Sebarkas Harapan Diatas Penantian

Sebarkas Harapan Diatas Penantian
12. Perubahan


__ADS_3

Di dalam rumah terlihat Jasmin hanya diam dengan mempersiapkan makanan untuk sarapan mereka bertiga. Saat itu dengan raut muka takut Samira berjalan menghampiri ibunya, ia berusaha untuk meminta maaf kepada ibunya dengan raut muka yang terlihat takut.


"Ibu, maafkan Samira, karena Samira sudah membuat ibu marah. Samira benar benar minta maaf," ucap gadis kecil itu dengan sedih dan hanya menundukkan kepalanya. Mendengar permintaan maaf dari Samira, Jasmin pun langsung menghentikan tindakannya dan ia bertekuk lutut di hadapan Samira dengan kedua tangan yang memegangi pipi Samira. Lalu, dengan pandangan mata yang sedikit meredup Jasmin menghela nafas perlahan dengan melihat ke arah Samira yang sangat terlihat ketakutan.


"Untuk apa kamu minta maaf? Anak Mama, tidak akan mungkin menyakiti Mama. Jadi.... Mama memaafkan kamu, walaupun kamu tidak berbuat salah apa pun!" jawab Jasmin dengan baik lalu ia tersenyum kepada Samira dengan sesekali membelai pipi Samira dan mencium kening Samira.


Menyadari kalau ibunya sudah memaafkan dirinya Samira pun langsung pergi ke kamarnya untuk menganti pakaian nya dan bersiap untuk ke sekolah. Ketika Samira sudah pergi, Jasmin terlihat melamun selama beberapa saat lalu ia bangun dari duduk berlutut nya dan  melanjutkan memasak untuk Samira.


"Apa kamu marah dengan apa yang di lakukan oleh Samira?" tanya Ayan kepada Jasmin yang saat itu tengah memasak. Mendengar perkataan itu, seketika Jasmin langsung terdiam dengan pandangan mata yang melihat ke arah masakannya selama beberapa saat, setelah itu ia berbalik dengan pasangan mata uang tampak biasa saja memandang ke arah Jasmin. Ketika ia berbalik untuk menjawab Ayan, Jasmin terlihat sangat berbeda. Dimana saat itu ia terlihat tersenyum kepada Ayan dengan raut muka yang sangat bahagia.


"Untuk apa aku marah dengan apa yang di lakukan Samira Mas, dia adalah anak ku, anak terbaik ku. Kalau dia sudah menggandeng tangan ku dengan tangan kamu secara bersamaan, itu tandanya dia sudah setuju jika kamu menjadi orang istimewa di hidupnya!" jawab Jasmin dengan senyum kecil di bibirnya lalu ia berbalik melihat ke arah masakannya dan ia melanjutkan memasak dengan raut muka yang terlihat bahagia.


Ketika Jasmin sudah berbalik, Ayan yang saat itu terlihat tidak enak dengan Jasmin karena Samira menggandeng tangan Jasmin dan dirinya secara bersamaan. Tiba tiba senyum kecil terlihat di wajah tampan Ayan, ia terlihat sangat bahagia mendengar apa jawaban yang di ucapkan oleh Jasmin.


****


Beberapa saat kemudian, Samira dan yang lain lainnya berada di ruang makan untuk bersiap melakukan sarapan pagi bersama sama.


Ketika mereka berada di ruang makan, bak sebuah keluarga yang utuh Jasmin, Samira dan Ayan sangat terlihat bahagia. Ia saling bercanda dengan sesekali Ayan menyuapi Samira.


Ketika di pertengahan makan, tanpa sengaja Samira yang kekurangan lauk pun meminta Ayan untuk mengambilkan beberapa lauk lagi. Namun tiba tiba, Ayan dan Jasmin terdiam setelah Samira meminta lauk kepada Ayan. Bukan, ketika Samira meminta lauk kepada Ayan yang membuat Jasmin terdiam, namun hal yang membuat Jasmin dan Ayan terdiam adalah ketika Samira memanggil Ayan dengan sebutan *Ayah*.


