
Malam pun tiba, Jasmine yang terlihat sedih tiba tiba ia mengambil ponselnya yang tidak jauh dari buku yang berada di atas meja. Ia terlihat menghubungi seseorang.
"Halo, kita bertemu di taman ini ya!" ucap Jasmine kepada orang yang di telepon.
Beberapa saat kemudian, Jasmine terlihat sudah siap dan rapi. Ia pun meminta orang tuanya untuk pergi, saat sebelum ia keluar dari kamarnya. Ia mengambil buku yang ia dapat dari Ijaz begitu pula penanya. Ia memasukkan kedua benda itu ke dalam tasnya.
Setelah itu ia pergi dengan ekspresi yang masih terlihat sedih, beberapa saat kemudian ia sampai di taman yang biasanya. Ia ternyata menemui Ria teman masa kecilnya.
"Gimana kabar kamu Jasmine?" tanya Ria dengan baik.
"Yeah, seperti yang kamu lihat. Maafkan aku, karena aku mengganggu kamu. Aku ingin minta tolong sama kamu, tolong kamu hubungi Anjani," pinta Jasmine kepada Ria dengan nada rendah dan sopan kepada Ria.
Mendengar hal itu, Ria terlihat sangat terkejut ia kemudian mendekati Jasmine.
"Kamu yakin ingin menghubungi Anjani?" ujar Ria untuk membuat Jasmine mengurungkan niatnya.
"Aku yakin," jawab Jasmine dengan sangat yakin dan tegas.
"Tapi kenapa? Kenapa kamu ingin menghubungi Anjani?" ucap Ria dengan tegas lalu ia memegangi salah satu tangan Jasmine.
Merasa salah satu tangannya di pegang oleh Ria, Jasmine pun membalas hal itu dengan menaruh tangannya yang lain di atas tangan Ria.
"Aku melakukan hal ini, karena aku tahu. Ijaz tidak akan mungkin datang jika kamu yang meminta dirinya datang ke taman ini, dia juga tidak akan mungkin datang jika aku yang membujuknya. Satu satunya orang yang bisa membantu aku hanya Anjani, karena cinta Ijaz hanya untuk Anjani!" jawab Jasmine dengan berusaha menutupi kesedihannya dari Ria.
Mendengar hal itu, Ria tiba tiba berkaca-kaca dan tak berselang lama air matanya menetes.
"Sekuat inikah Jasmine? Sekuat inikah hati kamu? Kamu orang yang selama ini menunggu dia, dan kini... Kamu mengatakan semua itu!. Sekuat itukah hati kamu?" ucap Ria dengan memandang ke arah Jasmine dengan air mata yang terlihat berderai membasahi pipinya.
Mendengar hal itu, Jasmine pun membuang mukanya dari hadapan Ria lalu, tak berselang lama ia terlihat tidak dapat membendung air matanya. Ria pun langsung memeluk Jasmine dan di saat itu Jasmine pun langsung meluapkan isi hatinya.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa sanggup? Aku memang bisa mengatakan hal itu, tapi... Tapi hati ku, hati ku menangis dan kamu tahu hal itu!" jawab Jasmine dengan menangis hingga sesegukan di pelukan Ria.
Beberapa saat kemudian, Ria melepaskan pelukan dari Jasmine. Ia kemudian menghapus air mata Jasmine dan meminta Jasmine untuk menatap mata Ria, yang saat itu juga penuh dengan air mata.
"Tidak, kamu tidak bisa seperti itu. Kamu harus kuat, jangan lemah. Tatap mata ku sekarang!" pinta Ria. Setelah itu Jasmine terlihat perlahan mulai berhenti menangis dan ia mulai menatap ke arah mata Ria.
"Kamu harus bisa melupakan Ijaz, kamu harus bisa menghilangkan semua tentang Ijaz. Jasmine, jangan menangis hanya untuk laki laki seperti dia, jangan!."
Setelah itu, Ria memberikan ponselnya kepada Jasmine.
"Telepon!. Telepon Anjani, " ucap Ria setelah memberikan ponselnya kepada Jasmine.
Akhirnya Jasmine pun menelepon Anjani dan meminta bantuan Anjani. Beberapa saat kemudian, Ijaz terlihat sampai di taman yang di minta Jasmine. Saat itu, Ijaz datang bersama dengan Anjani dengan bergandengan tangan.
"Sayang, kenapa kita kemari?" tanya Ijaz dengan kebingungan.
"Nanti kamu juga tahu alasan aku mengajak kamu kemari!" Jawab Anjani dengan singkat dan tegas.
Saat Ijaz sudah berada di dekat api, ia terlihat sangat kebingungan karena ia melihat kalau ada wanita lain yang tengah berdiri di hadapannya dengan membelakangi api.
"Apa maksudnya semua ini Anjani?" tanya Ijaz dengan kebingungan saat melihat semua itu.
Mendengar Ijaz sudah datang Ria pun terlihat keluar dari sembunyikannya dan menghampiri Ijaz. Melihat ada Ria, Ijaz semakin kebingungan dan marah.
"Kenapa kamu kemari, hah?" tanya Ijaz dengan kesal.
