
Di taman terlihat, Samira duduk di sebuah kursi kayu di dekat seorang penjual es. Saat itu ia tengah duduk di kursi itu dengan tangan kanannya membawa sebuah wadah kecil seperti wadah es. Di samping Samira duduk, terlihat Firman memegangi sebuah wadah kecil seperti wadah es krim. Saat itu mereka berdua terlihat bahagia jalan jalan bersama dengan menyaksikan udara di taman itu.
Suasana seketika berubah ketika Samira tiba tiba menundukkan kepalanya dengan memakan es yang ia pegang dan bertanya kepada Firman hingga membuat Firman terdiam dan tidak bisa mengatakan sepatah katapun kepada Samira.
"Papa, kenapa sih? Kenapa ada perpisahan antara Mama dengan Papa?" tanya Samira kepada Firman yang saat itu tengah menikmati es yang ada di tangannya.
Mendengar pertanyaan itu, Firman yang saat itu menikmati es seketika langsung terdiam dan ia memperlihatkan wajah sedih. Ia tidak menjawab apa pun kepada Samira, ia hanya melamun dengan sesekali melihat ke arah Samira sang anak.
"Papa hanya bisa mengatakan kalau perpisahan antara Mama dan Papa, adalah takdir dari Tuhan. Mungkin... Papa dan Mama tidak berjodoh lagi dan jodoh Mama dengan orang lain!."
Mendengar jawaban itu dari Firman sang ayah, Samira pun hanya diam ia kemudian menaruh es yang berada di tangannya dan ia memeluk Firman dengan sangat erat. Firman yang menyadari hal itu, ia hanya diam dengan membalas pelukan itu dengan sangat erat.
Merasa pelukannya sudah di balas oleh sang ayah, Samira pun berbisik kepada Firman dengan mata yang berkaca kaca.
"Maaf kan Samira Pa, Samira pernah melukai hati Papa, dengan terus memuji muji Om Ayan. Kali ini Samira ingin Papa kembali dengan Mama, apa kah itu mungkin Pa?" ucap Samira dengan sedih di pelukan ayahnya. Mendengar ucapan itu Firman hanya diam, tiba tiba ia mengingat sebuah kejadian masa lalu yang sangat pahit di hidup nya.
Flashback..... Beberapa tahun sebelum Samira lahir.
Terlihat Jasmine berdiri di depan pintu dengan raut muka, terkejut dan berderai air mata dengan perut yang sudah terlihat besar sekitar 7 bulanan.
Saat itu Jasmine melihat Firman tengah bersama dengan seorang wanita di ruang kerjanya dengan keadaan Firman dan wanita itu terlihat acak acakan, bahkan kancing pakaian dari Firman terbuka semua.
Waktu itu Firman dan wanita itu tengah melakukan adegan dewasa, dimana saat itu ia melakukan adegan pertemuan bibir dengan bibir.
"Jadi ini yang kamu lakukan? Selamat menikmati," ucap Jasmine dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Ia kemudian pergi, menyadari kalau Jasmine memergoki dirinya tengah melakukan perbuatan keji, Firman pun bergegas mengejar Jasmine dan berusaha untuk menjelaskan kepada Jasmine apa yang terjadi sebenarnya. Bahkan saat itu ia Samapi lupa tidak membetulkan kancing nya dan langsung menyusul Jasmine keluar dari kantornya.
Saat Jasmine berada di halaman kantor, Firman berhasil mengejarnya. Ia berhasil menghentikan Jasmine dengan memegangi salah satu tangan Jasmine.
"Tunggu Jasmine, aku bisa jelaskan ke kamu," ucap Firman setalah ia berhasil memegangi salah satu tangan Jasmine. Menyadari kalau tangannya di hentikan oleh Firman, Jasmine berbalik dan berdiri di hadapan Firman dengan derai air mata dan tatapan mata yang sedih berserta kecewa. Ia kemudian melepaskan tangan Firman dengan sangat kasar.
"Apa yang ingin kamu jelaskan? Apa? Semuanya sudah jelas. Suami yang aku kira setia, suami yang aku kira hanya mencintai aku. Ternyata..... Ternyata kamu juga penghianat!" ucap Jasmine dengan air mata terus mengalir membasahi pipinya. Ia kemudian mendekati Firman lagi, lalu ia melanjutkan berkata "kamu itu tidak jauh berbeda dengan Ijaz, sama sama penghianat!."
Setalah mengatakan hal itu, Jasmine terlihat menggeleng kan kepala nya seperti tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Firman, ia kemudian berbalik dan pergi menuju mobil dan menjauhi Firman.
__ADS_1
Firman yang mendengar di sama samakan dengan Ijaz orang yang pernah menyakiti Jasmine, ia hanya diam dan tidak mengatakan sepatah kata. Matanya hanya terus memandang ke arah Jasmine yang pergi dengan raut muka sedih.
Di dalam mobil, terlihat derai air mata terus mengalir membasahi pipi Jasmine. Saat itu Jasmine benar benar sedih dengan apa yang di lakukan oleh Firman. Ia benar benar tidak bisa berkata kata, mulutnya hanya terlihat tertutup rapat rapat, namun matanya sudah berbicara sangat jelas.