Hal itu membuat Jasmin dan Ayan benar benar sangat terkejut dan mereka bahkan sampai tidak mengatakan sepatah katapun kepada Samira. Saat itu Samira masih belum menyadari kalau dirinya salah menyebut Ayan sebagai ayahnya.


Ketika Samira sadar kalau Jasmin dan Ayan melihat dirinya, Samira langsung mengehentikan makan dan melihat ke arah Jasmin dengan mengingat atas apa yang di ucapkan nya beberapa saat yang lalu.


Mengingat kalau dirinya salah menyebutkan nama Ayan menjadi Papa, Samira terlihat tidak enak dengan ibunya, ia hanya menunduk kan pandangan nya dengan raut muka yang sedih.


Melihat hal itu, Jasmin pun menghampiri Samira yang terlihat sedih setalah ia salah menyebut Ayan dengan sebutan Ayah. Saat itu dengan santai, Jasmin memegangi bahu Samira yang menundukkan kepalanya.


"Apa yang terjadi? Kenapa kamu sedih?" tanya Jasmin dengan nada baik dan bernada rendah. Samira yang mendengar ucapan itu pun langsung meninggikan kepalanya dan melihat ke arah Jasmin dengan mata yang terlihat berkaca kaca.


"Maafkan Samira ibu, "ucap Samira dengan sedih.


"Untuk apa kamu minta maaf? Ibu tidak masalah dengan apa yang kamu ucapkan tadi," jawab Jasmin dengan sesekali melihat ke arah Ayan.

__ADS_1


Melihat ibu nya tidak marah dengan dirinya, dengan bahagia Samira pun terlihat memeluk erat Jasmin. Ayan yang melihat hal itu pun hanya tersenyum dengan bahagia.


Waktu berlalu begitu cepat, saat itu Ayan dan Samira terlihat bersiap  ingin pergi ke sekolahan. Namun, langkah Ayan terhenti ketika ia menyadari kalau Firman yang mengantarkan Samira beberapa saat yang lalu ternyata kembali dengan membawa sebuah boneka di tangannya dan sebuket bunga. Melihat ke hadiran Firman, Samira yang saat itu bahagia tiba tiba kebahagiaan nya meredup dan ia terlihat sedih dengan menundukkan kepalanya.


"Jadi, Samira sudah siap untuk pergi ke sekolah?" tanya Firman kepada Samira dan orang orang yang saat itu berdiri di depan rumah Jasmin.


"Iya Pa, Samira sudah siap ingin pergi ke sekolah!."


Mendengar ucapan itu, tanpa meminta izin kepada Jasmin, Firman langsung memegangi tangan Samira dan menarik tangan Samira dengan kasar hingga membuat Samira sangat kesakitan. Melihat hal itu, Jasmin pun langsung pasang badan untuk Samira dengan lantang Jasmin memanggil nama Firman yang saat itu memegangi tangan Samira hingga Samira menangis.


Mendengar teriakan lantang dari Jasmin, langkah Firman pun seketika langsung terhenti. Saat itu ia masih berdiri dengan membelakangi Jasmin. Jasmin yang melihat hal itu dengan tatapan mata yang tajam, berjalan perlahan mendekati Firman dan Samira.


Ketika ibunya sudah di dekatnya, Samira yang saat itu tersakiti karena pegangan tangan yang di lakukan Ayahnya dengan kasar ia melepaskan kan tangan itu dan menghampiri ibunya. Setalah itu ia berdiri di belakang ibunya dengan terlihat sangat ketakutan dengan Firman.


Beberapa saat kemudian, Firman berbalik dan dirinya melihat ke arah Jasmin dengan mata yang terlihat sedih atas apa yang sudah ia lakukan dengan Samira.


"Berani sekali kamu bertindak kasar dengan anak ku di hadapan ku, hah? Berani sekali kamu melakukan itu!" bentak Jasmin dengan menunjukkan Firman di hadapan Firman.


"Jasmin aku minta maaf, aku hanya ingin mengantarkan Samira saja tidak lebih," jawab Firman dengan terlihat sedih setelah ia menerima bentakan dari Jasmin setelah ia menyakiti Samira.


