
Beberapa hari setelah kejadian itu, terlihat kedekatan Jasmine dengan Firman semakin erat. Perlahan lahan Jasmine seakan mulai menghilangkan perasaannya kepada Ijaz, namun semua itu sia sia karena buku yang di dapat dari Ijaz selalu ia bawa bersama seakan tidak bisa di pisahkan antara satu dengan yang lainnya.
Suatu malam, mereka bertiga tengah berkumpul bersama dan melakukan makan malam bersama, saat itu Ria menyadari kalau Firman jatuh cinta dengan Jasmine namun ia masih menutupi semua itu agar Firman memberi tahu Jasmine sendiri tentang perasaannya kepada Jasmine.
Waktu itu terlihat Jasmine tengah pergi ke toilet sendiri, sedangkan Ria tengah duduk berhadapan dengan Firman. Melihat Jasmine sudah pergi dari tempat mereka, Ria pun mendekati Firman lalu ia berkata kepada Firman tentang perasaannya kepada Jasmine.
"Firman, kamu suka ya sama Jasmine?" tanya Ria sambil berbisik di dekat telinga Firman.
Mendengar pertanyaan itu Firman terlihat sangat terkejut, ia hanya diam tanpa menjawab sepatah katapun kepada Ria. Ia kemudian menjawab senyuman dan terlihat malu malu.
"Kalau kamu suka dengan Jasmine segera ungkapkan perasaan kamu, aku pikir Jasmine juga suka dengan kamu. Dia bersikap baik dengan kamu sekarang, berbeda dengan yang pertama kali bertemu!."
"Iya, kamu benar!" jawab Firman lalu ia tersenyum kepada Ria.
"Ada apa sih? Sepertinya kalian serius sekali bicaranya," sahut Jasmine setelah ia selesai dari toilet. Jasmine kemudian duduk di kursinya.
"Enggak, kita cuma bicara masalah makanannya aja. Iyakan Firman?" ucap Ria lalu ia sedikit menginjak kaki Firman.
"I... Iya," jawab Firman dengan terbata bata.
"Ya udah, aku pergi dulu ya, aku ada urusan!" ucap Ria lalu ia berdiri dari duduknya.
"Kok gitu sih kamu, jangan pergi dong. Jangan tinggalkan aku sendirian," jawab Jasmine dengan berekspresi berpura pura sedih.
"Siapa yang tinggalkan kamu sendiri? Ada Firman kan?" ucap Ria.
"Ya beda dong," jawab Jasmine dengan benar benar sedih.
"Iya Ria, kenapa kamu pergi? Kita tidak mau kalau nanti ada fitnah macam macam tentang kita!" sahut Firman.
Jasmine kemudian bangun dari duduknya dan memegangi salah satu tangan Ria.
"Aku mohon, tolong jangan pergi!" pinta Jasmine dengan lembut kepada Ria.
__ADS_1
Tiba tiba telepon Ria berbunyi dan salah satu keluarganya menelepon Ria. Mendengar hal itu Jasmine pun akhirnya melepaskan tangan Ria secara perlahan, ia terlihat tengah berbincang dengan orang yang berada di telepon dengan menjauhi Jasmine dan Firman. Saat ia sudah merasa suaranya tidak di dengar Jasmine dan Firman ia langsung menerima telepon itu dengan baik.
"Halo, Om. Maaf ya tadi aku bicaranya tidak jelas, tadi aku masih dekat dengan Jasmine dan Firman!" ucap Ria di balik sebuah tembok.
"Tidak papa Ria, gimana Firman dengan Jasmine? Apakah mereka sudah dekat?" tanya Ayah Jasmine kepada Ria.
"Om, Jasmine dan Firman sudah semakin dekat. Tapi Om... Apa Om yakin melakukan hal ini? Maksud ku, Om kan sudah pernah menjodohkan Jasmine. Tapi apa... Hasilnya nihil Om, yang ada Jasmine menolaknya hingga Om harus kehilangan kontrak puluhan juta!" jawab Ria untuk meyakinkan Ayah Jasmine.
"Om yakin Ria, Om percaya kalau Firman adalah laki laki yang tepat untuk Jasmine. Om tidak pernah yakin dengan Ijaz, apa kamu tidak pernah berpikir kalau penantian yang selama ini di lakukan oleh Jasmine bisa menjadi racun di hidupnya?" ucap Ayah Jasmine dengan tegas kepada Ria.
Ria yang mendengar hal itu hanya terlihat diam membisu tanpa mengatakan sepatah katapun. Ia memikirkan ucapan dari Ayah Jasmine, beberapa saat kemudian ia menjawab Ayah Jasmine dengan nada rendah.
"Saya punya pemikiran seperti itu Om, tapi percuma!. Jasmine selalu percaya dengan Ijaz, dia selalu berpikir kalau dia akan bahagia dengan Ijaz. Dia tidak memikirkan kalau Ijaz selingkuh atau apapun itu," jawab Ria dengan semakin tegas.
"Maka dari itu saya minta kepada kamu, buat Jasmine melupakan Ijaz dan ciptakan perasaan cinta antara Jasmine dan Firman!."
"Baik Om, aku akan usahakan untuk membuat Firman dan Jasmine saling jatuh cinta!."
"Sorry ya, aku harus benar benar pergi. Aku ada urusan penting," ucap Ria dengan tergesa-gesa.
"Jadi kamu benar benar akan pergi," jawab Jasmine.
"Sorry ya, ya udah. Kalian nikmati makanannya aku pergi dulu," ucap Ria.
"Ya sudah hati hati," jawab Jasmine dengan raut muka yang terlihat sangat sedih.
