari Senopati Agung , pemimpin pasukan dari Pakuwan Pamintihan dan gabungan beberapa Pakuwan tersebut segera bergerak mengikuti perintah tersebut.


Adalah Panglima Raden Watu Giring yg berada di sayap kanan segera bergerak menuju ke gerbang arah Timur dengan pasukan yg di bawa nya.


Sedangkan Panglima Rakai Parumping dan pasukan nya bergerak arah barat dari benteng Kotaraja Medang Kemulan ini.


Sementara itu senopati Garega dan pasukan nya bergerak menuju gerbang utama dan di ikuti oleh induk Pasukan Pakuwan Pamintihan yg di pimpin langsung Pangeran Dewangga Sena.


Gerakan dari pasukan yang akan menyerang Kotaraja Medang Kemulan ini dilakukan secara serempak dengan alasan untuk mempersulit pasukan panah musuh yg akan menyerang mereka.


" Majuuu,..!" teriak Pangeran Dewangga Sena dengan kerasnya.


Suaranya membahana memecah ketenangan pada hari itu dan sebagai penanda penyerangan Kotaraja Medang Kemulan di mulai.


Di dalam benteng Kotaraja Medang Kemulan sendiri bukan nya tidak tahu akan pergerakan dari pasukan musuh ini, Panglima Raden Naruttala segera melepaskan anak -anak panah guna menghambat laju pasukan musuh yang mendekati ketiga pintu gerbang utama dari benteng Kotaraja Medang Kemulan ini.


" Segera lepaskan anak anak panah kalian,..arahkan kepada pasukan yang datang ini,..!" seru Panglima Raden Naruttala.


Dan dari balik benteng Keraton Medang Kemulan kemudian terlihat beratus anak anak panah yang keluar dan menyasar para prajurit yg datang ini.


Beberapa prajurit dari pasukan Pakuwan Pamintihan menjadi korban nya , setelah ketiga pemimpin pasukan itu memerintahkan pasukan tameng untuk maju terlebih dahulu mendekati pintu pintu gerbang tersebut barulah serangan anak anak panah ini tidak dapat menghambat mereka untuk mendekati tempat yang menjadi tujuan mereka ini.


Panglima Naruttala yg menyaksikan hal ini menjadi gusar, ia segera memerintahkan pasukannya untuk keluar menyambut pasukan yang datang menyerang mereka ini, karena dirinya dan seluruh pembesar Kotaraja Medang Kemulan tidak menginginkan Kotaraja menjadi ajang perang.


Lebih baik mereka menyambut tamu nya ini di luar dari benteng Keraton.

__ADS_1


Mendengar hal tersebut, Jabonarang menjadi murka., ia berkata.,


" Mengapa anakmas Raden Naruttala terlalu terburu-buru mengeluarkan para prajurit Medang Kemulan ini dari dalam benteng Keraton ini,..?" tanya nya kepada ketiga muridnya.


" Kami tidak tahu , Guru,..mungkin beliau mengambil langkah ini di karenakan ilmu sihir yang telah Guru lepaskan itu tidak dapat menghambat laju pasukan dari Pakuwan Pamintihan itu,..!" jawab Kinanja.


" Bodoh , bodoh,.. Naruttala terlalu pengecut untuk mengambil resiko berperang di dalam keraton Medang Kemulan ini,.. akan tetapi baiklah, kita pun harus menyambut mereka yang datang dari Pakuwan Pamintihan ini,..!" ujar Jabonarang.


Penguasa dari Gunung Merut mengajak ketiga muridnya ini untuk mengikuti pasukan yang di pimpin oleh Panglima Raden Naruttala tersebut.


Mereka berempat keluar dari arah pintu gerbang utama yg berada di sebelah selatan dan akan bertemu dengan pasukan yang di pimpin oleh senopati Garega yg di belakangnya ada Pangeran Dewangga Sena sebagai pemimpin tertinggi dari pasukan yang menyerang ini.


Jabonarang berusaha mendekati Panglima Raden Naruttala yg menjadi Senopati Agung Kerajaan Medang Kemulan itu, setelah ia berada cukup dekat dari menantu Prabhu Watu Menak Koncar ini, ia pun kembali berkata,..


" Tahan sampai disini pasukan mu,.. Anakmas panglima Naruttala,..!" ucap nya.


" Kenapa Eyang Jabonarang menyuruh kami berhenti, sedang musuh telah di depan mata,..?" tanya Panglima Raden Naruttala heran.


Tampaknya ia sudah kurang mempercayai ucapan dari penguasa gunung Merut itu.


" Ku bilang tahan dahulu gerak laju pasukan mu, Aku masih ingin memberi pelajaran kepada pasukan yang baru datang ini,..nanti setelah kunyatakan kalian dapat menyerang maka lakukan lah,..!" jawab Jabonarang meyakinkan Panglima Raden Naruttala.