Di kantor, wanita itu keluar dari ruangan yang di tempat nya beberapa saat lalu dengan keadaan sudah rapi, saat ia sudah di luar. Karyawan dan karyawati yang saat itu bekerja di kantor itu hanya memandang wanita itu dengan terlihat jijik, ia merasa tidak percaya kalau wanita yang di kenal baik di kantor ternyata diam diam mencintai bosnya. Dia adalah Nova, wanita cantik yang menjadi sekertaris dari Firman. Saat itu, Nova benar benar di anggap sebagai wanita yang sangat buruk, orang orang di sekitarnya membicarakan dirinya secara terang terangan. Saat itu kesedihan di matanya terlihat sangat jelas, namun karena orang orang di
kantor itu melihat adegan itu, akhirnya mereka pun tidak mempedulikan kesedihan dari Nova. Ia bahkan menganggap kalau kesedihan yang di rasakan oleh Nova hanya lah kesedihan palsu.
Tak berselang lama, Firman pun datang dan melihat kalau karyawan yang bekerja di kantor nya menjelek-jelekkan Nova. Melihat hal itu, Nova berharap kalau Firman akan membela dirinya dan memarahi dirinya namun apalah daya ternyata ia tidak melakukan hal itu dan ia justru membiarkan karyawan nya menjelekkan Nova.
Saat itu ia hanya mementingkan Jasmine, melihat hal itu Nova terlihat semakin sedih dan semakin malu. Ia pun memutuskan untuk pergi dari kantor setelah Firman menuju ke ruangan kerja nya dengan bersikap tidak peduli dengan dirinya.
Setalah Nova pergi, Firman pun keluar dari ruangan nya dan pergi dari kantor untuk mencari Jasmine.
Beberapa saat kemudian, ia sampai di rumah. Dengan bergegas, ia keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah dengan memanggil manggil nama Jasmine, namun saat itu Jasmine tidak berada di rumah yang mereka tempati.
Menyadari hal itu, Firman pun berpikir kalau orang Jasmine pulang ke rumah orang tuanya. Ia pun kembali masuk ke dalam mobil dan menuju ke rumah orang tua Jasmine. Ketika berada di rumah Jasmine, Firman langsung turun dari mobil dan mengetuk pintu dengan menggedor gedor pintu sambil memanggil manggil nama Jasmine.
Setelah beberapa saat mengetuk pintu, Ayah dan Ibu Jasmine pun keluar dari rumah.
"Tenang Nak, Jasmine ada di sini!" ucap Ayah Jasmine dengan baik dan masih tenang.
"Pa, Ma, tolong izinkan Firman masuk ke dalam rumah. Saya ingin meminta maaf kepada Jasmine," jawab Firman dengan baik dan terlihat menyesal atas apa yang sudah ia lakukan.
Mendengar ucapan itu, Ayah Jasmine pun melepaskan tangan nya yang memegangi kedua lengan Firman. Ia terlihat sedih, namun tiba tiba terdengar suara tamparan di ruangan itu.
Saat itu, Ayah Jasmine menampar Firman dengan sangat keras hingga membuat Firman hanya memalingkan wajahnya dengan memegang pipi yang di tampar oleh Ayah Jasmine.
"Mudah sekali kamu meminta maaf, apa kamu pikir, saya akan mengizinkan kamu masuk ke dalam rumah? Tidak Firman, Papa sangat kecewa dengan kamu. Aku kira dulu sebelum Jasmine menikah dengan kamu, laki laki yang jahat itu hanya Ijaz, tapi kenyataannya aku salah. Ternyata kamu lebih kejam dari Ijaz, dan sekarang kamu datang untuk minta maaf dengan Jasmine. Apa kamu pikir tindakan kamu itu bisa di maafkan? Tidak Firman, sama sekali tidak bisa di maafkan. Sekarang kamu pergi dari sini," ucap Ayah Jasmine dengan lantang untuk mengusir Firman dari rumah.
Melihat hal itu, Firman pun terus memohon kepada Ayah Jasmine untuk mengizinkan dirinya bertemu dengan Jasmine, namun semakin ia memohon, Ayah Jasmine justru semakin kokoh untuk mengusir Firman dari rumah. Bahkan, karena Ayah Jasmine sudah tidak bisa mengontrol emosinya. Ayah Jasmine membangun kan Firman yang saat itu duduk bertekuk lutut memohon kepada orang tua Jasmine. Ia membangunkan Firman dengan menarik kerah pakaian Firman dan ia menariknya keluar sampai di dekat mobilnya.
Ketika sudah berada di dekat mobil, Ayah Jasmine melepaskan kerah pakaian Firman dengan memberi sedikit dorongan kepada Firman, hingga ia terdorong beberapa langkah dari dekat Ayah Jasmine.
__ADS_1
"Dengar kan Ayah baik baik, Ayah tidak akan mengizinkan kamu menemui Jasmine lagi, Ayah minta kamu cerai kan Jasmine," ucap Ayah Jasmine dengan nada tinggi, sambil menunjuk nunjuk Firman.