Plak.... Terdengar suara tamparan di tempat itu dan terlihat, dengan sekuat tenaga Jasmin menampar Firman hingga Firman memalingkan wajahnya dari hadapan Jasmin. Firman yang mengetahui hak itu hanya diam dengan memegangi pipinya yang di tampar oleh Jasmin.


"Seharusnya, kamu itu menjaga. Tapi kenapa? Kenapa kamu menyakiti anak kamu sendiri? Kenapa?!" ucap Jasmin dengan terlihat marah kesal dan emosi atas apa yang di lakukan oleh Firman. Ia terlihat tidak percaya kalau orang yang ia kira baik untuk anak nya justru ternyata ia adalah seorang ancaman untuk anaknya. Ia kemudian diam dengan memeluk erat Samira, sambil menenangkan Samira yang masih bersedih dan ketakutan dengan apa yang di lakukan oleh ayahnya.


Beberapa saat kemudian, dengan tatapan mata yang serius. Jasmin melihat ke arah Firman, lalu dengan tegas dan marah. Jasmin mengusir Firman dari rumahnya, Firman yang melihat dan mendengar kalau Jasmin mengusir dirinya. Firman pun berusaha untuk meminta maaf kepada Samira dan Jasmin, namun saat itu Samira terus menghindar dari Firman dengan raut muka yang semakin takut.


Melihat hal itu, Ayan yang saat itu hanya diam saja. Akhirnya ia pun naik pitam, ia menghampiri Firman dan menarik kerah pakaian yang di pakai Firman hingga membuat pakaian nya sangat berantakan. Saat itu Ayan menarik Firman menjauhi Samira dan Jasmin, ketika Firman sudah jauh dari kedua orang itu, lalu tanpa berpikir panjang Ayan pun langsung memukul pipi Firman hingga ia jatuh tersungkur di tanah.


"Apa kamu tidak mengerti, hah? Samira itu tidak ingin bertemu dengan kamu, dan Jasmin juga ingin kamu itu pergi. Apa kamu tidak mengerti?" ucap Ayan dengan nada marah dan kesal dengan melihat ke arah Firman dengan tatapan mata yang penuh dengan kemarahan.


Firman yang melihat hal itu, ia pun  langsung berusaha bangun dari jatuhnya untuk meminta maaf kepada Jasmin dan Samira lagi namun saat  itu Ayan terus menghalangi Firman dengan menjadi garda terdepan untuk kedua orang itu. Merasa Firman tak  ingin pergi, Ayan pun memberi dorongan kepada Firman dengan mengusir Firman dari rumah. Menerima dorongan itu dari Ayan, tubuh Firman yang terdorong langsung menubruk mobilnya yang ada di hadapan nya.


"Aku katakan lagi ke kamu Firman, Samira itu tidak ingin bertemu dengan kamu, jadi lebih baik kamu pergi dari sini!" ucap Ayan dengan tegas dan serius dengan menunjuk nunjuk muka Firman. Saat itu Firman terlihat sedih, akhirnya mau tak mau ia pun pergi meninggalkan Jasmin, Samira dan Ayan. Waktu itu, Firman pergi dengan terlihat menyesal atas apa yang sudah ia lakukan, namun sedikit pun Jasmin dan Samira tidak ingin mendengar apa yang ingin di lakukan Firman.


Setelah terjadinya kejadian itu, Samira pun bener benar masih ketakutan dan tidak hanya itu di waktu yang bersamaan, Samira pun langsung jatuh sakit dan demam. Menyadari hal itu, akhirnya di hari itu pula Jasmin meminta izin kepada gurunya kalau Samira tidak masuk sekolah dengan alasan kalau Samira sakit.

__ADS_1


Ketika Jasmin tengah menerima panggilan dari guru yang saat itu mengajar, Ayan yang duduk di samping Samira berusaha memeriksa Samira, namun ketika tangan Ayan menyentuh dahi Samira, Samira terlihat sangat terkejut karena ia berpikir kalau orang yang menyentuh dahinya adalah ayahnya.