Meskipun sedikit kesal dengan orang tua dari Gunung Merut ini, setelah semua serangan sihir nya tidak mampu menahan laju gelombang penyerangan dari Pakuwan Pamintihan ini, akhirnya Panglima Raden Naruttala manuruti apa yang menjadi kehendak dari saudara seperguruan Japutara itu.


" Tahan,...!" teriak Panglima Raden Naruttala.


Ia memberikan isyarat kepada seluruh Pasukan kerajaan Medang Kemulan ini dengan menggunakan pedang nya.


Maka pasukan kerajaan Medang Kemula tersebut berhenti seketika.


Kembali , Jabonarang bermain lagi dengan sihirnya. Penguasa Gunung Merut ini maju beberapa langkah dari hadapan para prajurit Medang Kemulan , seraya membaca sebuah mantera ,.. Lelaki tua ini mengibaskan jubah hitamnya beberapa kali.


Dan hasilnya cukup mengejutkan para prajurit yg datang dari Pakuwan Pamintihan itu,.


" Hehh..kemana mengjilangnya para prajurit Medang Kemulan itu,..!" seru Senopati Garega heran.


Ia tidak dapat melihat lagi pasukan yang keluar dari pintu iitu, yg tampak hanya pintu gerbang yg kosong melompong tanpa ada satu orang prajurit pun yg berada disana.


Dan ini dialami oleh kedua sayap yang sebelah menyebelah dari induk pasukan Pakuwan Pamintihan ini. Mereka tidak melihat lagi adanya prajurit yang bergerak keluar dari pintu-pintu gerbang itu.


Akan tetapi tidak dengan Pangeran Dewangga Sena dan Ki Gambong ,.. mereka masih dapat melihat para prajurit kerajaan Medang Kemulan ini bebaris rapi di depan benteng kerajaan Medang Kemulan dengan senjata terhunus.


Sementara itu , pasukan dari Pakuwan Pamintihan ini menjadi kebingungan di buat nya. Tiga Senopati nya tidak berani mengambil resiko untuk maju setelah melihat musuh tidak ada lagi di depan mereka.


Mereka takut akan jebakan dari Pasukan kerajaan Medang Kemulan ,..namun ketika mereka melihat bahwa pintu gerbang itu kosong tanpa adanya seorang prajurit pun yg menjaganya hati mereka tergiur untuk segera masuk ke dalam.


Tetapi sebagai seorang Senopati yg telah terbiasa berperang maka ketiga Senopati ini segera bertanya kepada Senopati Agungnya.


Salah seorang prajurit yang di kirim oleh Panglima Rakai Parumping menanyakan hal tersebut keoada Pangeran Dewangga Sena demikian pula prajurit penghubung yg dikirimkan oleh Panglima Raden Watu serta Senopati Garega.


" Apakah kalian memang tidak dapat melihat para prajurit Kerajaan Medang Kemulan ini tengah berbaris rapi di sekitar dinding benteng Keraton itu,..?" tanya Pangeran Dewangga Sena heran.


" Ampunkan kami ,..Gusti Pangeran,.kami tidak melihat seorang pun yang ada di dekat pintu gerbang tersebut,..,!" sahut prajurit penghubung yg di kirimkan oleh Panglima Raden Watu Giring.


" Demikian pula kami ,. Gusti Pangeran,..!" ungkap prajurit dari pasukan Panglima Rakai Parumping.


Mendengar hal tersebut Pangeran Dewangga Sena meminta seorang prajurit untuk memanggil Ki Gambong ke dekatnya.


Dan datanglah Ki Gambong ke tempat pangeran Dewangga Sena berada.


" Bagaimana ini Ki Gambong,.mengapa para prajurit mengatakan bahwa mereka tidak dapat melihat pasukan musuh,..?" tanya Pangeran Dewangga Sena heran.


" Maaf Sebelumnya Gusti Pangeran,.. Apakah Gusti Pangeran tidak dapat melihat orang yang berjubah hitam dan tengah mengibas-ibaskan jubahnya itu ?" tanya Ki Gambong.


" Aku dapat melihat nya ,..ki ,..ada apa dengan orang itu ,..?" tanya Pangeran Dewangga Sena heran.


" Orang itulah yang yg bernama Jabonarang,.ia lah yang telah mengeluarkan ilmu sihirnya sehingga dapat menghilangkan pasukan Kerajaan Medang Kemulan ini dari pandangan mata para prajurit kita,.. Pangeran ,..!" jelas Ki Gambong.


" Hehh,.. Jabonarang ,.. sepetinya Diriku pernah mendengar nama itu di sebutkan,..!" seru Pangeran Dewangga Sena kaget.

__ADS_1


Ia pun teringat beberapa waktu yang lalu tatkala ramanda nya tewas ketika mendapat serangan dari Akuwu Watu Menak Koncar, dan orang tua itulah yang menjadi salah satu yg menjadi biang kerok tewasnya Prabhu Kreshna Yuda Ramanda nya itu.


__ADS_2