"Ayah, Firman mohon. Jangan meminta hal ini, Firman mencintai Jasmine. Firman tidak mungkin bisa melakukan hal ini," jawab Firman dengan air mata yang membasahi matanya.
Saat itu ia tidak menyadari kalau Jasmine sebenarnya berada di lantai dua dan sedang melihat dirinya di bawah dengan derai air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Ketika, ia sadar kalau Jasmine berada di lantai dua. Firman melihat ke arah Jasmine dengan sedih dan berharap bisa berbicara dengan Jasmine untuk meminta maaf kepada dirinya, namun saat itu ia tidak menemukan nya. Melihat kalau Firman sudah melihat dirinya, Jasmine pun masuk ke dalam kamar yang di tempati nya dan tidak mempedulikan Firman lagi.
Melihat hal itu, Firman pun terus menerus memanggil Jasmine, namun saat itu Jasmine tidak keluar dari kamarnya ia justru menutup rapat rapat jendela kamar yang di tempatnya. Firman terlihat sangat sedih setelah melihat semua yang terjadi. Ia benar benar pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Melihat hal itu, Ayah Jasmine terlihat meninggalkan Firman dengan raut muka marah kepada Firman.
"Maafkan aku Sayang," ucap Firman dengan lirih dan duduk bertekuk lutut di dekat mobilnya sambil melihat ke arah kamar Jasmine yang tertutup rapat. Saat itu, Firman terlihat sedih. Air matanya terlihat mengalir membasahi pipinya.
Di dalam kamar, terlihat Jasmine duduk di depan sebuah cermin besar yang ada di kamarnya. Saat itu terlihat sebuah buku catatan lama yang sama seperti yang di dapatkan dari Ijaz terlihat tertutup dan tertata rapi di atas meja make up di hadapan nya.
Saat itu derai air mata membasahi pipinya atas apa yang terjadi di hidupnya. Ia kemudian melihat ke arah buku catatan yang sama seperti yang ia dapatkan dari Ijaz. Pada awalnya ia ragu untuk membuka buku itu, namun ia berusaha untuk menghapus keraguan itu dan kembali menuliskan apa yang ia rasakan.
Pernikahan adalah sebuah harapan atas kebahagiaan, pernikahan adalah sebuah ikatan samar.. namun nyata atas cinta.
Kini, apa yang di dapat kan? Seberkas harapan untuk kebahagiaan atas pernikahan, kini hanyalah sebuah duri yang tertancap di dalam hati.
Akan kah luka duri ini bisa di obati? Akan kah duri duri ini bisa terlepas dalam hati? Tuhan, berikan jalan terbaikmu untuk ku, berikan harapan terbaik mu untuk ku.
Tulis Jasmine di buku catatan berwarna coklat muda itu dengan raut muka sedih dan tangan yang bergetar ketika menulis setiap kata di dalam buku itu. Ia kemudian melepaskan pena yang ia pegang dan tanpa menutup buku itu ia pergi ke atas tempat tidur untuk membaringkan tubuhnya yang sudah pegal pegal ia rasakan.
Saat ia sudah berbaring di atas tempat tidurnya, ia memandang ke arah langit langit kamarnya dengan air mata yang terus mengalir dari matanya. Ia kemudian mengusap usap perlahan perutnya yang sudah membesar.
"Semuanya akan baik baik saja Nak," ucap Jasmine yang saat itu mengusap usap perut nya dengan berbaring di atas tempat tidurnya.
Di luar rumah, Firman masih sedih dengan derai air mata yang mengalir membasahi pipinya. Ia masih saja terus memandang ke arah kamar yang di tempati oleh Jasmine. Dengan terus mengatakan maaf kepada Jasmine dengan lirih, walau pun ia tahu kalau ia tidak akan mungkin mudah untuk di maafkan oleh Jasmine dan keluarga nya.
Saat itu, melihat kalau Firman masih berada di luar rumah dengan memandang ke arah kamar yang di tempati oleh Jasmine. Ayah Jasmine terlihat mengintip Firman dari balik jendela yang berada di dekat pintu. Saat itu ia juga terlihat sedih dengan apa yang dilakukan oleh Firman, namun ia juga kecewa dengan apa yang di lakukan oleh Firman dengan menyelingkuhi Jasmine dengan rekan kerja nya sendiri. Terutama ia tahu kalau Jasmine tengah hamil besar, hal itu benar benar membuat Ayah Jasmine sangat kecewa dengan Firman, bahkan ia tidak ingin berbicara atau pun melihat wajah nya. Namun, ia juga sadar kalau Jasmine pasti juga sedih dengan apa yang di lihatnya.
__ADS_1
Setalah melihat Firman yang masih berada di luar rumah selama beberapa detik, Ayah Jasmine menutup gorden dengan perlahan dan ia kemudian pergi dari dekat jendela tanpa mengatakan sepatah katapun lagi. Ia berusaha untuk bersikap tidak peduli dengan Firman setalah melihat apa yang di lakukan oleh Firman di luar rumah.