"Ada apa?" tanya Ayan kepada Samira yang saat itu sudah terlihat tidak terkejut dengan apa yang di lihatnya. Ia terlihat tenang, namun saat itu ia tidak menjawab apa yang di tanyakan oleh Ayan kepada dirinya.


Saat itu terlihat Samira sudah terlelap dalam tidurnya, setalah menerima belaian lembut dari tangan Ayan.


Tak berselang lama, Jasmin yang sudah mendapatkan izin dari sekolahan Samira pun ia menghampiri kamar Samira dan melihat kalau Samira sudah tidur di dekat Ayan.


Menyadari kalau Samira sudah tertidur, Ayan pun bangun dari tempat tidur nya dengan perlahan agar tidak membuat suara yang membangunkan Samira. Ketika ia sudah berhasil bangun dari tempat tidur, Ayan menghampiri Jasmin yang saat itu tengah berdiri di dekat pintu.


"Samira langsung dengan Jasmin," ucap Ayan kepada Jasmin yang saat itu berdiri di hadapannya.


Mendengar ucapan itu, Jasmin terlihat sedih matanya berkaca kaca.


"Demam nya tidak parah kan? Apa aku perlu panggil dokter?" jawab Jasmin dengan sedih, lalu ia berusaha untuk pergi memanggil dokter, namun saat ia ingin berbalik Ayan menghentikan langkah Jasmin dengan mengatakan kalau Samira tidak perlu di panggil kan dokter, ia hanya perlu istirahat.


Mendengar ucapan itu, Jasmin lebih tenang, walaupun ia masih terlihat sedih. Akhirnya, Jasmin dan Ayan pun keluar dari kamar Samira untuk membiarkan Samira tidur dengan tenang.


Beberapa saat kemudian, terlihat Ayan tengah duduk di sofa dengan melihat ke arah Jasmin yang duduk di hadapan nya dengan sedih, saat itu memang air mata Jasmin terus mengalir tanpa henti ketika melihat orang yang ia anggap baik ternyata menyakiti anaknya sendiri.


"Aku benar benar tidak menyangka, kalau Mas Firman bisa seperti itu!. Apa yang membuat dia berubah?" tanya Jasmin dengan berderai air mata.


Mendengar ucapan itu, Ayan pun langsung berpikir kalau orang yang membuat Firman berubah adalah dirinya, namun saat itu ia tidak mengatakan apapun kepada Jasmin ia hanya menyembunyikan apa yang di pikirkan di dalam hatinya yang paling dalam.


Waktu itu Jasmin menang terus menangis di hadapan Ayan, Ayan yang melihat hal itu dengan ragu ragu ia berusaha menenangkan Jasmin dengan memegang salah satu tangan Jasmin yang saat itu berada di atas meja.


"Kamu yang sabar, semuanya pasti akan baik baik saja!" ucap Ayan dengan memegangi tangan Jasmin yang berada di atas meja. Jasmin yang mendengar ucapan itu pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia mengerti apa yang di ucapkan oleh Ayan.


Waktu berlalu begitu saja, sore hari pun telah tiba. Ayan yang sudah tidak pulang satu malam, ia merasa kalau ia harus pulang, karena orang tuanya pasti mencari dirinya. Saat itu Samira terlihat terus melamun di ruang tamu, bahkan ketika Ayan berpamitan dengan dirinya pun Samira terlihat tidak mendengarkan nya.


Menyadari hal itu, Ayan pun akhirnya duduk bertekuk lutut di hadapan Samira dengan memegangi kedua tangan Samira yang berada di atas pahanya.


"Samira, kamu jangan khawatir. Semua yang terjadi tadi pagi, semua hal itu tidak akan terjadi lagi, saya janji dengan kamu," ucap Ayan kepada Samira namun saat itu Samira masih saja diam dengan pandangan mata yang melihat ke arah Ayan.


Menyadari hal itu, Ayan pun bangun dari duduknya dan pulang namun di setiap langkah yang di ambil oleh Ayan, mata Samira terus melihat ke arah dirinya dengan sedih dan di penuhi oleh air mata.

__ADS_1


__ADS_2