"Aku kemari tidak bertemu dengan kamu, aku disini untuk memberi kamu kejutan atas semua yang kamu lakukan!" jawab Ria dengan tegas dan serius.
Beberapa saat kemudian, Anjani dengan perlahan dan di dekat telinga Ijaz ia mengatakan hal yang sangat membuat Ijaz terkejut.
__ADS_1
"Aku mengajak kamu, bukan untuk berjalan mesra berdua seperti dulu. Aku mengajak kamu kemari, karena aku ingin meninggalkan kamu. Karena aku tahu, kamu tidak pernah layak mendapatkan cinta dari siapapun. Kamu tidak pernah menghargai perjuangan seorang wanita," sahut Anjani lalu dengan tatapan mata yang serius ia melihat ke arah Ijaz.
Melihat hal itu Ijaz terlihat sangat kebingungan dan panik.
"Apa maksudnya semua ini? Jangan membuat aku bingung. Aku selalu menghargai kamu, tapi apa maksud dari semua ini?" tanya Ijaz lagi dengan kebingungan.
"Aku ingin kamu pergi dari hidup ku!" jawab Anjani dengan tegas.
"Jadi, Kalian berdua merencanakan ini. Kenapa? Kenapa?" tanya Ijaz lalu ia berusaha mendekati Anjani namun saat itu Anjani terlihat menjauh saat Ijaz melangkah mendekat ke arah dirinya.
Ijaz pun terlihat terus mengikuti Anjani dan Ria, hingga saat Ijaz sudah berdiri sejajar dengan api. Jasmine yang saat itu tengah berderai air mata tiba tiba berbalik dan berlari memeluk Ijaz. Ia pun menangis di pelukan Ijaz, di saat itu Ijaz terlihat hanya mematung. Matanya tiba tiba memerah, dan beberapa saat kemudian terlihat matanya berkaca kaca.
"Kenapa? Kenapa kamu melakukan ini? Aku rela menanti kamu bertahun tahun, tapi kamu... Kamu membohongi aku, kenapa kamu melakukan ini?" ucap Jasmine dengan air mata yang terus berderai membasahi pipinya dan ia masih memeluk erat Ijaz.
Mendengar hal itu, Ijaz tampak mulai sedih. Beberapa saat kemudian, ia melepaskan pelukan Jasmine dengan kasar.
"Jadi kamu, kamu yang merencanakan ini semua?!" ucap Ijaz dengan nada tegas dan marah. Ia memegangi kedua lengan Jasmine dengan kasar dan menendang Jasmine dengan penuh amarah.
Saat itu Jasmine hanya terdiam dengan menundukkan kepalanya di hadapan Ijaz. Melihat Ijaz kasar dengan Jasmine Anjani langsung bergegas menghampiri Ijaz lalu ia menarik Ijaz dan menampar Ijaz dengan sangat keras hingga Ijaz mempalingkan wajahnya dari hadapan Anjani.
"Apa kamu tidak punya malu Ijaz? Kamu itu seorang polisi, tapi tindakan kamu tidak pantas dilakukan oleh seorang polisi!. Apakah ini yang di ajarkan oleh kepolisian kamu? Tidak kan, kalau kenapa? Kenapa kamu kasar dengan seorang wanita?" ucap Anjani dengan nada marah dan kesal kepada Ijaz.
"Sayang, kamu kenapa sih? Kenapa kamu mau di ajak mereka berdua? Kenapa kamu membantu mereka membuat rencana menjebak aku seperti ini? Kamu kan tahu kalau aku hanya mencintai kamu, dan bukan orang lain!" jawab Ijaz dengan nada meninggi dan tegas.
"Aku melakukan ini karena agar kamu sadar kalau menanti atau menunggu itu bukanlah hal yang mudah. Aku jujur dengan kamu, aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu. Tapi, cinta ku tidak sebesar cinta Jasmine. Dia rela menunggu kamu, bukan hanya satu hari atau dua hari saja. Tapi bertahun tahun, dan kamu... Kamu membohongi dia, dimana hati nurani kamu?" tanya Anjani dengan nada serius dan ia kemudian menatap mata Ijaz dengan tajam.
"Oke, aku minta maaf. Tapi, aku mohon sama kamu, tolong! Tolong jangan pergi dari ku!" ucap Ijaz lalu ia memegangi tangan Anjani.
Melihat hal itu, Jasmine hanya memandangi mereka dengan mata yang sayup, dan dengan air mata yang terus memenuhi matanya.
__ADS_1
"lepaskan aku, aku tidak ingin menyakiti hati Jasmine lagi!. Lepaskan aku sekarang!" ujar Anjani dengan nada tinggi lalu ia berusaha melepaskan tangannya dari tangan Ijaz namun, saat itu Ijaz memegangi tangan Anjani dengan sangat erat. Saat itu, Anjani benar benar sangat sangat kesal dan marah kepada Ijaz. Ia terlihat sangat tidak suka saat tangannya di pegangi oleh Ijaz.
"Aku tidak akan melepaskan tangan kamu, sampai kapan pun itu!" jawab Ijaz dengan tegas dan serius dengan memandang wajah Anjani dengan sangat serius.