Melihat hal itu Ria pun mengajak Jasmine berpelukan. Setelah itu ia pergi dari tempat itu namun saat ia melangkahkan kakinya menjauh dari mereka berdua. Mata Ria tiba tiba berkaca kaca, setetes demi setetes air mata mengalir membasahi pipinya Ria.
"Entah, apakah yang aku lakukan ini benar atau salah? Jika yang aku lakukan salah, maka maafkan aku Jasmine. Maafkan aku karena aku melakukan ini ke kamu," ucap Ria dalam hatinya dengan menghapus air matanya yang jatuh mengiringi setiap langkah yang di ambil oleh Ria.
Beberapa saat kemudian setelah Ria pergi, terlihat Jasmine masih sedih atas kepergian Ria. Suasana sedih itu tiba tiba berubah menjadi romantis saat secara tiba tiba terdengar alunan bunyi biola yang bernada romantis di bunyikan di dekat mereka.
Saat itu Jasmine terlihat sangat menikmati alunan itu hingga ia melupakan kesedihannya dan kembali bahagia. Melihat Jasmine kembali bahagia, Firman terlihat juga ikut bahagia dengan apa yang dilihatnya. Ia terus memandangi Jasmine dan ia jatuh dalam buai wajah cantik nan rupawan yang di miliki oleh Jasmine.
__ADS_1
"Kamu memang cantik Jasmine, sangat cantik. Kalau seandainya aku bisa mengungkapkan perasaan ku maka aku akan ungkapkan saat ini juga. Tapi... Saat ini aku masih belum punya keberanian untuk mengatakan hal itu kepada kamu!" ucap Firman dalam hatinya sambil terus memandangi wajah Jasmine tanpa mengedipkan mata sekali pun.
Saat itu terlihat Jasmine sesekali melihat ke arah Firman, ia mengimajinasikan kalau laki laki itu bukanlah Firman melainkan Ijaz laki laki yang selama ini dia cintai. Keadaan menjadi berubah menjadi romantis saat tiba tiba Firman mendapatkan sebuah bunga dari seseorang yang tidak di kenal, begitupula Jasmine.
Di saat itu, mereka berdua terlihat sangat kebingungan dengan apa yang terjadi karena mereka berdua merasa tidak memesan bunga atau apa pun itu. Akhirnya mereka pun menerima bunga itu dan secara bersamaan mereka mengambil sebuah kertas yang di selipkan diantara sela sela bunga.
Mereka terlihat mendapatkan sebuah kata kata yang romantis hingga membuat suasana sangat romantis, di saat itu Firman dan Jasmine hanya tersenyum kecil di bibirnya karena mendapat hadiah yang sangat romantis secara bersamaan.
Suasana itu benar benar mengubah suasana hati Jasmine dimana pada awalnya ia sama sekali tidak ingin meninggalkan buku yang di dapat dari Ijaz, kini entah dengan sengaja atau tidak sengaja buku itu jatuh ke tanah dan ia menginjak buku itu.
Di satu malam itu, Jasmine benar benar seperti melupakan sesosok Ijaz di dalam hidupnya, ia seperti punya kehidupan baru besama dengan Firman. Mereka berdua terlihat sangat bahagia dan sangat menikmati apa yang terjadi di malam itu. Saat Jasmine mulai sadar kalau buku yang ia dapat dari Ijaz hilang, sikapnya langsung berubah ia seperti kebingungan ke sana kemari. Saat ia menyadari kalau buku itu ada di kakinya Jasmine langsung mengambil buku itu dan memeluknya dengan erat.
"Kenapa aku bisa melakukan hal ini?" tanya Jasmine dengan sedih dan masih memeluk erat buku itu.
"Ada apa?" tanya Firman saat melihat kalau Jasmine terlihat kembali sedih.
Jasmine pun menaruh perasaan bersalah karena ia sudah menjatuhkan buku itu ke tanah dan tanpa sadar ia sudah menginjaknya. Ia menyesal karena sudah merasa terbawa suasana dengan segala sesuatu yang terjadi di tempat itu.
"Ada apa?" tanya Firman lagi lalu ia berusaha mendekati Jasmine namun Jasmine menghindar dan memilih untuk pergi dari tempat itu dengan memeluk erat buku yang di dapat dari Ijaz dengan berurai air mata.
Menyadari ada yang aneh Firman pun mengejar Jasmine, saat ia sudah dapat mengejar Jasmine, Jasmine terlihat marah dengan Firman.
"Kamu kenapa pergi dari tempat itu?" tanya Firman kepada Jasmine dengan memegangi salah satu tangan Jasmine untuk menghentikan Jasmine.
"Aku mohon sama kamu, pergi dan jangan kejar aku lagi!" jawab Jasmine dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Tapi kenapa? Apa kesalahan ku ke kamu?" jawab Firman dengan nada sedikit tegas.
Mendengar hal itu Jasmine pun melepaskan perlahan tangan Firman yang memegangi tangannya.
"Aku tidak bisa menjelaskan ke kamu, tapi aku minta sama kamu. Tolong, pergi dan jangan kamu ganggu aku lagi," jawab Jasmine dengan sedih dan berurai air mata.
Mendengar hal itu, Firman pun akhirnya menuruti apa yang di inginkan oleh Jasmine. Firman pun hanya memandangi Jasmine yang terus pergi menjauhi dirinya. Ia terlihat kebingungan bercampur dengan sedih karena ia tidak bisa mengungkapkan perasaan kepada Jasmine di saat suasana sudah cocok untuk perasaannya.
__ADS_1